Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berbisnis Di Sekitar Hajar Aswad

Posted by agorsiloku pada Januari 6, 2007

Sesungguhnya hajar aswad itu adalah sebutir yaqut (batu permata) di antara yaqut-yaqut sorga. Kelak pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan dua mata serta sebuah lidah, yang dengannya ia berbicara dan bersaksi untuk siapa yang dengan kebenaran dan ketulusan hati pernah menyentuhnya. (Hadits,Tarmidzi, dan dishahihkan oleh Nasa-iy dari Abdullah bin Abbas)

Siapa yang datang ke Kabah dan tak ingin mencium Hajar Aswad?. Keinginan itu tentu bergemuruh dalam hati. Hari ke dua, saya sengaja datang lagi lewat sedikit tengah malam dengan harapan dapat menciumnya, seperti disunnahkan Junjungan. Tidak siang ataupun malam orang (manusia dan jin (?), juga malaikat) berthawaf mengelilingi rumah tua itu.

Di Kabah itu, ada sudut Hajar Aswad, terletak batu permata putih (yang kini hitam) tempat dimulainya thawaf. Untuk dapat menciumnya, di tengah ribuan, puluhan ribu manusia dari ragam bangsa bukanlah hal yang mudah. Saya sudah mencapai dinding kabah, dekat rukun Yamani (sudut sebelah kiri Hajar Aswad), tapi kemudian terpental ke tengah lagi. Desakan orang yang berebut untuk mendekatinya menjadikan perkara yang tidak mudah.

“Mau ditolong Mas”, Seseorang menyapa dengan ramah. Di tengah kepadatan manusia di sekeliling rumah tua itu.

“Boleh, tapi tidak mau kalau diminta bayaran”

“Ya, sedekah gitu”, sapanya kembali.

“Tidak ah…. biar sebisa saya saja”. Dalam hati, saya berbisik, andaipun saya tidak berhasil mencium Hajar Aswad karena situasi dan desakan yang begitu bertubinya, saya ikhlas saja. Dari jutaan jamaah yang datang ke sini, tidak mungkin semuanya mendapatkan kesempatan yang sama.

Saya lanjutkan lagi menyusur, melewati sudut Hajar Aswad dan mendekati lagi dari arah Hijir Ismail. Memang tidak ada pilihan untuk tidak berdesak-desakan. Yang saya harus hindari adalah menyodok-nyodok orang lain, meminggirkan orang lain dengan tangan atau tenaga yang memang tidak akan cukup kuat berhadapan dengan ribuan jamaah lainnya yang berbadan besar yang dengan rombongan dan kekuatannya, menyingkirkan kebanyakan jamaah yang berbadan sedang atau kecil saja. Kalau ada yang menarik bahu saya ke belakang, cukup dengan mengelak atau menggeserkan bahu ke arah tarikan sehingga yang menarik kehilangan cengkramannya atau kalau yang ditarik kepala, cukup melengoskan kepala saja ke arah tarikan. Ini membuat mudah melepaskan diri.

Adalah tidak logis memaksakan sunnah untuk mencium Hajar Aswad sambil menyakiti sesama jemaah lainnya. Atau dengan kata lain, memaksakan yang sunnah (mencium Hajar Aswad) dan melakukan yang haram (menyakiti sesama jemaah).

Di depan saya, kebetulan ada seorang wanita yang juga sedang berjuang keras mengatasi himpitan dari seluruh arah, karena ia juga berjuang untuk masuk ke Hajar Aswad. Dia itu tampaknya dilindungi oleh beberapa jamaah lainnya agar bisa terus maju. Terpikir oleh saya, mungkin ia termasuk yang membayar agar bisa mencium Hajar Aswad. Saya biarkan saja ia lewat. Kemudian ada orang berbadan lumayan besar, tampaknya seperti orang Turki yang dengan kekuatannya berusaha menembus barikade. Juga dia menyibakkan dengan tangannya ke semua yang menghalanginya. Aha… saya biarkan ia lewat di depanku. Lalu dengan gaya belut, perlahan saya mengikuti di belakangnya.

Jarak dengan Hajar Aswad tinggal kurang dari setengah meter lagi, ketika orang berbadan besar itu tampaknya malah tertarik keluar. Mungkin tangannya ditarik orang lain sehingga terpental dari lingkaran dekat Hajar Aswad. Segera, reflek saya mengisi ruang kosong yang ia tinggalkan dan tinggal dua orang lagi di sebelah saya untuk sampai di Hajar Aswad. Satu di antaranya adalah wanita yang tadi dilindungi untuk masuk Hajar Aswad itu. Yang kedua, entah siapa. Saya sudah menempel ke dinding Kabah, berarti tinggal tunggu giliran. Desakan dari kanan saya malah lebih keras lagi sehingga saya malah terdorong tepat di lubang depan Hajar Aswad.

“Segera, lakukan!?, cepat”, begitu terdengar suara dan sepertinya seseorang mendorong kepala saya masuk tepat ke lubang tempat sang batu berada. Tanpa ba, bi, bu lagi segera kusorongkan kepala dan sambil bertasbih : “Bismillahi Allahu Akbar”, saya berhasil mencium Hajar Aswad. Sempat terlihat 3 potongan batu Hajar Aswad sebelum saya cium. Segera setelah itu, saya keluar dari kepadatan manusia yang saling berebutan.

Lega rasanya.

Sedih juga, karena area sakral itu juga diisi oleh orang-orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat barikade bagi siapa saja yang mau membayar agar mendapatkan kesempatan mencium Hajar Aswad. Jelas, buat saya kerugian besar jika harus melakukan hal ini, melakukan tidak dengan kebenaran dan ketulusan hati mana mungkin akan tercatatkan oleh Hajar Aswad ini. Di sisi lain, saya juga bertanya ke dalam hati, apakah saya juga tulus?. Namun, semoga saja, karena sejak berangkat dari tanah air, harapan agar bisa menciumnya sudah menjadi bagian dari asa yang tak bisa begitu saja dibendung.

Biaya untuk mencium Hajar Aswad itu, kata sebagian orang antara 100 – 200 real (sekitar 250 – 500 ribu), tergantung negosiasi. Walah… malu rasanya jadi bangsa Indonesia karena mereka itu, dari lancarnya berbahasa, sepertinya dari bangsa awak juga. Malah katanya pula, bisa jadi mereka juga bekerja sama dengan askar yang menjaga/mengatur antrian rebutan di sekitar Hajar Aswad.

(Catatan Perjalanan Hajj 1)

Iklan

2 Tanggapan to “Berbisnis Di Sekitar Hajar Aswad”

  1. […] sepanjang sejarah. Tempat ini juga, di masa haji menjadi tempat para saudara-saudara kita berbisnis mencium batu yang kini menjadi hitam ini  😦  […]

    Suka

  2. sitijenang said

    saya dapet dari situs ini:

    Perkataan Aswad adalah sighat tafdil dari kata Sayyid yang berarti Tuan atau Penghulu! sebagaimana Ajwad adalah tafdil dari Jayyid yang bererti baik / terbaik. Jayyid = Ajwad. Sayyid = Aswad.

    Hajar Aswad bukan bererti Batu yang Hitam, namun yang makna yang sebenarnya adalah Batu yang Termulia, Batu yang Terunggul, Batu yang Tertinggi dan menjadi penghulu semua batu yang ada (Sayyidul-Ahjar), sebabnya tiada lain adalah kerana telah dicium oleh penghulu alam; Rasulullah Saidina wa Maulana Muhammad Saw.

    Dengan kecupan penghulu alam Rasullullah s.a.w, batu tersebut menjadi batu yang aswad (termulia) dan dapat memberi syafaat kepada siapa saja yang pernah menyentuh atau mengecupnya.

    @
    Trims infonya… meskipun bahasa inggris menyebutnya sebagai black stone, dalam postingan saya pikir juga itu bukan batu hitam, karena memang dahulunya putih dan lebih putih dari susu… Trims tambahan informasinya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: