Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Asyiknya Sholat di Mesjidil Haram

Posted by agorsiloku pada Januari 8, 2007

Lupa sudah bahwa banyak pekerjaan telah ditinggalkan, juga anak di rumah. Saya suka pergi sendiri saja, sedang isteri dengan mertua saya, berangkat lebih belakangan. Kesibukan dalam beberapa hari ini lumayan juga. Setiap datang ke mesjid tidak membawa hand phone. Katanya tidak boleh memotret di dalam mesjid. Meski, saya lihat cukup banyak juga sih jamaah yang berusaha melakukannya, sembunyi-sembunyi. Maklumlah, begitu banyak yang berlalu lalang dan datang, tidak mungkin diperiksa secara teliti.

Waktu fajar, sholat subuh sekitar jam 5.30 pagi. Masih gelap. Azan pertama kurang lebih satu jam sebelumnya, jam 04.30 pagi. Untuk dapat tempat yang nyaman, saya biasa berangkat jam 03.00 – 03.30, jadi bisa sholat lebih tenang. Jika terlambat datang, agak susah dapat tempat yang enak, atau terpaksa ke lantai atas. Nggak enak juga kan melewati jemaah-jemaah lain yang sudah duduk terlebih dahulu. Selesai sholat, ke luar mesjid sekitar jam 07.00 pagi. Untuk ke luar mesjid sampai ke hotel butuh waktu sekitar 15-25 menit. Ada juga yang menunggu sampai sholat sunnat dhuha sebelum ke luar mesjid. Setelah itu, sampai di hotel terus makan, baik beli di luar ataupun makan katering yang disediakan. Di kamar, istirahat tidur 2 jam. Bangun jam 10 pagi, jam 11 siang bersiap lagi untuk sholat dzuhur, biasanya selesai jam 13.00-13.30 siang, terus makan siang. Istirahat lagi setengah jam untuk ke mesjid lagi jam 14.00-14.30 berangkat lagi untuk sholat ashar. Selesai sholat ashar jam 16.00 ke luar sebentar, jam 17.00 masuk lagi ke mesjid sampai selesai sholat isya. Biasanya baru sampai hotel jam 21.00. Badan sudah cukup lelah. Langsung tidur saja dan bangun lagi jam 03.00 pagi. Begitu seterusnya. Lumayan sibuk juga. Waktu tunggu antara zikir dan sholat dipakai untuk membaca buku yang sengaja dibawa ke mesjid atau membaca Al Qur’an yang banyak tersedia di sana. Tidak sedikit pula yang dapat membaca dan menghabiskan waktu untuk mengkhatamkan Al Qur’an di sana. Kalau hari Jum’at, berangkat ke mesjid jam 09.30 pagi untuk mendapatkan tempat yang nyaman. Jadi, lumayan juga kegiatannya.

Jemaah Indonesia lainnya banyak yang jarak dari mesjid ke penginapannya berjarak 2-3 km. Jelas mereka membutuhkan waktu lebih banyak. Seperti kami juga, waktu di apartemen aziziyah yang jaraknya sekitar itu. Bila ke mesjid sejak dari dzuhur, baru pulang isya saja. Kalau nggak tenaga tidak cukup atau waktu habis untuk bolak balik. Kalau naik taksi atau omprengan harus bayar antara 5, 10, dan bila waktu puncaknya bisa sampai 20 real (50 ribu rp).

Melihat jamaah lain dari berbagai bangsa, berkulit hitam, bungkuk, tua, muda, sehat, besar, atau kecil lalu sujud bersama, rukuk bersama lalu pulang antri bersama, bersliweran memberikan kepuasan tersendiri. Segala bacaan yang teringat dalam pikiran dilantunkan. Kalau lelah, minum air dingin zam-zam sepuasnya, yang tersedia berlimpah dan mudah dijangkau dibagian manapun di dalam atau di luar mesjid. Tak ingin begitu banyak berpikir, mengikuti alur begitu saja.

Tiada hari juga, setidaknya satu kali dalam satu hari bisa merasakan air mata meleleh begitu saja ketika sholat. Nikmatnya sebuah penghambaan, karena tetesan air mata itu sepertinya mencuci kekeringan hati. Bertahun-tahun dalam kehidupan ini, jarang sekali air mata mengalir. Lebih banyak kemarahan dan kekesalan. Kini, tiba-tiba memiliki kesempatan untuk meluluhkan hati, melegakan dada. Kenikmatan mana lagi yang bisa disertakan dari kejadian- kejadian yang tak terjelaskan oleh perdebatan akal dan nurani ini.

Pagi itu, ada sedikit kekesalan dalam hati. Ini hari terakhir sebelum berangkat ke Madinah, Tanah Suci kedua. Saya keluar mesjid dengan sedikit rasa hampa. Hari ini, menjelang terbit matahari; meninggalkan mesjid tidak dengan kelegaan hati. Sholat dijalani, namun air mata dan sentuhan nurani tak jua sampai. Apa boleh buat, saya bukanlah pemain sinetron yang bisa mengkondisikan hati untuk tergetar dan melelehkan air mata. Jadi, biarpun sholat sudah selesai dilakukan, tetap saja pikiran yang mengelana tak bisa melahirkan kondisi yang diharapkan. Hari ini, kenikmatan itu tak datang padaku. Yah, mau bagaimana lagi. Ini bukanlah sesuatu bisa dengan mudah yang diada-adakan, dipaksa-paksakan. Meskipun saya merasa kehilangan kesempatan, dengan berat hati kulangkahkan kaki keluar mesjid. Ada sedikit kehampaan menyelimuti hati, langkah kaki sudah melewati gerbang pertama mesjid. Kembali menyusuri jalan yang sama selama beberapa hari terakhir ini. Ah, sapaku dalam hati. Seandainya saja aku bisa merasakan seperti hari-hari kemarin lagi, alangkah menyenangkan. Menangis itu menyenangkan, berdoa dan menyampaikan permintaan doa dari rekan-rekan di tanah air itu adalah kenikmatan tersendiri. Rasanya seperti duta kebaikan. Tapi, sudahlah. Bagaimanapun situasi itu adalah anugerah yang mungkin tidak bisa setiap hari kudapat. Begitulah pikiran menghibur diriku.

Berjalan sedikit tertunduk, aku mulai menempuh lapisan ke dua dari gerbang mesjid. Setelah itu akan bertemu pasar, nyebrang jalan dan sampailah ke hotel. Kira-kira berjarak beberapa puluh meter dari gerbang bagian terluar dari mesjid, serasa ada yang menepukku dan aku menoleh kembali ke arah bangunan mesjid luar yang baru saja kutinggalkan. Menara tinggi Mesjidil Haram tampak perkasa di mataku, gerbang-gerbang pintu mesjid tampak begitu jelas. Lampu ribuan volt memang menerangi seluruh bagian mesjid.

Tak terasa, tiba-tiba begitu saja kebahagiaan datang, air mata meleleh. Bahkan lebih deras dari biasanya. Menatap bagian-bagian mesjid dan air mata yang tiba-tiba saja meleleh seperti mencuci kekesalan hati ini. Kubiarkan sejenak air mata ini mengalir, kulangkahkan kaki menjauhi jalur lalu lintas orang. Ya, Allah, Engkau berikan lagi saya kesempatan memuji namaMu. Rasanya air mata mengalir lebih deras lagi. Aku tersedu. Kusebut namaMu kembali, :”Jangan tinggalkan aku ya Rabb, berikan kesempatan untuk datang ke rumahMu kembali, ampuni aku atas segala kebodohanku dan kesombongan yang selalu menyelimuti langkah-langkahku. Berikanlah hidayahMu pada keluargaku, saudara-saudaraku, dan semua rekan yang menyampaikan pesannya sebelum aku berangkat”.

Aku berputar kembali, melangkah kembali keluar. Serasa tidak menapak bumi, ringan hati ini, ringan langkah ini. Indahnya Mesjidil Haram, agungnya Ka’bah. Pagi ini makanku nikmat dan senyum mengembang ketika memulai perjalanan menuju Madinah. Kota suci kedua, tempat mesjid nabi, Nabawi.

(Catatan Perjalanan Hajj 5)

Iklan

4 Tanggapan to “Asyiknya Sholat di Mesjidil Haram”

  1. Naldi said

    alhamdulillah,saudarakau adalah salah seorang yang diberi kebeuntungan oleh Yang Maha Kaya.Aku begitu tersentuh membaca tulisan yang saudara buat.Serasa jiwa ini berada di tanah yang suci.Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

    Suka

  2. najat said

    subhanallah…begitu indahnya berhaji sebagai tamu ALLAH SWT..smoga aq juga mendapat kesempatan untuk menjadi tamu ALLAH SWT…

    Suka

  3. semoga ALLAAH jg mnakdir kan ku dan saodara muslim semua tuk shalat di mesjid yang saya impi kan itt, subhanaloh..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: