Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Suara pada Anak Tangga

Posted by agorsiloku pada September 26, 2006

Suara “sesuatu” yang naik tangga nyaris terjadi setiap malam. Setidaknya bagi banyak teman yang masih bagadang bekerja di kantor. Satpam sudah bilang, itu si Anu (ngkali) yang memang selalu berjalan sekitar jam 23.30-23.45 itu.
Malam itu, ketika sedang asyik bekerja di depan komputer tak sengaja terdengar suara kaki melangkah di tangga kayu ke lantai dua. Sedikit aku tersentak. Untuk membuka pintu menengok rasanya terhalangi oleh keberanian. Jadi kubiarkan saja dengan sedikit doa dan kekhawatiran. Tapi, karena pekerjaan juga banyak, aku tak begitu perduli. Sesaat kemudian, kira-kira 10 menitan, suara kaki menuruni lantai terdengar lagi. Begitulah, nyaris setiap malam ketika bergadang di kantor kudengar suara itu. Kata Pak Maryono, Satpam di kantor itu memang rutin, tapi tidak pernah terlihat wujudnya.
Kebetulan, memang tangga kayu yang naik dari lantai dua itu persis di depan pintu ruanganku.
Akhirnya, pada suatu malam, sengaja kubuka pintu kamar sedikit dan aku tiduran menghadap tangga. Jam menunjukkan jam 23.10. Kurasa sebentar lagi ada suara langkah itu. Suara yang sudah cukup akrab di telinga. Ada sedikit kekhawatiran, namun kuberanikan diri. Ketika jam sudah kian mendekati waktunya, jantung berdebar semakin kencang. Sulit dijelaskan, ketika memang benar, sayup mulai terdengar suara langkah kaki itu. Aku tak sanggup mendorong pintu untuk melihatnya. Rasanya kelu seluruh tulang sendi. Aku diam saja sampai suara langkah itu menghilang. Aku tahu, sebentar lagi suara kaki menurun akan terjadi.
Tak lama, memang suara langkah turun terdengar lagi sayup di keheningan malam. Dalam beberapa detik lagi,suara turun tangga itu akan hilang untuk datang lagi esok malamnya. Terbayang yang sedang berjalan turun tangga itu mahluk yang wajahnya pasti seram dan menyerangai bila menolehku. Mungkin, dia akan menerkamku atau menertawakanku. Namun, keputusan toh harus dibuat. Jadi, antara takut dan berani, aku setengah meloncat membuka pintu.
Blas, pintu terbuka. Aku melihat seekor luwak yang terbirit-birit, meloncat lewat jendela rusak bawah tangga ke atap lantai satu yang memang berada tepat di bawah anak tangga.
Esoknya, aku ceritakan ke Pak Maryono, satpam kantor itu. Itu cuma seekor luwak saja. Memang di belakang kantorku itu masih setengah hutan. Jadi logis saja ada seekor luwak yang berkunjung setiap malam ke dapur di lantai dua. Mungkin mencari remah makanan. Yang hebat, luwak, si mahluk malam itu tertib berkunjungnya, pada waktu yang mungkin sudah menjadi siklus hidupnya.
Sejak saat itu, aku tak mau membuka pintu lagi, tapi juga tidak perlu khawatir akan mahluk malam itu…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: