Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sidoarjo 3 Tahun lagi…

Posted by agorsiloku pada Desember 4, 2006

Masa depan Sidoarjo menjadi tanya setelah musibah lumpur dari kedalaman bumi muncul ke permukaan. Namun karena pernah tinggal di sana, meski cukup jauh dari lokasi bencana, namun rasanya ada keterlibatan emosi di dalamnya. Jengkel karena Pemerintah tidak cukup arif dan pintar menangani (memanajemeni) bencana. Bencana yang kerap hadir di bumi Indonesia dalam ragam bentuknya. Angin puting beliung, tsunami dan gempa bumi. Bahkan, manusia Indonesia harus mati dengan alasan tertimbun sampah (di Cimahi – Bandung) dan Bantar gebang – Bekasi. Tragis, karena mati karena sampah persis seperti semut mati karena gula. Ini memang benar sebuah tragedi. Kombinasi dari kecerobohan teknis dan kekuatan alam yang gagal diprediksi karena memang usaha yang tulus, butuh juga ketulusan dari seluruh tindakannya.

Usulan dan upaya terus dilakukan. Saya tetap percaya, pada akhirnya Pemerintah akan bertindak lebih bijak, cepat, dan unggul. Semuanya harus dan akan dilakukan. Meski menyedihkan bahwa Pemerintah masih juga bilang tidak akan ikut campur urusan negosiasi dengan “rakyat Lapindo”. Hanya akhirnya itu kapan?. Sepanjang protes/demo ditangani sebagai perlawanan maka sepanjang itu pula Pemerintah gagal menjadi Pemerintah yang arif. Alias zalim.

Usaha klenik mengindikasikan keputusasaan pengetahuan manusia atas bencana yang dihadapinya. Penyerahan diri pada yang mahaKuasa adalah pilihan yang lebih layak, tentu tanpa mengesampingkan usaha yang juga diberikan pada kita untuk berbuat lebih sungguh-sungguh lagi. Lalu bagaimana kelanjutannya.

Sayang saya belum mendapatkan acuan sampai berapa luas dan arah mana saja jika semburan lumpur itu tidak berhenti. Apakah menyusur sampai ke arah Surabaya (Gunung Anyar), sampai batas Mojokerto ataukah hanya pada sekitar (radius 5 atau sekian km dari pusat semburan). Saya yakin, di sana kan banyak konvensi pengeboran (beberapa perusahaan). Mereka pasti memiliki cukup data dan peta geologi untuk memperkirakan lebih baik. Tapi, apakah mereka berbagi data dan masyarakat calon korban di masa depan mengetahuinya. Menurut saya, Pemerintah wajib menyampaikan skenario terburuk yang mungkin terjadi. Ini yang tampaknya sulit dikejar oleh orang di luar lingkaran. Apalagi skala musibah besar dan sampai kapan, belum ada yang mampu memprediksinya.

Tulisan di Kompas, 2 Desember 2006 :Sidoarjo 3 tahun lagi saya kutipkan karena menarik untuk disimpan sebagai klipping di blog ini :

Sidoarjo, Tiga Tahun Lagi…

Oleh Brigitta Isworo L

Jika kita cermati infografis di halaman 42 rubrik ini, niscaya kita akan tercekam. Lumpur panas yang menyembur sejak 29 Mei 2006 atau sekitar enam bulan lalu diprediksikan akan bisa mencapai luasan dengan radius 10,2 kilometer dari pusat semburan yang kita sebut kawah lumpur.

Itu berarti Hotel Somerset dan pusat kota Sidoarjo akan tinggal kenangan belaka. Hanya dalam hitungan tiga tahun! Proyeksi bencana luapan lumpur Sidoarjo tersebut mungkin dianggap melebih-lebihkan.

Namun, setidaknya kemungkinan tenggelamnya atau terendamnya areal seputar radius 3 kilometer dari pusat semburan tidak dibantah oleh anggota Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo (TNPSLS), Soffian Hadi. Tentang kapan itu terjadi, tidak ada yang bisa menentukan.

Keputusan pemerintah beberapa bulan lalu yang mengutamakan keselamatan manusia sebagai pertimbangan utama sudah tepat. Persoalannya, berapa banyak lagi penduduk (baca: manusia) yang harus diselamatkan dari tangan-tangan gelap bencana ini untuk sekian tahun mendatang. Tidak ada yang berani membuka halaman tergelap dari bencana ini.

Pemerintah pun hanya bergerak ”satu inci” dengan menyatakan peristiwa ini adalah bencana, di mana pemerintah harus ”ikut memikirkan”. Luasan lahan sawah dan permukiman sekitar 450 hektar yang terendam lumpur panas tidak cukup mampu membawa pemerintah untuk turut bertanggung jawab.

”Memang belum ada kriteria-kriteria untuk menetapkan suatu bencana menjadi bencana nasional. Itu hak prerogatif presiden,” ujar mantan Kepala Biro Mitigasi Sekretaris Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi, yang juga Ketua Presidium Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, Sugeng Triutomo.

Ada beberapa ancaman bencana besar menyusul indikasi-indikasi yang sudah ada. Pertama, persoalan tanah ambles (subsidence) yang bersifat konsentrik (melingkar mengarah ke pusat semburan lumpur panas). Jika terjadi tanah ambles, jalan layang tol yang melintas di atas rel kereta api dan Jalan Raya Porong bisa roboh (lihat infografis).

Kedua, terendamnya permukaan tanah dalam luasan dengan hitungan gigantik (luar biasa besar) ini bisa mengakibatkan lenyapnya jalan tol serta jalur rel kereta api, permukiman warga, sejumlah pabrik, dan lahan sawah.

Untuk yang kedua, pemerintah sudah memastikan: jalan tol dan rel kereta api akan dipindahkan. Persoalan utamanya: kita berkejaran dengan waktu dan tanah ambles yang membayangi.

Dari catatan yang ada, semua kejadian bencana yang menyertai semburan lumpur panas, misalnya tanah ambles, rusaknya rel kereta api, dan meledaknya pipa gas milik Pertamina, sudah diprediksikan sejak awal semburan lumpur panas terjadi.

Persoalan tanah turun (ambles) dan meledaknya pipa sudah dibicarakan sejak Juni lalu. Berarti, apa yang dikhawatirkan oleh sejumlah ahli geologi dan bahkan anggota TNPSLS ini juga tidak dapat dianggap bualan belaka.

Ambles

Gerakan tanah ambles sudah menjadi keniscayaan pada peristiwa lumpur Sidoarjo dan dari peristiwa ledakan pipa gas Pertamina beberapa waktu lalu diketahui pusat subsidence, menurut Soffian Hadi, berada sekitar arah timur laut dari semburan, sekitar 50 meter.

Kecepatan amblesnya tanah bervariasi dari hitungan milimeter hingga 0,5 sentimeter (cm) per hari pada radius 1,5 kilometer-1 kilometer, hingga kecepatan 3 cm-4 cm per hari (berarti bisa mencapai sekitar satu meter dalam sebulan) pada radius 500 meter-1 kilometer dari pusat semburan. ”Sifatnya eksponensial ke arah pusat semburan lumpur,” ujar Soffian. Kini tanah ambles sudah mencapai 12 meter dalamnya.

Persoalannya, menurut Soffian, kalau kecepatan subsidence tidak rata, akan terjadi crack (retakan). Di sisi lain juga terdapat indikasi terjadi pergerakan tanah yang mengakibatkan retakan pada sejumlah rumah warga pada radius sekitar 2 kilometer.

Artinya, sampai dengan radius 2 kilometer dari pusat semburan sebenarnya sudah tidak aman untuk ditinggali karena kapan terjadi tanah ambles yang besar tidak bisa diketahui.

Soffian tidak mengiyakan dan tidak menolak, jika semburan lumpur terus terjadi dengan volume semburan yang terus meningkat, bisa terjadi tanah ambles yang lebih luas dari luasan genangan lumpur. Kamis (30/11), menurut Soffian, volume semburan mencapai 160.000 meter kubik per hari atau 1,85 meter kubik per detik.

Kini tekanan di tanggul coba dipertahankan agar tidak bertambah agar tidak jebol, antara lain dengan mengalirkan lumpur melalui sistem spillway (digelontor melalui saluran terbuka) ke Sungai Porong dengan kecepatan 5 meter kubik per hari.

”Untuk saat ini, spillway cukup, tetapi tidak tertutup kemungkinan harus ditambah,” ujar Soffian. ”Pemompaan pakai pipa lupakan saja.”

Menurut Soffian, kawasan itu saat ini amat dinamis. Kapan saja bisa terjadi tanggul jebol, tanggul ambles, tanggul retak, tanggul bocor, rel kereta api bengkok atau melengkung, retak-retak pada perumahan warga, dan sebagainya. Semua kejadian tersebut merupakan indikasi yang terus diteliti untuk menetapkan apa yang sebenarnya terjadi di lapisan bawah tanah tersebut.

Vulkanik atau tektonik

Sejauh ini para ahli masih belum memastikan, apakah lumpur yang meluap tersebut berasal dari aktivitas vulkanik atau aktivitas tektonik.

Dari semua indikasi tersebut, menurut Soffian, ada indikasi dari luar daerah yang berkaitan dengan kejadian di Sidoarjo. Kejadian tersebut adalah fenomena munculnya semburan gas dan lumpur di beberapa daerah, misalnya di Bojonegoro, Jawa Timur, dan di Pati, Jawa Tengah.

Lumpur panas, ujar Soffian, bisa terjadi karena ada material solid yang terangkat ke permukaan dan mendapat tambahan tekanan tinggi (P), temperatur tinggi (T), dan solven (zat pencair).

Ketiga unsur ini harus terpenuhi untuk memunculkan lumpur panas. Pendapat yang menyebutkan bahwa penyebab lumpur adalah akibat aktivitas vulkanik, itu dikaitkan dengan keberadaan Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan.

Jadi, unsur panas didapat dari aktivitas magma serta tekanan akibat adanya turbulensi magma. Solven yang berupa air diduga keluar dari gua-gua di bawah permukaan yang terdeteksi di kujung yang lapisannya berupa limestone (batu gamping) seperti biasa ditemukan di sungai bawah tanah.

Jika ini yang terjadi, maka seperti letusan gunung api, tekanan dan temperatur akan cepat turun. Akan tetapi, ternyata selama enam bulan semburan lumpur panas terus terjadi.

Di sisi lain, lokasi semburan lumpur panas di Sidoarjo ini, jika ditarik garis, dia berada satu garis dengan gunung lumpur Bujel Tasek di Desa Katal I, Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan (Pulau Madura), di Gunung Anyar, Karang Anyar (Surabaya), dan Porong (Sidoarjo).

Secara tektonik, lempeng tektonik Blok Jawa Timur diyakini terkena imbas dari gempa Yogyakarta yang terjadi 27 Mei 2006 lalu, dua hari sebelum pertama kali lumpur panas menyembur. Di daerah Jawa Timur terdapat patahan yang menghubungkan Tulungagung, Pantai Popoh, dan Brantas (Surabaya). Di sini terjadi penyusupan lempeng samudra Indo-Australia ke Eurasia.

”Tetapi, lapisan di Blok Jawa Timur ini relatif elastis dibanding Blok Yogyakarta dan Jawa Tengah. Akibatnya, dia akan terus berproses panjang sebelum melepaskan energi yang sudah terakumulasi sekian lama, dalam bentuk gempa,” papar Soffian.

Semakin elastis lapisannya, dia semakin lama mampu menahan tekanan sehingga ketika energi dilepas saat bertemu lapisan yang rigid (keras), energi yang dilepas lebih besar dibanding pada lapisan rigid,” tutur Soffian. Artinya, jika dugaan itu benar, bahwa aktivitas lumpur panas itu merupakan awal dari siklus tektonik, bisa terjadi gempa besar di masa mendatang.

Sebelum gempa besar yang dikhawatirkan itu terjadi, kisah tanah ambles akan bisa terjadi kapan saja sejak sekarang.

Setelah delapan desa yang semua penduduknya atau sebagian penduduknya diungsikan, desa-desa terdekat lain yang mungkin terkena dampak luapan lumpur atau tanahnya ambles berada di sekitar radius 1 kilometer ke barat dan timur dari pusat semburan, dan pada radius 1,5 kilometer ke utara dan ke selatan dari pusat semburan.

Itu antara lain bisa mencapai Sungai Balongsari di utara, Desa Besuki, dan Stasiun Sidoarjo yang pasti masuk jangkauan itu. Intinya, ring 1,5 kilometer ke utara dan ke selatan, serta ring satu kilometer ke timur dan ke barat bukan lagi daerah aman.

Ada baiknya Lapindo dan pemerintah mengantisipasi dan sigap bergerak demi mencegah jatuhnya korban jiwa dan materi yang lebih banyak. Jangan lupa pada prediksi di atas, tiga tahun mendatang….

Di mana Sidoarjo? Mungkin hanya tinggal kenangan. (las)

Iklan

Satu Tanggapan to “Sidoarjo 3 Tahun lagi…”

  1. aga said

    mas sy mau tny apkh kjdn lmpr lapindo t bs d hentikan? tlg brknkomentar,bls

    @
    Sampai saat ini, belum ada teknologi yang mampu menembus bumi di kedalaman 9000 meter dan menutup sumber kebocoran….
    Kecuali alam (baca : Allah berkehendak).

    Satu-satunya dalam kisah yang berhasil menembus bumi itu hanya Tuan Antareja, putera Bima dan Dewi Nagagini (kalo nggak salah). Sayangnya Antareja yang bisa ambles bumi itu sudah lama meninggal…gara-gara menjilat kakinya sendiri…. 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: