Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

pLuralisme Agama dan Saya

Posted by agorsiloku pada Desember 10, 2006

Saya sih, kalau saja tidak karena MUI memfatwakan “haram”, nggak akan mikirin apa itu pluralitas, pluralisme atau apa sajalah. Definisi boleh beragam, banyak, pilah-pilih mana saja. Menurut saya, orang-orang di MUI itu bagaimanapun merepresentasikan “kebutuhan ummat”. Sebagai paham, saya pikir pluralisme, pluralistis juga tidak baku definisinya. Berkembanglah sesuai jaman dan daya pikir manusia. Jadi nggak bisa bilang juga MUI nggak ngarti, nggak bisa juga bilang pendukung liberalisme, pluralisme, inklusif dan sejenisnya itu juga nggak paham. Bahwa ada pandangan beda. Selalu titiknya berada di pilihan mana yang lebih mudarat atau bermanfaat. Tapi, membedakannya juga jelas tak mudah, pembawa ideologi atau idea atau paham keduanya (penolak dan pendukung), menurut saya punya argumen masing-masing yang kuat. Bahkan, menurut saya, pendukung pluralisme memiliki kekuatan lebih, lebih bersemangat, lebih menekankan, lebih gampang nylenehin (tapi kadang ini dua-duanya sih) untuk mengadu dan menguji argumen masing-masing.

Di sisi lain, pertanyaan, yang menurut saya mendasar. Perlukah ada lembaga atau sekelompok atau segelintir ummat (ulama) berfatwa?. Kan sudah banyak, seabreg fatwa atau sepeti ijtihad dari dulu hingga kini!. Ada yang diturut, dibincangkan, ada juga yang berlalu begitu saja.

Menurut saya sih perlu. Perlu ada ulama yang kesholehan dan keunggulannya teruji, dikenal dan di”idola”kan ummat suatu agama untuk menyampaikan pandangannya, menyampaikan ijtihadnya, dan arahan-arahan lainnya. Ummat itu juga kan laksana domba, tergantung siapa yang membawanya.

Begitu juga “itik-itik” itu perlu punya arah yang baik (menurut garis besar pemahaman agamanya).

Saya kira, begitu juga agama lainnya, membutuhkan panutan bagi ummatnya untuk berjalan dalam versinya masing-masing. Tidak untuk dipersatukan, tidak juga untuk dibenar-benarkan oleh yang tidak dalam golongannya. Hepi-hepi saja gitu. Kenapa sih musti reseh.

Theis, deis, atau ateis adalah pilihan-pilihan. Jadi, gapapalah pluralisme. Allah juga bilang begitu. Yang mahaKuasa, kalau menghendaki akan dibuatNya hanya satu saja.

Lha, kalau begitu kenapa main fatwa-fatwaan segala?. Lha di sini menurut saya pentingnya fatwa. Bagaimanapun, ketika itik Agor bingung, maka saya mendapatkan tempat untuk “mengadu”. Saya punya pilihan-pilihan untuk mengerti. Oh ternyata begini atau begitu. Oh, asal-usulnya begini dan begitu.

Yang datang dari lingkaran dalam, lebih sulit diatasi. Di lingkaran luar adalah memahami perbedaan. Dan saya kira itu sudah berjalan berabad-abad. Yang di dalam lingkaran, ketika berbeda dan ikut sama-sama “mengumatkan”, maka boleh jadi dan sangat mungkin itu mengeroposi. Dan sudah banyak terbukti dalam perjalanan sejarah, usaha ini tidak pernah berhenti. Kondisi itu, menurut saya, mewajarkan terjadi reaksi dari sejumlah “ummat yang berbeda pandangan”, termasuk juga MUI.

Tapi, jelas di situ fatwa bisa menimbulkan juga bibit kekerasan dan perpecahan, memperuncing perbedaan pendapat.? Kenapa tidak dibiarkan saja ummat menilai mana yang benar-mana yang keliru?. Inikan persoalan perbenturan peradaban?. Perbenturan kekuatan demokrasi yang didengungkan dan didukung dana besar dengan kekuatan fundamentalis Islam yang kokoh bertahan dengan kekolotan dan tradisinya. Perlu dibukakan kesadaran baru, saat ini tidak ada lagi yang bisa menjustifikasi kebenaran, karena…karena begini begitu. Agama sudah waktunya masuk ke ruang privat, tak lagi di ruang publik. Walah, pening deh… kok jadi tidak sederhana begitu ya. Bagaimanapun, saya nggak suka mutlak-mutlakan. Kok kaku begitu. Tidak juga merelatifisir sehingga tak jelas lagi mana yang hak mana yang batil juga membuat keserbabolehan yang mengiriskan hati.

Yah… begitulah, akal begitu panjangnya. Galah juga panjang.

Iklan

Satu Tanggapan to “pLuralisme Agama dan Saya”

  1. […] sendiri, puritan, dan tidak atau kurang memiliki apa yang disebut toleransi. Menolak mentah-mentah pluralisme. Keberagaman !. Padahal kehidupan agama itu juga adalah kehidupan yang unik, hubungan pribadi […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: