Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Lapar dan Kenyang Di Padang Arafah

Posted by agorsiloku pada Januari 6, 2007

Siang itu, ustad kami menyampaikan kabar ada 70 ribu jemaah Indonesia yang sampai hari ke dua belum mendapatkan jatah makan. Mereka seperti kita, sedang wukuf di Padang Arafah. Satu tempat yang sangat menentukan bagi ritual haji. Haji itu adalah wukuf di Arafah, begitu sabda Junjungan kita, Nabi Muhammad. Kami, di maktab 108 hanya bisa mendo’akan saja dalam bimbingan ustad. Tak ada yang bisa kami lakukan, pengalaman lapangan dan kelelahan dalam prosesi ritual hajj tak memungkinkan (?), kami berbagi makanan. Apa yang sebenarnya terjadi juga tidak begitu banyak kami ketahui. “Beruntung” kami berada pada lingkungan yang tidak begitu jauh dari jalur-jalur utama. Makanan yang ada di maktab juga berlimpah. Banyak sekali jamaah di maktab kami ini yang menghabiskan makanannya hanya separuh dari yang diambilnya. Tersisa dan terbuang begitu saja, jalan ke luar maktab beberapa ratus meter, banyak pedagang kambuhan yang menjual mie instant atau sekedar kopi susu atau teh susu atau baso dengan rasa Indonesia. Ada juga beberapa truk trailer yang membagikan minuman atau kue atau air kepada para jamaah. Jadi, sangat tidak terbayangkan bahwa di bagian lain dari luasnya padang Arafah, terjadi kegagalan manajerial untuk mempersiapkan makan bagi para jamaah.

Saya memang kurang doyan antri untuk mengambil makanan, kadang sering tidak kebagian, tapi mengambil satu atau dua butir apel atau ditambah menghabiskan lauknya sisa jamaah yang ada di piring yang tersisa saya lakukan sekedar untuk berbagi kepedihan atas terbuangnya makanan di maktab 108. Coba saja bayangkan, ada jamaah yang mengambil lauk pauk sepenuh piring yang tersedia dan menyisakan hampir lebih dari setengahnya!?. Benar-benar menyesakkan dada, sedang di belahan lain yang lokasinya juga tidak diketahui, diberitakan sejumlah puluhan ribu jamaah tidak mendapatkan jatah makanan. Saya ingat orang tua, yang selalu menekankan agar piring makanan tidak boleh bersisa sedikitpun. Harus dihabiskan. “Nasi akan menangis dan menuntut kamu di akhirat kalau tidak dihabiskan. Jadi janganlah disia-siakan.” Sampai kini kebiasaan untuk menghabiskan total sebersih-bersihnya piring makanan masih tetap saya jalankan. Hati saya baru puas makan, bila piring yang dipakai tidak bersisa sebutir nasipun.

Perjalanan ritual hajj memang persoalan keikhlasan, tawadu, dan berserah diri memenuhi panggilanNya. Labbaik allahuma labbaik, labbaik la syarika la ka labbaik. Di sisi lain, persoalan mengelola adalah kehati-hatian dan keterampilan manajerial. Ini bolehlah (?) kita sebutkan sebagai ujian dari Allah. Namun juga adalah sisi kebodohan, ketidakpedulian, tidak matangnya perencanaan dalam mengelola. Atau boleh jadi pula, keserakahan “oknum” atas kepasrahan jamaah yang sedang menjalankan ritual haji. Yang terakhir ini, pada beberapa sisi saya rasakan juga.

Tahun ini (2007) memang haji akbar, terjadi limpahan tambahan jamaah yang menambah beban pengelolaan. Di luar persoalan spiritual, ada tambahan beban kegiatan yang memuncak. Kejadian macet dimana-mana terjadi. Misalnya saja, perjalanan kami dari Arafah ke Musdalifah, berangkat sehabis magrib, baru tiba menjelang matahari terbit. Jadi, sholat fajar pun di bis. Perjalanan yang seharusnya ditempuh paling lama 2 jam, menjadi hampir 12 jam.

Kembali ke soal makanan berlimpah di maktab 108, makanan menjadi terasa pahit ke hati ketika tetangga di bagian lain kelaparan (lebih 30 jam belum mendapatkan jatah makanan). Adakah haji kami diterima?, sedangkan di belahan lain yang tak begitu jauh, di tengah dingin dan tajamnya angin Arafah, saudara-saudara kami lainnya kelaparan. Bisakah kita menikmati enaknya makanan dan hangatnya selimut tidur, sedangkan tetangga di sebelah rumah mengigil kelaparan dan kedinginan?. Inilah hari agung, dimana Allah memberikan rahmat dan pengampunanNya paling banyak. Tidak ada hari seagung hari ini, ketika iblis berpenampilan paling kurus dan tua.

Berita menjelang kami berangkat ke Mina, katanya sudah mulai terselesaikan. Saya tidak tahu seperti apa, mudah-mudahan derita kelaparan dan kedinginan bisa diatasi. Dalam lintasan pikiran, saya berharap pengampunanNya tiba juga pada jemaah di maktab 108 yang berlimpah ruah makanan dan nasi-nasi yang terbuang begitu saja…

(Catatan Perjalanan Hajj 2)

Iklan

7 Tanggapan to “Lapar dan Kenyang Di Padang Arafah”

  1. qalbusalim said

    salam kenal
    saya ambil artikel ini untuk http://www.qalbusalim.wordpress.com

    Suka

  2. agorsiloku said

    Salam kenal kembali. Silahkan ambil dan berbagi.
    Wass, agor

    Suka

  3. El Zach said

    Ada begitu banyak kisah luar biasa yg saya dengar dari berbagai perjalan haji baik itu dari media masa maupun dari lingkungan tetangga kita. Ada yang menakjubkan, ada yang pedih, ada yang mengharukan, ada yang menggembirakan,dsb dan dari kesemuanya itu merupakan kisah luar biasa nan ajaib yang dialami masing masing orang yang sering tanpa disadari orang-orang didekatnya yang sama-sama menunaikan ibadah haji.

    beberapa kisah dari tetangga saya:
    1. ada seorang dokter yang tidak bisa melihat ka’bah saat melakukan ibadah haji, tentu saja hajinya gagal, dan sesampainya di tanah air, dia bertemu pengemis yg tak dikenal, dan pengemis itu menegur sang dokter, bahwa selama ini dia tidak bisa “melihat” beda antara orang miskin dengan org kaya, semua diberi tarip yang sama, sehingga tidak ada belas kasih di hatinya untuk sesama.

    2. ada seorang ibu, dia dulu Mualaf saat menikah dengan suaminya yg Muslim, ketika anak2nya dewasa, dia dibiayai oleh anak2nya itu untuk berhaji. Nah disaat wukuf, dia melihat sebuah layar raksasa terbentang dia atas padang Arafah, tetapi orang lain sepertinya tdk melihat itu. Di layar macam bioskop itu tergambar berbagai perilaku anak-anaknya di rumah, suara-suara mereka, bahkan isi hati mereka terdengar. Sesampai di tanah air, anak-anaknya membenarkan apa yang dilihat ibunya itu. Apakah kira-kira seperti ini situasi pengadilan akhirat nanti, entahlah.

    3. Ada seorang polisi tentara yang saat menunaikan ibadah haji mengalami hal yg menyakitkan, yaitu sejak turun dari pesawat selalu bertemu dengan org-org yang memukuli dia tanpa sebab, bahkan dia merasa ada sekelompok laki-laki yang tanpa sebab memukulinya beramai-ramai hingga berdarah-darah. Dia mengakui bahwa selam di tanah air, dia sangat sering memukuli orang, krn dia berkesempatan untuk itu melakukan itu sebagi polisi tentara.

    4. Ada seorang ibu yg sangat berkeinginan ibadah haji meskipun saat itu sedang mengandung 6 bulan, anehnya dia bisa lolos dari petugas. Lebih aneh lagi kandungan di perutnya selalu hilang saat melakukan ritual haji, dan muncul kembali menjelang istirahat malam, sehingga hajinyapun berjalan mulus tanpa halangan.

    ada berjuta kisah ajaib, yang tidak bisa saya ceritakan satu persatu.

    mengenai hal kelaparan di perisitiwa haji Indonesia kemarin, mungkin ada hikmah yang bisa kita petik. Mungkin kita harus lebih profesional dalam pengelolaan ibadah haji.
    dan untuk yang ingin berhaji berulang kali, mungkin perlu direnungkan, bahwa masih banyak saudara kita yang jauh lebih membutuhkan dana haji itu jika memang diniatkan untuk beribadah, anak-anak yang kelaparan, fakir miskin, anak-anak yatim piatu. coba kalau kita lihat di panti asuhan, begitu banyak balita dan anak kecil yg sangat membutuhkan bantuan, mereka yg masih balita itu harus makan 2 kali sehari, itupun dengan mie instan, jangankan untuk gizi dan kenyang, bisa bernafas esok haripun masih bersyukur. Kadang mereka tertidur karena menunggu saat makan malam bersama tidak kunjung tiba. Begitu masih banyak yg tega korupsi, berfoya-foya, berpesta pora, bahkan untuk berhaji berkali-kali pun apakah mencerminkan kita sebagai penduduk sorga. Danan haji yang 30 juta itu sudah cukup untuk memberi makan sekian ratus atau ribu fakir miskin dan anak yatim piatu untuk bertahan hidup.

    saya pernah membaca hadist, Rasulullah bersabda,” tidak akan masuk sorga orang yang tidur kekenyangan sementara tetangganya kelaparan”

    Islam ini sekali lagi bukan sekedar ritual, tetapi adalah untuk memperbaiki akhlak umat manusia.

    saya hanya sekedar berkisah dan berpendapat, mohon maaf jika tidak berkenan.

    Suka

  4. johngozzy said

    Di setiap kejadian Allah menciptakan hikmah. Hikmah itu akan terbaca dan menjadi mutiara yang berharga bagi insan-insan yang selalu mengharapkan perjumpaan dengan-Nya. Agar jalan yang bengkok itu menjadi lurus. Bersyukur sekali apabila bisa menjadi pelurus bagi insan yang terlanjur membengkokkan jalannya.

    Suka

  5. Dono said

    Ass.wr.wb,
    Menurut saya juga begitu pak El Zach, bahwa naik haji itu bukan suatu garansi untk masuk surga,tetapi hati ikhlas seorang insan terhadap Penciptanya.

    Salam saya untuk pak El Zach.
    Wassalam.

    Suka

  6. agorsiloku said

    @ Mas El Zach, terimakasih selalu untuk tambahan pencerahannya. Beberapa tanggapan, pada waktunya akan saya kumpulkan kembali untuk jadi satu visi lagi. Banyak, pengalaman berhaji yang konon supra natural. Tapi, saya percaya, ini terjadi di belahan manapun di dunia ini. Ada kelebihan dari Tanah Suci tentunya, karena ini menjadi bagian yang ditandai oleh yang MahaKuasa. Saya sendiri tidak sekalipun mengalami yang dikisahkan (atau mungkin saya tidak merasakan). Setiap orang menjadi unik dan memiliki pengamalan unik pula.

    @ Mas Johngozzy, memang benar, pada setiap kejadian ada hikmahnya. Musibah dan hikmah berjalan beriringan, ujian dan cobaan, serta rahmat juga begitu. Musibah untuk yang sakit juga ada imbalan (pengurangan dosa), rejeki bagi dokter, dst.

    @ Mas Dono, setuju benar. Naik haji bukanlah garansi. Namun, untuk memenuhi rukun yang ke lima. Surga adalah hak perogatif Allah swt. Hanya kemurahan dan karuniaNya saja kita bisa masuk ke sana. Insya Allah.

    Wass, wr.wb., agor.

    Suka

  7. […] saat itu kami ikut juga berdo’a kepada saudara-saudara kami yang belum mendapatkan jatah makanan. Adalah satu kemarahan dan kepedihan ketika mendengar saudara-saudara kami di tanah lapang yang […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: