Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Nabi (tidak) Bermuka Masam

Posted by agorsiloku pada Juni 27, 2006

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah S.80:1 turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap menghadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Ayat ini (S.80:1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)

Benarkah Surat Abasa Teguran kepada Nabi yang Bermuka Masam?
22 Jun 06 08:44 WIB.

Assalammu’alakum,

Pak ustadz, saya mau menanyakan perihal tafsir surat Abasa. Benarkah tafsir surat itu ditujukan kepada Nabi Muhammad yang sangat sayang kepada fakir miskin dan anak yatim? Jika tafsir itu benar ditujukan
kepada beliau bukankah itu sangat kontradiksi dengan ayatQ uran lainnya? Ahlaq nabi adalah al-Quran (al-Hadis).

Pernah ada orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi Isa lebih mulia dibandingkan Muhammad karena Nabi Isa mau mengobati penyakit kusta sedang Nabi Muhammad memalingkan muka dan bermuka masam kepada orang buta. Saya mohon penjelasannya.

Hane Hasanudin

Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak ada yang salah dengan surat ‘Abasa yang mengisahkan tentang nabi Muhammad SAW bermuka masam. Juga tidak ada yang salah dengan sikap itu bagi seorang nabi Muhammad SAW. Sikap itu adalah sikap manusiawi yang tidak merusak apapun.

Sebaliknya, adanya surat ‘Abasa jelas membuktikan bahwa Al-Quran itu bukan karangan nabi Muhammad SAW. Sebab secara sekilas, surat itu memang mengkritik sikap beliau yang bermuka masam terhadap seorang yang minta diajarkan tentang agama yang dibawanya.

Kalau seandainya Al-Quran itu karangan beliau, pastilah tidak akan ada ayat yang mengkritik sikap beliau. Logikanya, mana mungkin seorang pengarang buku menjelekkan diri sendiri dalam bukunya. Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa Al-Quran bukan karangan beliau. Dan sesungguhnya memang bukan karangan beliau, melainkan datang dari sisi Allah SWT.

Namun bermuka masam kepada Abdullah bin Ummi Maktum ra. bukan sebuah dosa. Hanya merupakan hal yang kurang layak saja. Namun alasannya juga sangat pantas, yaitu lantaran saat itu beliau SAW sedang sibuk sekali memikirkan bagaimana agar para tokoh Quraisy bisa masuk Islam. Logika sederhananya, bila para tokoh itu bisa masuk Islam, maka orang-orang kecil semacam Abdullah bin Ummi Maktum ini tentu akan mudah.

Logika manusiawi beliau SAW saat itu kira-kira demikian. Dan sebagai manusia biasa, adalah wajar baginya punya nalar sekilas seperti itu. Dan ketika turun ayat yang menegur beliau, tentunya beliau segera melayani permintaan shahabatnya itu.

Dan sama sekali tidak perlu dipersoalkan memang, bahkan meski teguran itu datang lewat ayat Quran yang bersifat abadi, manfaatnya buat kita yang lebih utama justru bukan pada bermuka masamnya, melainkan pada pembuktian bahwa Rasulullah SAW itu bukan penulis Al-Quran, sebagaimana yang sering dituduhkan oleh lawan.

Bahkan Abdullah bin Ummi Maktum ra. sendiri setelah kejadian itu tidak kecil hati, sebaliknya beliau malah merasa bangga. Sebab karena dirinya seorang nabi ditegur tuhannya.

Sampai ketika perang Qadisiyah sepeninggal Rasulullah SAW, shahabat nabi yang buta ini punya permintaan untuk membawa bendera umat Islam di medan tempur. Ketika para jenderal menolaknya lantaran beliau seorang tuna netra, beliau pun mengeluarkan ‘ancaman’ yang tidak bisa dibantah.
“Apakah kalian menolak permintaanku, padahal Rasulullah SAW ketika dahulu menolak permintaanku, langsung ditegur Allah?” Maka bendera itu pun diserahkan kepadanya, meski beliau seorang tuna netra.

Jadi…

Tidak ada yang sakit hati atas turunnya ayat ‘Abasa itu, bahkan buat si buta Abdullah bin Ummi Maktum, hal itu justru menjadi kebanggaan tersendiri. Sebab biasanya ayat Quran turun menegur para shahabat atau orang kafir, tapi ada satu ayat yang turun menegur nabi Muhammad SAW, di mana hal itu terjadi lantaran dirinya.

Akan halnya Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan nabi Isa as, tentu saja buat umat Islam tidak ada masalah. Toh nabi Isa as itu adalah nabi juga yang diakui oleh umat Islam juga. Kalau dalam satu dan lain kesempatan, terasa beliau punya kelebihan, kita sebagai umat Islam akan ikut bangga.

Apalagi antara umat Islam dan nabi Isa as. memang punya hubungan ‘mesra’
tersendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa Nabi Isa as nanti akan muncul dan bergabung bersama umat Islam menjelang hari kiamat. Beliau akan shalat dan berhaji bersama umat Islam, bahkan beliau akan menghancurkan gereja dan patung-patung diri beliau yang selama ini disembah. Beliau bahkan tidak mau dianggap sebagai nabi atau pemimpin umat, sehingga ketika ditawari untuk menjadi imam shalat, beliau akan menolak dan shalat menjadi makmum bersama umat Islam.

Maka kalau ada orang kritsten memuji Nabi Isa as, kita pun bangga. Kita tidak perlu kecil hati, sebab Nabi Isa as adalah nabi kita sekaligus umat Islam juga.

Hanya bedanya, umat Islam tidak pernah menjadikan beliau sebagai tuhan, karena beliau memang bukan tuhan. Sedangkan orang Kristen telah keliru ketika menjadikan beliau sebagai tuhan. Tentunya perbuatan ini menggugurkan iman dan pelakunya kafir dan masuk neraka.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber : dikutip dari milis sabili@yahoogroups.com

Berikut ini, saya kutipkan pula dari “nabi-saww-tidak-bermuka-masam”  :

Surah 80 (Abasa)

Dengan nama Allah yang amat Pemurah lagi amat Mengasihani.

80:1 Dia (seorang pembesar Umayyah) berkerut muka (bermuka masam) dan berpaling (sedang dia bersama nabi).
80:2 Kerana telah datang kepadanya seorang buta (Ibn Um-Maktoom).
80:3 Tahukah kamu barangkali dia (si Buta) ingin membersihkan dirinya (dari dosa).
80:4 Atau dia (ingin) mendapat pengajaran (dari Rasul sawa) lalu pengajaran itu memberikan manfa’at kepadanya?
80:5 Adapun orang (ketua Umayyah) yang menganggap dirinya serba cukup [kaya],
80:6 maka kamu melayaninya
80:7 Padahal tidak ada (celaan) ke atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman),
80:8 Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera,
80:9 Dan dia takut (kepada Allah),
80:10 maka kamu mengabaikannya,
80:11 Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.

Peristiwa pada turunnya surah ini adalah suatu kejadian sejarah. Suatu ketika Nabi [sawa] bersama beberapa pembesar Quraish yang kaya dari kaum Umayyah, diantara mereka adalah Uthman bin Affan, yang menjadi khalifah kemudiannya. Sedang nabi menyampaikan peringatan kepada mereka, Abdullah Ibn Umm Maktoom yang buta dan seorang dari para sahabat nabi [sawa] datang berjumpa dengan baginda. Nabi  menyambutnya dengan hormat dan mendudukkannya dekat dengan baginda. Bagaimanapun baginda tidak terus menjawab soalan yang ditanyakan olehnya, kerana baginda sedang bercakap dengan pembesar Quraish.

Oleh karena Abdullah miskin dan buta, pembesar Quraish memandang rendah kepadanya, dan tidak suka kepada sanjungan dan kehormatan yang diberikan kepadanya oleh nabi [sawa]. Mereka juga tidak suka dengan kehadiran sibuta di antara mereka, dan menganggu perbualan mereka dengan nabi [sawa]. Akhirnya seorang dari pembesar Umayyah [iaitu Uthman bin Affan] berkerut muka pada Abdullah dan berpaling dari dia.

Perbuatan pembesar Quraish ini telah membuat Allah murka, dan Dia telah menurunkan Surah 80 [Abasa] melalui Jibril pada masa itu juga. Surah ini menyanjung kedudukan Abdullah walaupun dia miskin dan buta. Di dalam 4 ayat pertama, Allah mengecam tindakkan buruk pembesar Quraish. Dan di dalam ayat-ayat yang berikutnya, Allah memperingatkan nabiNya [sawa] bahawa menyampaikan kepada yang kafir tidaklah perlu jika si kafir tidak berhasrat untuk membersihkan diri dan menyakiti pula orang yang beriman, kerana tidak mempunyai kekayaan dan kesehatan [cacat].

Terdapat beberapa pengulas sunni yang meletakkan moral nabi [sawa] jauh lebih rendah dibawah purata manusia umum, dan menuduh baginda menghina Abdullah, dan dengan itu, mereka cuba mengatakan bahawa baginda tidak terlepas dari bermoral dan berkelakuan yang rendah. Sedangkan yang menghina simiskin adalah si pembesar Umayad yang masih bukan muslim, atau baru sahaja mengabungkan diri dengan para sahabat
[iaitu Uthman]. Dan bahkan sebahagian manusia demi untuk membersihkan nama Uthman dari perangai yang sedemikian, telah tidak teragak-agak menuduh nabi [sawa] pada kelakuan tersebut, dan dengan itu telah merendahkan moral nabi dan memuji Uthman. Memutar belitkan kejadian yang sedemikian telah dilakukan oleh Umayad semasa pemerintahan
mereka, melalui Penyampai yang digajikan. Telah diketahui umum bahwa Umayad adalah musuh keluarga nabi [sawa] dan juga Islam, dengan itu, tidak wajarlah bagi ketua mereka, Uthman, telah diberikan teguran di dalam al-Quran, dari itu para ulama yang berkerja untuk Umayad telah disuruh menulis yang ayat itu telah diwahyukan pada menegur nabi
[sawa], bukannya Uthman. Pendustaan secara terang-terangan ini adalah untuk memelihara kemuliaan Uthman dengan harganya pada menghina ketua para-para nabi. Ini adalah pendapat dari sebahagian pengulas sunni:

Telah dikatakan bahawa ayat ini diturunkan mengenai Abdullah Ibn Maktoom, dia adalah Abdullah Ibn Shareeh Ibn Malik Ibn Rabi’ah al-Fihri dari suku Bani ‘Amir Ibn Louay. Para mufassir banyak meriwayatkan bahawa ketika itu dia datang kepada Pesuruh Allah apabila baginda sedang cuba menyampaikan dakwah Islam kepada manusia-manusia itu: al-Walid bin al-Mughirah, Abu Jahl Ibn Husham, al-Abbas Ibn Abd al-Muttalib, Umayyah bin Khalaf, Utbah dan Syaibah. Si buta itu berkata: `Wahai Pesuruh Allah, bacakan dan ajarkan kepada ku, apa-apa yang Allah telah ajarkan kepada kamu.’ Dia berterusan memanggil kepada nabi dan mengulangi permintaannya, dengan tidak diketahuinya bahawa nabi sedang sibuk mengadap mereka-mereka yang lain, sehinggalah kebencian kelihatan pada wajah pesuruh Allah kerana telah diganggu. Nabi berkata kepada dirinya bahwa pembesar-pembesar ini
akan berkata, yang pengikutnya adalah orang-orang buta dan juga hamba abdi, maka baginda berpaling dari diri dia [si buta], dan menghadap kepada pembesar-pembesar yang dengannya baginda berbicara. Kemudian ayat itu diwahyukan.

Selepas itu Rasulullah [sawa] akan selalu melayaninya dengan baik dan jika baginda melihatnya, baginda akan berkata, kesejahteraan bagi dirinya yang mana Tuhanku telah menegur ku dengan dirinya.’ Baginda akan bertanya jika dia memerlukan apa-apa, dan dua kali dia ditinggalkan di Madinah sebagai pemangku baginda ketika ada peperangan.

Ulasan oleh sunni yang diatas telah juga dinyatakan di dalam “al-Durr al-Manthoor”, oleh al-Suyuti, dengan ada sedikit perbezaan. Abul Ala Maududi seorang lagi pengulas al-Quran dari sunni, yang mempunyai pandangan sederhana. Ini ada perterjemahannya untuk ayat 80:17 :

-Disini kecaman telah ditujukan terus kepada yang kafir, yang tidak mengindahkan kepada pengkhabaran kebenaran. Sebelum ini, semenjak mula surah sehingga ke ayat 16, ianya ditujukan walaupun kelihatan kepada nabi [sawas], tetapi yang sebenarnya bertujuan mengecam mereka yang kafir. (Rujukan: Tafsir al-Quran, oleh Abul Ala Maududi, halaman
1005, dibawah ulasan ayat 80:17 (Islamic Publications (Pvt.), Lahore)

Bagaimanapun, yang sebenarnya, al-Quran TIDAK memberikan sembarang bukti bahwa orang yang berkerut muka pada si Buta adalah nabi [sawa], dan tidak juga mengatakan kepada siapa ditujukan. Di dalam ayat al-Quran di atas Allah awj TIDAK mengatakan kepada nabi sama ada dengan nama atau darjah [iaitu Wahai Muhammad, atau Wahai Nabi atau Wahai Rasul] Lebih-lebih lagi terdapat pertukaran gantinama `dia’ di
dalam dua ayat pertama kepada `kamu’ di dalam ayat yang berikutnya diSurah tersebut. Allah TIDAK mengatakan:

`Kamu berkerut muka (bermuka masam) dan berpaling’. Bahkan Allah berfirman:

80:1 Dia (seorang pembesar Umayyah) berkerut muka (bermuka masam) dan berpaling (sedang dia bersama nabi).

80:2 Kerana telah datang kepadanya seorang buta (Ibn Um-Maktoom).

80:3 Tahukah kamu barangkali dia (si Buta) ingin membersihkan dirinya (dari dosa).

Walaupun jika kita menganggap bahawa `kamu’ di dalam ayat yang ketiga ditujukan kepada nabi [sawa], maka dengan ini jelaslah dari tiga ayat yang diatas bahawa perkataan `dia’ [orang yang berkerut muka] dan `kamu’ menunjukkan dua individu yang berlainan. Dua ayat yang berikutnya juga menyokong kata-kata itu:

80:5 Adapun orang (ketua Umayyah) yang menganggap dirinya serba cukup [kaya],

80:6 maka kamu melayaninya

80:7 Padahal tidak ada (celaan) ke atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

Dari itu orang yang berkerut adalah yang lain (bukan) dari nabi sendiri disebabkan oleh perbezaan yang nyata diantara `dia’ dengan `kamu’. Di dalam ayat 80:6 Allah berfirman kepada nabiNya [sawa] dengan mengatakan bahawa, menyampaikan kepada ahli Quraish
yang sombong, yang berkerut muka kepada si Buta tidak ada faedahnya, dan tidak perlu diutamakan dari menyampaikan kepada sibuta, walaupun si buta datang kemudian. Sebabnya adalah, menyampaikan kepada sesaorang yang tidak mahu mensucikan dirinya [sehinggakan dia berkerut muka kepada orang yang beriman] tidak akan ada hasilnya.

Namun demikian tidaklah juga mungkin dhamir mukhatab (lawan bicara) ayat ini ditujukan kepada Rasulullah [sawa] sebab beliau [sawa] baru sahaja mendapatkan wahyu dari Allah SWT dalam Surah 53: 33, supaya menjauhi orang-orang yang berpaling dari peringatan Allah dan mereka hanya menginginkan kehidupan duniawi sahaja. Ayat tersebut
menyatakan:”Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling ?(Apa-raaitalazhi tawalla)”. Mustahil peringatan ini di langgar oleh Nabi [sawa]. Apabila ditinjau dari ilmu nahu, maka mendahulukan harf jarr atau isim majrur memiliki arti pengkhususan (ikhtisah). Maka lebih
layaklah jika dhamir ayat di atas ditujukan khusus kepada pembesar Quraisy berkenaan iaitu al-Walid bin Mughirah yang terkenal mempunyai motivasi seperti itu.

Lebih-lebih lagi, berkerut muka bukanlah dari keperibadian atau tingkah laku nabi [sawa], walaupun terhadap musuhnya, apa lagi jika terhadap mereka yang beriman yang ingin mendapat petunjuk! Sesaorang mungkin boleh bertanya, bagaimana nabi [sawa] yang telah dikirimkan kepada manusia sebagai RAHMAT boleh berkelakuan dengan begitu keji,
sedangkan orang yang mempunyai iman yang sederhana, tidak berperangai dengan yang sedemikian? Tuduhan itu juga bertentangan dengan keterangan mengenai moral dan etika suci nabi [sawas] yang dikatakan oleh Allah sendiri:

`Sesungguhnya kamu (Muhammad sawa) mempunyai akhlak yang amat agung  (khuluqin-azim).’ [68:4]

Sesaorang yang menghina orang lain tidak berhak kepada pujian tersebut. Telah dipersetujui Surah al-Qalam [68] diwahyukan sebelum Surah Abasa [80]. Bahkan ianya telah diwahyukan selepas Surah Iqra’ [96 surah yang pertama diwahyukan] Bagaimana boleh diterima bahawa Allah menganugerahkan kebesaran terhadap makhlukNya pada permulaan
kenabiannya, mengatakan bahawa dia mempunyai akhlak yang termulia, dan kemudiannya berpatah balik mengecam dan mengkritik dia terhadap sesuatu tindakkan kesalahan dari dia yang tidak bermoral.

Juga Allah SWT berfirman:

`Dan berilah peringatan saudara terdekat, dan berlemah lembutlah kepada mereka yang mengikut kamu dari kalangan yang beriman.’ [26:214-215]

Telah diketahui bahawa ayat ini diwahyukan pada permulaan islam di Makah. Ayat yang sama juga boleh didapati pada penghujung ayat 15:88. Allah yang maha berkuasa, telah berkata lagi:

`Maka sampaikanlah secara terbuka apa yang kamu diperintahkan dan berpalinglah dari mereka yang musyrik.’ [15:94]

Baginda telah diarahkan untuk berpaling dari mereka yang kafir di dalam ayat itu, yang diketahui telah diwahyukan pada permulaan `panggilan terhadap Islam.’ [selepas tempuh secara rahsia pada mulanya]

Bagaimana boleh kita gambarkan bahawa setelah segala arahan disampaikan pada permulaannya, nabi yang agung dan mulia boleh membuat kesalahan sehingga memerlukan kenyataan pada membetulkan baginda?

Para pentafsir al-Quran dari mazhab Ahlul-Bayt berhujah bahwa, bahkan persoalan pada ayat ketiga dan keempat pada surah tersebut mengenai keraguan terhadap Abdullah mendapat faedah atau tidak dari berkata-kata dengan nabi [sawa], telah terdapat di dalam fikiran seorang dari mereka yang belum memeluk Islam, yang tidak tahu akan keajaipan sinaran cahaya terhadap Islam. Ini tidak pernah berlaku di dalam fikiran nabi [sawa] yang telah dihantar untuk menyampaikan keimanan kepada setiap seorang dan semuanya, tidak kira apa juga kedudukan mereka di dalam kalangan manusia. Berdasarkan kepada itu,
mereka merumuskan bahawa perkataan `kamu’ pada ayat ketiga masih tidak ditujukan kepada nabi, bahkan ianya menunjukkan kepada salah seorang dari Umayad yang hadir, dan bahawa TIADA dari empat ayat pertama, dari surah tersebut [80:1-4] mengatakan kepada nabi [sawa] walaupun ayat yang kemudiannya dikatakan kepada nabi [sawa].

Mereka yang biasa dengan bahasa al-Quran dan membaca al-Quran Arab yang asal, sudah pasti tahu dengan tata cara penulisan al-Quran pada pertukaran diantara orang pertama, kedua dan ketiga. Terdapat banyak ayat di dalam al-Quran; Allah terus sahaja menukarkan terhadap yang diperkatakan, dan dengan begitu, biasanya tidak mudah untuk
menentukan siapa yang diperkatakan, apabila nama mereka yang diperkatakan tidak disebutkan. Itulah makanya nabi telah mengarahkan kita untuk merujuk kepada Ahlul-Bayt [as] untuk penghuraian ayat-ayat al-Quran, oleh kerana mereka `mempunyai pengetahuan yang mendalam’ [3:7] dan adalah juga `Orang yang Mengetahui’ [16:43; 21:7] dan mereka adalah orang yang telah disucikan, yang telah memahami pengertian maksud al-Quran [56:79]

Telah dikatakan bahawa Imam Jafar al-Sadiq [as] sebagai berkata:

Ia telah diwahyukan mengenai seorang dari kaum Umayyah, dia berada bersama nabi [sawa], kemudian Ibn Umm-Maktoom datang, apabila dia melihat beliau, dia mengejinya; menjauhkan diri, mengerutkan muka (bermuka masam) dan berpaling darinya. Maka Allah telah mengatakan, apa yang tidak disukaiNya dari tindakkan Umayyah itu.

Di dalam Tafsir Sayyid Shubbar, telah dikatakan dari al-Qummi bahawa:

Ayat itu telah diwahyukan mengenai Uthman dan Ibn Umm-Maktoom, dan dia seorang buta. Dia datang kepada Pesuruh Allah [sawa], sedang baginda bersama sekumpulan para sahabat, dan Uthman ada bersama. Rasul memperkenalkan beliau kepada Uthman, dan Uthman berkerut muka dan berpaling.

Allah yang maha berkuasa berfirman di dalam al-Quran mengenai Muhammad bahawa:

`Tidak dia berkata-kata dari kehendaknya. Itu adalah wahyu yang telah disampaikan.’ [53:3-4]

Jadi bagaimana nabi [sawa] boleh mengatakan sesuatu yang menghinakan jika segala perkataannya adalah wahyu atau ilham dari Allah? !!!! Nabi TIDAK PERNAH berkata-kata dari kehendaknya. Yang menariknya adalah, ulama sunni mengesahkan bahawa Surah Abasa [80] telah diwahyukan SELEPAS surah al-Najm [53] dimana ianya telah mengatakan bahwa nabi TIDAK PERNAH berkata-kata dari kehendaknya.

Juga ayat 33:33 dari al-Quran mengesahkan bahawa Ahlul-Bayt adalah sempurna bersih dan suci. Kita semua tahu bahawa kemuliaan nabi jauh lebih tinggi dari keluarganya. Dia juga terjumlah di dalam ahlul-Bayt. Jadi bagaimana dia boleh menyakiti orang yang beriman dan terus mengekalkan kesuciannya???

Seandainya masih ada lagi tanggapan bahawa ayat itu ditujukan kepada Nabi [sawa] – sila perhatikan di dalam ayat yang diwahyukan di mana Allah berfirman:

80:7 Padahal tidak ada (celaan) ke atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

Maka perkataan diatas `tidak ada (celaan)’ bererti bahawa apa yang nabi lakukan bukanlah satu kesalahan.

Juga apabila Allah berfirman: Menyampaikan kepada mereka, tidaklah perlu JIKA pembesar Quraish itu tidak mahu mensucikan diri. Pada mulanya Nabi [sawa] tidak tahu bahawa ketua kaum Quraish akan mengerutkan muka pada si Buta, dengan itu, syarat `jika’ belum dilaksanakan, dari itu nabi perlulah menyampaikan peringatan sebelum peristiwa mengerutkan muka itu berlaku [kerana nabi sedang berucap dengan Quraish apabila si buta sampai]. Dan sebaik sahaja pembesar Quraish mengerutkan muka, nabi berhenti dari menyampaikan peringatan, dan ayat itu diwahyukan. Sebagaimana yang kita boleh lihat, apa yang nabi [sawa] lakukan adalah melaksanakan tanggong jawabnya saat demi saat.

Peringatan itu adalah untuk masa hadapan, sebagaimana dengan ayat al-Quran yang lain dimana Allah mengingatkan rasulNya bahawa tidaklah perlu bersusah yang amat sangat di dalam memberikan petunjuk kepada manusia, oleh kerana sebahagian dari mereka tidak akan dapat petunjuk, dan rasul tidaklah perlu bersusah hati mengenainya.

Sebagai rumusannya, kami telah berikan keterangan dari al-Quran, Hadith, Sejarah dan Nahu Arab, untuk menyokong fakta bahawa pada permulaan ayat dari surah tersebut TIDAKLAH merujuk kepada nabi Muhammad [sawa] dan orang yang mengerutkan muka pada si buta bukanlah nabi [sawa]. Kami juga menyatakan bahawa ayat 80:5-11 adalah
peringatan untuk waktu yang akan datang kepada nabi Muhammad bahawa menyampaikan kepada mereka yang kafir tidak akan berhasil, jika yang kafir tidak mahu mensucikan dirinya dan apabila sikafir menghina mereka yang beriman kerana tidak punya harta dan kurang kesihatan [cacat].

Ulasan Tambahan:

Seorang saudara dari golongan sunni mengatakan bahwa, ulama tafsir menulis, surah 80 telah diwahyukan selepas nabi cuba untuk menyakinkan empat orang Quraish yang terkemuka untuk memeluk Islam iaitu Utbah Ibn Rabi’ah, Abu Jahl (Amr Ibn Hisham), Umayyah Ibn Khalaf, dan saudaranya, Ubayy [tidak ada disebut Uthman Ibn Affan]. Lebih lagi, al-Qurtubi menyebut di dalam buku Tafsirnya bahawa ayat itu adalah ayat Madina [diwahyukan di Madinah] bererti bahawa Uthman telah memeluk Islam pada ketika itu.

Jawaban saya adalah seperti berikut: Kesemua Muslim telah bersetuju bahawa Surah Abasa [80] telah diwahyukan di Makah lama sebelum penghijrahan nabi ke Madinah. Lebih menarik lagi mereka telah mengesahkan bahawa Surah Abasa [80] telah diwahyukan `SEJURUS SELEPAS’ Surah al-Najm [53] dimana Allah berkata nabi tidak berkata-kata dari kehendaknya!!! Sekali lagi berdasarkan dari sunni, Surah al-Najm adalah surah al-Quran yang ke 23 diwahyukan dan Surah Abasa adalah surah yang ke 24, dan keduanya adalah surah Makah yang terawal. Mungkin, apa al-Qurtubi telah sebutkan hanya sekadar untuk
memalingkan perhatian umum dari isu Uthman yang ditegur di dalam surah tersebut, dan dengan itu menyelamatkan kehormatannya dengan mengalihkan tuduhan itu kepada nabi [sawa]

Satu lagi kecacatan yang terdapat di dalam kenyataan diatas tadi adalah, bahawa dia berkata seorang dari pembesar Quraish itu adalah Abu Jahl. Apa yang Abu Jahl buat di Madinah? Tidakkah kamu tahu, wahai saudara, bahawa Abu Jahl tinggal di Makah, dan seorang dari musuh utama nabi, dan tidak pernah berpindah ke Madinah untuk bertemu
nabi, dan dia diantara mereka yang terbunuh di Peperangan Badr.

Mereka yang lain yang disebutkan dilaporan yang diatas: Utbah dan Umayyah juga terbunuh bersama ketua mereka, Abu Jahl, di dalam Peperangan Badr. Tiada dari mereka yang mempunyai peluang untuk bertemu dengan nabi [setelah penghijrahan nabi] melainkan di medan peperangan di Badr di mana jasad mereka telah dibawa keperigi yang terkenal itu.

almawaddah@yahoogroups.com
———————————————————————-

Rujukan:
al-Mizan, oleh al-Tabataba’i (Arab), jilid 20, ms 222-224.
al-Jawhar al-Thameen fi Tafsir al-Kitab al-Mubeen, oleh Sayyid
Abdullah Shubbar, jilid 6, ms 363.
Perbahasan lebih lanjut boleh dibaca dari buku karangan Hussein al-
Habsyi bertajuk,”Nabi SAWA Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam,”
Penerbitan al-Kautsar, Jakarta,1992.

Sumber: http://fatimah.org/kisah/rasul/masam.htm

Iklan

8 Tanggapan to “Ketika Nabi (tidak) Bermuka Masam”

  1. ressay said

    Salam,
    Terima kasih atas kunjungannya dan juga terima kasih karena Anda telah berkenan untuk menginformasikan di weblog Anda, tulisan yang saya muat di weblog saya.

    kalau boleh tau, Anda sendiri berkeyakinan Nabi bermuka masam ataukah tidak?
    wassalam.

    @
    sama-sama. Kami pernah membahas dengan imam mesjid dekat rumah. Nabi bermuka masam itu, mungkin hanya mengerutkan kening. Begitu, karena ahlak nabi nggak akan begitu. Kata masam itu sendiri, adalah persepsi (apa yang dipersepsikan adalah persepsi dari penerima persepsi juga), sedangkan yang disebut berkerut kening adalah melipat satu atau dua garis muka dikening yang dipersepsikan.
    Jadi mempersepsikan nabi bermuka masam seperti orang marah atau masamnya seorang ibu dimarahi suaminya atau murid dimarahi gurunya bisa hadir (dalam persepsi kepala) karena perbedaan pemahaman dari persepsi masam. Ketika seseorang berjumpa dengan seseorang yang berteriak dan marah, kita tahu ia sedang marah. Ketika kita bertemu dengan seseorang, tiba-tiba suaranya menjadi dalam dan berat, keningnya berkerut, atau sejenisnya, kita juga bisa tahu dia sedang marah, bahkan marah sekali, dan seterusnya. Ini sangat tergantung dari pengenalan dan “keagungan” atau kharisma seseorang.

    Jadi, betapa luas arti dan kemungkinan hanya satu kata :”masam”. Masam yang dipersepsikan oleh awam yang dangkal dan awam yang hati-hati, akan sangat berbeda.

    Namun, “point of sales” yang membuat saya terkesima oleh ayat ini adalah, betapa Allah memelihara Nabi meskipun hanya karena sedikit kurang perhatian karena ada petinggi Umayyah yang datang dan Allah kemudian datang mengingatkan Nabi (serta sekaligus tentunya ummat Nabi Muhammad setelahnya). Betapa terpeliharaNya ahlak sang Junjungan.

    Wassalam,

    Suka

  2. ressay said

    Terus Terang saya ingin tertawa, dan mungkin kalau ekstrimnya, aku ingin melaknat ulama yang berbicara seperti itu. orang yang seperti itu tidak pantas untuk menjadi seorang ulama.

    Ya Rasulullah, saksikanlah bahwa orang yang telah mengaku dirinya sebagai seorang ulama, telah menjelek-jelekkanmu.

    Ya Rasulullah, daku berlepas diri dari orang-orang yang tega menyakiti hatimu.

    Duhai kekasihku…
    jangan putuskan aku dari syafaatmu kelak di akhirat.

    @
    ketika artikel itu saya kutipkan, karena “point of sales”nya, pesan tersurat dari Allah terhadap penjagaan Allah kepada utusanNya di akhir zaman. Mengenai ulama yang menilai “bermuka masam”, pemahaman masam itu juga akan berbeda bagi setiap orang, namun tentu ayat itu datang karena Allah memperhatikan utusanNya, sampai pada hal yang paling simpel, tidak memperhatikan, memalingkan muka, atau kurang perhatian pada seseorang karena harapan Nabi terhadap petinggi Ummayah. Allah ingatkan, tugas Rasul mengingatkan, bukan menjadikan seseorang menjadi beriman….Salam, agor.

    Suka

  3. Imam Adil said

    Jawaban Ust Sarwat Lc atas pertanyaan tentang “nabi bermuka masam?” dan “kemuliaan Nabi Isa as” tampak jelas terlalu dipaksakan dan kurang transparan. Masa sampai-sampai mengeluarkan kalimat “nabi menjelekkan dirinya sendiri”, apa-apan ini?
    Janganlah mewajarkan akhlak yang buruk dari perbuatan kita kepada Nabi yang mulia. Dan mengapa Ust. Sarwat tidak mau menyebutkan bahwa Nabi Isa as shalat di belakang Imam Mahdi sesuai redaksi lengkap hadis itu. Mengapa cuma menyebutkan “bersama kaum muslimin”.

    Kalau Abdullah Ibnu Ummi Maktum “tidak kecewa” dan “bangga” atas kejadian itu, lantas Allah yang “menjadi kecewa” sehingga segera menegur pihak yang bermuka masam. Woooi… siapakah yang lebih terpuji, Abdullah ibnu Ummi Maktum ataukah Allah???

    Betapa mulianaya akhlakmu yaa Rasullullah, tidak salah Allah memujimu: “inna-ka la’alaa khuluqin ‘adziim”.

    Kalau para sahabat yang bersuara keras kepada Nabi saja oleh Allah dihapuskan amal-amalnya, apatah lagi yang merendahkan dan menjelekkan citra akhlak Nabi saaw.

    Rusaklah segala sesuatu kalau tidak diserahkan kepada ahlinya!

    Kita butuh Ustadz yang mencerahkan, yang tidak apologetik mazhab, dan ustadz yang berani mengoreksi kesalahnnya sendiri karena tidak akan ada wahyu yang akan turun untuk seorang ustadz. Ustadz sektarian hanya akan dihujani oleh banyak kritik!

    @
    Terimakasih Mas Imam Adil atas komentarnya, saya percaya Ust Sarwat LC juga punya pemahaman yang sama. Ketika saya masukkan dalam blog ini, tidak ada pikiran terlintas bahwa nabi bermuka masam sebagai “ahlak negatif”, tapi saya melihat bahwa Allah menjaga segala perilaku Nabi, bahkan sekecil apapun. Bahkan pandangan mata yang teralihkan sedikit saja, atau berkerut kening, bisa melahirkan ayat yang begitu tajam dan jelas isinya.

    Bagi kita manusia biasa, mengalihkan pandangan dari orang yang “tidak berkenan”, adalah perbuatan biasa. Bagi seorang seperti Nabi, sudah merupakan hal besar sehingga ayat itu turun. Pesan ini yang saya tangkap dari keagungan Nabi dan perhatian Allah terhadap hal yang manusia seperti kita, sangat sering kita lakukan. Begitu juga rekan Mas Imam Adil atau Ressay, memberikan nuansa pembelaan atas dasar cinta yang begitu besar kepada Rasulullah.

    Juga ayat ini menunjukkan betapa istimewanya ahlak Rasulullah dan menjadi salah satu pembuktian bahwa Al Qur’an bukanlah buatan Nabi Muhammad, tapi betul-betul kalam Illahi.

    Ketika saya membaca blognya Ressay, saya betul-betul terperangah. Ada pengertian yang berbeda, cara pandang yang berbeda sehingga saya “memaksa” Mas Ressay mau blognya saya kutip dan semata agar melengkapi suatu sisi pandang.

    Dari sudut-sudut kejadian (baca : realitas peristiwa, epoch), saya sering berpikir apakah kejadian dan semua kejadian pada masa Nabi itu adalah menjadi sebab sebuah ayat turun ataukah ayat itu diturunkan atas sebuah kejadian yang dikehendakiNya?. Jadi by design, bukan by accident. Saya kok merasa itu semua terjadi by design, maksudnya hadir dari sebuah rencana mahaAgung dari Yang mahaKuasa untuk memerincikan ketika sebuah kalimat Allah diturunkan kepada semesta alam melalui RasulNya. Dengan dasar pandangan ini, maka ketika saya membaca asbabun nuzul, bagi saya menjadi penjelas pemahaman atas ayat-ayatNya dan bukan sebagai sebab dari ayat-ayat itu turun. Walahu alam.

    Suka

  4. Imam Adil said

    Untuk menguatkan hujah tentang AL-QURAN benar-benar turun dari Allah, tidaklah mesti Allah menjelekkan Sang Nabi. Manakala Allah memuji Nabi-Nya dalam Al-Qur’an, apakah lantas Sang Nabi layak dicurigai telah melakukan pengkultusan pada dirinya sendiri??? Apakah ayat “wa maa yantiqu ‘anil-hawaa illa wahyun yuuhaa” itu bisa menurunkan kredibilitas Al-Qur’an karena bisa dianggap sebagai ‘pembenaran sepihak’ oleh Nabi Muhammad sendiri? Bukankah ayat tersebut cukup untuk dijadikan “hujjah tekstual” terkuat tentang autentisitas dan validitas Kalam ILahi?

    Wahai Ustadz, apakah antum sudah kehabisan tenaga untuk mencari hujjah yang lebih ilmiah dan rasional? Semoga Ustadz-Ustadz kita diberi kesempatan untuk menimba ilmu yang luas dan mendalam dari Padepokan Ilmu-Ilmu Ahlul-Bait… Amiin Yaa Rabbal’alamiin.

    @
    Betul, saya berusaha untuk memahami dan belajar memahami dari mana saja saya bisa dan sempat, tidak perduli dari golongan manapun. Meskipun garis utama saya merujuk selalu pada Al Qur’an. Untuk hadis, saya nomorduakan dalam bersilang wacana, terutama karena saya percaya pada rincian Al Qur’an yang jauh dari selesai untuk saya pahami (mungkin tak akan pernah selesai). Yang dinomortigakan, tentunya penjelasan dan keterangan para sahabat Nabi dan ulama dulu dan kini, dari manapun mereka berasal.

    (QS 6:114) Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

    dan

    QS 2:129 Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

    Suka

  5. momod said

    kalau ayat itu ditujukan kepada nabi, bisa jadi. kalaupun tidak, bisa jadi juga. bukankah seorang nabi juga pernah ditegur oleh Allah bahkan lebih dari sekedar bermuka masam? dalam [i][66:1] “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[/i]

    Adakah keterangan dari ayat lain bahwa yang dituju adalah Nabi dalam surah 80?
    daripada salah-salah berprasangka saya sebaiknya mengambil sikap safe-mode dulu,
    Allahu a’lam.

    Suka

    • agorsiloku said

      Banyak pembahasan mengenai hal ini, ada yang menolak (kurang sependapat) dengan pengertian bermuka masam atau memalingkan muka. Namun, esensi dasarnya, manusia memiliki sifat alpa dan lupa, tidak dikecualikan fitrah ini pada semua manusia. Konsepsi ini mengingatkan kita, berhati-hati. Namun, Nabi mendapatkan secara langsung pengingatan dari Sang Pencipta, untuk menjadi pelajaran untuk kita….

      Suka

  6. Aku orang awam mending milih nabi yg tidak bermuka masam aza, karna aku yakin akhlak nabi adalah akhlak sempurna, jika nabi akhlaknya tdk sempurna bagaimana dgn manusia lain tentu lebih membanggakan akhlak yg buruk,,,

    Suka

  7. M. Abdullah Habib said

    Assalamu.alaikum, ww

    Saya sangat senang memmbaca dialog para ikhwah disini. Semua sejuk dan insya \\\Allah akan membawa pencerahan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: