Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Teori Evolusi — Kegalauan Ilmu terhadap agama 2

Posted by agorsiloku pada Juni 25, 2006

Kompas, Kamis, 08 Mei 2003 (diambil dari site Kompas.com)

Mengapa Ada Penolakan terhadap Teori Evolusi Darwin?
(Tanggapan untuk Wildan Yatim)

Taufikurahman

WILDAN Yatim dalam tulisannya di Kompas (23/4/2003) berjudul Ada Bantahan terhadap Teori Evolusi? mempermasalahkan pernyataan yang dikemukakan oleh seorang dosen Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam sebuah seminar di Semarang yang diberitakan di Kompas (8/10/2002).

DOSEN Biologi ITB yang dimaksud dan menyarankan dilakukannya revisi terhadap silabus pelajaran biologi, khususnya menyangkut pembahasan tentang teori evolusi, adalah saya. Pandangan tersebut saya sampaikan dalam kapasitas pribadi (bukan institusi Departemen Biologi ITB).

Penolakan saya terhadap teori evolusi Darwin bukan seperti yang ditulis Wildan Yatim, yaitu semata karena telah membaca buku-buku Harun Yahya. Sudah lama saya meragukan keabsahan teori Darwin, dan saya yakin tidak sedikit orang yang berpendirian seperti saya.

Komentar Wildan Yatim tersebut memancing diskusi lebih lanjut, dan tentunya akan semakin menarik dan bernas bila banyak pakar biologi, paleontologi, dan ilmu-ilmu yang terkait juga turut memberikan pendapatnya dalam suasana diskusi yang sehat, dengan menjunjung tinggi semangat ilmiah.

Istilah evolusi memang telah banyak digunakan oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan, apalagi bila menggunakan definisi umum seperti yang digunakan Wildan Yatim bahwa “evolusi artinya perubahan berangsur-angsur sesuai dengan perubahan zaman”, maka makna evolusi menjadi sangat luas, padahal itu sudah di luar konteks teori evolusi Darwin.

Bahkan, sering terjadi kesalahpahaman di mana tahapan-tahapan embriologis seperti yang ditulis Wildan Yatim dipandang sebagai proses evolusi pada manusia, padahal proses tersebut dalam biologi disebut sebagai proses perkembangan biologis, bukan merupakan proses evolusi.

Dalam bidang geologi, buku The Principle of Geology karya Charles Lyell (1830) yang banyak menginspirasi Darwin mengungkapkan konsep tentang perubahan geologis. Dalam bidang fisika atau astronomi juga dikenal konsep evolusi alam semesta yang bermula dari peristiwa big-bang, kemudian menjadi benda-benda angkasa berupa planet, bintang, bulan, dan sebagainya. Demikian juga dalam bidang sosial ada konsep evolusi sosial-budaya. Konsep evolusi geologis, evolusi alam semesta, dan evolusi sistem sosial-budaya bukan merupakan konsep yang dipermasalahkan baik oleh Harun Yahya maupun saya.

Walaupun demikian, patut direnungkan bahwa teori evolusi Darwin juga ternyata berimplikasi terhadap ideologi. Ernst Haeckel (1863), seorang ahli zoologi Jerman, yang sangat termotivasi oleh teori evolusi Darwin, meyakini bahwa Darwinisme dapat digunakan menjadi alat ideologis yang akan membentuk masa depan kemanusiaan dengan suatu reformasi sosial.

Pandangan Haeckel ini memberi kontribusi atas ulah Hitler yang menyalahgunakan konsep survival of the fittest-nya Darwin untuk tujuan pemurnian ras Aria dan pemusnahan ras manusia lain yang dianggapnya berkualitas rendah.

Karl Marx menilai The Origin sebagai buku yang berisi landasan sejarah alam bagi pandangan komunisme. Marx bahkan mendedikasikan “Das kapital”-nya dengan ungkapan from a devoted admirer to Charles Darwin. Teori evolusi Darwinisme juga telah digunakan sebagai senjata untuk melawan agama, khususnya Kristen.

Beberapa dasar penolakan

Dalam konteks agama, debat mengenai benar atau tidaknya teori ini memang sangat terkait dengan keyakinan agama bahwa Tuhan adalah pencipta semua makhluk hidup di dunia ini, sementara teori evolusi menyangkal terjadinya fenomena penciptaan tersebut dan menggantikannya dengan suatu konsep evolusi. Perdebatan antara Bishop Wilberforce dan Thomas Huxley (yang menamakan dirinya sebagai bulldog-nya Darwin) tahun 1860 di Oxford merupakan perdebatan sengit pertama mengenai teori ini.

Tahun 1860 terjadi perdebatan antara Louis Agassiz (ilmuwan yang dianggap banyak berjasa dalam membangun ilmu pengetahuan Amerika) yang menentang validitas dari argumentasi Darwin dan Asa Gray yang mencoba menemukan rekonsiliasi antara Darwinisme dengan ajaran agama Kristen. Agassiz meyakini bahwa makhluk hidup (spesies) diciptakan oleh Tuhan dan tidak berubah menjadi spesies lain.

Menurut dia, teori Darwin hanya merupakan suatu conjecture atau dugaan belaka tanpa dukungan fakta, dan adanya tingkatan kemajuan bentuk hidup dari pengamatan fosil dari suatu strata ke strata berikutnya menunjukkan adanya perencanaan dalam penciptaan makhluk hidup dan bukan merupakan perubahan alami akibat adanya tekanan dari lingkungan.

Sementara itu, Asa Gray berpandangan bahwa teori seleksi alam yang diajukan Darwin merupakan instrumen Tuhan dalam penciptaan. Pandangan Gray ini sendiri sebetulnya bertentangan dengan pandangan Darwin yang tidak mempercayai adanya peran Tuhan dalam pembentukan makhluk hidup.

Beberapa argumentasi lain yang telah dikemukakan para ilmuwan sehingga menolak konsep evolusi Darwin, di antaranya adalah dipertanyakan apakah variasi dapat terakumulasi sebagaimana yang dikatakan Darwin.

Jangankan di alam, bahkan pada penyilangan buatan, yang merupakan dasar dari argumen Darwin, ada batasan derajat perubahan yang mungkin terjadi. Selanjutnya banyak yang meragukan apakah usia Bumi cukup lama untuk memungkinkan seleksi alam terjadi sehingga menghasilkan demikian beranekanya makhluk hidup. Selain itu beberapa ahli geologi mempertanyakan karena bukti-bukti fosil tidak mendukung gambaran terjadinya evolusi yang bertahap (gradual).

Sebenarnya Darwin sendiri menyadari bahwa teori evolusinya itu sulit untuk dibuktikan. Dalam bab Difficulties of the theory, Darwin menulis: Jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa kita tidak melihat sejumlah besar bentuk transisi di mana pun?

Mengapa alam tidak berada dalam keadaan kacau balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan bentuk sebaik-baiknya? Menurut teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah tak terhitung? Dan, pada daerah peralihan yang memiliki kondisi hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan dengan kekerabatan yang erat ? Telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya.

Contoh populer evolusi kuda, yang mengemukakan perubahan bertahap dari makhluk seukuran rubah dengan kaki berjari empat yang hidup 50 juta tahun lalu menjadi kuda masa kini yang lebih besar dengan kaki berjari satu, telah lama diketahui keliru.

Bertentangan dengan perubahan secara bertahap, fosil setiap spesies peralihan tampak sama sekali berbeda, tidak berubah dan kemudian menjadi punah. Bentuk-bentuk transisi tidak diketahui.

Selanjutnya, tahun 1981 The British Museum mengganti penggambaran hubungan kekerabatan antarmakhluk hidup (filogeni)-nya menjadi kladogram yang tidak memberikan indikasi tentang pola evolusi sama sekali. Direktur museum tersebut, Colin Patterson, berujar: “As it turns out, all one can learn about the history of life is learned from systematics, from the groupings one finds in nature. The rest is storytelling of one sort and another.”

Baginya, cerita tentang asal- usul makhluk hidup yang satu dari yang lain (evolusi) adalah dongeng belaka. (Vernon Blackmore dan Andrew Page. 1989. Evolution the great debate).

Dua orang ahli paleontologi Amerika, Stephen Jay Gould (profesor Harvard University) dan Niles Eldredge, membuat suatu model atau teori punctuated equilibrium. Model ini menolak gagasan terjadinya evolusi secara kumulatif dan sedikit demi sedikit, sebaliknya menawarkan konsep yang diskontinu dan tiba-tiba.

Penolakan lebih lanjut

Di dalam masyarakat Amerika sendiri, sejak awal abad ke-20 terjadi perlawanan sengit terhadap pengajaran teori evolusi di sekolah-sekolah.

Tahun 1924, Komisi Pendidikan Carolina Utara mengumumkan bahwa mereka tidak akan menggunakan buku-buku pelajaran Biologi yang bertentangan dengan Genesis. Di Tennessee, pada tahun 1925 legislatif atas upaya para orangtua murid melarang diajarkannya teori yang menolak penciptaan makhluk hidup oleh Tuhan sebagaimana yang diajarkan oleh Bible.

Di Oklahoma juga telah dibuat aturan mengenai teks book (text book bill) yang melarang setiap “konsepsi materialistik dari sejarah, yaitu teori evolusi Darwin”. Tahun 1981 Gubernur Arkansas menandatangani Act 590 yang membolehkan pengajaran creation science sebagai alternatif dari evolusi, namun Act tersebut digugat oleh the American Civil Liberties Union yang menganggap bahwa creation science bukan sains, tetapi agama. Gugatan tersebut dikabulkan dalam persidangan.

Saat ini sudah banyak buku ditulis oleh para ilmuwan untuk menentang teori evolusi tersebut, jauh sebelum Harun Yahya menuliskan buku-bukunya. Beberapa di antaranya: Norman Macbeth (1971, Darwin retried: an appeal to reason), Michael Denton (1985, Evolution: a theory in crisis), Robert Saphiro (1986, Origins: a sceptics guide to the creation of life on earth), Michael J Behe (1996, Darwin’s black box), WR Bird (1991, The origin of species revisited), Elaine Morgan (1994, The scars of evolution), dan lain-lain.

Diterjemahkannya buku-buku Harun boleh jadi merupakan langkah awal untuk meramaikan perdebatan tentang teori evolusi ini, dan kita berharap buku-buku dari penulis lain juga dapat dinikmati masyarakat kita, sebagai bagian dari proses pencerdasan (dan bukan pembodohan) masyarakat.

Saya menaruh harapan bahwa penyampaian mengenai teori evolusi dalam silabus di sekolah dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi berkenaan dengan pengajaran mengenai teori evolusi perlu ditinjau kembali.

Hal ini tidak berarti bahwa teori evolusi Darwin itu dihapuskan sama sekali, tetapi pengajarannya tidak boleh dogmatis bahwa itu sebagai sesuatu yang dianggap benar. Perlu ditumbuhkan sikap kritis siswa dalam membahas asal-usul makhluk hidup.Pandangan alternatif yang memberi penjelasan tentang hal tersebut yakni kreasionisme atau adanya Supreme atau Creative Designer untuk menjelaskan fenomena beranekaragamnya makhluk hidup di dunia ini harus juga disampaikan. kepada siswa secara proporsional.

Taufikurahman Staf Pengajar Departemen Biologi FMIPA-ITB.

Banyak sekali tulisan-tulisan sejenis. Ini menurut, ketidakmengertian saya, cukup proposional…..

Iklan

12 Tanggapan to “Teori Evolusi — Kegalauan Ilmu terhadap agama 2”

  1. Abu Salma said

    Uraian yang bagus pak… Apakah saya diizinkan untuk menukilnya di web pribadi saya, http://rachdie.blogsome.com.

    @ Ass.Wr. Wb.
    Tentu saja Pak Ustad, saya sendiri cuma kopi pais dari site kompas kok, seperti yang ditulis sumbernya dari mana. Sengaja saya ambil sebagai koleksi, karena relevansinya. Saya percaya saja, penulis aslinya tentu tidak keberatan dikutip dengan etika sewajarnya untuk yang sifatnya non komersial. Wass, agor

    Suka

  2. adnant said

    teori evolusi memang sangat bertentangan dengan Al-Qur’an. karna sangat merendahkan manusia dan sang kholiq yang maha agung

    @
    Teori evolusi (hipotesis evolusi) tidak pernah sih menjelaskan manusia berasal dari monyet. Survival of the fittest, mahluk hidup beradaptasi dan berubah untuk bertahan hidup. Mereka mempelajari bukti-bukti kesamaan bentuk mahluk hidup (dan menunjukkan kesamaan). Ujungnya sebenarnya sama juga : menolak proses penciptaan. Ini yang tidak sesuai dengan ayat-ayat pada kitab suci Al Qur’an , bahwa segala yang ada di langit dan bumi adalah ciptaan menurut ukuran-ukurannya.
    QS 13. Ar Ra’d 16. Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?.” Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”

    Kecuali proses penciptaan manusia, penciptaan hewan yang disebarkan di antara langit dan bumi tidak ada penjelasan dari Al Qur’an bahwa mahluk hidup yang satu berubah menjadi mahluk hidup yang lain.

    Suka

  3. […] disusun, antara lain “Beberapa Kesalahan Fatal dari Harun Yahya” atau topik mengenai penolakan mengenai Teori Darwin dari Taufikurahman menarik untuk disimak. Begitu juga penilaian bahwa “boleh jadi” […]

    Suka

  4. […] menyimpan tulisan mengenai perdebatan, mengapa ada penolakan terhadap teori darwin di sini. Sedang penulis aslinya dari tulisan yang dimuat ada di sini (Klik). Tentu saja lebih afdol di […]

    Suka

  5. saya juga setuju kalau teori evolusi itu hanyalah kebohongan belaka, hanya demi kepentingan pergolongan saja, terutama golongan komunisme. sebaiknya segala sesutau yang mengarah pada komunisme terutama pada hal pembelajaran siswa, segera dihapuskan karena akan terjadi liberalisasi pemikiran dalam islam

    @
    teori evolusi memang menjadi hipotesis kontroversi karena pendekatannya dalam mencampuri persoalan di luar ilmu pengetahuan itu sendiri. Juga, ketika orang-orang beragama juga merasa disentuh oleh pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan yang muncul dari hipotesis evolusi….

    Suka

  6. pencari kebenaran said

    Problem hubungan agama dengan ilmu

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang bersifat abstrak – gaib yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa dimasukan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mengkonsepsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia,artinya bila kita melihatnya dengan kacamata sudut pandang Tuhan dalam persoalan cara melihat dan memahami ‘ilmu’ manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi saintisme sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang konsep ‘realitas’ versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
    Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik ( kemudian pengertian kata ‘ilmu’ diparalelkan dengan sains seolah ‘ilmu’ = ‘sains’).
    Ini adalah konsep yang bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ‘ilmu’ tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti langsung secara empirik oleh mata telanjang,sebab dibalik realitas konkrit ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya pasti berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat konkrit tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.dimana akal bila digunakan secara maksimal (tanpa dibatasi oleh prinsip materialistik) akan bisa menangkap konstruksi realitas yang bersifat menyeluruh (konstruksi yang menyatu padukan yang abstrak dan yang konkrit),dan hati berfungsi untuk menangkap essensi dari segala suatu yang ada dalam realitas ke satu titik pengertian.

    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
    Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.
    Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya dan harus difahami saat itu pendeta melihatnya dari kacamata sudut pandang ‘filosofis’).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ secara ilmiah menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung), dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
    Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab pertama : realitas itu terdiri dari yang abstrak dan yang konkrit sehingga untuk memahami keduanya secara menyatu padu otomatis metodologi ilmu tak bisa dikonsep harus sebatas yang bisa terbukti secara empirik sebab bila demikian maka dunia abstrak menjadi keluar dari konstruksi ilmu,dan kedua : secara alami manusia sudah diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.bila mata indera adalah alat untuk menangkap realitas dunia lahiriah-material,maka akal adalah alat untuk menangkap konstruksi dunia abstrak sedang hati menangkap essensinya.
    Jadi kesimpulannya bila dilihat dari kacamata Tuhan maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu dan bukan ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ yang benar menurut mereka adalah sebagaimana konsep yang telah mereka buat dengan metodologi yang telah mereka tetapkan sebagaimana telah tertera dalam buku buku filsafat ilmu.kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
    Jadi mari kita analisis masalah (ilmu dan kebenaran ) ini dari dasar dari realitas yang bersifat menyeluruh,sehingga umat manusia tidak terdoktrin oleh ‘kebenaran’ versi sudut pandang materialist yang sebenarnya berpijak pada anggapan dasar bahwa yang real atau ‘realitas’ adalah hanya segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera (dan secara metodologis bisa dibuktikan secara empirik),dan terlalu picik untuk bersandar pada anggapan demikian, mengingat hanya sebagian kecil saja realitas yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera manusia,sehingga wajar bila melalui agama Tuhan memberitahukan kepada manusia realitas yang dunia panca indera manusia tidak bisa menangkapnya.

    Jadi bila saat ini banyak pandangan yang ‘bias’ – ‘rancu’ seputar hubungan agama dengan ilmu itu karena definisi pengertian ‘ilmu’ yang saat ini dominan dan menguasai dunia adalah definisi ‘ilmu’ versi saintisme itulah,dan banyak orang yang belum bisa mengoreksi pandangan saintisme itu dari benaknya,banyak orang yang tanpa sadar memakai kacamata saintisme dalam memahami hubungan agama dengan ilmu sehingga kala melihat agama ia melihatnya sebagai suatu yang seolah ‘berada diluar wilayah ilmu’ itu karena saintisme membatasi ‘ilmu’ sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi. sedang definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan memang hanya difahami sedikit orang yang memiliki pandangan berimbang antara melihat kedunia abstrak dengan melihat ke dunia konkrit.
    Agama yang difahami secara benar dan ilmu pengetahuan yang juga difahami secara benar akankah bertentangan (?),mustahil ! sebab dua hal yang benar mustahil bertentangan satu sama lain melainkan akan saling mengisi satu sama lain walau masing masing mengisi ruang yang berbeda serta mengemukakan kebenaran dalam persepsi yang berbeda.(hanya manusia yang sering tidak bisa menyatu padukan beragam ruang serta beragam persepsi yang berbeda beda padahal semua ada dalam satu realitas keseluruhan).
    Agama dan ilmu telah menjadi korban fitnah besar dan telah menjadi seperti ‘nampak bertentangan’ karena dalam sejarah telah terjadi provokasi besar besaran oleh kacamata sudut pandang ideology materialistik yang memposisikan agama dan ilmu pada posisi yang seolah bertentangan,karena kacamata sudut pandang materialistik melihat-memahami dan mengkonsepsikan agama secara salah juga melihat-memahami dan mengkonsepsikan ‘ilmu’ secara salah akibatnya mereka (materialist) sulit menemukan keterpaduan antara agama dengan ilmu.
    Sebab itu bila ingin memahami konsep agama dan ilmu secara benar kaji kitab suci secara ilmiah dengan tidak bersikap a priori terlebih dahulu.dan yang mesti diingat adalah bahwa segala bentuk hipotesa – teori yang tidak berdasar fakta-yang cuma khayalan – yang cuma teori-filosofi seputar sains yang berdasar ideology materialist (bukan murni sains),semua adalah ‘karat’ yang membuat agama dengan ilmu akan nampak menjadi bertentangan, sebab agama hanya menerima yang berdasar fakta kenyataan sebagaimana yang Tuhan ciptakan.Ironisnya tidak sedikit ilmuwan-pemikir yang menelan mentah mentah konsep saintisme ini sehingga agama dan ilmu nampak berada pada kotak yang berjauhan yang seperti sulit atau tidak bisa disatu padukan,bahkan pengkaji masalah hubungan agama-ilmu seperti Ian g. barbour sekalipun belum bisa melepas kacamata saintisme ini dari kacamata sudut pandangnya sehingga ia menemukan kerumitan yang luar biasa kala membuat peta hubungan antara agama dengan ilmu.

    Ilmu fisika tentang hukum mekanisme alam semesta,hukum hukum ilmu fisika murni, matematika murni,ilmu tentang listrik,ilmu tentang komputer dlsb.yang memiliki bukti fakta empirik yang konkrit yang pasti dan terukur pasti tidak akan bertentangan dengan agama justru menguatkan pandangan agama,tapi teori khayali yang tak berdasar kenyataan seperti Darwin pasti akan berbenturan dengan agama,tapi oleh kaum materialist ilmiah justru teori inilah yang dibesar besarkan dan dihadapkan pada garis terdepan (seolah ia mewakili dunia ilmu !) dan dibenturkan secara langsung dengan agama kala membahas masalah hubungan agama dengan ilmu hingga lahirlah salah satu fitnah akhir zaman yang terbesar sepanjang sejarah didunia.dan fitnah itu dijaga ketat supaya terus ada oleh ideology materialisme ilmiah hingga kini dengan berbagai cara dengan cara yang irrasional bahkan dengan cara yang tidak ilmiah sekalipun,mereka tidak ingin agama dan ilmu nampak sebagai dua konsep menyatu padu sebab kesatu paduan agama dengan ilmu akan menghancurkan kekuatan ideology atheistik secara ilmiah.

    Suka

    • agorsiloku said

      Terimakasih untuk catatan panjang yang bernas. Sedikit catatan : Sains yang empiris dan dapat ditelaah, tentunya tidak pula masuk ke ranah “keberadaan tuhan”. Kalau dia masuk ke wilayah ini, maka sains juga keluar dari ranahnya dan masuk ke dunia realitas agama. Jadi sains di awal tidak dimaksudkan untuk “menemukan” kehadiran/keberadaan tuhan. Namun, para saintis juga tergelitik untuk masuk ranah agama.
      Di sisi lain agama, juga tergelitik untuk masuk dalam konsepsi-konsepsi sains, karena memang pesan ilahiyah memberikan deskripsi pada bidang sains. Ayat-ayat Al Qur’an mengenai sains bertebaran dalam sejumlah ayat. Tafsir ayat yang berkenaan dengan sains, menunjukkan kepada manusia beriman sebagai bukti kehadiranNya dan memperkuat basis keimanan. Sains yang berkembang semakin maju, membawa manusia untuk memahami tafsir keagamaan (khususnya AQ) menjadi bagian tak terpisahkan untuk memahami ujung-ujung ilmu pengetahuan, setelah sejumlah pemahaman tafsir dan pembuktian yang “relatif lebih sederhana” terpahami. Misalnya tentang teori gravitasi, gunung yang bergerak, usia bayi dalam kandungan, lautan yang terpisahkan, dan lain-lain. Ujung-ujung pengetahuan sains, seperti singularitas dan penciptaan, bagi saintis beriman, menjadi daya tarik tersendiri karena sejumlah ayat-ayat yang dikirimkan Allah kepada manusia menjelaskan fenomena ini. Pertanyaannya kemudian, apakah sains yang dinamis itu sudah mencapai ujungnya atau belum. Jika belum, maka tafsir keagamaan mengenai ayat-ayat sains juga masih “potensial” untuk berubah dipahami.
      Kalau merujuk ayat-ayat sains di AQ, rasanya ujung pemahaman sains belum sampai untuk secara jernih menjelaskan ayat yang berkenaan dengan : misalnya kecepatan di atas kecepatan cahaya !.
      Karenanya, walaupun dipahami, seperti Kang Haniifa sampaikan : “….memang kiranya Ilmu dan Agama sepantasnya harus selaras, sebab kedua-duanya menyangkut dunia abstrak dan nyata.”, untuk sejumlah tafsir ayat sains, masih merupakan diskusi tesa dan antitesa yang masih bersemai bersama zaman.
      Sedangkan ayat-ayat sainsnya sendiri tetap kokoh sebagai “bench mark” yang dipahami dengan penuh keimanan bagi pemeluknya.
      Saya apresiasi terhadap pernyataan terakhir : “… mereka tidak ingin agama dan ilmu nampak sebagai dua konsep menyatu padu sebab kesatu paduan agama dengan ilmu akan menghancurkan kekuatan ideology atheistik secara ilmiah.”
      Dari sudut pemahaman saya, betapa inginnya saya memahami ayat-ayat sains dapat dipahami sebagai bagian dari hasrat dan memahami kebesaranNya, sekaligus juga pada saat yang sama memahami sampai di mana sains telah berkembang ke arah selaras dengan pesanNya ataukah masih tertatih-tatih di ujung batas-batas pengetahuan. Sebagai contoh, memahami bigbang dalam ayat dan perkembangan sains, rasanya masih banyak pula pembahasan di sana-sini yang memang masih dalam taraf menyambung-nyambungkan……

      Suka

      • Jujur lho, saya juga sampai saat ini masih binunnnn persoalan kecepatan cahaya (c) diruang hampa, mohon penjelasan bagi ahlul fisika modern.
        Definisi ruang hampa (Vacum) :
        a. tidak ada materi
        b. tidak mempunyai gravitasi
        c. tidak mempunyai tekanan atmosfir
        d. tidak tahu 😀
        US National Bureau of Standards, c = 299792.4574 + 0.0011 km/detik
        The British National Physical Laboratory, c = 299792.4590 + 0.0008 km/detik

        Apapun itu, yang jelas kecepatan cahaya matahari sampai atmosfir bumi lebih cepat dari ionosfer ke bumi hal ini karena cahaya matahari mengalami pembiasan, sebagaimana pembiasan cahaya pada air.
        dus…
        A new astronomical Al Qur’anic method for the determination of the greatest speed c by Elnaby, M.H jauh lebih kredibel dari pada perhitungan otak-atik gathuk fisikawan neon
        Hasil perhitungan yang lebih lengkap dan terperinci : Mengukur Kecepatan Cahaya dari Pergerakan Bulan by Haji. Muh. Nur Abdurrahman
        c = 299792,4989 km/detik

        Suka

      • Rubon said

        Asumsi molekul memberikan seberkas cahaya (v=c) akibat dari reaksi nuklir, apakah mungkin akan terbentuk materi baru berdasarkan postulat Einstein (v=c^2) ?! :mrgreen:

        Suka

      • @Mas Rubon
        Yang jelas reaksi termo nuklir matahari kalau hanya berupa reaksi fisi maka Hidrogen-1 tidak mungkin jadi Hidrogen-0,5 dunk. 😀

        Menurut seorang ahli fisika Jerman, Hans Bethe, energi Matahari yang sangat panas disebabkan karena terjadi beberapa reaksi fusi. Reaksi fusi itu adalah sebagai berikut Reaksi nuklir fusi atau reaksi penggabungan inti ringan menjadi inti yang lebih berat. Reaksi fusi yang terjadi adalah penggabungan 4 inti Hidrogen menjadi inti Helium
        Ini lebih manusiawi 😀 tapi, bijimana asalnya reaksi fusi tsb ?! dan mengapa H-2 bebes berkeliaran di alam semesta, sementara yang berada di Matahari harus bersikutet menghasilken energi panasaran.. hehehe…

        Suka

  7. Mantab’s dan memang kiranya Ilmu dan Agama sepantasnya harus selaras, sebab kedua-duanya menyangkut dunia abstrak dan nyata. Hanya permasalannya para saintis secara sengaja maupun tidak sengaja menganggap sesuatu definisi yang telah disepakati bersama adalah suatu kebenaran yang mutlak dan ini sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan yang dilandasi dari Agama, saya yakin sekali kalau Tuhan Yang Maha Esa turut campur tangan di dalamnya baik berupa ilham maupun derivasi dari kalamullah (pengalaman pahit ketika sayah melontarken 0/0=1 😀 ) .
    Ideologi materialistik sendiri merupakan cabang dari suatu ilmu pengetahuan dan kita tidak bisa menampikkan hal itu, permasalahannya bukan pada disiplin ilmunya tetapi \”oknum-oknum\”nya yang merasa lebih superior. Darwinisme sendiri dijadikan sebuah kata ajaib bagi pembenaran oleh orang-orang Barat, Alhamdulillah.. kita sampai sekarang bisa menyaksikan Neo Darwinisme yaitu NATO cs… hehehe….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: