Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jilbab? Apa Gunanya?

Posted by agorsiloku pada Juli 17, 2006

http://nofieiman.com/2005/11/jilbab-apa-gunanya/
This entry was posted on Monday, November 21st, 2005 at 9:41 am3

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirim SMS dan menanyakan tentang jilbab, tentang landasan hukumnya, termasuk apa pentingnya seorang perempuan muslimah mengenakan jilbab. Mungkin bagus juga kalau sekalian saya tulis di sini agar kita semua bisa sama-sama belajar dan memahami soal jilbab ini.

Jika dilihat secara fisik, mode atau desain dari jilbab itu sendiri sangat variatif, baik dari segi jenis, cara mengenakan, model, warna, dan seterusnya. Di jaman sekarang, dalam beberapa hal, jilbab juga sering bergeser menjadi suatu tren/mode yang tidak hanya dikenakan oleh perempuan muslimah, tetapi juga mereka-mereka yang belum seiman (baca: perempuan non-muslim).

Berdasarkan apa yang saya pelajari dan saya dapatkan, dasar hukum jilbab adalah QS An Nuur 31. Mungkin banyak pula hadist yang meriwayatkan tentang jilbab. Namun mengingat kekuatan hukum Al-Qur’an dibandingkan hadist, maka referensi tentang hadist sedikit disampingkan dahulu. Dan, berikut kutipan QS An Nuur 31 tersebut:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
Ada beberapa poin penting yang tersurat maupun tersirat dari ayat tersebut. Beberapa di antaranya agak ”tricky” sehingga membutuhkan penalaran dan analisis yang logis untuk memahaminya. Karena memang seperti juga ayat-ayat lainnya, Allah ta’ala sengaja tidak membuka dan membeberkan segalanya secara gamblang serta terbuka untuk memancing penalaran dan pemikiran kita agar mampu menganalisis secara jernih dan cerdas.

Poin penting pertama ada pada kalimat, ”Hendaklah mereka menahan pandangannya.” Kalimat tersebut dapat dipahami secara jelas bahwa seorang wanita seharusnya bisa menjaga pandangan matanya. Seperti kita ketahui bersama, sorot mata atau pandangan dari seorang wanita dapat memberi maksud tertentu dan diartikan lain bagi lawan jenisnya. Hal itu dapat saja kemudian disalahgunakan atau mendorong pada hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi sangatlah wajar bila Allah menghimbau agar para wanita menjaga dan menahan pandangannya.

Poin kedua terdapat pada kalimat, ”hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” Menurut asal usul sejarahnya, perempuan Arab kala itu mengenakan jenis pakaian yang relatif terbuka pada bagian (maaf) dadanya. Kita juga tahu bahwa laki-laki Arab (bahkan hingga kini) mempunyai nafsu seksual yang relatif besar dan menggebu-gebu. Himbauan untuk menutupkan kain hingga ke dada dimaksudkan untuk tidak memancing nafsu laki-laki Arab kala itu sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari. Bahkan, perempuan Arab kala itu juga disarankan untuk tidak bepergian ke luar rumah karena alasan tersebut.

Kemudian, kalimat ”janganlah menampakkan perhiasannya” juga perlu mendapat perhatian. Kata ”perhiasan” yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang dimiliki oleh seorang wanita dan dibanggakan. Perhiasan tersebut misalnya paras wajah yang cantik, mata yang indah, hidung, bibir, rambut, jari-jemari, pergelangan tangan, betis, (maaf) payudara, dan seterusnya. Perhiasan tersebut seharusnya dijaga dan dilindungi, kecuali pada orang-orang yang disebut pada kalimat selanjutnya.

Sementara itu, titik kritis dari ayat tersebut ada pada kalimat, ”pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)”. Jika pada kalimat sebelumnya disebutkan kata-kata suami, putera, ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, budak, atau anak-anak, mengapa kemudian Allah menyebut juga kata pelayan laki-laki yang relatif tidak mempunyai kedekatan atau hubungan darah dibandingkan dengan misalnya suami, putera, ayah, atau saudara laki-laki dan perempuan?

Pada bagian ini, ”pelayan-pelayan laki-laki” sesungguhnya dapat merujuk pada suatu kaum, golongan, atau bangsa yang kaum laki-lakinya relatif menghargai dan menghormati kaum wanita, misalnya di negara-negara Eropa, atau juga di Indonesia. Di negara ini, relatif kaum laki-lakinya dapat menghargai wanita dengan baik, bersikap santun terhadap lawan jenis, dan tidak mengumbar nafsu seksualnya secara serampangan.

Memang harus dibedakan antara aurat untuk sholat (ibadah) dengan aurat untuk golongan (pergaulan). Aurat untuk sholat sudah dijabarkan secara jelas dan tidak perlu diulas di sini. Sementara aurat untuk golongan (pergaulan) adalah aurat sesuai dengan etika atau nilai yang dianut oleh golongan tersebut. Misalnya di Indonesia, saya menilai bahwa mengenakan pakaian menutupi dada, pusar, hingga lengan tangan dan lutut kaki relatif bisa dipandang sopan, wajar, dan menutup aurat. Tapi untuk kondisi di Arab, mengenakan pakaian semacam itu belum tentu ”aman”.

Jadi, memakai jilbab itu wajib atau tidak? Hmm.. Saya sudah mencoba memberikan gambaran dan menjelaskan semampu saya. Saya yakin Anda mampu menyimpulkan sendiri secara bijak. Saya pribadi sih tidak menuntut (apalagi memaksakan) istri saya untuk berjilbab, walau hati saya lebih menyukai yang demikian. Tapi yang jelas, tidak mengenakan jilbab pun sesungguhnya tidak diharamkan. Justru memaksakan orang lain untuk berjilbab atau memusuhi mereka yang belum berjilbab itulah yang diharamkan.

Hanya saja, mengenakan jilbab bagi seorang wanita bisa mengangkat martabat dirinya. Bagi dirinya sendiri, mengenakan jilbab juga bermanfaat sebagai sistem kontrol karena dirinya secara otomatis dituntut untuk bisa selalu menjaga sikap dan perilakunya secara Islami. Selain itu, laki-laki pun umumnya menjadi sungkan/segan untuk menjahili atau berbuat yang bukan-bukan pada wanita yang berjilbab, bukan?

Iklan

7 Tanggapan to “Jilbab? Apa Gunanya?”

  1. assalamu’alaikum saudaraku…..!sungguh mulia apa yang hendak kamu utrakan kepada khyalak orang yang mau mencari sebuah kebenaran.paparan saudara tentang makna jlbab dan pengertiannya sudah baik dengan mengagkat dalil al-qur’an An-Nur 31.Namun ketika saudaraku mengutarakan wacana yang bersifat sebuah ajakan atw sebuah pilihan aku sangat tidak setuju dengan kalimat yang berbunyi”tidak mengenakan jilbab pun sesungguhnya tidak diharamkan. Justru memaksakan orang lain untuk berjilbab atau memusuhi mereka yang belum berjilbab itulah yang diharamkan”aku sangat khawatir kalimat ini mengubah paradigma setiap orang akan jilbab, hijab bagi setiap wanita yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir.Allah sangat sudah jelas menfirmankan ayat itu kepada wanita yang beriman, dan ini adalah sebuah peringatan yang tidak boleh ditawar atau dirubah sesuai kemauan dan pemikiran kita yang masih penuh dengan kekeliruan dan kesalahan.saudaraku…apakah engkau hendak mau menghalalkan sesuatu yang sudah diharamkan ALLAH YANG MAHA BIJAKSANA DAN MAHA AGUNG….???Permaslhannya sekarang adalah wanita wanita yang mengaku ‘islam’ beriman akan tetapi tidak mengindahkan himbauan Allah ini.maka perlulah yang namnya sebuah pencerahan dalam hal ini untuk memberikan sebuah keyakinan bahwasanya perintah ini adalah dari Tuhan yang Mutlak adnya, jilbab adalah salah satu identitas seorang yang mengaku beriman.tentunya jilbabnya adalh yang memnuhi kriteria yang disebutkan Allah..!dan yang paling penting adalah niatannya untuk menjga diri, bukan sebagai mode yang lagi ‘membumi’!maka suatu keahrusan bagi stiap wanita yang mengaku beriman kepad Allah dan hari akhir untuk memenuhi perintah ini, demi kemaslhatan dirinya dan orang lain.hal ini aku serahkan kepada saudaraku…aku mnta mnta maaf sebelumnya kepada saudraku..klw sekirang pertanyaan…aku ini merupakan syhak wasngka,semoga ini hanya sebagai pengingt dalam hal nasehat-menasehati dalam kebikan dan dalam kesbran….wssalam

    @
    Mas Alisykhan Lubis, wass. wr.wb.
    Terimkasih telah berkenan memberikan catatan mengenai hal jilbab ini. Ini adalah tulisan yang saya kopi pais dan memang saya menilai tulisan beliau itu bernas dan logis. Perdebatan mengenai jilbab, saya kita tak akan pernah putus. Saya sendiri termasuk “lebih sependapat” bahwa jilbab tidak wajib. Meskipun saya sangat sependapat bahwa berjilbab adalah lebih baik, lebih islami, lebih afdol, lebih pantas bagi muslimah. Ini terjadi karena saya berbeda dalam cara memahami. Alat ukur yang menurut pemahaman saya terhadap ayat-ayat “berpakaian” adalah pada ukuran “hawa nafsu” dan “biasa tampak”. Di sini letak perbedaannya. Hawa nafsu itu bisa dipahami dalam pengertian spesifik (seksualitas) atau bentuk lain (kemewahan, gemerlap, dan lain-lain). Pada blog ini ada beberapa artikel berkenaan dengan hal ini dan saling melengkapi.

    Suka

  2. sikabayan said

    euh… kabayan jadi nyangkut di postingan inih… euheuheuh.. ikutan ah.. biar sambil berandai2 soal laki2 juga siapah tahu terkait…
    euheuheu.. orang arab mah laki-laki nyah memang brangasan… kalau orang negara santun mah kelihatannyah tidak berangasan biarpun secara statistik dapat dikategorikan libido nyah hampir menandingi marmut… di indonesia yah… kurang lebih mirip campuran brangasan dan santun…
    jadinyah hasil laki2 teh kalau tidak menyerang seperti yang berangasan yah ngakalin dengan segala kesantunannyah… seperti playboy gituh… yang hasil akhirnyah mah wanita kehilangan kehormatannyah…
    euh… kabayan pikirmah akibatnyah tidak beda jauh kekerasan dengan sukarela teh… kerugian mah tetap sajah dipihak perempuan… di indonesia pelacuran teh hina… di negara maju mah pelacuran teh legal… tapinyah pelacurnyamah tetep wae sebagai korban.. apakah ituh korban kepaksa ataupun korban dari kebijakan negara yang legal.. tetep ajah kehilangan kehormatannyah… terutama dimata Allah…
    euh.. memang pilihan sulit kalau harus memilih mulia dimata sipah teh… kabayan juga hina ajah… dihadapan yang Maha Mulia mah… hikz…

    @
    kadang kita mendefinisikan dengan perangkat fisik… jilbab di sini… di negeri lain pengertiannya berbeda….
    namun, apapun juga…. definisi pakaian adalah menutupi… menutupi dari apa… dari hawa nafsu…..

    Suka

  3. sikabayan said

    euh… iyah yah.. kalau soal yang namanyah jilbab mah kabayan juga setuju tidak wajib, soalnyah memang disinih mah kabayan sering lihat yang kepalanyah pakai jilbab tabi badannyah setengah telanjang… bahkan telanjang bulat secara lekuk tubuh yang montok dimata syahwat laki2 mah… duh.. kabayan jadi malu sama Allah kalau ngeliat yang montok seperti ngeliat ayam goreng teh… hikz
    tapi yah mungkin juga eta teh yang sedang belajar menutupi aurat… tapi ingin kelihatan seksi alias mengundang… euh… jadi bingung kabayan… ingin menutup pandangan lapar syahwat… tapi ingin mengundang pandangan syahwat… beu… hhh..
    memang sih menurut pandangan kabayan juga rasanyah tidak wajib memakai jilbab, yang wajib mah menutupi auratnyah, biar pakai karung juga boleh sajah, asal… tertutupi auratnyah…
    kabayan pikir2 teh memang masalah aurat inih teh masih menjadi perdebatan yang seru…
    kabayan andai2 kan seorang perempuan dalam shalatnyah saat menghadap kepada Allah Tuhannyah harus menutupi auratnyah… agar?… atau supaya?… hhh… kabayan jadi menggigil… apakah supaya Tuhannyah tidak timbul syahwat?… dhuar… kabayan dipanggang didasar neraka…. ampuuunnn… Astaghfirullah… ampun ya Allah yang Maha Suci… yang Maha Pengampun… kabayan yang hina sudah kurang ajar….
    euh… kabayan yang sudah jadi arang… andai2.. bagaimana seharusnyah perempuan menutup auratnyah didepan laki2 yang boro2 maha suci… laki2 normal mah tentu sajah ada syahwat birahinyah… kabayan kurang jelas kalau jaman dahulu… yang namanyah kasim alias laki2 yang dikebiri mah…

    @
    Iya Kang, kalau agor melihat antara syariat kewajiban seperti hukum berjilbab dengan hukum menutup aurat ada beda yang mencolok dari segi metodologis dan resiko-resiko yang dipahaminya.

    Jika kita diwajibkan berjilbab (padahal pengertian jilbab) di berbagai tempat bisa berbeda maka aturan ini akan bisa memiliki makna berbeda dalam fakta operasionalnya dibanding pengertian yang kuat pada konsep dan etika mengenai “menutup aurat” berikut segala batasannya.

    Karena itu, di dunia pendidikan formal atau tak formal, sering para dibedakan secara tegas mengajar dan mendidik, ilmu dan konsep ilmu, mana yang lebih urgent untuk dipahami dan kemudian dipraktekkan….

    Nah dimana kemudian penekanan dan pengkondisian sebaiknya dilakukan untuk kemaslahatan ummat…..

    Suka

  4. […] dari kutipan diatas. Sekalian saya ambilkan versi bahasa Indonesianya……dicomot dari salah satu artikel di blognya mas Agorsiloku. “Dan, berikut kutipan QS An Nuur 31 […]

    Suka

  5. ndutyke said

    Bagi saya, berjilbab itu wajib. tapi saya juga tidak akan menganggap bahwa hanya karena saya berjilbab, maka saya lebih baik dr sesama muslimah, tp mereka tidak berjilbab. la wong jilbab-nya saya aja blom sempurna… masih taraf belajar dan masih blom 100% bisa ninggalin what-so-called jilbab-trendy (jilbab yg pendek, baju yang pendek…)

    maka dari itu saya juga blom berani mengajak teman sesama muslimah, untuk juga mulai mengenakan jilbab….

    biarlah kesadaran dari masing2 pribadi saja. toh saya dulu mulai berjilbab juga bukan karena disuruh siapa-siapa…

    @
    😀

    Suka

  6. […] ini terinspirasi dari siniiii… Bagi saya, berjilbab itu […]

    Suka

  7. Anonim said

    ya sama sja anda berpikir hermeneutik

    @
    kalau saya sih merasa berbeda. Namun, saya juga tidak tahu apa yang Mas maksud.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: