Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perbedaan Satu Syawal : Rahmatkah?.

Posted by agorsiloku pada Oktober 26, 2006

Perbedaan membangun satu keutuhan. Bangunan tidak dibangun dari hanya genteng saja atau dinding-dinding saja. Semua perbedaan yang disatukan proposional akan membangun rahmat, menjadikan sesuatu yang kita sebut rumah. Jadi perbedaan itu memang rahmat. Di keluarga besarku, seperti kata para alim ulama itu, perbedaan itu rahmat. Hasil penetapan 1 syawal dalam dua versi di Tahun 2006 ini, telah memberikan (as a result) :

Kami tak lagi bersepakat (atau dalam bahasa mahasiswa : Sepakat untuk tidak sepakat) untuk melaksanakan sholat Ied bersama. Keluarga sebelah kanan memilih untuk melaksanakan Ied pada Tanggal 23 Oktober saja, keluarga sebelah atas memilih yang tanggal 24 Oktober saja. Sebagian keluarga atas bawah, Utara – Selatan malah lebih terpisah lagi suami mengikuti tanggal 23 Oktober sebagai 1 Syawal, isteri mengikutinya tanggal 24 Oktober. Anak-anak tidak perduli, ikut ibu oke, ikut bapakpun jadilah. Bagaimana ramainya.

Namun silang pendapat atau debatable terjadi juga. Kira-kira yang ditangkap dalam 3 hari terakhir ini di keluarga besar kami antara lain :

1. Pokokke Arab Saudi saja sudah menetapkan 1 Syawal 1427 itu tanggal 23 Oktober, jadi so pasti Muhammadiyah benar. Iran dan Mesir sih Tanggal 24 Oktober 2006. Kali saja itu karena soal Syiah dan Sunni. Arab Saudi sendiri melaksanakan 1 Ramadhan hari Sabtu, sedangkan Indonesia pada hari Minggu. Nggak mungkinlah Arab Saudi lebaran 24 Oktober, karena ini artinya puasanya jadi 31 hari. Wallahu’ alam.

2. Yang laporan di TV itu kan yang nggak lihat hilal banyak disebutkan Sudin daerah ini, Sudin itu…… Itukan dari Depag. Tahu sendirilah, Depag itu gudangnya koruptor. Tahu nggak, dana Abadi Ummat saja di korupsi (?). Tahu nggak, berapa biaya naik haji dan fasilitas haji yang di Malaysia dan yang di Indonesia. Ini mungkin wasangka, tapi kan faktanya begitu… dst.

3. Kalau saya sih, tadi malam sudah dengar orang bertakbir dan banyak lagi. Berarti satu Syawal esok hari. Saya nggak ikut Muhammadiyah atau NU, tapi kalau sudah ada takbir, ya jangan berpuasa.

4. Yah… kalau Muhammadiyah benar saya ikut yang benar saja. Kalau salah, ya puasa lagi aja satu hari. Kan puasa di hari Ied hukumnya haram.

5. Dasar Pemerintah kampungan, boro-boro lihat hilal. Pesawat mau mendarat saja kagak bisa. Kebakaran hutankan dimana-mana. Mana mungkin bisa melihat hilal. Ada-ada saja.

6. Bisa juga penetapan Ied yang berbeda itu permintaan para bisnisman. Kan dua hari itu bisa membuat pengeluaran untuk belanja harus nambah. Ini pasti ulah mereka.

7. Ini sudah jamannya teknologi. Kalo rukyat itu sudah tidak layak dipakai lagi. Hisab saja. Hitungannya pasti teliti. Posisinya akan bisa dihitung dengan sangat teliti, jadi kita ikut Muhammadiyah dong….

8. Ikuti ulil amri di antara kamu. Itu ada hadits dan ayatnya. Serahkan pada mereka untuk memutuskan. Jangan jalan sendiri-sendiri. Kalau semua memutuskan sendiri dan tidak mau bersatu pendapat, ummat mau dikemanain…..

9. Di Indonesia bagian barat, hilal sudah ada. Di timur Indonesia belum. Jadi demi ukhuwah islamiyah, kesatuan gitu… tunggu sampai seluruh hilal ada di seluruh bagian Indonesia. Ini namanya kompak.

10. Waduh, jangan besok ya (tanggal 23 Oktober 2006). Masalahnya opor dan ketupat belum dimasak…..

11. Kalau menurut keyakinan saya, Muhammadiyah benar, jadi saya ikut Muhammadiyah saja.

12. Semua memang menggunakan ilmu PK4 (Pa Keukeuh Keukeuh = Saling Ngotot). Jadi beginilah jadinya. Dua-duanya tidak bisa duduk bersama, semua JAIM (jaga image).

 

Akhirnya, hari kemenangan itu tiba juga. Dengan segala perbedaan yang terjadi di keluarga kami. SMS dari hand phone yang nyaris dimiliki oleh semua anggota keluarga dewasa saling bersahut-sahutan berbunyi. Balas membalas dari berbagai tempat. Kami memang tidak merayakan pada hari yang sama. Kami tetap berbahagia juga setelah sebulan bertaraweh, berusaha tawa’du, bersilahturahmi. Perbedaan yang dimunculkan oleh para pemuka agama dan Pemerintah dari segala sisinya tidak membuat wajah kami kusam karena perbedaan itu. Kita harus saling memahami perbedaan itu (padahal kami sih tidak mengerti mengapa harus terjadi perbedaan ini). Tidak harus terputus kan silaturahmi hanya karena ulah para jagoan-jagoan agama itu untuk membuat perbedaan di satu Syawal itu. Tidak harus kesalkan kalau para jawara agama itu memperebutkan hilal di berbagai wilayah dan saling meyakini kebenaran masing-masing. Semua perbedaan itu kan rahmat.

Tapi jujur saja, rasanya sejak aku kecil, perbedaan itu sudah ada dan menjemukan. Ada sesuatu yang hilang dari keluarga besar kami, karena perbedaan itu telah membuat kami sedikit merasa kehilangan nilai kebersamaan. Kehilangan waktu karena perbedaan itu membuat kami tidak bisa melangkahkan kaki bersama ke lapangan tempat sholat Ied akan dilaksanakan. Juga dengan sebagian tetangga sekampung.

Ini kah rahmat itu?. Ini kah yang diharapkan para ulama dan umara di negeri ini?. Apakah 1 Syawal 2007, para pengambil keputusan untuk ummat itu akan semakin berbahagia melihat ummatnya dalam satuan-satuan terkecil keluarga dalam masyarakatnya kehilangan satu kebahagiaan bersama lagi yang kedatangan Ramadhannya selalu dirindukan untuk bersua lagi?.

Iklan

Satu Tanggapan to “Perbedaan Satu Syawal : Rahmatkah?.”

  1. […] usai Ramadhan, kita akan berlebaran. Insya Allah. Semoga tidak ada pengumuman-pengumuman untuk memisahkan kebersamaan lebaran. Tidak dibangun perbedaan-perbedaan karena alasan-alasan sehingga masalah berlebaran bersama bukan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: