Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masalah berlebaran bersama

Posted by agorsiloku pada November 1, 2006

Berikut ini beberapa kutipan dan penjelasan yang saya kira cukup menarik untuk disandingkan bersama beberapa tulisan mengenai penentuan perbedaan hari raya 1 Syawal. Semoga catatan tulisan ini ikut mendorong keniscayaan pilihan yang baik untuk ummat Islam, khususnya di Indonesia agar berlebaran lebih afdol, tetangga atau yang tinggal serumah harus berbeda hari lebarannya karena para penegak agama, pewaris nabi memilih benar menurut versinya masing-masing sehingga nilai kebersamaan di hari raya dalam satu wilayah yang persis sama tidak direnggut oleh karena keputusan hilal, ruhyat atau selera yang berbeda dan ummat harus terus menoleransi selera “penguasa”.

(dikutip dari milis islam_liberal@yahoogroups.com dan http://www.freewebs.com/bismillah/index.htm)
Logika perbedaan dijelaskan dengan bahasa sederhana oleh HMNA sbb :
Secara gampangnya shalat Maghrib dan buka puasa, batasnya adalah ufuk. Matahari di atas ufuk belum maghrib, belum boleh buka di bawah batas sudah maghrib, sudah boleh buka. Jadi waktu maghrib dan buka puasa tergantung di tempat mana kita berada. Tidak mungkin untuk seluruh Indonesia shalat maghrib dan buka puasa dalam waktu yang sama.di seluruh Indonesia.
Saya tambah lagi satu contoh, ini sedikit berbeda tentang batas itu. Batas antara masih bisa makan minum dan bersetubuh dalam bulan puasa, adalah batas antara Isya dengan Fajar. Dalam hal ini batas itu tidak bisa ditentukan betul secara tajam, sehingga pakai Safety Factor batas itu tidak tajam melainkan melebar, 10 menit sebelum fajar, itu disebut imsak. Juga tidak mungkin seluruh Indonesia shalat subuh dalam waktu yang sama, tergantung di mana kita berada di permukaan bumi ini.

Sekarang mengenai lebaran, batas antara bulan Ramadhan dengan bulan Syawwal lebih ruwet, karena di samping batas itu tidak tajam, juga bergerak, sekali putar, yang disebut satu daur, siklus, antara 4 atau 5 tahun. Dikatakan tadi tidak tajam, berupa garis, karena batas itu berupa bidang yang diantarai oleh garis dalam, garis 0 derajat, dengan garis luar, garis 1 derajat, makanya disebut bidang batas. Garis 0 derajat, ialah tempat kedudukan semua titik pada permukaan bumi di mana pada saat itu tinggi hilal (bulan sabit) 0
derajat di atas ufuk pada waktu matahari terbenam. Garis 1 derajat ialah tempat kedudukan semua titik pada permukaan bumi di mana tinggi hilal pada saat itu 1 derajat di atas ufuk tatkala matahari terbenam.

Alhasil di Indonesia pada tahun ini tidak bersamaan shalat ‘Ied, ada yang hari Senin, dan ada yang hari Selasa itu adalah keniscayaan, di sebelah timur bidang batas lebaran hari Selasa sedangkan di sebelah barat bidang batas lebaran pada hari Senin. Mengapa saya katakan keniscayaan, karena bidang batas itu ditentukan oleh Taqdirullah, suatu ketentuan dalam ilmu falak. Bidang batas itu ditentukan oleh parameter: gerak bumi mengelilingi matahari, gerak bulan mengelilingi bumi dan gerak manusia yang masing-masing bertumpu pada permukaan bumi ikut berputar dengan perpusingan bumi pada sumbunya. Para “jawara agama” (menurut istilah anda) itu sama sekali
tidaklah berlaku aniaya kepada ummat Islam. Fyi, ummat Islam adalah ummatnya
Nabi Muhammad SAW, bukanlah ummatnya “jawara agama”

Tentu bingunglah pula mengapa yang di sebelah barat bidang batas itu lebih
dahulu dari yang sebelah timur ? Kalau ada minat untuk memahamkannya silakan
dibaca Seri 270 di bawah .
Wassalam
HMNA

*****

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
270. Mengapa di Makkah Lebih Dahulu Shalat ‘Iyd, Padahal Makkah di Sebelah Barat Indonesia?

Pada hari Kamis, 17 April 1997, di Universitas Muslim Indonesia sebelum saya memulai kuliah seorang mahasiswa bertanyakan seperti pertanyaan pada judul di atas, bahkan ditambah pula dengan pernyataan, bahwa selama ini setelah Shalat ‘Iyd, sesampai di rumah beberapa jam kemudian menyaksikan siaran langsung Shalat ‘Iyd di Al Masjid Al Haram di Makkah. Pertanyaan itu perlu penjelasan supaya orang tidak bingung, maka kuliah yang saya berikan pada hari itu menyimpang dari SAP.

Sistem Penanggalan Hijriyah adalah sistem kombinasi syamsiyah (solar) dengan qamariyah (lunar). Landasannya adalah Ayat Qawliyah:
Fa-liqu lIshba-hi waJa’ala Llayla Sakanan wasySyamsa walQamara Husba-nan (S. Al An’am, 96). (Yang) membuka subuh dan menjadikan malam untuk istirahat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan (6:96). Inna ‘Iddata sySyuhuwri ‘Inda Llahi Tsna- ‘Asyara Syahran (S. At Tawbah, 36). Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan (9:36).

Hitungan hari berdasarkan syamsiyah, pergantian hari ditentukan oleh terbenamnya matahari. Misalnya hari ini hari Ahad, begitu matahari terbenam hari berganti menjadi Senin, yaitu malam Senin disusul dengan Senin siang. Hitungan bulan berdasarkan atas posisi matahari dan bulan pada bola langit. Tatkala matahari terbenam bulan (qamar, moon) terletak di atas ufuk maka terjadilah pergantian hitungan bulan (syahr, month). Menurut ayat di atas itu bilangan bulan adalah 12 bulan, itulah yang disebut 1 tahun. Itulah beda antara sistem penanggalan Hijriyah dengan Miladiyah Masehi). Pada sistem
Hijriyah 1 tahun dinyatakan oleh jumlah bulan (bilangan bulat = 12), sedangkan pada sistem Miladiyah 1 tahun ditentukan oleh jumlah hari (bilangan pecahan = 365,25 lebih sedikit, sehingga dikoreksi setiap 100 tahun, bulan Februari tetap 28 hari, walaupun 100 habis dibagi empat; dalam tahun 2000 nanti bulan Februari tetap 28 hari).

Dalam kinematika (dan dinamika pada umumnya) yang penting mula-mula harus menentukan kerangka rujukan (frame of reference) untuk menjadi landasan gerak, yang disebut pusat sistem kordinat. Yakni semua titik benda bergerak relatif terhadap pusat sistem koordinat. Dikatakan relatif bergerak oleh karena di alam syahadah ini tidak ada yang diam secara mutlak. Kullun fiy Falakin Yasbahuwna (S. Yasin 40), tiap-tiap sesuatu berenang dalam falaknya (36:40).

Apabila matahari yang menjadi pusat sistem koordinat, maka lintasan bumi yang bergerak mengelilingi matahari berbentuk elips. Untuk mempermudah perhitungan dianggap lingkaran, karena kedua titik api elips itu relatif dekat. Lintasan bulan yang sementara mengelilingi bumi bergerak pula bersama-sama bumi mengelilingi matahari, sehingga lintasan itu ibarat pegas yang dilingkarkan. Ternyata dengan memilih matahari sebagai pusat sistem koordinat gerak bulan itu sangat ruwet dan matahari tidak bergerak.

Maka dalam hal matahari dan bulan yang dijadikan sebagai perhitungan waktu, orang memilih pusat sistem koordinat di titik tempat orang mengamati matahari dan bulan pada permukaan bumi. Ini yang disebut dengan sistem koordinat yang ikut bergerak (mee bewegende coordinaten stetlsel). Karena bumi berpusing pada sumbunya, kita ikut juga berpusing, maka kita lihat matahari dan bulan bergerak melingkar pada bola langit, terbit di sebelah timur, terbenam di sebelah barat. Jadi kita ibarat di tengah-tengah lapangan mengikuti gerak dua orang atlet berlomba mengelilingi lapangan. Hanya bedanya balapan antara matahari dengan bulan itu berlangsung terus menerus hingga hari kiamat.

Dalam perlombaan pada bola langit matahari lebih cepat dari bulan. Ini sangat jelas bagi orang yang suka memperhatikan bulan baru pada bulan Ramadhan. Pada bilangan bulan (syahr, month) satu Ramadhan bulan (qamar, moon) sangat dengat ke ufuk, sedangkan pada hitungan bulan kedua Ramadhan, bulan sudah agak tinggi dari ufuk, tiga Ramadhan lebih tinggi lagi. Artinya bulan itu setiap saat ketinggalan dari matahari. Ibarat motor dengan sepeda, sepeda makin lama makin jauh tertinggal di belakang motor.

Karena yang dijadikan pusat sistem koordinat adalah titik tempat kita berdiri pada permukaan bumi, maka pusat sistem koordinat di Makassar berbeda dengan pusat sistem koordinat di Makkah. Pada hari Senin (= malam Selasa) 2 pekan lalu, tatkala matahari terbenam di Makassar bulan masih di bawah ufuk. Itu berarti tatkala Senin telah berganti dengan Selasa, maka di Makassar masih akhir bulan DzulQa’dah. Akan tetapi karena jarak antara Makassar dengan Makkah cukup jauh untuk matahari dapat mengejar bulan, maka tatkala matahari terbenam di Makkah bulan sudah di atas ufuk, artinya di Makkah pada waktu itu terjadi pergantian bulan dari DzulQa’dah menjadi DzulHijjah, dengan perkataan lain malam Selasa dan Selasa siang di Makkah sudah 1
DzulHijjah, Rabu 9 DzulHijjah wuquf di ‘Arafah, Kamis 10 DzulHijjah shalat ‘Iyd di Al Masjid Al Haram. Sedangkan kita di Makassar dan seluruh Indonesia, juga di Malaysia dan Brunai hari Selasa baru akhir DzulQa’dah, maka 1 DzulHijjah baru jatuh keesokan harinya yaitu pada hari Rabu, 10 DzulHijjah jatuh pada hari Jum’at, kita shalat ‘Iyd pada hari Jum’at.(*)

Andaikata pada malam Selasa tatkala matahari terbenam di Makassar bulan sudah di atas ufuk maka tentu kita akan shalat ‘Iyd dalam hari yang sama dengan Makkah. Bedanya ialah di Makassar pada 1 DzulHijjah malam Selasa bulan (qamar, moon) sangat dekat ke ufuk, sedangkan di Makkah pada 1 DzulHijjah malam Selasa bulan agak tinggi dari ufuk, karena matahari tatkala di Makkah sudah lebih jauh jaraknya meninggalkan bulan. Kalau shalat ‘Iyd di Indonesia sama harinya dengan di Makkah, maka tentu saja kita di Inidonesia lebih dahulu melaksanakan shalat ‘Iyd karena kita lebih ke Timur, matahari lebih dahulu terbit dari Makkah. Seperti dikatakan di atas dalam hal pergantian hari hanya ditentukan oleh terbenamnya matahari, sedangkan bulan tidak ikut campur dalam urusan pergantian hari. Apabila di Indonesia orang shalat ‘Iyd pada hari yang sama dengan Makkah, maka pada waktu itulah sesudah shalat ‘Iyd, tatkala sampai di rumah beberapa jam kemudian kita saksikan siaran langsung di televisi orang shalat ‘Iyd di Al
Masjid Al Haram di Makkah. WaLlahu A’lamu bi shShawab.

*** Makassar, 27 April 1997
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
——————————–
(*)
Ummat Islam tidak perlu tidak PD dengan perbedaan waktu shalat ‘Ied. Ummat Nashrani setiap tahun DUA KALI ber-Natal dan DUA KALI ber-Tahun Baru. Pada tahun 1582 M. atas inisiatif Paus Gregorius XIII diadakanlah revisi penanggalan Masehi. Hasilnya ialah tanggal 5 Oktober 1582 M. harus dianggap 15 Oktober 1582 M. Artinya tanggal 6,7,8,9,10,11,12,13 dan 14 Oktober 1582 M. (9 hari) itu dianggap tidak pernah ada. Penanggalan Masehi yang sudah direvisi ini disebut Penanggalan Gregorius (Gregorian Calendar). Penanggalan Gregorius itu kurang beruntung nasibnya, karena revisi ini dilakukan setelah reformasi. Maka kerajaan-kerajaan beragama Protestant tidak mau mengikutinya. Juga di kerajaan-kerajaan mantan Romawi Timur yang beragama Katholik Yunani (Russian Orthodox Church) tidak mengikutinya, bahkan hingga dewasa ini, tetap tidak mempergunakan Gregorian Calendar. Juga ummat Qibthi
(Unitarian Christian) yang tidak tunduk pada doctrine Athanasius yang dikukuhkan oleh Concili Nicea, sampai sekarang tidak mengakui Gregorian Calendar. Tidak sama halnya dengan kerajaan-kerajaan Protestan yang akhirnya menerima Gregorian Calendar ini. Skotlandia mulai menerima dalam tahun 1600 M., Jerman tahun 1700 M., Inggeris tahun 1751 M. dan Rusia baru pada tahun 1918, tidak termasuk Russian Orthodox Church (ROC). Itulah sebabnya perayaan Natal dan Tahun baru ROC dan ummat Qibthi hingga dewasa ini mundur 9 hari, karena ROC dan ummat Qibthi menganggap yang 9 hari tidak pernah hilang. Artinya 25 Desember bagi ROC dan Qibthi itu 3 Januari internasional dan 1 Januari bagi ROC dan Qibthi itu 10 Januari internasional. Jadi kalau dalam kalangan ummat Islam hanya sekali dalam rentang waktu antara 4 – 5 tahun terjadi perbedaan 1 hari antara ahlu ru^yah dengan ahlu hisab, maka ummat Nashrani setiap tahun dua kali ber- Natal dan dua kali ber-Tahun Baru.

***********************************************************************

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
750. Masalah Berlebaran Bersama dan Sekali lagi Al-Muqaththa’aat

Di Makassar 29 puasa Ahad petang 22 Oktober, matahari terbenam 17:55:25 LT dan bulan pada 17:56:50 LT, beda waktu 1 menit 25 detik, tinggi titik pusat Al-Hilal 2’51” (‘=menit busur, “=detik busur), ijtima’ pada 13:15:08 LT. Al-Hilal tidak bisa diru’yah, sedangkan secara hisab, mutasyabihat, remang-remang, karena data itu menunjukkan Makassar pada wilayah bidang batas antara Ramadhan dengan Syawwal. Di sebelah barat bidang batas itu baik ru’yah maupun hisab jelas sudah halal mengakhiri puasa pada hari Senin, namun di sebelah timur bidang batas itu masih haram mengakhiri puasa pada hari Senin. Al-halalu bayyinun, walharamu bayyinun wa bainahuma mutasyabihat. Yang halal jelas, yang haram jelas dan di antara keduanya remang-remang. Di dalam Hadits Shahih riwayat Muslim dinyatakan bahwa masing-masing kawasan adalah dengan rukyahnya sendiri-sendiri (Hadits nomor 1087). Oleh sebab itu tidak berlebaran bersama dalam hari yang sama itu keniscayaan, dan itu bukan perpecahan namanya, itu tidak relevan dengan isu persatuan dan kesatuan ummat. Maka secara pribadi saya putuskan menggenapkan puasa 30 hari, Senin masih berpuasa. Minal-‘Aaidiyn wal-Faaiziyn, TaqabbalaLla-hu Minnaa waMinkum.

***
Tambahan (tidak ada dalam Seri 750):
Baik Pemerintah, maupun Muhammadiyah melanggar Hadits Shahih riwayat Muslim tersebut. Pemerintah memukul rata Shalat ‘Ied pada Hari Selasa untuk seluruh Indonesia. Demikian pula Muhammadiyah memukul rata pada hari Senin untuk seluruh Indonesia. Padahal tahun ini bidang batas antara bulan Ramadhan dengan Syawwal memotong Indonesia menjadi dua bagian. Di Makassar secara hisab mutasyabihat, remang-remang. Sebelah timur bidang batas hilal belum wujud, pada waktu matahari terbenam, bulan masih di bawah ufuk, yaitu antara lain Gorontalo, Manado, Ternate, Halmahera, Ambon, Seram, Papua, secara hisab, berlebaran semsetinya hari Selasa.

Tentu ada yang bertanya, mengapa di sebelah barat yang lebih dahulu lebaran? Untuk itu silakan dibaca reposting Seri di bawah Seri 750.
Wassalam
HMNA
*************

Kapan Mau Lebarah Nih?

Sumber : http://rovicky.wordpress.com/2006/10/22/kapan-mau-lebaran-nih/

Ditulis oleh Rovicky on October 22nd, 2006

iedPetunjuknya sih sederhana saja cuman begini bunyinya

“Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berhentilah berpuasa karena melihat hilal”.
Tetapi ternyata buntutnya puanjang …. mengapa bisa terjadi ?

Memang perintah puasa itu menggunakan penanggalan bulan, namun penentuan waktu bebuka dan sholat dengan matahari …. looh lak lucu kan ?

Tapi justru dengan “kelucuan” inilah maka manusia ini diminta untuk berpikir, karena perintah yang sederhana diatas ternyata saat inipun masih memerlukan pemikiran, masih membutuhkan olah pikir. Bahkan setelah lebih dari 1400 tahun kita masih diliput perbedan itu. Terutama bagi yang mau menguji pemikirannya, kalau mau ngikut saja ya boleh wong ada juga perintahnya kok.

“Taatlah kamu kepada Allah dan Rasulmu dan Pemimpinmu”

Nah aku bukan ahli rukyah, bukan ahli hisab, juga awam dalam sidang isbath penentuan penanggalan ini, tetapi sepertinya ini menarik juga kan, mencoba untuk mengerti mengapa bisa ada perbedaan.

Dibawah ini ada peta (hasil perhitungan) dimana kira-kira hilal akan terlihat:

Gini cara baca peta dibawah ini :

ACCURATE TIMES VERSI 5.2 © Mohammad Odeh

1. Adalah sangat tidak mungkin untuk daerah yang berada di bawah arsiran warna MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu hilal terbenam lebih dulu sebelum matahari atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam. Artinya tinggi hilal adalah negatif.

2. Daerah yang berada pada area tak berarsiran juga sangat besar kemungkinan tidak dapat menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( 0° s.d. 6° ) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.

3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran warna BIRU

4. Lokasi yang berada pada daerah di bawah arsiran warna UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran warna HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

6. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.

Dibawah ini peta penampakan hilal pada tanggal 22 Oktober 2006

Penampakan hilal pada [22 Oktober 2006]

Dibawah ini peta penampakan hilal pada tanggal 23 Oktober 2006
Penampakan hilal pada 23 Oktober 2006

Nah terlihat kan, kalau pada tanggal 22 Oktober 2006 maka daerah Indonesia terbagi dua, yang diutara mustahil bisa ngeliat hilal, sedangkan yang selatan juga belum bisa melihat hilal. Sedangkan pada tanggal 23 Oktober 2006 hampir semua tempat bisa melihat hilal (berwarna HIJAU). Nah mengapa Muhammadiyah menggunakan tanggal 23 sebagai tanggal 1 Syawal ? Karena kalau anda tengok gambar yg atas ada bagian kecil disebelah selatan-barar (kiri bawah) ada yg berwarna hijau, artinya ada bagian bumi yg bisa melihat hilal dengan tanpa alat. Ini yg disebut kriteria ‘wujudul hilal‘. Menurut kriteria ini, dimanapun hilal terlihat dimuka bumi ini semestinya berlaku global.

Nah mengapa ada perbedaan ? Ya karena memang posisi geografisnya tidaklah sama. Dan kriterianyapun berbeda. Bahkan peta diatas hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan. Barangkali, untuk kali ini, Saudi tidak mementingkan rukyah, karena pada tanggal 22 sudah ada daerah dibumi yang dapat menyaksikan hilal. Dan juga Saudi telah memulai puasa lebih awal, Saudi memulai puasa hai Sabtu, sedang di Indonesia kita memulai hari Minggu. Dan ngga mungkin mereka (yg di Saudi) berpuasa lebih dari 30 hari kan ?

Kanjeng Nabi-pun pernah mencontohkan, suatu saat ada sekelompok umat yang tempatnya jauh dari posisi Nabi waktu itu menyatakan melihat hilal. Setelah nabi mendengarnya Beliau menyatakan pernyataan itu sudah sah. Kalau saja saat ini kita bisa “mendengar” ada sekelompok kaum yang sudah menyatakan melihat hilal, apakah seluruh dunia bisa “bersama-sama” berlebaran ?

Lebaran bersama-sama, seru juga,
Tetapi berbeda jadi nambah variasi.
Disinilah “serunyaD (atau rahmat perbedaan itu).
– “Pak Dhe, bisa ikutan makan lontong opor dua kali donk ! …”
+ ” Husst !”
– “Lah iya ta Pak Dhe, tahun 2006 ini kita berlebaran pada tanggal yang sama, yaitu tanggal 1 Syawal 1427 H, kan ?”

+ “Haiyak ) !”

Pokoke selamat berlebaran bagi yang merayakan, kapanpun anda merayakannya.

 

“Taqabballahu minna Wa Minkum, Taqabal Ya Kariim”

Minal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir batin

sumber gambar dan referensi : http://rukyatulhilal.tripod.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: