Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seputar Dunia Kuantum

Posted by agorsiloku pada Januari 5, 2007

  • ‘Orang yang mengatakan bahwa teori kuantum sudah jelas, sesungguhnya belum memahaminya.’ Niels Bohr (Wafat Tahun 1962, usia 77 tahun).
  • Kuantum setara dengan kubisme yang melihat objek dari beberapa sisi sekaligus. Teori kuantum dan kubisme dikembangkan secara simultan, tetapi secara terpisah. Telah dikemukakan bahwa pada awal abad k-20, evolusi kita mengalami ‘lompatan’ dalam cara kita memahami dunia.
  • Kuark (bagian yang paling kecil) merupakan salah satu dari sekelompok partikel elementer tertentu. Kromodinamika kuantum menyatakan bahwa ada 18 tipe kuark. Tipe-tipe ini (dikenal sebagai cita rasa) termasuk : atas, bawah, aneh, menawan, dasar (atau cantik), dan puncak (atau kebenaran). Istilah quark’ diperkenalkan oleh ahli fisika asal Amerika, Murray Gell-Mann dari kata yang ditemukan oleh James Joyce dalam adikaryanya Finnegans Wake, yang dideskripsikan oleh seorang kritikus sebagai lompatan kuantum ke dalam kegelapan.
  • ‘Multikulturalisme adalah konsep kuantum’ – New Scientist.
  • Definisi ensiklopedia :”Pluralisme adalah kepercayaan koeksistensi pandangan yang saling berlawanan… [Pluralisme telah] secara perlahan-lahan menembus semua segi kebudayaan, masyarakat, dan bahkan pengetahuan abad k-20. -> apakah ada kesalahpahaman?.
  • Eisntein menunjukkan bahwa jagat raya tidak tersusun atas materi. Partikel utamanya adalah energi. Maka, semua objek fisik menjadi ruang yang berisi energi.
  • ‘Kuantum pada dasarnya adalah sains yang melampaui indera. Kita bisa tidak mempunyai gambaran terhadap realitas yang sesungguhnya (ultimate reality)’. Heiseinberg.
  • ‘Saya yakin ‘seyakin-yakinnya’ bahwa realitas pasti lebih ganjil dari pada yang dapat kita bayangkan. Bryan Maage, filsuf kontemporer.
  • ‘Antipati yang mendalam terhadap sikap mempercayai sekali untuk selama-lamanya setiap pandangan yang menyeluruh terhadap dunia. Mengagumi sudut pandang yang berbeda: menolak untuk dicabut dari stimulus tehadap hal yang sukar dimengerti’. Resep Nietzche untuk masa depan sains Tahun 1986. Ia juga mengatakan :’Pemikiran (insight) yang paling bernilai adalah metode’ –> (kok nggak beriman ya!).
  • ‘Hukum kedua tetapan termodinamika memutuskan bahwa tidak pernah akan ada Humpy Dumpty yang lain. Fisika kuantum membuat ‘teori mengenai segala sesuatu’ sama masuk akalnya seperti Father Christmas’. John Mandeville, ahli fisika.
  • Peringatan bagi semua orang yang mencari penjelasan mendasar tentang dunia dalam kerangka pengetahuan :”Jangan pernah menjadikan intelek dewa kita; ia mempunyai …otot yang kuat tetapi tidak mempunyai kepribadian‘. Eisntein.
  • Perkembangan fisika kuantum (versi sederhana) : Bayangkan dua partikel subatomik. Pada satu tahap, pasangan ini membentuk sebuah sistem, di mana nilai satu partikel sama dengan nilai partikel yang lain (Seperti katakanlah : A\, B/). Partikel-partikel ini kemudian menjadi terpisah oleh jarak yang sangat jauh (katakanlah separuh jagat). A kemudian diukur diketahui mempunyai nilai \. Jadi kita menyimpulkan bahwa B pasti mempunyai nilai /. Sampai di sini sederhana bukan?. Namun, menurut teori kuantum, A tidak mempunyai nilai sampai A itu diukur. Dan nilai ini juga tergantung dari metode pengukuran yang dipakai. Ini berarti ketika A diukur dan diketahui menjadi \, B, karena pernah menjadi bagian dari sistem yang sama, harus mempunyai nilai /. B harus mendapat nilai ini dengan seketika (instantaneously) –> komunikasi subatomik?. Dengan demikian, apabila teori kuantum benar, sesuatu bergerak lebih cepat dari cahaya. Namun, seperti kita ketahui, menurut teori relativitas Einsterin tidak sesuatu apapun yang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya. Selain itu, ‘aturan’ ini (atau menghitung B pada jarak yan sangat jauh) akan terjadi tanpa sebab yang dilihat. Hal ini melampaui ranah kausalitas (hubungan sebab akibat). Fenomena ini dikenal sebagai paradoks EPR.
  • Perkembangan lanjut dari Paradoks EPR terjadi ketika Bell menemukan Teori Ketidaksamaan. Teori ini menjelaskan Paradoks EDPR dengan menempatkan sebuah ‘Realitas Tidak Loka’ – Unlocal Reality – (yaitu dunia nyata yang tidak mempunyai tempat). Dunia nyata yang kita kenal didukung oleh realitas yang tidak kelihatan ini yang tetap melampaui ruang, waktu, dan kausalitas. Menurut Bell, setiap partikel yang pernah menjadi bagian dari suatu sistem akan selalu tetap dihubungkan oleh realitas lokal (unlocal reality) ini, yang tidak dipengaruhi oleh jarak (betapapun besarnya), bertindak secara instan atau seketika (yaitu lebih cepat dari cahaya), dan membentuk penghubung (link) yang tidak melintasi ruang. Ini bukan pertama kalinya metode komunikasi (–> inikah sesuatu yang sedang menjelaskan mekanisme doa untuk sampai padaNya?, mencapai perbatasan ghaib?). seperti itu dinyatakan. Demikian juga dengan Voodo. Ketika anda menusukkan jarum ke model yang aslinya berada jauh dari Anda, ia akan segera nyeri di tempat bagian yang telah Anda tusuk (Sihir, santet nih yang sedang dijelaskan oleh teori Kuantum).

Akan tetapi, Teori Ketidaksamaan Bell, disebut sains?.

Bohr dan Teori Kuantum, Seri Ide Besar, Penerbit Erlangga, 2005

Jelas, sains sedang berada di perbatasan….

Iklan

5 Tanggapan to “Seputar Dunia Kuantum”

  1. randri said

    Aku setuju sains telah masuk ke orbit paralogis, mendekati metafisika, bila positivisme telah lewat.Semakin dekat pula iman mendekati sains ilmiah, inilah positivisme baru, kalau boleh saya menyebut immanisme….

    Suka

  2. dEsHi said

    Berdasarkan buku Seri Mengenal & Memahami Teori Kuantum yang telah saya baca,saya menilai bahwa teori kuntum tersebut adalah suatu revolisioner yang sangat menakjubkan.Teori Fisika klasik akan tergantikan oleh fisika modern yang akan dimulai dari teori kuantum tersebut.

    @
    Teori ini, biarpun tidak banyak mengerti tapi asyik. Asyik karena sains mulai memaksakan diri berada pada ujung filsafat dan mulai merujuk yang selama ini dilihat oleh para sufistik…!

    Suka

  3. Saya merangkum teori-teori lama mengenai keyakinan dan logika menjadi sebuah teori alternatif karena sekedar informatika, bukan keyakinan maupun ilmu pengetahuan. Teori itu saya namakan teori paralogika berdasar Teori Minimalis. Dalam TM saya menyatakan bahwa Universe merupakan sebuah system tertutup dimana jumlah energi tetap yang berubah hanya jenisnya. Di unioverse ini ada bagian yang telah terisi materi (yang bermassa) dan bagian yang belum terisi materi yang dalam fisika konvensional dinamakan ruang hampa. Dalam fisika setiap ruangan yang telah terisi oleh materi akan memenuhi hukum fisika, diantaranya jika materi memasuki ruang yang telah terisi materi akan mendapat reaksi mekanistik berupa gaya/reaksi. TM menyatakan bahwa disamping energi nyata dalam univers terdapat energi semu yang dapat membentuk body dan wave. Energi dan body ini belum bermassa sehingga tak memerlukan ruang nyata Bagian Universe telah terisi body nyata terdapat juga body semu tanpa mendapat reaksi mekanistik dari penghuninya.
    Fenomena semu terbagi menjadi tiga, yaitu fenomena gaib (energi keyakinan), fenomena metafisika (energi fikir). Kedua fenomena ini dapat berinteraksi menjadi fenomena transien yang juga belum bermassa. Jika dalam teori dawai diasumsikan adanya dawai getar, dalam TM siasumsikan ada wave/gelombang yang disamping bergetar juga merambat diruangan baik ruangan semu(kosong) dan ruangan yang telah terisi materi.
    Jika anda tertarik silakan akses ke http://www.ibnusomowiyono.multiply.com atau cari lewat google: ibnusomowiyono atau teori minimalis atau teori paralogika.
    Saya sangat berterima kasih atas kunjungan anda lebih-lebih jika anda bersedia mengkritis gagasan saya itu.

    Suka

  4. qarrobin said

    http://qarrobin.wordpress.com/2010/07/08/teori-kuantum-di-al-quran/

    Suka

  5. qarrobin said

    Sebuah model(mitsal) menyatukan relativitas dan quantum

    Line-like and space-like
    Catatan ini mencoba menyatukan teori ruang dari Einstein dengan teori dualitas kuantum. Kadang kita mendapatkan gambaran seperti garis dan kadang kita mendapatkan gambaran seperti ruang. Kita umpamakan dua buah pesawat supersonic melaju, dan ada seorang pengamat di bumi yang melihat dua pesawat tersebut. Pesawat tadi melaju sejajar, dan kedua pilotnya dapat saling melihat. Kita misalkan salah satu pilot memancarkan berkas cahaya (foton) ke pesawat di sebelahnya. Tentu saja masing-masing pilot akan melihat cahaya melalui garis lurus, dan kita sebut line-like.

    Pengamat yang berada di bumi tadi, akan melihat kalo berkas cahaya tadi juga ikut berjalan mengikuti arah pesawat. Jika kita hubungkan titik2 yang dilalui berkas cahaya, maka akan didapatkan gambaran garis yang melengkung, yang kita sebut space-like. Jadi terdapat dualitas garis dan ruang dalam teori Einstein bergantung kepada posisi pengamat. Karena kelajuan cahaya adalah tetapan, maka ruang adalah sesuatu yang relative.

    Paradox partikel-gelombang
    Sekarang kita akan menerapkan perumpamaan tadi dengan teori dualitas partikel-gelombang. Misal sebuah bunga api (muwriyaat) terpancar, yakni berupa electron yang memancarkan cahaya berupa foton. Pesawat supersonic yang melintas tadi kita umpamakan electron yang melintas, dan lintasannya kita sebut lintasan ruang-waktu electron. Sedangkan berkas cahaya yang dipancarkan pilot tadi kita umpamakan foton yang dipancarkan oleh electron, sehingga kita melihat bunga api yang berwarna merah. Menurut teori kuantum, foton yang teremisikan oleh electron dapat dipandang sebagai fluktuasi alami.

    Dari kerangka acuan (frame of reference) pesawat atau electron, kita dapatkan line-like. Karena kelajuan cahaya tidak dipengaruhi oleh kelajuan sumber, maka jarak (lintasan ruang-waktu) yang dilalui oleh pesawat seakan mengalami penyusutan (kontraksi) karena pilot melihat cahaya melalui garis lurus. Jarak yang mengalami kontraksi ini kita sebut lintasan ruang-waktu pesawat atau electron dari titik C ke titik D. Sekarang kita misalkan bahwa cahaya yang terpancar dari electron, berjalan melewati sebuah kertas yang memiliki dua buah lubang. Dua lubang ini kita sebut celah A dan celah B. Di belakang celah ganda ini kita tempatkan sebuah plat fotografis.

    Jika kita menutup salah satu celah, maka plat fotografis akan mendapatkan gambaran seperti partikel. Namun bila kedua celah A dan B dibuka, maka plat fotografis akan mendapatkan gambaran seperti interferensi gelombang foton. Mengapa foton dapat memilih antara gambaran partikel dan gelombang, adalah karena foton tidak dipengaruhi oleh lintasan ruang-waktu electron dari titik C ke titik D. Juga kenapa kita tidak dapat melihat gambaran partikel dan gambaran gelombang secara bersamaan, adalah karena dari kerangka acuan kita terdapat garis dunyaa dari titik C ke titik D.

    Fluktuasi cangkang electron
    Kendati kita melihat interferensi gelombang, foton adalah suatu kuanta. Sekarang kita akan menerapkan perumpamaan ini dengan fluktuasi atau terpancarnya foton dari electron yang terikat pada proton. Atom memiliki 7 cangkang, misalkan electron pada cangkang ke dua melepaskan sebuah kuanta foton di titik C, electron ini akan turun ke cangkang pertama di titik D, dan frekuensi foton dapat dihitung dari selisih energy electron pada cangkang ke dua dan energy electron pada cangkang pertama. Antara cangkang ke dua dan cangkang pertama, kita melihat lintasan ruang-waktu electron dari titik C ke titik D. Karena foton tidak dipengaruhi oleh lintasan ruang-waktu electron ketika terjadi fluktuasi, maka kita mendapatkan gambaran seperti partikel, yakni suatu kuanta foton.

    Medan elektromagnetik Maxwell
    Medan elektromagnetik yang meneguhkan atom sehingga terjadi interaksi antara electron dan proton digambarkan seperti gelombang yang menyebar pada permukaan air ketika kita menjatuhkan batu pada tengah kolam. Kita melihat gambaran gelombang ini karena dari kerangka acuan kita terdapat lintasan ruang-waktu antara electron dan proton. Dari perumpamaan fluktuasi cangkang electron tadi, kita dapat menghitung frekuensi suatu kuanta foton, dari selisih energy electron antar cangkang dari titik C ke titik D dan kita mendapatkan gambaran line-like. Massa electron adalah vortex ruang-waktu, satu panjang gelombang electron pada cangkang pertama sebanding dengan keliling cangkang pertama. Kelajuan medan elektromagnetik setara dengan kelajuan foton. Frekuensi foton yang dipancarkan oleh electron ketika fluktuasi setara dengan frekuensi medan elektromagnetik antar cangkang, sehingga gambaran partikel dari kuanta foton dapat dipandang sebagai gambaran gelombang pada medan elektromagnetik. Meski hanya satu kuanta, foton dapat menyebar seperti gelombang pada permukaan air. Karena foton tidak dipengaruhi oleh lintasan ruang-waktu dari titik C ke titik D, kita mendapatkan gambaran space-like pada medan elektromagnetik Maxwell.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: