Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perlukah Menyoal Jilbab?

Posted by agorsiloku pada November 17, 2006

Mau setuju atau tidak setuju dalam memahami ayat Allah terhadap pemakaian jilbab, menurutku. Rasanya perlu kita memahami dalam konteks. Mengapa?

Bagaimanapun jilbab di Indonesia dan juga di banyak tempat di dunia menjadi salah satu masalah sosial bagi masyarakat, khususnya yang beragama Islam di mata pergaulan dunia. Di beberapa negara Eropa, beberapa kasus terungkap dalam kaitannya dengan busana wanita muslim.

Ada problematika sosial yang harus dipahami dalam masalah batasan aurat yang boleh diperlihatkan. Misalnya, apakah boleh berfoto dengan memperlihatkan “aurat”, yaitu memperlihatkan atau terlihat tangannya (bukan telapak tangan), terlihat telinga (untuk foto formal atau mo buat SIM, KTP, atau paspor) atau mo dengar karaoke, pakai blututh, atau apa saja yang mo ditempelin di telingan jadi susah gitu. Jadi, kalau auratnya kelihatan padahal ini bagian dari aurat (yang tidak boleh kelihatan), terus bagaimana dong solusinya?. Apakah begitu Allah membuat aturan, atau kita menginterpretasikan seperti apa yang kita maui, sehingga semua alat pendukung hadits, atau kesimpulan mengarah pada kondisi yang dimaui dan sulit menerima pemahaman yang berbeda.

Quraish Shihab bilang, itu masalah khilafiyah (khilqiyah) gitu. Di sisi lain tidak sedikit yang menentang dengan ragam argumennya.

Buat saya, meskipun tidak mau dan tidak akan berjilbab (tapi isteriku sih lebih suka pakai jilbab, dan tentu saja buatku lebih hepi). Ada perbedaan-perbedaan itu, jelas perlu dijembatani, dicarikan solusinya (minimal dijelaskan sejelas-jelasnya menurut runtutannya atau pencerahannya), dipelajari keseluruhan pemaknaannya. Kenapa, karena harus jelas saja, karena dalam akal dan budi, ada persoalan di dalamnya. Jadi, buat yang meyakini bahwa jilbab itu sama dengan keharusan menutup rambut, telinga, dan tangan (kecuali telapak tangan). Tentu, dalam kehidupan sehari-harinya dia punya persoalan dengan memperlihatkan aurat setiap hari.

Namun, aku sendiri.. belum jelas juga batasannya sih. Kecuali yang satu itu.

Memaknai Jilbab.
Telah terpahami dalam banyak bahwa Jilbab dalam pengertian orang Indonesia adalah penutup kepala, yang menutup rambut, telinga (kepala) sampai ke bahu. Dalam pengertian di negeri asalnya, hijab adalah baju kurung longgar yang dipanjangkan menutupi seluruh tubuh.
Menurut saya, cukup penting untuk dipahami dalam suatu konteks sosial, yang dalam “khayalan” sebagai berikut :
1.
Memakai busana muslimah adalah identitas seorang wanita muslim yang menghargai keberimanannya sebagai seorang hamba Allah. Membebaskan dari hegemoni kekuatan industri dan sosial yang menekan dengan berbagai cara untuk memanfaatkan setiap keindahan tubuh dan segala perangkatnya dari urusan “gemerlap”nya dunia. Ia memperlakukan rahmat yang diterimanya proposional sebagai anggota masyarakat yang berusaha untuk berakhlak baik dalam tatanan yang dicita-citakannya.
2.
Memakai busana muslimah sesuai tuntunan untuk menghindari atau meminimumkan resiko gangguan dari “kejalangan” nafsu dari suatu kondisi masyarakat yang “obral” syahwat. Dia memahami bahwa identitas itu perlu sebagai salah satu alat perlindungan dari “godaan”. Dia berbusana fisik dengan busana muslimah, karena sadar bahwa ini adalah salah satu bentuk fisik saja dari yang sesungguhnya berpakaian “takwa”.
3.
Menyadari bahwa pakaian yang dipakai sebagai bagian dari “takwa”, berpakaian muslimah itu, adalah kewajiban yang tidak dielakkan sebagai wanita beriman. Kewajiban yang terkena bagi dirinya berada pada batasan untuk menutupi terturutinya hawa nafsu, termasuk tentunya untuk tidak menunjukkan perhiasan emasnya yang ada di balik baju muslimahnya atau wangi-wangian yang membuat hidung lawan jenisnya menoleh dan mengukur-ukur yang membuat ternistanya pikiran laki-laki yang memang mudah terbangkitkan (emang sih laki mah gatel…). Dengan kata lain, ia bisa memisahkan berbusana “takwa”, dan bukan berpakaian tapi telanjang.

Alat ukur yang dipakai bukan persoalan pada terlihatnya telinga atau rambut atau pokoknya wajib, tapi pada konteks pemahaman dalam “membaca” dirinya dan lingkungannya. Dia sadar dan bisa memilah dengan akal budinya, dimana proporsinya.

Jadi, memang saya sih manut dan senang ketika Quraish Shihab bilang itu persoalan pilihan saja. Melihat pada esensinya, bukan pada persoalan-persoalan yang dibatasi pada kecenderungan untuk fanatisme saja.

Jadi, menurut saya (tapi jangan dianggap ya). Sangat jelas maksud Allah bahwa wajib menutupi hawa nafsu, tidak obral atau menggratiskan gitu. Jilbab hanya salah satu bentuk pakaian saja. Jadi nggak wajib.

Jadi juga, kalo bisa sih, jangan biasakan kita berpikir pada kotak-kotak penuh batasan, tapi lebih kompre gitu. Kitab suci itu bukan tuntutan mode, tapi tuntunan ahlak.

Menurut gw juga sih, ini cuma satu gunung es dari sekian gunung es yang membuat orang muslim sulit untuk berkembang berpikirnya. Dipersempit oleh kepentingan golongan, dipersempit oleh keyakinan untuk mempersempit diri, dipersempit oleh keyakinan hanya “gw” saja yang bisa menafsirkan, jadi kalian harus ikuti apa kata “gw”. Dipersempit oleh berbagai hambatan manajerial dengan alasan yang dibuat-buat.

Penyempitan ini muncul dalam beragam yang disebut keyakinan berbeda adalah rahmat.

Maka hormatilah orang yang berpuasa.

Maka meja billiar dirazia dan dirusak.

Maka mo difoto harus kelihatan telinga, nggak bisa karena dst.

Maka seperti Taliban (menurut versi Barat).

Maka aku sebagai orang biasa nggak akan mengerti kitab sucimu lho. Hanya orang yang maksum saja yang bisa. Jadi tanyalah selalu padanya….

Maka hari Ied berbeda, karena perbedaan itu rahmat.

dll.

ah sudahlah.

Kalau naik kendaraan itu diwajibkan, maka mau naik mobil kijang atau unta, atau mercedes, atau bus kota adalah naik kendaraan. Kalau ditanya apakah wajib naik mobil kijang. Jawabnya tetap tidak wajib. Yang wajib naik kendaraan. Kendaraan tawa….., eh takwa sebagai pilihan.

Iklan

16 Tanggapan to “Perlukah Menyoal Jilbab?”

  1. feewee said

    memakai menurut aq lebih terlindungi hati merasa damai, pokoknya pakai jilbab di jamin hati akan tentram dan juga akan terhindar dari gangguan seTan!!!!!!!!!!!!!!!!
    tapi banyak orang beranggapan kalo pakai jilbab tu susah bergaul ya tergantung orang jg c kalo menurut aq.

    @
    Yang ingin agor tegasi pada postingan ini bukan pada jilbabnya, tetapi pada motifnya. Seperti home dan house…. building the power adalah mencegah dan mengendalikan hawa nafsu bukan pada pesona jilbabnya. Dengan begitu, jilbab bukan mode, tapi satu tuntunan. Jilbab sebagai cerminan karakter untuk melindungi dari hawa nafsu. Jadi, kita nonton tari perut sambil berjilbab tidaklah mengikuti karakter “jilbab”. Maksud agor, kita melihat, sebaiknya pada kerangka seperti ayat yang menjelaskan tentang hal ini (lengkap).
    😀

    Suka

  2. sikabayan said

    euh… kabayan setengah setuju dengan abah Quraish teh…
    kalau kabayan tidak salah dengar teh kata abah Q jilbab menjadi wajib bagi yang merasa wajib memakainyah… euh… pabeulit…
    kabayan jadi coba andai2kan… apa yang memotivasi kabayan untuk merasa harus memakai celana teh?.. euh… yah kalau kabayan tidak merasa malu tidak bercelana yah tidak harus pakai celana… biar ajah orang lain yang buang muka lihat jimatnyah kabayan…
    euh.. yah.. memang kalau si fulani tidak merasa perlu memakai penutup aurat dengan segala pemahamannyah tentunyah tidak perlu dipersoalkan kalau fulani tidak mau pakai kudungan…
    jadinyah menurut abah Q teh mungkin yah… kalau kabayan mengerti kepada suatu kebenaran aturan tangtunyah kabayan menjadi wajib mengikuti aturan itu teh…, sebaliknya yah kalau kabayan tidak mengerti ataupun kabayan tidak mau mengerti suatu aturan… kabayan tidak harus dipaksa mengikuti aturan ituh…kecuali aturan membunuh, memperkosa, mencuri… yah kalau kabayan melangggar pasti dipenjara sebab dituntut sama korban atau keluarga korbannyah…

    @
    Dalam konteks keimanan, yang kalau tak salah agor pahami, kita melaksanakannya berbeda antara mengerti dan melaksanakan. Batas mengerti juga menjadi relatif dari satu orang ke orang lain. Apakah karena kita nggak mengerti, lalu kita tidak melaksanakan. 😀 Tentu juga semakin memahami, akan semakin menyempurnakan..

    Suka

  3. asep said

    ya………kamu beNar aku setuju sekali atas pendapatmu’

    @

    Hanya satu cara pandang, bisa setuju atau tidak… namun… semoga kita mendapatkan manfaatnya (minimal sebuah usaha untuk memahami ya).

    Suka

  4. asep said

    EH………KABAYAN SOMpral so…Tahu kamu…gw bilangin si Abah lw biar di gantung

    @
    ?

    Suka

  5. sikabayan said

    euh… kang asep… gimanah eta teh dua komen yang tidak nyambung… tapi ngga apah2.. deh…
    kabayan kan cuma mencoba memahami bahwa yang menyadari suatu kebenaran tentunya mewajibkan dirinyah untuk mengikutinya… sedangkan bagi yang belum ataupun yang tidak mau mengerti… kita tidak bisa memaksa hati orang…
    kalau kelihatannyah sih bisa ajah patuh… tapi hati orang mah siapah yang tahu atuh…

    @
    Begitu memang Kang Kabayan… hal yang tersulit dari agor untuk menuliskan yang baru sedikit dipahami adalah ketika berbeda pendapatan atau pandangan. Ternyata, sangat terasa bahwa kemampuan untuk menerima perbedaan, memahami perbedaan, dan tidak marah karena perbedaan itu benar-benar bukan hal mudah. Benar-benar jadi bagian dari sebuah seni dalam pertempuran ide.

    Kadang, agor juga merasa, betapa sulitnya untuk menahan diri… apalagi dalam dunia nyata….

    Suka

  6. sikabayan said

    euh… iyah kang agor… mudah2an sajah yah segala kesulitan yang sesuai dengan maksud diturunkan dari surga teh… menjadi ladang amal, sabar, tawadhu dst dst…

    @
    insya Allah… memang bukan hal yang mudah. Agor juga merasa “selalu” dibelit kesombongan dan merasa benar. Apapun yang menjadi bungkusnya. Padahal, sebutir kesombongan saja, tak layak masuk surgaNya…. astagfirullah.

    Suka

  7. sayyid said

    salam ‘alaykum

    numpang lewat kang Agor!

    cuma mo ngasi komentar ttg pendapat Ust.Quraisy Syihab. Saya sangat menghormati beliau, tp dalam masalah pendapat beliau ttg yg satu ini sepertinya saya kurang setuju. Soalnya pendapat beliau terkesan munfarid or menyendiri gitu…sejauh yg sy tau yg sependapat dgn beliau-selain antek JIL Indonesia-dan paling sering dimunculkan tuh Al Asymawi tokoh liberal di Mesir. sy katakan munfarid krn para ulama baik salaf maupun khalaf sudah sepakat bhw jilbab sebagaimana dipahami org2 kita(kudung) adalah wajib.

    Disamping itu kalau dilihat dari latar belakang pendidikannya, beliau adalah alumni Al Azhar mesir, dengan jenjang doktoral dalam bidang ilmu-ilmu alqur’an bukan dlm ilmu-ilmu syari’ah. Saya tidak mengatakan bahwa yg berbicara masalah syariah adalah mutlak harus jebolan syariah, tp bukankah lebih baik dan lebih bisa dipercaya apabila setiap urusan diserahkan pada yg emang bener2 ahlinya?

    makasiii kang!

    @
    Wass. Wr.wb Mas Sayyid…
    Tentu saja perbedaan pendapat selalu terjadi dan kewajaran terjadi, bahkan memilih nasi hangat pun bisa berbeda, atau apalagi warna baju. Kan sudah jelas ayatnya :

    QS 33. Al Ahzab 59.Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Namun, yang ingin saya garis bawahi hanya pada esensinya. Contoh lain berpakaian, tentu akan dipahami dalam konteks fisis ataupun maknanya. Isteri adalah “pakaian” buat suaminya (juga sebaliknya). Pemahaman ini yang yang dimaksudkan untuk diketengahkan.

    Di negeri tempat ayat itu turun Jilbab adalah Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

    Suka

  8. sikabayan said

    euh… memang benar kang agor… masalah kendaraan tawa.. eh takwa teh… malah kadang2 mah ada yang memang tidak mau pergi dengan alasan kendaraanyah tidak ada, atau kendaraanyah tidak cocok, mau kalau pakai mobil merk anu serta lain2 alasan… euh… namanya juga alasan barangkali…

    @
    Tul Kang… selalu ada alasan. Ini memang khas manusia ya…

    Suka

  9. sekuntum bunga mekar said

    Hukum memakai jilbab adalah wajib. Jilbab bukanlah tudung tetapi jubah (pakaian yang labuhkan sehingga ke bawah atau pakaian yang tidak memisahkan kain dengan baju). terdapat satu kisah di mana seorang perempuan datang bertemu Nabi dan mengatakan bahwa dia tidak memiliki jilbab untuk keluar dari rumah sedangkan Nabi telah berpesan agar wanita-wanita mengenakan jilbab untuk keluar dari rumah. Rasulullah mengatakan menyuruhnya pinjam dari saudara perempuannya. Jika saudara perempuan tidak ada jilbab , Rasulullah menyuruhnya pinjam dari jiran-jiranya dan jika jiran-jirannya juga tidak memiliki jilbab Rasulullah berpesan janganlah sesekali kamu keluar dari rumah tanpa mengenakan jilbab. Oleh itu, jelaslah di sini hukum memakai jilbab adalah wajib.

    @
    Dipahami jilbab sebagai gamis juga, menyimpulkan wajib dan ada juga yang tidak adalah pemahaman-pemahaman yang memperkaya penarikan kesimpulan. Ini juga menjelaskan QS 24. An Nuur 60. Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana. Sehingga penyimpulan yang berbeda dengan yang disampaikan Quraish Shihab adalah memiliki dasar yang jelas. Juga perempuan yang tidak berjilbab karena ketuaan mereka (sudah nggak menarik lagi 🙂 ) tiada dosa menanggalkan pakaian. Silogismenya, jika masih muda … artinya… ya berdosa. Dengan begitu, bisa dipahami pula bahwa memang kecenderungan pada dosa menjadi lebih besar. Sisi lain, tujuan berjilbab juga begitu gamblang dinyatakan.

    Suka

  10. fani chrisma w. said

    jilbab, wajib. yang pasti tidak sampai tampak lekuk tubuhnya, dan satu paling penting, jaga sifat jangan kecentilan setelah berjilbab. ambil jarak, kl g bisa, tidak usah berjilbab

    @
    Saya cenderung lebih melihat esensinya bukan pakaiannya. Batasan ini pada ayat : 24. An Nuur 60. Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.

    Karena itu, saya merasa tidak pas pada hati ketika didekati dengan pendekatan literal. Namun, secara fisis penyebutan jilbab itu melahirkan konotasi bukan pada aurat, tapi pada rambut dan tutup kepala. Pada sisi ini, mendekati hanya pada ke”jilbab”annya mengurangi sisi sudut pandang moral yang menurut agor seeh, sebenarnya jadi titik sentral berpakaian.
    Pakaian takwa kan sebaik-baiknya pakaian…. 😀

    Suka

  11. abdulsomad said

    assalamaualaykum
    memakai jilbab itu kebutuhan. kebutuhan akan keselamatan.
    karena ancaman untuk orang (wanita) yg tidak tutup aurat sempurna itu luar biasa berat.
    bila kita butuh keselamatan dari ancaman tersebut maka kita akan berusaha untuk patuh.
    masalah nya orang sekarang merasa sudah aman dari ancaman tersebut, jadi menganggap ini sepele.
    padahal ancaman itu berlaku untuk semua manusia sampai hari kiamat.
    bayangkan…
    kulit kita terkenal knalpot motor panas, berapa bulan kita merasakan kesakitan nya?
    sementara ancaman atas meninggalkan jilbab setiap inchi kulit yg terbuka (dilihat lelaki yg bukan muhrim) ini kekal abadi. selama nya. sanggup kah kita?

    @
    Wass. menutup aurat itu… kewajiban…berpakaian untuk melindungi dari hawa nafsu….

    Suka

  12. haniifa said

    Salam,
    Dalam surat Al A’raaf 26, Allah berfirman:

    “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”

    Jadi berjilbablah dengan penuh ketakwaan kepada Allah semata.
    Wassalam.

    @
    Salam… pakaian…jilbab… setuju pakaian takwa itulah yang paling baik. Dalam al Qur’an tampak sekali bahwa esensi persoalan berpakaian arahnya kemana… 😀

    Suka

  13. Anonim said

    Ass.wr.wb,
    Sekiranya ada seorang wanita yg tidak berjilbab mengatakan demikian : Tiada tuhan yg ku sembah kecuali Allah s.w.t dan kepadaNYA lah aku berserah diri.Manusia menghakimi apa yg mereka lihat tetapi Allah s.w.t menghakimi apa yg tersembunyi di dalam dada.
    Apakah wanita ini musti memakai jilbab?
    Sedangkan menyembah Allah s.w.t juga tidak harus.Kita menyembah kepada Allah s.w.t oleh karena kita bersyukur atas nikmat-nikmat yg diberikan olehNYA.
    Pendapat saya memakai jilbab tidak wajib, sebenarnya hati wanita dan pria lah yg perlu dijilbabkan, bukan rambut.

    Wassalam Dono.

    @
    Wass, wr.wb… kadang dan sering saya khilaf juga, memang yang perlu dijilbabkan adalah perilaku. Kadang menjadi terasa aneh dan nyleneh ketika jilbab dengan pakaian ketat atau ikut goyang dengan penyanyi berpakaian minim. so jilbab what gitu?.

    Jadi titik nilai/cara pandang kitakah yang salah pada esensi ini ataukah memang dengan sengaja kita mengabaikannya ya… !?

    Suka

  14. AinK SuperMan said

    Menurut saya, mau pake jilbab atau nggak berpulang kepda individunya.Masuk surga atau masuk neraka tuh pilihan. Tergantung amalan. Gak usah dipaksa2..

    @
    Tidak ada paksaan dalam beragama. Konteks ini adalah pemahaman universal, namun fakta pula orang kerap menjustifikasi. Apalagi jika berkenaan dengan seragam dan penyeragaman formal, entah dalam bidang pendidikan, keolahragaan, juga dalam keseharian….

    Suka

  15. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    Jilbab lagiiiii, jilbab lagi.
    Pakaian yang paling baik adalah “Pakaian Taqwa”.
    Untuk memakai pakaian taqwa tentu kita harus memakai pakaian lainnya sebagai “baju dalam” yang diwajibkan. Baju dalam bagi muslimah yang memakai baju taqwa adalah baju atau pakaian yang sesuai syariat yang ditetapkan oleh agama, apakah melalui ayat maupun hadits.
    Aneh kalau berbicara “pakaian Taqwa” tetapi melupakan “pakaian dalam”nya.
    Kecuali orang yang berpandangan liberal seperti JIL dan yang sepahamnya.
    Bagi saya, pendapat siapapun tidak penting. Mau Quraish Shihabkah, Gus Durkah, JILkah, Jinkah, tukang ojekkah, sejauh pendapat itu seusai Al-Quran dan Sunnah, maka boleh kita pertimbangkan.
    Wassalam,

    @
    Pakaian takwa… ini yang malah jadi tercecer…. 😦

    Suka

  16. Hendra said

    Pakai jilbab memang wajib. Tapi jangan memaksakan orang lain untuk memakainya juga. Biarlah kesadaran ini tumbuh dari dalam hati setiap insan.

    @
    😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: