Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tijuana dan Sandiego

Posted by agorsiloku pada Desember 18, 2006

Kesempatan yang diberikan oleh perusahaan untuk belajar di Sandiego beberapa bulan memberikan kesempatan saya untuk mengenal negara dengan adab yang pantas diacungi jempol. Terlepas dari perilaku politiknya yang cenderung gagah perkasa dan mengeksploitasi negara lain habis-habisan dengan bungkus demokrasi. Hari Sabtu atau Minggu, biasa saya gunakan waktunya untuk berjalan-jalan ke kota terdekat atau hanya windows shopping saja.
Kota Tijuana yang berbatasan dengan Amerika adalah salah tujuan wisata yang menarik. Setelah terbiasa menunggu bis yang selalu tepat waktu di setiap halte, setelah terbiasa melihat mobil antri dengan tertib, setelah terbiasa pejalan kaki didahulukan dari pada pengendara mobil, setelah lama tidak melihat pengemis berkeliaran. Singkatnya, hidup yang tidak terlalu reseh.

Bila tiba di Tijuana, melewati perbatasan yang lebarnya sekitar 100 meteran, maka terasa sekali gaya hidup mulai berbeda. Yah seperti tinggal di atau datang ke Pasar Tanah Abang Jakarta lagi, atau ruwetnya keluar tol arah Bekasi. Kendaraan, seperti di negeri sendiri, seperti sedang berlomba juga. Ada sedikit ruang kosong, maka akan segera diisi oleh mobil lain. Masuk ke perbatasan dengan berjalan kaki, di perbatasan negara ini pengemis, kecil besar, tua muda berkeliaran. Pedagang pedagang kaki lima juga berserakan di sepanjang jalan masuk bagi pejalan kaki, begitu tiba di negeri Meksiko. Peminta-minta yang pintar berbahasa Spanyol. Tentu ada imbas juga dari kebesaran Amerika, tapi dalam perilaku masyarakat dalam disiplin, rasanya tidak banyak beda. Terlalu menghakimi memang, datang hanya beberapa jam saja, beberapa kali lalu mengambil kesimpulan begitu. Namun, secara umum, rekan yang pergi bersama juga memberikan penilaian yang sama. Kalau kehidupan sesama warganegara di Amerika menjadi teladan dalam sisi disiplin dan ketertiban bermasyarakat, maka bila tiba di “Tanah Abang” Tijuana, menjadi akrab dengan kesemrawutan.

Yah, terkadang seperti habis masuk ke gedung atau tinggal di Thamrin Jakarta, kemudian pulang ke rumah naik kereta api ke Depok.

Perbedaan itu, tentu bukan muncul karena agama, karena masyarakatnya lebih dewasa. Menurut saya, cuma karena satu hal. Hukum ditegakkan dengan lebih konsekuen. Harga sebuah masyarakat menjadi lebih beradab (dalam ukuran manusia), dan ketertiban, toleransi yang saling menghormati telah masuk menjadi bagian dari kebudayaan dan perilaku keseharian. Percuma kan, banyak peraturannya tapi lebih banyak pelanggaran yang ditoleransi.

Begitu juga negeri tetangga kita yang terdekat. Memiliki ketertiban hukum (bagi negerinya) yang pantas diteladani. Begitu terbiasanya kita untuk menang-menangan dan bangga dengan kesemua itu.

Hal lain, yang boleh jadi kita tidak punya dalam dunia ketertiban adalah kita tidak bisa menerapkan kesantunan beribadah dengan kesantunan bermasyarakat.  Ketika kita sedang berkendara dan ada peluang untuk masuk, maka kita cenderung untuk masuk, menyalip, meskipun membuat pengendara lain terpaksa mengerem.  Kita tidak mau memberikan kesempatan untuk yang berhak (segi waktu atau jalur) untuk berlalu lebih dahulu.  Lalu, kita bangga telah menyalip orang lain.   Apalagi kalau cuma pejalan kaki, libas aja sekalian.

Kembali ke San Diego, seperti biasa, naik kereta api listrik tanpa penjaga karcis. Semua membayar melalui mesin, meskipun mungkin satu dua orang Meksiko tidak mau membeli karcis. Jika tertangkap hukuman dan denda bisa membuat tidak bisa makan sebulan. Saya tahu, di rumah Paman Sam ini, saya harus membiasakan kembali hidup bermasyarakat lebih tertib. “What’s up guys”, sapa sesama penumpang kereta ke arah pulang yang sama….

Iklan

Satu Tanggapan to “Tijuana dan Sandiego”

  1. Wah sepertinya nikmat dan asyik lihat situasi seperti itu… kapan Indonesia bisa cem itu? Asyik juga denger cerita-nya…
    /*sambil berandai-andai*\

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: