Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Logika daging dan pahala….

Posted by agorsiloku pada Agustus 14, 2006

“Habis berburu babi, terus babinya diapakan?”

“Ya dikubur saja”.

“Kita kan nggak boleh memakannya?”.

“Sayang dong, dijual saja?”

“Barang haram kok dijual?”

“Lo, gimana sih sampeyan ini. Yang dilarangnya kan memakannya, bukan menjualnya!”.

“Memang boleh menjualnya?”

“Emang ada nggak larangannya?”

“yang dijual apanya?”, “dagingnya?”

“lalu tulang, dan lemaknya gimana?”

“Kan yang diharamkan dagingnya, bukan lemaknya atau tulangnya?”.

“Sampeyan itu kok bandel sih…!?”

“Sedikit banyak, ya haram. Kalau dibilang dagingnya, ya artinya semuanya. Dari ujung kaki sampai ujung rambut, dari depan sampai belakang, dari yang masuk sampai yang keluar?”

“Kata siapa?”.

“Kok ngeyel sih….!”

“Yang menajiskan itu yang keluar dari mulut seh..” (ikut-ikutan omongan “dia” ya”)

“lo”,

“lo lagi”

Juga kita dapatkan uang hasil korupsi. Misalnya aje, dapat 100 juta. Terus kita keluarkan 2,5%-nya untuk membayar zakat. Maka bersihkan uang itu. Uang haram itu sekarang jadi uang halal kan?. Rp 2,5 Juta lo… Ini besar lho. Kalau kita berikan sama kaum duafa, ditambah sedikit acara bla… bla… bla, maka bukan hanya Allah yang tahu, tetangga juga pada tahu bahwa kita ini sudah jadi dermawan. Asyik kan…!. Kita sudah memenuhi dua Allah : Kesenangan dan perintah Allah.

Gitu juga deh, kalau kita sholat kita kurang atau kelupaan, maka dengan uang hasil korupsi yang sudah dibersihkan itu, terus kita umrah saja. Sholat di Mesjidil Haram yang pahalanya 100.000 kali dari pahala sholat sendiri. Coba hitung deh. Misal kamu hidup 50 tahun x 365 hari x 5 kali sholat. Kan jumlahnya cuma 90 ribu kali. Lunas sudah.

Maksudnya?.

“Ya, karena itu nggak usah sholat lagi…”.

“Astagfirullah”.

“Sudahlah, jangan sok sucilah”.

——–

adakah sambungan-sambungannya?. Apakah (sucikah/bersihkah) uang yang kita berikan untuk anak isteri kita, halalkah?. Apakah kebersihan atau kehalalan pada sesuatu (makanan atau perbuatan) adalah sesuatu yang terbawa ke dalam perut kita dan keluarga kita akan menjadi bagian-bagian penting dari pilihan-pilihan di masa depannya. Apakah ada perbedaan kalau kita memakan daging yang haram dengan daging halal dari uang haram.

Yang suci dan mensucikan itu tertentu dan khusus. Yang suci tapi tidak mensucikan jauh lebih banyak lagi. Saya jadi ingat pada air. Air memiliki sifat dialektris yang menyebabkan memberikan reaksi terhadap sikap (juga terhadap doa). Sangat boleh jadi uang dari daging yang haram, memiliki aura yang berbeda dengan uang dari daging yang halal (kok aneh ya, kurang logis!). Boleh jadi juga apa yang kita makan dengan rasa syukur, akan berbeda dengan apa yang kita makan pada hati yang marah dan gelisah. Sifat dialektrik dan molekulnya juga akan bereaksi berbeda bagi tubuh kita.

Saya jadi ingat saudara dari isteri, punya anak berbelas dan semuanya sukses. Puji Syukur ya Rabbi. Pesannya pada kami :”makanlah makanan yang halal untuk anak-anak kita. Bawalah harta halal ke dalam rumah. Insya Allah, yang dicita-citakan dikabulkan olehNya” .

Rasanya, banyak juga sunnah nabi atau nasehat cerdik pandai mengenai ini….

Sudah agak lama tulisan tentang makanan ini.  Rekan Dony mengingat kembali efek makanan. Betapa memang kemajuan sekaligus menggemukkan sambil berpeluang untuk semakin harus disadari bahwa makanan juga adalah bagian dari sikap hidup…..

Iklan

5 Tanggapan to “Logika daging dan pahala….”

  1. wadehel said

    Menarik, saya juga yakin, apapun yang kita “makan” pastilah ada pengaruhnya. Semua sebab pasti ada akibatnya, dan tidak harus selalu harus menunggu mati untuk menikmatinya.

    Suka

  2. Trus gimana kalau ada orang yg mendapatkan gaji dari pekerjaan-nya yg terlihat halal, namun saat masuk dengan cara yg kotor (semacam suap-lah),Sementara gajinya untuk menghidupi keluarganya hingga ia pensiun dan mati. Audzubillah deh…

    Suka

  3. putiful said

    KAlo om saya di kampung, babi yg habis diburu dikasih ke anjing yg bantuin berburu.. jadi haram makan haram.. cucok…. hehe…

    JAdi inget tebak2an jaman dulu:
    X: “binatang apakah yg PALING haram?”
    Y: “Paling haram? gak tau..”
    X: “jwbnya babi hamil..”
    Y: “lah kok??”
    X: “iyaa.. kan ‘mengandung babi’… kurang haram apa coba.”
    Y: “howalah.. huehuehueue”

    Btw, saya br nyadar.. ternya artikel ini dipost 2 thn yg lalu.. ya ampuunnnn…. yowess back to the future.. ^_^ salam kenal eniwei…

    @
    😀

    Suka

  4. faisol said

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    Suka

  5. Indah Sarah said

    hrs ny pndk tp jls qu bc srm ilo

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: