Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tinjauan secara Fisika Tabrakan Beruntun di Tol Jagorawi

Posted by agorsiloku pada November 9, 2006

 

TABRAKANMasih ingat tabrakan beruntun di tol Jagorawi atau tabrakan beruntun dari sejumlah antrian di pintu kereta yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Kejadian tabrakan di jalan tol karena kegagalan pengendalian ini dianalisis jernih. Menambah pengetahuan kita, sekaligus polisi untuk tidak sembarangan membela atas dasar prosedur. Seenggaknya kita perlu juga mempelajari bagaimana “politik kebenaran” bermain dengan logika fisika.

Kusminarto (Fisika UGM)
RABU 17 November 2004 sekitar pukul 07.45 telah terjadi tabrakan beruntun di Jalan Tol Jagorawi Kilometer 13.600 arah Jakarta. Peristiwa naas itu terjadi lima menit menjelang iring-iringan rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari Cikeas memasuki Tol Jagorawi dalam pengawalan dan pengamanan jalur VVIP (Kompas, 18/11).
MENURUT Direktur Lalu Lintas Badan Pembinaan dan Keamanan Polri Brigadir Jenderal (Pol) Utjin Sudiana, untuk sementara kecelakaan tersebut diduga akibat sopir bus yang tidak bisa mengendalikan kendaraannya sebagai dampak dari laju kecepatan kendaraan yang cukup tinggi (70-80 kilometer per jam).
Masih menurut Utjin, dari Kilometer 16, petugas Patroli Jalan Raya (PJR) sudah mengawal kendaraan yang melaju di Tol Jagorawi yang ada di belakangnya untuk memperlambat laju kendaraannya dan akhirnya diberhentikan sekitar 100 meter dari persimpangan.
Tindakan tersebut memang sudah benar dan tentunya sudah menjadi prosedur standar PJR. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan kendaraan lain yang jauh di belakang kendaraan yang telah diberhentikan tersebut. Adakah petugas atau siapa pun yang memberikan peringatan jauh sebelum mereka menyadari bahwa di depan mereka ada deretan kendaraan yang telah berhenti?
Dari pernyataan Utjin, bahwa sopir bus sudah melihat dalam jarak 50 meter kalau ada kendaraan berhenti di depannya mestinya dia berhenti, dapat disimpulkan bahwa memang tidak ada petugas yang memberikan peringatan kepada setiap pengendara di jalan tol tersebut.
Dalam peristiwa itu polisi bersikukuh menganggap tindakan aparatnya menghentikan kendaraan yang melaju kencang di jalan tol sudah sesuai prosedur tetap dalam pengamanan VIP, sementara para pengendara dan masyarakat menganggap kecelakaan itu tidak akan terjadi jika PJR tidak menghentikan secara mendadak kendaraan-kendaraan yang tengah melaju kencang (Kompas, 19/11).
Tulisan ini tidak membicarakan siapa yang salah dalam peristiwa tersebut, melainkan membahas penjelasan secara fisika mengapa kendaraan yang direm secara total masih tetap berjalan sebelum berhenti total, berapa jarak yang masih akan ditempuh ketika kendaraan dengan kecepatan tertentu direm total secara mendadak.
Hukum kelembaman
Setiap benda memiliki sifat lembam, yaitu sifat mempertahankan keadaan geraknya. Benda yang rehat/diam ingin tetap diam dan benda yang bergerak lurus dengan suatu kecepatan akan mempertahankan keadaan gerak lurus dengan kecepatannya tersebut. Hukum fisika ini juga dikenal sebagai hukum Newton I atau hukum inersia. Sifat kelembaman ini dibawa oleh besaran massa.
Semakin berat suatu benda, semakin tinggi sifat kelembamannya yang berarti semakin sukar diubah keadaan geraknya (berat sama dengan massa dikalikan dengan percepatan gravitasi bumi, semakin besar massa suatu benda semakin besar nilai berat benda tersebut).
Sebagai contoh sebuah sepeda motor dengan kecepatan 60 km/jam akan segera berhenti jika direm secara total. Sebaliknya, mobil tangki yang terisi penuh akan tetap bergeser/berjalan sejauh jarak tertentu dengan roda yang tak berputar ketika direm secara total.
Demikian juga yang terjadi dengan bus yang melaju kencang di jalan tol pada peristiwa tabrakan beruntun tersebut tidak dapat dengan serta-merta berhenti begitu saja walaupun direm secara total, melainkan tetap bergeser sejauh jarak tertentu sehingga tabrakan tersebut tak dapat dihindari.
Pengereman secara total yang dilakukan pada kendaraan berat yang tengah melaju dengan kencang sangat berbahaya karena salah-salah dapat menimbulkan momen gaya atau momen putar yang akan memutar-mutar mobil tersebut bagaikan bola tenis yang terkena pukulan spin dan pada kondisi yang kurang beruntung dapat menjungkirbalikkannya.
Pada peristiwa tersebut dapat dipastikan bahwa sopir bus tidak mengerem busnya secara total ketika masih melaju dengan kecepatan tinggi, tidak ada bukti tapak ban di lokasi sebagai dampak pengereman total dan bus tidak terjungkir balik maupun terputar-putar (Kompas 18/11).
Setelah pengereman
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Tjiptono menyatakan kendaraan jenis bus, bila dilakukan pengereman total secara mendadak,memiliki perlambatan 3,5 m/s2. Pada kecepatan 80 km/jam bus baru akan berhenti total pada jarak 69 meter dari titik pertama kali pengemudi melakukan pengereman. Bagaimana angka itu diperoleh atau dihitung?
Lihat ilustrasi, m adalah massa bus beserta penumpang, g adalah percepatan gravitasi bumi yang besarnya sekitar 9,8 m/s2, sedangkan mg adalah berat bus beserta penumpangnya. N disebut gaya normal. Untuk jalan mendatar, besar N sama dengan berat bus mg sehingga keduanya saling mengimbangi. Oleh karena itu, bus tetap berada di atas jalan.
Ketika bus direm secara total, terjadi gesekan antara permukaan ban dan permukaan jalan yang saling bersentuhan. Timbullah gaya gesek Fgesek = ? N = ? m g dengan ? adalah koefisien gesekan kinetis antara permukaan ban dan jalan. Gaya gesek tersebut mengakibatkan bus mendapat perlambatan.
Menggunakan hukum Newton II, hubungan antara gaya gesek dengan perlambatan a adalah F = m a = ? m g. Dengan demikian ? = a / g.Menggunakannilai perlambatan a = 3,5 m/s2 dan g = 9,8 m/s2 seperti yang disebutkan di muka diperoleh nilai ? = 0,357.
Setiap benda yang bergerak memiliki energi gerak atau energi kinetik sebesar 1/2 m vo2 dengan vo adalah kecepatan benda. Pada kasus bus di muka, semula bus memiliki energi gerak 1/2 mvo2 dan akhirnya tidak memiliki energi gerak setelah berhenti total. Jadi telah terjadi pemusnahan energi gerak tersebut. Siapa yang melakukannya? Tak lain adalah gaya gesek ketika menahan laju bus sepanjang jarak x tersebut.
Didalam fisika dikatakan bahwa gaya gesek melakukan usaha (work)) sebesar gaya gesek dikalikan jarak tempuhnya, yaitu Fgesek x = ? m g x, dan ini sama dengan energi gerak yang musnah tadi. Dengan demikian ? m g x = 1/2 m vo2 dan akhirnya diperoleh bahwa jarak tempuh / pergeseran x = vo2/(2 ? g). Jika laju bus 80 km/jam atau sama dengan 80.000/3.600 m/s dan menggunakan nilai ? dan g dimuka didapat besar x = 70,5 m yang menurut pernyataan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Tjiptono sebesar 69 meter.
Angka tersebut diperoleh dengan asumsi mendekati ideal, yaitu kondisi ban optimal dan jalan tak berminyak maupun berpasir. Jika kondisi ban dan jalan tidak ideal ditambah laju bus melebihi 80 km/jam (kemungkinan besar mendekati 100 km/jam), maka jarak bus berhenti setelah pengereman total pertama kali dilakukan akan semakin jauh lagi.
Kesimpulan
Dari uraian dan perhitungan serta penjelasan secara fisika di muka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa tidak mungkin bus direm secara total selagi melaju dengan kencang karena dapat mengakibatkan bus terguling-guling dan berakibat korban yang mungkin lebih banyak.
Andaikan toh dapat direm secara total dari jarak 50 meter dan bus tidak terguling, bus masih akan bergerak sejauh 70,5 meter untuk kondisi ban dan jalan yang mendekati sempurna. Kenyataannya tentu tidak sesempurna seperti yang diasumsikan dalam perhitungan tadi sehingga tentunya bus masih bergerak lebih jauh lagi sehingga tabrakan tak dapat dihindari dan terjadilah musibah tersebut.
Ke depan, kejadian serupa dapat dihindari dengan cara memberikan peringatan seawal mungkin kepada para pengendara menggunakan tanda-tanda yang mencolok, setidaknya satu kilometer sebelum pemberhentian, sehingga para pengendara sudah mulai mengurangi laju kendaraannya.
Selanjutnya pada jarak 500 meter sebelum pemberhentian diberikan penjelasan singkat (menggunakan megafon atau speaker mobil PJR) bahwa semua kendaraan harus berhenti dan mengapa harus berhenti.
Seperti yang kita lihat sekarang ini, setiap mendekati pintu gerbang tol, pengendara diingatkan dengan informasi bahwa 500 meter di depan ada gerbang tol.
Sumber : Kompas (13 Desember 2004)

Iklan

Satu Tanggapan to “Tinjauan secara Fisika Tabrakan Beruntun di Tol Jagorawi”

  1. sikabayan said

    euh… kecepatan bis di tol mah sering sampai 120an atuh… mungkin sajah setandar perosedurnyah yang harus diganti mah.. harus lebih dari 150 sampai 200 meter dari antrian paling belakang..
    beu.. hanya sajah ituh teh harga yang mahal dari keamanan suatu rombongan.. tapinyah membuat banyak pengendara merasa tidak aman dari serudukan belakang… :mrgreen:

    @
    Kelihatannya standar prosedurnya juga harus disempurnakan lagi sih… Soalnya dengan adanya rem cakram, daya rem tentunya makin membaik juga… meski tentunya harus mempertimbangkan aspek lain juga…. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: