Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menghapuskan Ayat Al Qur’an

Posted by agorsiloku pada November 22, 2006

Pernah terpikir sih, tapi saya betul-betul heran dengan yang disampaikan Ahmad Syafii Maarif di harian republika yang saya kopi paiskan itu. Kok ada orang dengan integritas begitu tinggi mengagumi (alm) Buya Hamka dalam menjelaskan tentang keberimanan pada ayat-ayat tersebut (Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah). Kok, yang disampaikan Buya Hamka itu sesuatu yang istimewa?. Apa sih istimewanya? Bukan, maksud saya bilang Buya Hamka yang hanya sempat dikenal waktu saya kecil itu bukan ulama besar. Bukan, bukan itu. Yang saya heran, mengapa kita gagal melihat makna-makna yang sebenarnya sih sudah begitu jelas dan jernih, so klin (bersih, bukan sabun ya) gitu. Nggak pernah kepikir tuh ada ayat yang dimansukhkan oleh manusia berikutnya yang ada di akhir masa ini. Ayat-ayat itu ya dipahami saja, boleh jadi dirangkai-rangkaikan satu dengan yang lain, tapi nggak kemudian berada pada logika yang satu dimansukhkan karena ada logika lain yang didukung ayat yang lain. Kalau melengkapi, menjelaskan pengecualian dari satu kondisi umum, bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi yang ditemui hambaNya dalam kehidupan, secara manajerial wajar-wajar saja (dan perlu). Misalnya konsep kewajiban berpuasa dan kondisi yang tidak memungkinkan berpuasa. Logika-logika yang dibangun secara saklek (zakelik), nggak bisa diubah-ubah, padahal persoalan berada pada tingkat “mutu ahlak”. Saya bilang aneh, karena logika pe-mansukh-kan ini sederhananya, memotong satu pengertian ayat, menghilangkannya dalam pikiran kita. Mosok sih, Allah membuat kontradiksi yang mengkelirukan/menghapuskan, padahal terpelihara sampai akhir jaman. Bacaan mulia sepanjang jaman.

Kita saja yang terlalu angkuh untuk memutuskakan perkara menurut apa yang kita inginkan. Saya jadi ingat pengertian univers, populasi, irisan dan gabungan (itu pelajaran matematika waktu SMP baheula. Kalau gubernur DKI berketetapan, Jakarta kota tertutup, tidak bisa menerima penduduk baru adalah absolut, tapi tidak yang karena pekerjaan dan tugasnya mutasi ke Jakarta.

Kalaupun ada pergantian, seperti perubahan arah kiblat, mengisahkan tentang ummat tertentu di masa lalu, kewajiban yang berbeda antara satu ummat dengan ummat yang lain sehingga keberlakuannya adalah “memahami” kejadian masa sebelumnya. Sepertinya sih, itu ditunjukkan/dijelaskan juga secara jernih.

Rada menyedihkan juga kalau beliau kagum atas kesantunan Buya Hamka. Saya membacanya : Beliau prihatin bahwa kesantunan seperti yang ditunjukkan oleh tafsir Buya Hamka, dalam dunia keseharian kini : kesadaran ummat dan bangsa, makin terkikis.

Yah, kalau begitu, emang kita belum beranjak dari persoalan so gengsi sih dan gagal melihat secara kompre. Mungkin, kita perlu belajar etika dari Seven Habit Steven Covey saja, karena di situ banyak juga energi positif yang disebarkan.

Namun, itulah sebagian fakta yang membutuhkan lebih banyak lagi kearifan. Kalau bisa!.

Semua boleh, kecuali yang dilarang. Semua yang dilarang boleh, kalau keadaan memaksa. Semua juga, gimana niatnya saja.

Iklan

Satu Tanggapan to “Menghapuskan Ayat Al Qur’an”

  1. joy said

    daripada menghapus ayat al-qur’an mendingan menghapus jejakmu (peterpan)

    @
    QS 2. Al Baqarah 106. Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

    Tentu dalam konteks ini bukan ayat al Qur’an, itu pemahaman saya… 😀

    Sedangkan menghapus jejak peterpan… wah itu hal baru buat saya. Trims infonya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: