Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Di Satu Siang di Pantai Ancol

Posted by agorsiloku pada Desember 20, 2006

Weleh… indah tenan. Siang di hari Minggu nan terik menyengat di Ancol, saya berada pada antrian ke 20-an untuk berwudlu. Di kran satu lagi, sejumlah muslimah berada pada antrian lebih panjang lagi. Mungkin 30 an, berjajar tidak rapih, mengikuti batas bangunan musholla yang tak begitu besar itu.

Lo, bisa ya mereka tertib menerima hadiah untuk bertemu denganNya?. Kok kalau antri beli beras, atau antri dapat jatah makanan, atau antri mo dapat BLT (Bantuan Langsung Tunai) lainnya nggak ada budaya itu?.

Ya, iyalah…nggak pantaslah. Masak mo musti berjejal-jejalan atau ribut kayak itik berebut cacing.

Kita kan musti menyesuaikan diri. Di dunia agama, adalah dunia khusyu. Di luar itu, bolehlah segalanya barbar lagi. Siapa duluan, itu yang dapat. Lain soalnya kalau yang antri ini semuanya berperilaku santun. Di tempat yang tidak santun wajarkan kita berperilaku tidak santun juga. Di tempat dengan budaya antri yang tinggi, di situ pula kita jadi mahluk berbudaya. Di tempat dengan budaya antri yang rendah, maka di situ pula kita memperlihatkan keaslian kita. Gitu….

Aku berbincang dengan diriku sendiri. Mengamati kejadian sekitarnya dan segala sumpah serapah sambil menanti dengan tawadu, giliran untuk mendapatkan air untuk menyiram keresahan batin ini :

Dasar ulama kurang perhatian, lihat itu wanita muslimah nan cantik-cantik itu (duh cantiknya, mataku seolah tak lepas melihat ada wanita ayu sedang berwudlu). Sejenak kualihkan pandangan ke tempat lain. Malu. Pandangan pertama, tak sengaja. Pandangan kedua ditunjukkan setan.

Lihat itu, dia basahi tangannya dengan air yang tercurah dari kran. Disentuhkan ke kulit hidungnya bagian luar sedikit saja. Begitu juga ketika dia memperlihatkan auratnya sedikit (eh maksudnya rambutnya kelihatan – nggak nafsu lah, masak lihat rambut begitu saja nafsu) untuk dibasuh air. Entah berapa cepat dan kilat tangan lembut itu menyapa rambutnya. Entah juga berapa tetes air hinggap di rambutnya. Namun, ketika tangannya menyapu tangannya, saya tak sempat perhatikan teliti. Tampaknya sih lebih serius, lebih bersungguh-sungguh untuk membasahi 3 kali sampai ke pangkal lengannya.

Menurut logikaku, nggak serius tuh orang itu berwudlu. Setengah hati. Kali takut lipstik atau pelapis keindahan fisiknya yang dibalut pupur itu akan tercoreng oleh air wudlu.

Aku memaki lagi, ulama nyinyir saja yang membuat ummatnya nggak ngerti bagaimana membasuh untuk berwudlu. Ngajarinnya aja nggak serius. Jadi dia nggak tahu tuh, apa yang seharusnya dilakukan ketika sedang mensucikan hatinya melalui ritual fisiknya.

Kok, ke ulama sih. Dasar pikiran saya yang emang rada ngawur. Saya pikir, kalau ada ulama melihat gadis secantik itu. Boleh jadi yang dipikirkan bukan bagaimana menyempurnakan wudlunya, tapi bagaimana kalau dinikahi saja.

Astagfirullah. Pikiran ternyata begitu mudah berlari-lari kemana saja. Konsentrasi antrian dan dorongan dari jamaah di belakangku memaksaku melangkahkan kaki agar kian dekat tempat berwudlu.

Kemudian, saya berwudlu, lalu sholat. Sekalian saja ah dengan Ashar. Sayangkan jauh-jauh ke Ancol, mau menikmati keindahan Ancol, mau ke Dufan, atau kemana lagi gitu. Belum lagi pada setiap wahana yang dikunjungi harus antri. Pasti repotlah kalau harus sholat Ashar lagi pada waktunya. Bisa sia-sia deh kesempatan berlibur yang mahal ini.

Lo, bagaimana pertanggungjawaban sampeyan dong.

Saudaraku yang lain, solehnya bukan main. Dia malah tidak mau sama sekali antri di antara muslimah yang antri untuk wudlu. Dia memilih mencari kamar mandi. Jadi antrinya di kamar mandi, dekat lubang wc kali. Di situ dia berwudlu. Dia nggak mau kelihatan, biar sehelai rambutnya. Karena in totally, itu aurat. Tapi ketika kami ajak maka bakso, dia nggak pakai sarung tangan juga (apa dia sudah lupa bahwa hanya telapak tangan saja yang boleh terlihat. Rasanya ingin juga saya berbagi pikir dengannya, tapi waktu tidak memungkinkan). Kerangka berpikir yang menurut saya kurang luwes.

Tiap orang memiliki cara sendiri, bagaimanapun saya sayang dan hormat padanya. Boleh jadi, kita berbeda pandangan, berbeda guru, berbeda cara, berbeda pula kondisinya. Tiap perbedaan ada maknanya. Bangunan memang tidak didirikan oleh tiang saja, tidak juga oleh genteng saja, tidak juga semua jendela. Masing-masing melaksanakan fungsinya secara maksimum dalam segenap perbedaan itu.

Iklan

Satu Tanggapan to “Di Satu Siang di Pantai Ancol”

  1. […] Yah, idealnya begitu.  Karena itu, aku juga ikut-ikutan ‘gelo’ kalau melihat yang wudlu sepenaknya. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: