Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masyarakat Tidak Perlu Bertanggung Jawab!

Posted by agorsiloku pada Desember 31, 2006

Ketika jalanan macet :

Kemacetan lalu lintas adalah produk dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap tertib berlalu lintas.

Ketika sungai tercemari, sampah bertumpuk, bau menyengat dan lalat bertebaran :

Kebersihan dan kesehatan adalah tanggung jawab masyarakat.

Ketika ijazah dipalsukan, kompentensi lulusan diragukan, yang lulus ujian nasional seupil :

Pendidikan adalah tanggung jawab masyarakat.

Banyak sekali kita jumpai sehari-hari bahwa ”aparat” membebankan tanggung hal-hal strategis kepada masyarakat. Hal ini cenderung membawa pada ”seperti” usaha untuk ”ngeles” dari kewajiban Negara untuk mengatur warganegaranya pada tatanan yang dicita-citakan. Tentu ini tidak berarti Pemerintah kehilangan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, selalu disertai kata ”bersama Pemerintah”.

Menurut saya upaya ngeles ini haruslah dikikis. Lebih baik tanggung jawab itu ”sepenuh”nya ada pada penguasa, ada pada penyelenggara negara.

La, gimana sekumpulan itik harus tertib. Sekumpulan domba mau merumput dengan baik. Semua itu jelas bersumber dari kekuasaan dan kewenangan. Masyarakat akan terbentuk menjadi ”madani” karena memiliki pemimpin-pemimpin visioner dan revolusioner, taat hukum, dan arif. Tidak memiliki itu, tidak memiliki semuanya.

Kenapa : Karena masyarakat itu produk keputusan, produk pengelolaan negara. Yah kalau memang ingin berbagi juga, 10%lah pada masyarakat. Selebihnya pada Pemerintah. Kalau dibilang kurang kesadaran masyarakat, yang sebenarnya : Pemerintah tidak memiliki kesadaran cukup untuk membina hukum dan masyarakatnya.

Kenapa kita semakin tidak ”madani”, kualitas hidup semakin buruk (relatif terhadap negara-negara lain), bukan hanya Singapura yang sudah lama di depan kita, Malaysia yang sudah lebih oke, bahkan oleh negeri seperti Vietnam kemarin sore, yang sekian tahun dihabis Amerika, menjadi disegani?. Ya, karena di sini kita harus bersama Pemerintah untuk bertanggung jawab dan akhirnya menjadi usaha Pemerintah membebaskan dari amanat. Karena itu pula, kita memilih anggota DPR yang seperti itu, lulusan perguruan tinggi yang idealisme dan sungguh-sungguh banyak berada di luar lingkaran kekuasaan. Akhirnya, menjadi lebih banyak pengurus negara yang buruk mentalitasnya, korup sikapnya, dan melihat hukum sebagai alat untuk kesenangannya menperdaya. Basis priyayi menjadi berbasiskan srigala. Tentu tidak semua, tapi memang sudah terlalu banyak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: