Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Transplantasi Organ demi Kelangsungan Hidup Manusia..!

Posted by agorsiloku pada Januari 3, 2007

Prof Dr dr Nukman Moeloek Sp AndKetua Bagian Biologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

TRANSPLANTASI dapat dilakukan dari satu spesies yang sama-disebut alotransplantasi-atau dari spesies berbeda yang disebut xenotransplantasi. Alotransplantasi pada manusia telah terbukti bisa mengatasi berbagai gangguan kesehatan.

Sayang sekali, sumber jaringan atau organ manusia untuk ditransplantasikan sangat sedikit sehingga terjadi antrean panjang untuk mendapatkan jaringan atau organ donor. Karena itu banyak ahli memikirkan kemungkinan menggunakan binatang sebagai sumber organ dan jaringan untuk ditransplantasikan. Keuntungan terbesar jika dapat menggunakan sel, jaringan, atau organ binatang-berarti xenotransplantasi-adalah tidak terbatasnya sumber donor. Mau tidak mau, di masa depan manusia makin membutuhkan pertolongan transplantasi organ dari binatang.

Sampai saat ini penggunaan katup jantung dari babi sudah rutin. Penelitian kedokteran sekarang sedang meneliti apakah sel-sel binatang juga dapat digunakan untuk menolong pankreas manusia memproduksi insulin. Juga mungkin dalam waktu tidak terlalu lama menggunakan kulit dari babi untuk menolong orang menderita luka bakar berat.

Meski sekarang belum ada yang menerima transplantasi organ jantung, hati, atau ginjal babi, masalah xenotransplantasi sudah menjadi perdebatan hangat. Di Jerman sekitar 11.000 orang masih menunggu untuk transplantasi organ, padahal kemampuan mentransplantasikan organ hanya sekitar 3.000 setahun, baik di Jerman maupun Inggris. Di Amerika Serikat sekitar 53.000 orang menunggu proses transplantasi.

Penelitian yang dilakukan

  • Tranplantasi dari manusia ke manusia telah banyak dilakukan. Risiko utama pada penerima transplantasi adalah penolakan karena respons imun.

Pada transplantasi dari manusia ke manusia (alotransplantasi), penolakan ini sebagian besar dapat diatasi dengan penyesuaian donor dan penerima, disertai dengan pemberian obat yang menekan respons imun.

Risiko penolakan pada xenotransplantasi lebih berat karena perbedaan antara donor dan penerima jauh lebih besar. Kalau xenotranplantasi menjadi pilihan untuk terapi pada manusia, maka diperlukan penelitian yang meliputi preklinik dan klinik.

Pada preklinik, dilakukan penelitian dari binatang ke binatang. Jadi, prosedur xenotransplantasi diuji pada binatang, contohnya transplantasi ginjal babi ke baboon. Pada penelitian klinik, diuji produk binatang pada manusia, misalnya, transplantasi sel otak babi ke manusia. Australia yang cukup maju meneliti xenotransplantasi ini ternyata juga belum begitu jauh kemajuannya. Soalnya, prosedur ini memang harus dilakukan secara hati-hati sesuai standar yang ditetapkan National Health and Medical Research Council (NHMRC) yang baru diedarkan Juli 2002.

Harus diakui, binatang donor yang paling menguntungkan dan memungkinkan adalah babi karena bereproduksi secara cepat dan anaknya banyak, organnya berukuran kurang lebih sama dengan manusia, mudah membuatnya dalam kondisi bebas patogen, rendahnya risiko membawa patogen yang menginfeksi manusia (lebih kecil daripada menggunakan kera atau monyet), dan metabolisme babi yang mirip manusia. Selain itu babi secara genetik dapat dimanipulasi untuk mengurangi resiko penolakan.

Risiko xenotransplantasi

  • Resiko utama penerima transplantasi adalah penolakan karena respons imun pasien.

Pada transplantasi dari manusia ke manusia (alotransplantasi), penolakan sebagian besar telah dapat diatasi dengan tissue matching penyesuaian donor dan penerima dan dengan pemberian obat kepada penerima yang dapat menekan respons imun.

Risiko penolakan pada xenotransplantasi lebih berat karena perbedaan antara donor dan penerima jauh lebih besar. Xenotransplantasi juga dapat mentransmisikan infeksi (seperti virus) dari binatang ke manusia. Retrovirus menjadi perhatian utama karena banyak contoh virus pindah dari satu spesies ke spesies lain dan saling menginfeksi.

Retrovirus tidak selalu menimbulkan tanda atau gejala penyakit yang jelas pada awalnya. Kalau ada retrovirus saat xenotransplantasi dan menginfeksi penerima, ia dapat menyebar dan bisa menjadi pembawa infeksi pada populasi yang luas sebelum terjadi infeksi nyata.

Primata bukan manusia (kera dan monyet) tidak baik untuk sumber transplantasi binatang ke manusia karena hubungannya yang sangat erat ke manusia akan meningkatkan risiko virus bertransmisi antar spesies.

Virus yang paling perlu diperhatikan pada xenotransplantasi menggunakan babi adalah porcine endogenous retrovirus (PERV). PERV ada di dalam hampir semua strain babi dan tidak dapat dihilangkan dengan meningkatkan babi dalam kondisi steril. Meskipun PERV inaktif, dan karena itu tidak berbahaya di dalam babi, dikhawatirkan transplantasi ke manusia dapat mengaktifkan virus, menimbulkan penyakit baru, dan dapat menyebar luas pada orang yang dekat pada penerima transplantasi.

PERV dapat menginfeksi sel manusia dalam laboratorium, menandakan kemungkinan ia dapat menginfeksi manusia melalui xenotransplantasi. Akan tetapi, menurut NHMRC, penelitian dari sekitar 150 orang yang tersebar luas di dunia yang ditransplantasi dengan jaringan babi atau sel babi menunjukkan tidak terdapat kejadian infeksi virus atau infeksi lain yang berasal dari babi.

Minimalisasi risiko

  • Meskipun kebanyakan babi membawa PERV, tetapi sekurangnya satu strain “minipigs” tidak membawanya sehingga penelitian diarahkan ke pada strain ini untuk xenotransplantasi agar supaya mengurangi risiko infeksi terhadap penerima.

Menurut NHMRC, penelitian transplantasi dari binatang ke manusia tidak akan disetujui kecuali terdapat kebijakan pengontrol infeksi yang memadai di rumah sakit tempat transplantasi dilakukan. Ini untuk mencegah penularan infeksi dari penerima xenotransplantasi ke orang lain di rumah sakit. Karena konsekuensi jangka panjang xenotransplantasi belum dapat diketahui untuk beberapa tahun mendatang, maka transplantasi dengan sel, jaringan, atau organ dari spesies lain perlu dipantau secara hati-hati dan terus-menerus. Karena itu setiap penerima transplantasi perlu diberitahu mengenai risiko potensi penyakit infeksi terhadap mereka sendiri dan terhadap lingkungannya serta diminta untuk mendukung pemantauan jangka panjang.

Penelitian xenotransplantasi dari binatang ke manusia yang telah dilakukan saat ini di Australia adalah suatu penelitian penyaringan darah melalui hati bioartificial pada 3 peserta.

NHMRC melaporkan bahwa saat ini xenotransplantasi sedang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa. Penelitian ini melibatkan transplantasi sel saraf fetus untuk pengobatan penyakit parkinson, demikian juga prosedur perfusi hati dan kultur kulit.

Suatu penelitian kecil sel pulau Langerhans fetus babi untuk diabetus tipe I telah dilakukan pada dua pasien di Selandia Baru. Namun, penelitian lanjutannya ditolak di Selandia Baru karena takut akan terjadinya infeksi PERV.

Banyak negara Eropa telah memutuskan penelitian xenotransplantasi harus di bawah penuntun yang telah disetujui. Menurut Badan Pekerja Xenotransplantasi NHMRC, yang terbaik untuk Australia adalah mengizinkan penelitian secara hati-hati di bawah petunjuk dengan memperhatikan masalah etik, melindungi peserta yang mengikuti penelitian, dan menjamin keamanan usaha perlindungan masyarakat.

Binatang transgenik

  • Usaha lain yang dilakukan saat ini untuk mengurangi risiko penolakan adalah dengan mengkaji binatang transgenik.

Penolakan utama pada xenotransplantasi adalah penolakan hiperakut. Penolakan ini terjadi karena hiperakut menolak gula galaktosa yang diproduksi babi sehingga mengakibatkan rusaknya pembuluh darah manusia.

Karena itu dengan rekayasa genetika diupayakan diperoleh babi “knock out” yang tidak mempunyai gen galtransferase. Dengan demikian, babi tersebut tidak dapat mensintesis enzim galactosyl transferase dan akhirnya tidak dapat membuat galaktosa. Hasil penelitian terakhir adalah dihasilkannya lima anak babi yang kekurangan gen galtransferase, namun hanya empat yang tetap hidup. Sekarang sedang diusahakan menghasilkan babi yang sama sekali tidak mengandung gen galtransferase dengan teknik hibrida biasa.

Penelitian penting lain yang juga perlu dilakukan adalah penambahan gen pada binatang yaitu gen penghambat komplemen (complement inhibitor gene) dan gen yang terlibat dalam restoring koagulasi normal untuk mencegah penolakan organ dalam jangka panjang (4). Juga mekanisme rejeksi lainnya meliputi penolakan tipe lambat (xenograft delayed) yang terjadi dalam beberapa hari ketika antibodi, makrofag, dan natural killer cells menyerang organ. Rejeksi kronis T cell mediated dapat terjadi bulanan atau tahunan.

Kalau pada alotransplantasi manusia ke manusia dapat dikontrol dengan imunsupresi jangka panjang, mungkin hal ini tidak cukup untuk xenotranplantasi. Manusia dan primata lainnya dilindungi oleh antibodi yang menetralisasi virus. Menghilangkan gen yang menyebabkan penolakan hiperakut mungkin juga menghilangkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus babi.

Perkembangan terakhir

  • Hasil xenotransplantasi terakhir dilaporkan dari Kongres Perkumpulan Transplantasi Internasional di Miami, Agustus 2002, dan laporan CDC (Central for Disease Control, AS).

Disebutkan pelayanan klinik xenotransplantasi rutin saat ini masih jauh. Beberapa penelitian klinik belum berhasil. Perlu dilakukan banyak penelitian dan tidak berarti tidak ada kemajuan.

Sampai saat ini belum ada produk xenotransplantasi yang disetujui FDA Amerika Serikat. Beberapa aplikasi telah mencapai penelitian klinik fase 3. Tidak terdapat kejadian infeksi yang berhubungan dengan penelitian ini pada penelitian yang dipantau FDA.

Penelitian sel pankreas babi yang ditransplantasikan kepada 12 remaja penderita diabetus membuat satu orang telah bebas penyuntikan insulin beberapa bulan kemudian, lima orang dosis penyuntikan insulinnya dapat dikurangi, dan enam orang lagi tidak ada perubahan. Namun, kontroversi muncul karena data masih sangat awal dan tidak ada data perbandingan dengan sampel dewasa yang membutuhkan insulin. Perbandingan ini penting karena kebutuhan insulin sering berfluktuasi pada kelompok tersebut dan perbaikan mungkin tidak berhubungan dengan transplantasi.

Kontroversi lain adalah penelitian dilakukan pada manusia sebelum dilakukan penelitian preklinik pada primata bukan manusia. Umur sampel penelitian juga ada yang masih di bawah empat tahun. Sponsor sebenarnya telah ditolak izinnya untuk meneliti di Kanada dan Selandia Baru karena tidak memiliki penelitian preklinik dan alasan lainnya, sehingga kemudian memindahkan penelitiannya ke Meksiko.

Badan Pekerja Xenotransplantasi NHMRC telah mengusulkan bahwa ke depan penelitian klinik xenotransplantasi harus diawasi suatu komite nasional untuk menjamin bahwa penelitian klinik yang diajukan adekuat dan dapat dimonitor sesuai petunjuk yang disetujui.

Dengan demikian, usulan penelitian harus disetujui oleh komite nasional sebelum mereka dapat dipertimbangkan oleh komite etik penelitian manusia pada institusi di mana penelitian akan dilakukan.

Ini kutipan dari Kompas, Rabu, 07 Mei 2003, 10:15 WIB http://www.kompas.com/kesehatan/news/0305/07/101301.htm

Iklan

Satu Tanggapan to “Transplantasi Organ demi Kelangsungan Hidup Manusia..!”

  1. Rengga said

    bagi yang butuh donor organ manusia, saya mau mendonorkan organ apa pun yang ada di tubuh saya, asal saya dapat uang untuk ngebahagiakan istr saya. trima kasih sebelumnya….
    hub. di e-mail (sk8er.boy46@yahoo.com)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: