Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Keistimewaan Babi (bag.2)

Posted by agorsiloku pada November 9, 2006

Jika pada bagian pertama berkisah tentang beberapa keunggulan babi dalam kaitannya dengan manusia (untuk dimakan, ditranspalatasikan ke tubuh manusia, atau untuk pengobatan lainnya). Berikut ini beberapa keistimewaan lain yang juga bernilai ekonomis :

Babi yang didomestikasi, diternakkan katanya mudah hidup rukun. Nggak bisa ceritakan panjang lebar sih, karena bukan peternak. Tapi katanya sih. Memperkembangbiakkan babi itu cukup mudah, mengawinkannya tidak repot. Satukan saja jantan sama betina, biarkan beberapa hari indehoy. Dalam sehari, mereka mampu melakukan 1 sampai 2 dan dalam seminggu bisa lebih dari 3 kali. Jadi semangatnya memang tinggi.

Terus, anak-anaknya juga relatif lebih banyak dari sapi atau kambing. Singkatnya, lebih gampang punya anak. Bisa sekali melahirkan lima atau lebih. Makannya, juga gampang. Tidak terlalu pemilih, apa saja oke. Jadi, karena keunggulan ini, beternak babi menjadi salah satu pilihan dari sekian banyak pilihan menternakan hewan.

Babi juga tidak mudah terkena penyakit (katanya). Barangkali, meskipun perbandingannya tidak relevan : seperti lalat, dia sebagai pencemar tapi dia sendiri bisa hidup tentrem dan sehat-sehat saja.

Karena domestikasi babi lebih oke, maka wajarlah harga dagingnya lebih murah dari sapi atau daging kambing. Ini pada beberapa kasus, terjadi penjualan daging sapi segar (padahal daging babi) atau yang lebih populer lagi oplosan antara minyak tanah dan bensin…, maksudnya antara daging sapi dan daging babi. Tujuannya jelas, untuk mendapatkan keuntungan lebih besar : “Usut Penjual Daging Celeng Berkedok Daging Sapi – http://agribisnis.deptan.go.id/”.

Resiko terhadap Babi.

Di jaman lawas ini, salah satu yang paling mengkhawatirkan terhadap babi adalah “keluarbiasaan” babi yang memiliki sejumlah bawaan genetik yang menyebabkan dirinya menjadi inang terhadap ragam jenis penyakit berbahaya. Retrovirus yang dihasilkan oleh babi secara genetik inilah yang mendorong para ahli di negeri Barat mencari cara untuk “membersihkan” resiko ini. Secara genetik, maksudnya memang babi sudah didisain oleh sang Mahapencipta untuk membawa sejumlah resiko penyakit tanpa dia sendiri terkena. Pengetahuan kedokteran barangkali belum memetakan penuh apa-apa di balik kehadiran sang celeng ini.

Ilmu pengetahuan juga belum menjelaskan (atau saya belum dapat tahu) hewan-hewan mamalia apa saja yang secara genetik membawa atau menghasilkan atau inang genetik dari sejumlah penyakit yang beresiko terhadap manusia. Sampai saat ini, yang saya tahu, karakteristik retrovirus ini baru dari babi saja. Ini jelas keistimewaan sendiri bagi mahluk tampang ele, tapi bisa juga disebut tampang lucu. Sama lucunya bahwa hewan darat ini termasuk tanpa leher.

Banyak pembahasan mengenai hal ini. Coba kunjungi : Molecular sequence of swine retrovirus di http://www.patentstorm.us/patents/6699663-description.html.

Ada beberapa uraian bahwa beberapa sumber penyakit seperti avian flu atau flu burung itu, hiv, dan beberapa lainnya bersumber dari hewan ini. Kalau kita bandingkan dengan kerentanan sapi terhadap penyakit. Seperti penyakit kuku dan mulut atau sapi gila.

Tentu ada resiko lain, tapi saya anggap resiko soal cacing pita, lemak hewan atau lainnya pada kasus ini tidak begitu penting. Kebanyakan makan daging, ya nggak baguslah. Apapun jenis dagingnya. Kekurangan juga nggak bagus, karena protein hewan juga dibutuhkan untuk mamalia eh omnivora penggemar makanan enak dan dimasak ini (lihat saja di gizi.net)

(bersambung)

Iklan

10 Tanggapan to “Keistimewaan Babi (bag.2)”

  1. edwi said

    Sesungguhnya 4JJI tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia, tidak terkecuali babi. Pasti babi ada manfaatnya baik untuk ilmu pengetahuan atau untuk makhluk lain. Tapi yang jelas menurut Prof. Quraish Shihab 4JJI tidak menciptakan obat dari sesuatu yang diharamkan.

    Suka

  2. agorsiloku said

    Pernyataan diharamkan oleh Yang Mahamencipta hanya disebutkan kotor (lawan kata dari bersih). Bersih sangat variatif seperti juga kotor juga sangat variatif.
    Obat itu racun yang menyembuhkan atau dengan kata lain membunuh yang tidak sesuai dengan pemilik tubuhnya (misal membunuh bakteri, virus) atau merangsang hormon tertentu, dlsb.
    Lawan kata sakit adalah sehat.
    Menciptakan berarti membuat satu hal yang baru sama sekali (dari yang tiada menjadi ada). Dari satu bentuk ke bentuk lain dalam komposisi yang baru. Kalau teknolgi, karya manusia, lebih sebagia proses kreatif melakukan kombinasi dari berbagai unsur yang ada. Termasuk yang disebut obat dan reaksi fisis dari penerimanya.
    Transplatasi organ untuk orang sakit pada beberapa kasus merujuk pada kombinasi pada organ babi yang secara kedokteran (arah ke sini tampaknya makin menggejala), termasuk paling sesuai buat manusia. Misal akibat gagal ginjal. Apakah ini tergolong obat juga?. Jawab saya : Tidak tahu. Apakah ini bersih?. Jawab saya : Dari yang kotor, tercemar juga kotor. Apa itu kotor?. Ini yang mungkin ada baiknya dielaborasi lebih mendalam….

    Suka

    • Salut buat Anda yang nulis artikel ini. Dari tulisanmu terpancar cahaya iman dan akal sehat. Ini hal yang penting untuk tetap beragama dan berkarya membangun kehidupan. Aku ingin berbagi dengan sudut pandang agamaku. Dalam sebuah penglihatan yang dialami Rasul Petrus di loteng sebuah rumah (kedai)di Yope (Palestina), ia dikunjungi Tuhan dengan kehadiran sekantung penuh berbagai jenis hewan: yang berkaki empat, unggas dan yang melata, dll. untuk dipilih dan disembelih. Tapi sang rasul menolak dengan tegas : “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.”. Heran bin ajaib karena beginilah kata-kata Tuhan kepada rasul ini, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.”. Kisah ini terbukukan dengan baik dalam Alkitab, pada Kisah Para Rasul 10 : 5-15. Diharamkan, ya diharamkan tapi janganlah berlebih-lebihan. Karena terlalu berlebihan malah bisa menjadi penistaan terhadap Penciptanya sendiri. Juga kasihan si makhluk yang seolah-olah diciptakan hanya untuk menajiskan segala sesuatu. Menurut hemat saya segala sesuatu yang diciptakan Allah itu baik dan bermanfaat bagi kehidupan. Asalkan kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk tahu syarat-syarat dan batas-batas pengunaannya. Menurut saya ada saat di mana sesuatu diharamkan dan ada saat di mana hal yang sama kembali dihalalkan. Ini saya pelajari dari sejarah perkembangan agama saya (Nasrani) sendiri. Sebagaimana pengalaman Petrus di atas yang berlatar agama Yahudi. Ketika kekristenan masih bersama inang pengasuh (alam Palestina dan masyarakat Yudais)seluruh syariat tetap berlaku, tetapi ketika ketika tiba saatnya masuk ke dunia luas (go international)maka waktu pengharoman selesai.
      Salamku, Ishak Timika.

      Suka

      • agorsiloku said

        Terimakasih Mas Timika sudi berkunjung dan memberikan catatan. Yang Mas Ishak sampaikan dari sudut pandang logika dan perluasan pemahaman dan kemudian mengambil keputusan atas perluasan (masuk ke dunia luas atau go internasional menurut Mas) maka dinilai selesai. Ini adalah sebuah cara pandang untuk mengambil keputusan. Cara pandang ini, berbeda dengan umumnya ummat beragama Islam. Apa yang telah dinyatakan oleh Allah untuk ummatNya yang mengambil pilihan itu, berusaha dipatuhi (dan fakta dipatuhi atau dilanggar atau difanatiki berlebihan terjadi). Namun, pandangan terhadap syariat tetap diamini. Sepengetahuan saya, sebagian dari ummat Nasrani juga memiliki cara pandang yang sama. Sistem nilai ini, dalam masyarakat kemudian menimbulkan stigma yang disebut kolot, tradisional, dan modern. Ada perbedaan cara menafsirkan dan kemudian cara menyikapi terhadap petunjuk yang Allah SWT turunkan.

        Karena dalam Islam, Babi itu diharamkan untuk dimakan, maka ummat Islam umumnya mengimani. Kalau petunjuk Allah SWT menentukan batasnya waktunya, tentu pula ummat akan menaatinya. Namun, pembatasan itu tidak ada. Mengapa?. Wallahu ‘alam, hanya Sang Pembuat aturan yang mengetahui esensinya.

        Suka

      • Aku saluti komen balik Anda. Bahwa kepatuhan dan kesetiaan itu sikap dasar beragama yang hakiki. Maafkan saya karena di situ hanya sedikit mengeluhkan sikap-sikap konservatif yang (menurut saya) berlebihan, seperti juga yang ada juga di lingkungan saya – Nasrani. Mengapa? karena ada bentuk fanatismenya condong meniadakan perbedaan pandangan atau cara pengahayatan iman seseorang.

        Suka

      • agorsiloku said

        Mas Ishak, betul.. kita sebagai anak bangsa akan bertemu dengan fanatisme yang condong meniadakan perbedaan pandangan. Dengan kata lain, kalau “dia” berbeda, maka “dia” harus “salah”, dan saya pasti benar. Saya adalah tipikal orang yang dalam beragama mengatakan pada diri saya dan berusaha untuk terus mempertahankan bahwa iman saya adalah benar, agama saya adalah benar, dan Tuhan saya adalah yang Mahabenar. Lalu, saya tidak mau memperdebatkan tentang kebenaran ini. Buat saya ini adalah absolut. Ketika saya bertemu dengan para fanatis lain, tentang kebenaran “mereka”. Saya cenderung untuk tidak mau mempermasalahkannya. Tuhan saya memberikan petunjuk bahwa tentang “apa yang kalian perselisihkan” akan jelas nanti pada waktunya, di akhirat. Jadi, pegangan bahwa agamamu dan agamaku adalah berbeda, bukanlah sebuah masalah untuk dibesar-besarkan. Tuhan juga menyampaikan, jika DIA menghendaki, bisa dijadikan semua satu (satu agama, satu keyakinan). Jadi itu adalah pilihan-pilihan bebas yang disediakan oleh Sang Pencipta. Jadi, mari kita menegakkan agama dengan penghargaan kepada hak pilih dan hak kemanusiaan yang tinggi. Saya punya banyak benar teman baik yang berbeda agama dan shalih, banyak muslim yang shaleh, abangan, ada juga yang penolak keberadaan Tuhan. Point yang saya kerap bilang, pada waktunya nanti semua manusia akan berbaris untuk bertanggung jawab masing-masing. Tidak pada pemimpinnya di dunia. Kalau tidak percaya sama sekali, iya kalau tidak ada, kalau ternyata ada, sampeyan sendiri akan kena akibat dari keputusan yang saat ini kita tidak mengetahui ilmunya…..

        Suka

  3. […] function showImage(img){ return (function(){ img.style.display=’inline’; }) } var ul = document.createElement(‘ul’); for (var i=0, post; post = Delicious.posts[i]; i++) { var li = document.createElement(‘li’); var a = document.createElement(‘a’); a.setAttribute(‘href’, post.u); a.appendChild(document.createTextNode(post.d)); li.appendChild(a); ul.appendChild(li); } ul.setAttribute(‘id’, ‘delicious-list’); document.getElementById(‘delicious-box’).appendChild(ul); « Prosesi Supranatural Lumpur Sidoarjo Keistimewaan Babi (bag.2) » […]

    Suka

  4. nababan said

    iya bener itu…
    tapi kan daging babi enak tuh klo dimakan
    wkwkwkwkw

    @
    😀 😦 benar… dalam beberapa seri tulisan, dijelaskan hal ini….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: