Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berita Lebaran

Posted by agorsiloku pada November 1, 2006

Hari kedua lebaran, duduk selonjoran usai menikmati opor dan ketupat yang lezat bukan alang kepalang. Penambah berat badan yang sudah mulai over weight ini. Berita Metro TV hari itu (24 Oktober 2006) dan beberapa dari saluran lain, sedikit menggiriskan hati.

Foto-foto dan kamera TV itu memperlihatkan beberapa orang di bawah jembatan penyebrangan di Jakarta memperlihatkan keberadaan orang miskin di hari raya. Mereka itu tidak bisa pulang kampung dan juga tidak bisa merasakan indahnya hari kemenangan. Hari lebaran. Kata sang pembawa berita: Tahun ini mereka gagal tidak (?) mendapatkan perhatian dan tidak mendapatkan pula sekedar pernak-pernik lebaran. Rupanya tidak ada (? atau mungkin mereka tidak kebagian) mendapatkan segumpal nasi atau sedikit kebahagiaan lebaran.

Kemudian kuraih kue nastar di depan mata dan sejumput minuman segar. Bah, itukan cuma sekedar berita….

Kemudian ada kejapan berita berikutnya; memberitakan ada sekitar 100 an jamaah Ahmadiyah yang sholat Ied dalam kesedihan (mereka adalah bagian dari pengusiran yang terjadi di Lombok, 2006). Kamera memperlihatkan kepedihan mereka ketika, pas ketika mereka melantunkan sholawat nabi. Kemudian dengan kesombongan, terbisikkan di hati… salah sendiri… mengapa meributkan persoalan khatamman nabiyyin itu. Mereka adalah kelompok bla… bla… bla…

Seperti tak pernah kenyang, diseruput lagi minuman penyegar itu.

Kemudian peristiwa Poso, teror di Poso yang kisarannya berada di sekitar upaya-upaya teror. Mereka menjual keyakinannya untuk kebanggaan kelompoknya. Untung bukan di sini seruku dalam hati.

Kemudian dibebaskannya Tommy Suharto yang dihukum 15 tahun penjara, kemudian oleh Mahkamah Agung diturunkan menjadi 10 tahun, kemudian dan karena setiap Ied dan hari kemerdekaan mendapatkan remisi, maka bisa pulang lebih cepat.

Kemudian ingatan beralih lagi kepada debat kusir perbedaan hari raya, untuk berseteru soal hitungan dan rukhyat. Kebersamaan memang tak lagi penting. Keyakinan yang benarlah yang penting. Ini keniscayaan bahwa biar satu rumah, kalau berbeda pandang, tidak ada salahnya ikut salah satu. Masing-masing punya kebenaran sendiri-sendiri. Inilah rahmat…..

Kemudian tentang lumpur Sidoarjo yang sudah berbulan-bulan melahirkan polemik dan kesengsaraan dan belum tahu kapan selesainya. Betapa dahsyatnya kekuatan alam yang dilahirkan karena kecerobohan pengeboran (tapi sulit dibuktikan –mbok belum bisa dilihat pada kedalaman berapa semburan itu berasal)…
Aku nyaris menelan kueh keju dan tangan kanan mengambil kacang mede kesukaanku.

Hati bercerita tentang orang yang mati tertimbun sampah. Kejadian di Cimahi Bandung, juga terjadi di Tempat Pembuangan Sampah di Bantar Gebang Bekasi. Bah… semua itu resiko-resiko menjadi orang miskin…. Aku tahu, memberantas kemiskinan itu sulit. Memberantas orang miskin lebih gampang. Jadi wajar saja toh, kalau orang miskin itu harus diusir.

Yah seperti juga pasar kumuh, peluang untuk terbakar atau digantikan dengan pasar moderen sangat besar peluangnya.

Tentang kawan yang datang dan mengisahkan duka bahwa anaknya yang lagi masantren jatuh dari lantai dua dan kepalanya terantuk. Masuk rumah sakit. Biayanya sekian-sekian…..
Tentang tetangga yang datang karena Pak Haji tahun ini tidak membagi-bagikan sedekahnya sehingga pengurus masjid kesulitan untuk mendapatkan tambahan untuk menutupi sebagian duafa yang kemungkinan tidak kebagian…

Tentang kebakaran hutan di seantero hutan tropis Indonesia. Ini adalah tradisi setelah masa kepemimpinan Pak Harto berakhir maka masa reformasi juga adalah peluang baru untuk menghanguskan hutan Indonesia.
Tentang orang tua yang mengeluhkan betapa kemiskinan telah membuat anaknya menderita busung lapar. Kru TV memotret kemiskinan itu. Si Anak yang kurus kering dalam gendongan ayahnya. Si ayah berkisah bahwa bantuan Pemerintah tidak ada. Satu tangannya mengendong si anak, satu tangan yang lain asyik menyedot rokok gudang garam…..

Tentang flu burung dan suspect flu burung yang tak jua habis-habisnya.

Tentang Tsunami di Aceh, derita korban gempa di Yogya, dan Tsunami di Pangandaran.

Tentang pemudik yang mengalami musibah tabrakan, yang terjerembab kemacetan…

Dunia dipilin-pilin, dipilih-pilih, yang teraniaya dan dianiaya hadir bersamaan. Kadang kita menjadi begitu taatnya, tapi juga enggan bersedekah. Kadang kita begitu baik pada saudara-saudara kita yang sebagian dan tak pernah perduli pada sebagian yang lain. Kadang kita memonopoli kebenaran sehingga yang di luar diri kita semua adalah calon arang. Kadang kita menjadi bersyukur, untung bukan kita yang kena musibah….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: