Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Meramal Masa Depan

Posted by agorsiloku pada September 19, 2006

FP Zen1 dan LG Adhipurna2 (1Fisika ITB, 2Yayasan Paramadhina)

Dinasti Zhou (Cina, 1000 SM) menggunakan heksagram Yi Jing (Kitab Perubahan) untuk meramal masa depan. Yi Jing dianggap mewakili pola dasar perubahan alam, sehingga diyakini bisa digunakan untuk prediksi, dari musim hingga perang.

Prediksi serupa itu kini berbasis sains, yang juga dianggap mewakili pola dasar perubahan alam saat ini semakin diupayakan, bahkan menjadi komoditas penting bernilai tinggi. Prediksi berupaya menentukan kejadian aktual dari satu set alternatif. Lintasan planet, iklim, harga saham; setiap kasus ini punya satu set alternatif kejadian, disertai ketidakpastian tentang alternatif mana yang sebenarnya (akan) terjadi.

Ketidakpastian ini dinyatakan dengan probabilitas derajat keyakinan terjadinya suatu alternatif antara 0 (mustahil) dan 1 (pasti). Prediksi yang andal memiliki probabilitas mendekati 1 (atau 0). Prediksibilitas ini dinyatakan dengan entropi informasi (Shannon, 1948): jumlah informasi yang belum lengkap untuk menentukan kejadian aktual.

Jika pada suatu kasus terdapat alternatif kejadian dengan probabilitas 1, maka entropi kasus itu 0 (informasi sudah lengkap) mutlak terprediksi. Jika semua alternatif probabilitasnya sama, entropinya maksimum tak terprediksi. Ketidakpastian diatasi dengan mengumpulkan informasi lengkap; entropi berkurang, prediksibilitas meningkat. Persoalannya, apakah informasi bisa dikumpulkan secara lengkap (lihat batas fundamental), dan direpresentasikan secara operasional (lihat model matematik) untuk prediksi?

Informasi terbatas. Selain itu, sebanyak apapun dikumpulkan, bisa hilang lagi dengan cepat, akibat ketidakpastian yang terakumulasi seiring waktu. Bahkan di semesta kuantum ini, ketidakpastiannya sudah melekat, tak ada informasi untuk prediksi. Prediksi sungguh terbatas.

Batas Fundamental

Tak semua hal bisa diprediksi. Hanya keteraturannya yang memungkinkan prediksi; keteraturan dalam waktu (dinamika, mekanisme perubahan), dan keteraturan dalam ruang (kondisi awal, di mana perubahan bermula).

Keteraturan ini wilayah sains, dirangkum dalam konstruksi teori sebagai paket informasi terkompresi. Setiap prediksi bersandar pada hal ini, secara langsung maupun tidak. Batas prediksinya sejauh keteraturan itu bisa dilihat. Tapi tak ada yang dilihat, jika tak ada yang melihat; keteraturan ada, karena ada yang mempersepsinya. Sains katanya objektif, tapi keteraturan jelas persepsi subjektif: bertingkat, dibatasi objek, dan subjek. Subjek dan objek ada di alam benda, di semesta kuantum. Di sini, benda justru bukan benda.

Teori fundamental benda, teori kuantum, bukan membahas benda, namun pola interaksi subjek-objek dalam interpretasi probabilistik. Probabilistik, bukan karena informasi tak lengkap, namun karena ketidakpastian yang melekat (Heisenberg, 1926): posisi dan momentum partikel tak bisa diukur bersamaan secara eksak. Jika informasi lengkap, hasil pengukuran tetap tak bisa diprediksi. Biasanya, deskripsi probabilistik digunakan jika informasi tak lengkap. Jika lengkap, bisa dibuat dalam deskripsi deterministik (Laplace, 1776): dari kondisi awal, segalanya bisa diprediksi.

Jadi, prediksi bisa karena ada keteraturan (aturan dinamika, misalnya mekanika klasik, relativitas, elektrodinamika, mekanika kuantum) yang mendeterminasi perubahan dari kondisi awal tertentu. Teori dinamika fundamental (misalnya teori superstring) dan teori kondisi awal semesta (Hawking, 1983) menjadi kerangka fundamental prediksi: kosmologi kuantum (teori kuantum semesta dan seisinya dan seterusnya). Bisakah segalanya diprediksi dari sini? Tidak.

Prediksi terbatas sebab aturan deterministik bisa mengakumulasi ketidakpastian pada kondisi awal secara eksponensial. Selain itu, prediksi di semesta kuantum hanya sebatas probabilitas. Persisnya, probabilitas urutan kejadian tertentu. Urutan kejadian aktual, baru bisa diamati setelah terjadi (di fisika klasik informasi itu bisa diperoleh sebelum terjadi).

Lagi pula keteraturan itu bertingkat. Setiap tingkat memiliki khazanah tertentu. Teori kuantum ini hanya kerangka teoretik fundamental; satu dari banyak khazanah keteraturan lain. Geologi, meteorologi, biologi, psikologi, ekonomi, boleh disebut konsisten dengan kosmologi kuantum. Tapi statemen itu tak ada artinya. Sebab khazanah lokal itu keteraturannya otonom.

Bisa didekati secara lokal, terpisah dari keteraturan perubahan semesta secara keseluruhan. Karena lokal itu pula, keteraturan bisa diamati, dan digunakan untuk prediksi. Ukuran file spreadsheet tabel data posisi bulan selama 10 tahun, misalnya 800 MB (juta byte). Tapi ada keteraturan lokal di sana, data bisa dikompresi (diteoretisasi) hingga 2 KB (ribu byte) berisi program persamaan gerak, dan kondisi awal bulan (posisi dan kecepatan). Tabel posisi bulan selama 100 atau 1000 tahun, pada prinsipnya bisa diprediksi cukup dari 2 KB ini.

Kompresibilitas dinyatakan dengan kompleksitas algoritmik (Chaitin, 1964): ukuran program terpendek yang bisa menghasilkan data semula. Beda dari entropi informasi, konsep ini mengukur keteraturan internal (informasi algoritmik) dari data. Data 101101…101 teratur, bisa dikompresi dengan program pendek: print 101 n-kali. Tapi kebanyakan data justru acak, tak bisa dikompresi. Program terpendek: print data itu sendiri. Bisakah dikompresi lagi? Barangkali bisa. Tapi jika pun bisa, belum tentu itu terpendek, itu hanya batas atasnya.

Tak bisa dipastikan mana yang terpendek-informasi algoritmik tak komputabel. Ini mungkin artinya, tak dapat ditentukan bahwa teori yang semakin akurat, akan semakin mendekati teori ultimat yang bisa mengkompresi semua data. Implikasi irreducibility ini (Chaitin, 1975) mirip dengan bukti teorema incompleteness (Godel, 1931), dan incomputability (Turing, 1936). Ketiga bukti ini terkait ketidaktentuan (undecidability) sistem formal aksiomatik, dan bisa dianggap (secara spekulatif) membatasi praktik teoretisasi dan prediksinya. Tak ada teori untuk prediksi semua (Godel).

Tak ada prosedur ampuh menyusun teori (Chaitin). Teori tak selalu bisa untuk prediksi (Turing). Jadi, banyak hal di semesta yang tak bisa diprediksi dari teori, eksperimen, dan simulasi. Padahal, hanya itu yang biasa kita lakukan: membuat model.

Model matematik

Deret konstan dan periodik mudah diprediksi. Deret acak mudah pula (percuma saja prediksi, selain dari rata-ratanya). Deret yang menarik ada di antara keduanya; tak acak, tak konstan, tak mudah diprediksi, tapi memiliki semacam keteraturan yang bisa dieksploitasi untuk prediksi. Untuk itu keteraturan ini disajikan dalam abstraksi berbahasa matematik model matematik dalam tiga macam pilihan: analitik, numerik, atau empirik.

Anomali pada tabel fase bulan, misalnya, ditangkap Ptolemeus (100 SM) dalam model episiklus, yang disempurnakan Kepler (1609) dengan bentuk ellips (model empirik). Newton (1687) mendapat orbit ellips ini sebagai solusi analitik dari persamaan diferensial — dinamika dua benda dalam gravitasi (model analitik). Jika persamaan menjadi rumit, solusi eksak sulit didapat, maka didekati dalam rumusan algoritmik, dihitung secara numerik (model numerik). Jadi, perubahan posisi bulan bisa dimodelkan secara empirik (meniru data), analitik (menangkap mekanisme), atau numerik (komputasional). Pilih mana? Untuk prediksi, cukup dipilih model yang akurat dan hemat.

Tentu model bukan hanya soal akurasi dan kompresi, tapi juga representasi. Biomekanika tubuh misalnya, boleh dimodelkan secara analitik (oleh dosen anatomi), numerik (oleh insinyur NASA), atau empirik (oleh perancang video game). Untuk prediksi iklim, sudah tradisi membuat model numerik paling rumit, dieksekusi di komputer paling besar. Komputer paling akbar tahun ini, Earth Simulator (NEC SX6, 40 Tflops), digunakan untuk model numerik dinamika iklim global. Bigger, better? Belum tentu, tergantung sifat model. Lorenz (1963) menemukan model sederhana (aproksimasi konveksi atmosferik), yang pada kondisi awal (hampir) sama hasil komputasinya berbeda.

Tindakan terbaik

Percakapan dengan semesta sungguh terbatas (lihat batas fundamental), meski dalam bahasa yang amat indah (lihat model matematika). Ini bukan sekadar bagaimana semesta mesti dipahami, diramal, dan dikendalikan, tapi bagaimana khazanah kemanusiaan mesti terungkap. Prediksi adalah seni. Tak ada resep standar untuk prediksi. Di sini, sains dan teknologi mesti membangun aspek rasa: wawasan intuitif (insight), kreativitas, dan sensibilitas. Seni prediksi tak terobsesi hasil eksak, namun berupaya menentukan tindakan terbaik, dengan prinsip biaya terkecil.

Prinsip ekonomi ini adalah prinsip fisika (prinsip aksi terkecil), atau malah metafisika. Dalam Dao De Jing (500 SM), aksi terbaik adalah non-aksi (wu-wei): tindakan selaras dengan semesta. Ini bukan pasif, bukan pula aktif, karena perubahan bukan kausalitas, tapi perwujudan unik semesta yang pola dasarnya mengalir dalam relasi Yin/Yang. Jadi, Yi Jing bukan untuk meramal, tapi menemukan konfigurasi unik semesta di suatu saat, untuk bertindak selaras dengannya. Inilah fungsi primbon awalnya.

Pranata Mangsa di Jawa, Kala di Sunda, Porhalaan di Batak, Wariga di Bali, dan lain-lain memberi panduan waktu untuk kegiatan seperti bercocok tanam. Ini terkait keunikan iklim, geografis, dan konfigurasi kosmik lain yang belum diketahui. Tapi kini, lebih fatal dari sekadar punah, tradisi menjadi klenik. Tradisi berbeda dari sains, teknologi, atau seni, justru karena tradisi adalah ketiganya: insight, kreativitas, sensibilitas. Kini, sains dihargai atas aplikasinya, bukan atas insight-nya.

Teknologi bukan produk kreatif, sekadar komoditas citra futuristik. Seni asyik bermain dalam idiom artistik, membius sensibilitas. Tradisi lebih apresiatif terhadap hakikat unik yang ada. Sesuatu tak akan berkembang jika tak apresiatif terhadap hakikatnya, yang unik, yang saat ini. Hidup ada di saat ini, bukan besok, atau kemarin.

Prediksi bukan soal meramal masa depan, atau memahami masa silam, tapi tentang hidup dengan tindakan terbaik di masa kini. Justru dengan buku manual semesta secanggih Yi Jing, Laozi malah berpesan, “Orang yang berilmu itu tak meramal, orang yang meramal itu tak berilmu.

Sumber : Republika (27 Januari 2004)

Iklan

8 Tanggapan to “Meramal Masa Depan”

  1. pencari said

    apabila ada manusia yang berkat, oh sifat kamu begi, atau begitu dan pada suatu saat kamu akan mengalmi peristiwa begini,…. atau masa lalu kamu seperti ini…., maka kebanyakn orang menyebutnya dengan paranormal alis dukun atau apalahnamanya. Mungkinkan pengetahuan itu semua bisa ia dapat tanpa alat bantu, misalnya di kalangan ghaib dikenal jin, syetan khodam, atau mungkin malaikat, bukankah agama mengajarkan” siapa yang datang ke dukun, atau paranormal kemudian ia membenarkan segala apa yang ia ucapakan, maka ia telah musyrik, dan musyrik itu dosa yang tidak diampuni Allah. Allah berfirman” sesungguhya sirik itu dosa yang besar”. perihal masalah ghaib “al-quran sendiri berbicara bahwa”hanya Allah yang mengetahui segala Apa yang ghaib” dan Allah maha pengetahui segala apa yang telah lalu, sekarang dan akan datang, atapun yang abstrak atau ghaib.
    Bagaiman kalau manusia mengetahui sesuatu yang ghaib dengan energi yang ia miliki. bukankah energi sesuatu yang sangat dahsyat yang ada pada alam,manusia dl.
    tolong tulisan tentang Kekuatan energi pada diri Manusia dan pengaruh serta manfaatnya. wasssalaam.

    @
    Kalau yang agor pahami, di masa sebelumnya (entah kapan, mungkin sebelum agama Islam), jin bisa membaca atau mencuri-curi rahasia langit dan mengabarkan kepada manusia. QS 72. Al Jin 8. dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, 9. : dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). 10. Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.

    Jadi, sebagai orang beragama Islam maka saya mengimani yang ghaib sebagai rahasia dan tidak seperti kata Al Qur’an yang mas kutip, tidak ada yang dikabari mengenai hal ini. Kalau kemudian manusia mengada-ngada sebagai “penyingkap rahasia ghaib”, maka perkataan itu tidaklah sesuai dengan definisi yang ditetapkan oleh Allah mengenai hal ini. Dalam pemahaman saya, jin bukan juga termasuk masalah ghaib. Jelas sekali masalah ini disampaikan :

    QS 34. Saba’ 14. Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.

    Jadi kalaulah ada orang memiliki energi yang tinggi sehingga bisa melihat yang ghaib, maka jelaslah berdasarkan Al Qur’an itu tidak benar. Mestilah ybs memahami ghaib dalam ukuran tidak tampak/tidak kasat mata. Tapi kalau dia berhubungan dengan jin, maka peluang itu ada. Jin tidak kasat mata, tapi tidak termasuk mahluk ghaib.

    Sedang mengenai potensi manusia, yah memang juga baru termanfaakan sedikit juga. Banyak hal bisa dilakukan oleh manusia, termasuk dalam dimensi spiritual namun tidak sampai pada sisi ghaib.

    Tentang potensi manusia (energi manusia), banyak pembahasannya. Ingin juga mengumpulkan yang berkenaan dengan pemanfaatan energi dan bentuk-bentuknya ini.

    Suka

  2. aditya said

    kalau saya punya cara meramal sendiri, untuk meramal nasib, termasuk meramal bisnis kita, keadaan kita hari ini ditentukan oleh usaha kita dimasa lalu, karena itu keadaan yang akan datang bisa kita lihat dari apa yg kita lakukan hari ini, tulisan lain lihat di sini
    cara meramal ilmiah..?
    terimaksasih.

    Suka

  3. Anonim said

    haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    Suka

  4. Anonim said

    MASAK……………………………………………………………………………. QW GUCH PERCAYA KLO 59NG BNR BKTIIN KRANG JG

    Suka

  5. Anonim said

    MASAK BENAR KALAU ADA 2012

    Suka

  6. Anonim said

    Saya, tidak akan percaya tentang lamaran untuk masa depan, karena masa depan kita, tergantung kepada ALLAH SAW. karena DIA lah yang telah menciptakan alam semesta dan segala isinya, dan apabila DIA ingin mencabut nyawa orang, yang orang itu tidak tau masa depan yang iya tempuh sebelum dia meningalkan dunia.
    jadi saya mohon, percaya percaya saja sama lemaran, tapi jangan terlalu mempercayai juga, karena kalau begitu sama saja kita menyekutukan ALLAH SAW.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: