Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tergeletak Menjadi Sesat

Posted by agorsiloku pada Desember 4, 2006

Tergelitik juga untuk memberikan catatan yang mungkin tidak begitu perlu, dari pemaknaan domba-domba yang tersesat (makna kafir tidak berarti bukan beragama Islam) di seantero jagat.

Siapapun nggak mau atau nggak enak rasa dan merasa dihina kita dibilang kafir. Siapapun dan apapun agamanya. Di bilang domba tersesat juga nggak mau. Siapa bilang tersesat. Kamu kali kek yang tersesat!?.

Ada dua hal yang ingin saya bedakan. Bersikap terhadap “domba yang tersesat” dan terhadap “domba yang tidak tersesat”. Atau dalam bahasa lainnya sama yang kafir dan yang beriman. Pengertian beriman di sini adalah dalam konteks beriman kepada Allah SWT yang diyakini oleh orang beragama Islam. Pengertian beriman, bisa menjadi berbeda oleh golongan yang berbeda apalagi dari agama berbeda.
Setiap golongan atau pemeluk agama yang berbeda, bisa berbeda imannya. Ini tentu dalam pengertian mereka menyembah tidak seperti yang kami sembah. Agamamu untukmu. Agamaku untukku. Boleh jadi dan sangat boleh jadi, orang yang tidak beragama Islam akan mengatakan: “kamu itu tidak beriman”.

Jadi, saya pikir, boleh jadi ada pengertian lain (melengkapi atau menambahkan) dengan penjelas lain. Namun, saya pikir pokoknya adalah tidak beriman (dalam pengertian agama Islam).

Dalam pikiran saya, kafir yang jelas saja. Tidak terlalu butuh interpretasi. Pengertian menutup atau tidak percaya, atau dan sebagainya tentu akan memperluas pemahaman. Selebihnya, Allah yang akan memutuskan apa-apa yang diperselisihkan itu, karena tidak ada satu ummatpun yang Allah tidak kabari keberadaanNya. Juga tentang rasul, ada yang diceritakan dan tidak diceritakan. Di situ, pengertian berada pada aspek-aspek yang lebih universal sehingga kita bisa bertanya, apakah di luar agama Islam, semua adalah kafir?. Apakah ketika sudah beragama Islam, dia bisa kafir (tidak beriman). Pagi beriman, petang kafir, malam beriman lagi ?. Adakah bedanya antara Islam dan Agama Islam?. Lalu merujuk pada pemahaman yang disampaikan di “suluk” bahwa pemaknaan kafir: — sebenarnya sama sekali tidak terkait dengan perbedaan agama secara langsung —  mulai dapat saya pahami. Maksud saya, tetap beragama Islam tetapi kafir juga bisa saja (logis dari sudut pemahaman).

Lo kok bisa, bukankah kafir itu harus murtad dulu?. Murtad dalam pengertian keluar secara jelas menyatakan keluar dari agama yang saat itu dianutnya. Toh kita kan juga bisa melihat “yang menjual agama dengan sedikit keuntungan dunia”, sambil tetap beragama ria. Namun, saya lebih cenderung yang disampaikan “Suluk” hanya sebagian saja. Kalimatnya bukan sebenarnya sama sekali tidak terkait dengan perbedaan agama, tetapi mencakup juga (bahkan ini lebih kuat, karena Al Kafirun bilangnya begitu), sisi perluasannya berada pada lingkaran dalamnya. Seenggaknya, jangan main mengkafirkan orang lain gitu. Itu yang “mungkin” ingin disampaikan penulisnya. Padahal dirinya sendiri sedang berkafir ria. Astagfirullah.

Iklan

Satu Tanggapan to “Tergeletak Menjadi Sesat”

  1. salam kenal. kami tunggu saran dan kritik terhadap Maskapai Baru ini

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: