Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Visi Teknologi Nano

Posted by agorsiloku pada Agustus 8, 2006

http://www2.dw-world.de/indonesia/wissenschaft_Technik/1.133801.1.html

Ilustrasi serangan virus dalam ukuran nano meter

Teknologi selalu memiliki dua sisi, positif dan negatif. Kini semakin banyak dibicarakan teknologi yang tidak kasat mata, yakni teknologi dalam ukuran nano meter. Seberapa besar manfaatnya, dan apa potensi bahaya yang terkandung di dalamnya, kini merupakan tema perdebatan hangat para ilmuwan.
Di awal abad ke 20, sisi negatif teknologi digambarkan dengan sosok Frankenstein, monster yang dibuat dengan teknologi terbaru pada saat itu. Sekarang, ketika teknik tidak hanya berbicara materi yang kasat mata, melainkan juga materi dalam ukuran atom, monster yang digambarkan tidak seseram Frankenstein. Akan tetapi lebih mengerikan lagi. Dalam buku thriller karya penngarang terkenal Michael Crichton, “Prey”, digambarkan monster yang tidak kasat mata. Yakni mesin-mesin pintar dalam ukuran nano, yang mampu memperbanyak diri, memperbaiki sendiri kerusakan dan mencari mangsa.
Mengerikan, jika mesin-mesin pintar berukuran nano semacam itu mampu mereproduksi diri, menjadi sosok pemangsa. Namun teknologi nano, yaitu teknik yang berkaitan dengan benda-benda berukuran nano, yakni sepersejuta milimeter bukanlah hanya khayalan ilmiah Crichton. Sudah sejak tahun 1959 lalu, pakar fisika pemenang hadiah Nobel, Richard Feynman melontarkan pemikirannya, mengenai teknologi dalam dimensi atom dan molekul. Dalam pertemuan tahunan mesyarakat fisika Amerika ketika itu, memang sulit membayangkan visi Feynman.Di zaman itu, dimana komputer saja belum ditemukan, Feynman sudah mengembangkan gagasan, mengenai mesin-mesin logik dan otomat berukuran atom dan molekuler. Misalnya saja, pakar fisika itu menggambarkan kabel yang diameternya sekitar 10 atom, dan menerangkan bagaimana masing-masing atom dapat direkayasa menjadi saklar. Bagi manusia, visi semacam itu memang amat mengagumkan. Akan tetapi, bagi alam mesin-mesin berukuran nano, sudah eksis sejak beberapa milyar tahun. Jauh sebelum manusia muncul di muka Bumi, alam sudah menemukan mesin-mesin berkuran molekuler. Alam menciptakan pembangkit energi dalam dimensi nano, yang efiensinya hingga kini belum ada yang menandingi.
Mesin nano alami
Rahasia nano kosmos itu, hingga kini terus diteliti oleh manusia. Ketika kehidupan muncul di muka bumi milyaran tahun lalu, alam ibaratnya menciptakan karya yang tidak ada bandingannya. Dalam pengaruh yang berganti-ganti, dari kebetulan dan keteraturan alamiah, berkembang mesin berukuran nano alami untuk menyimpan informasi. 50 tahun lalu msin nano alami ini dapat diuraikan rahasianya sebagai gen pembawa sifat keturunan DNA. Dalam struktur berbentuk spiral ganda itu, tersimpan seluruh rancang bangun genetika. Yang lebih mengagumkan, memori informasi berkapasitas amat tinggi itu, dapat melakukan reproduksi, bermutasi dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan.
Bahkan pada tumbuh-tumbuhan dan bakteri tertentu, dikembangkan pembangkit energi tenaga surya yang amat efisien dalam ukuran nano. Sejak milyaran tahun lalu, fotosintesa pada tumbuhan dan bakteri tertentu, dapat mengubah energi surya dengan efisiensi sekitar 38 persen. Bandingkan dengan usaha para insinyur modern saat ini, yang masih terus memutar otak, untuk membuat panel-panel sel surya dengan efisiensi setinggi itu. Sejauh ini, efisiensi panel sel surya maksimal hanya sekitar 17 persen. Artinya, hanya 17 persen energi matahari yang dapat diubah menjadi energi dalam bentuk lain.
Jika alam sudah milyaran tahun berhasil mengembangkan mesin-mesin nano, manusia masih bersusah payah mewujudkan visinya. Beberapa memang sudah berhasil meniru alam, mengembangkan bio-teknologi atau Bionik berlandaskan pengetahuan menyangkut struktur nano. Misalnya saja Institut Fraunhofer di Jerman, sudah memantapkan diri pada teknik pelapisan Nano. Juga saat ini di Jerman sudah dapat dibuat cat yang meniru struktur nano pada permukaan daun teratai atau daun keladi. Permukaan yang dilapisi dengan cat khusus itu, bersifat seperti daun keladi, yang mampu menangkis semua kotoran yang akan menempel.
Rekayasa nano-teknologi
Namun harus diakui, penelitian menyangkut struktur nano di tingkat atom atau molekul, boleh dikatakan masih dalam tahap pengembangan. Misalnya saja, impian untuk menciptakan semacam kapal selam mini, yang dapat dimuati obat-obatan dan dikendalikan untuk langsung memerangi lokasi penyakit, sejauh ini belum terwujud. Atau yang paling nyata tantangannya, yakni dalam teknologi komputer, masih terus diteliti dan dimatangkan. Sejauh ini, pabrik chips komputer terkemuka, Intel, Infineon dan IBM masih berkutat pada produksi chips dengan teknologi antara 100 sampai 90 nanometer. Dengan teknologi 100 nanometer, sebuah prosesor komputer modern, kini rata-rata terdiri dari 50 juta transistor.
Sejauh ini, pembuatan chips komputer masih dilakukan menggunakan teknologi etsa cahaya ultra violet. Lempengan waffer silikon, dalam proses litografi yang rumit dan steril, direkayasa menjadi jutaan transistor yang saling berhubungan. Pakar pengembang chips dari Intel, Peter Silverman mengatakan, paling lama dalam dua tahun mendatang, proses pembuatan mikroprosesor komputer, dengan cara litografi cahaya akan mencapai batasannya. Memang sejumlah pabrikan mikrochips kini mengembangkan proses etsa menggunakan sinar ulta violet ekstrim – EUV. Dengan itu, jarak antara transistor diperkecil menjadi 50 sampai 35 nanometer.
Menurut perhitungan para ahli, dengan memperkecil kisi-kisi transitor, dari saat ini sekitar 100 nanometer menjedi 70 nano meter saja, kinerja mikroprosesor akan meningkat sampai dua kali lipatnya. Artinya, jika saat ini rata-rata kecepatan mikroprosesor mencapai tiga Gigahertz, dalam dua tahun mendatang dapat ditingkatkan menjadi dua kali lipatnya. Jika kisi-kisi transistornya diperkecil lagi, sampai menjadi 50 nanometer, dalam satu chips dapat dibuat sekitar satu milyar transistor dan kecepatan prosesor meningkat sampai 10 Gigahertz. Tentu saja muncul pertanyaan, sampai dimana batasan kemampuan chips silikon, sebagai material dasar pembuat mikroprosesor. Sebab, jika kisi-kisi antar transistor sudah sedemikian rapatnya, gangguan atau interferensi fungsi, akan semakin sering muncul.
Jika teknologi silikon sudah mencapai batasannya, bahan apa lagi yang masih memiliki masa depan sebagai mikroprosesor komputer. Di sinilah teknologi nano akan memainkan peranan utama. Memang saat ini, ibaratnya teknologi nano masih berupa bayi yang baru lahir. Namun sejak dini, para ahli sudah mengincar unsur karbon sebagai pengganti silikon. Dengan proses khusus, unsur karbon dapat dibentuk menjadi semacam pipa, yang terdiri dari struktur atom karbon yang membentuk segi enam. Struktur karbon ini, memiliki sifat sebagai penghantar listrik atau sebagai semikonduktor, tergantung posisinya terhadap poros kisi-kisi. Dengan begitu, dari kisi-kisi karbon segienam ini, dapat dibuat transitor ukuran atom. Disinilah, visi Richard Feynman dapat diwujudkan, dengan membuat prosesor komputer dalam ukuran atom dan molekul.

Iklan

5 Tanggapan to “Visi Teknologi Nano”

  1. suparman said

    saya belum mengerti apa yang anda sampaikan berita diatas, dan apa itu teknologi Nano, tolong dijelaskan yang simpel saja karena saya seoarang yang awan teknologi.
    terima kasih

    @
    🙂 saya juga membaca berkali-kali, bahkan belum mengerti juga… baru kemudian kerap mengertinya setelah lama sekali. termasuk juga mengenai teknologi renik ini…

    Suka

  2. sikabayan said

    euh… Allah yang Maha Halus… menguji berapa halus kemampuan teknologi kita… mungkin feynman bingung ngeliat semut jalan2 kesana sinih…

    @
    bagian dari komunikasi sub atomik…

    Suka

  3. PAM-PAM said

    SANGAT MEMUNGKINKAN SEKALI APABILA NANOTECH DI APLIKASIKAN PADA DUNIA MEDIS, MISAL MEMBUAT ROBOT MOLEKUL YANG BISA MEMASUKI SEL DARAH KEMUDIAN DIKONTROL MELALUI KOMPUTER” BISA JADI TUH ”

    @
    Sebuah kemungkinan…..

    Suka

  4. Herianto said

    Ternyata mas agor pemerhati masalah teknologi IT juga .. 😀
    Ketemu postingan ini waktu googling … 🙂

    Dulu pertama mikro (prosesor), sekarang nano (prosesor), menyatakan semakin padatnya struktur semikonduktor pada sekeping chip, barangkala atau sudah akan ada piko (prosesor).
    Tapi kabarnya kepadatan ini di batasi oleh jarak elektron ke proton (berapa ya ?). Sehingga teknologi semikonduktor akan stagnan di batas ini… Ah saya dudah lama sekali gak mengikuti lagi masalah ini … Padahal aslinya kan jurusan elektronika … :mrgreen:

    @
    ha..ha… bukan pemerhati masalah teknologi seeh… hanya memang teknologi nano itu membuka satu pemahaman yang menarik, bagaimana sebuah komunikasi data terjadi. Saya juga tidak tahu banyak. Tapi, terbayangkan Mas, begitu luasnya alam semesta, milyaran tahun jaraknya antara satu titik dengan titik lainnya. Tentunya data yang tersebar begitu tak terbayangkan jauhnya itu harus dikontrol oleh Allah. Allah tentu memiliki “processor” yang super cepat dan sudah tentu memiliki ketakberhinggaan kecepatan untuk bisa dikontrol. Sebuah galaksi saja kita, bima sakti, dikelilingi oleh tatasurya kita sekitar 200-250 juta tahun cahaya. Galaksi spiral ini objek-objeknya terikat tanpa tiang (gravitasi). Pengaruh gravitasi itu adalah bit-bit informasi yang juga mempengaruhi satu dengan lainnya dalam satu konsepsi pemahaman yang bagi teknologi tak terbayangkan.
    Dunia apakah yang ada hubungan antara elektron, proton, quark-quark… saya kira adalah satu pemahaman yang juga belum terpahami oleh sains saat ini. Jadi kembali ke tatanan semikonduktor… saya sih lebih yakin, teknologi baru mengawali satu dimensi super mikroskopis, bukan mendekati batasnya….. 😀

    Suka

  5. Anonim said

    ko pernah baca yah? yang ori dunk

    @
    Dengan jelas, pada bagian pertama (atau kadang bagian akhir), agor selalu cantumkan sumber aslinya.
    Itu adalah bagian dari etika yang sejauh mungkin tidak dilanggar. Jadi ori (kalau maksudnya orsinil atau original) adalah tanggung jawab dari sumber yang dikutip.
    Hal ini juga agor jelaskan dalam tag about dan tag unclean. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: