Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pendidikan Komputasi Indonesia : Mempersiapkan Diri Menjadi Budak Microsoft

Posted by agorsiloku pada Januari 3, 2009

Mau atau tidak, itulah faktanya.  Pendidikan Komputer untuk SMP dan SMA yang saya tahu “diwajibkan” mempelajari Excell, Microsoft Word, Power Point, dan Sedikit dasar-dasar Dbase (MS Access).  Duta Open Source Indonesia, Betty Alisyahbana yang pernah jadi penggede di IBM Indonesia yang juga punya banyak karya (dari menyanyi sampai jualan :D  ) tentu (ngkali) prihatin bahwa pelajaran sekolah banyak menggunakan software berbayar.  Sedangkan linux dengan open office nya yang sudah masuk ke versi 3.0 ini, kalau saja mau dipakai di sekolah-sekolah Indonesia.  Bukan hanya mudah, tapi juga sudah teruji keandalannya.  Bahkan konektivitas untuk membaca software-software lainnya jauh lebih oke dari pada punya Microsoft.

Usaha Menristek untuk mengajak Pak Bambang Sudibyo yang jadi menteri diknas barangkali sia-sia saja kalau kurikulum TIK SMP dan SMA tidak menetapkan agar Open Source menempati tempat di hati para pendidik Indonesia, khususnya birokrasi diknas.

Jadi, bisa kita perkirakan bahwa ada 3 juta siswa SMA yang diwajibkan oleh Diknas Indonesia untuk belajar software berbayar Microsoft dan pada waktunya akan menjadi pemakai dan pembeli aktif untuk memperkaya pemiliknya.  Apalagi dengan ancaman hukuman terhadap hak cipta.  Dan dengan sangat sadar Diknas Indonesia mempersiapkan anak bangsa  untuk menjadi konsumen budak microsoft !.  Duh !.

Saya kira, maklumlah kalau kita belum bisa membuat motor sendiri sehingga harus impor dari Cina atau Jepang, karena Motor Jawa  yang pernah dimunculkan pun kalah bersaing dengan Saudara Tua kita.  Tapi, semestinya di bidang Teknologi Komputasi, khususnya di perangkat lunak : Tak perlulah kita menjadi budak dari kapitalisme pasar.  Mengapa?.  Karena kita jelas punya hak untuk memilih.

Apakah Litbang diknas, dirjen, menteri melihat atau merasakan keuntungan atau kepentingan atau ketidaktahuan terhadap perkembangan open source yang saya kira sudah sangat layak diketengahkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia?.

Masuk ke kurikulum pendidikan dan menjadi bagian wajib dalam proses pembelajaran TIK di sekolah menengah sangat jelas akan menjadi aspek strategis dalam pembangunan bangsa ini dalam dunia komputasi.  Memang saya tak yakin ada kemauan cukup kuat dari pemerintah untuk mendukung penghematan biaya bagi masa depan bangsa ini.  Tapi semoga saja mereka mau mendengar juga.  Kita sih berharap begitu sehingga ada revisi dari pengajaran komputer di sekolah-sekolah menengah !.

Memang sih, dalam silabus tidak dituliskan harus menggunakan perangkat berbayar atau open source.  Namun, sepertinya pasar mengarah pada pilihan software yang sudah lebih familiar ada (microsoft office dan lain-lain).  Butuh dorongan dari birokrasi pendidikan agar para guru dan kepala sekolah ‘memaksa’ para pengajar komputer di sekolah untuk MENCOBA dan bersedia memakai software opensource dalam kegiatan keseharian.  Kalau ini mau dilakukan, tentu akan bisa mengalihkan dananya untuk manfaat lain.

Jadi, saya kira tidak ada salahnya juga, Duta Open Source Indonesia serius mendukung agar dalam proses pendidikan mulai dari sekolah dasar sudah berkenalan sistem operasi dan software-software berbasis open source.  Tentu para guru komputer, jangan berbangga telah mengajarkan siswanya untuk menjadi calon pembeli produk dari manusia terkaya di dunia ini.

Mengapa tidak !.

About these ads

41 Tanggapan to “Pendidikan Komputasi Indonesia : Mempersiapkan Diri Menjadi Budak Microsoft”

  1. lovepassword said

    Bagus..bagus…memang pejabat kita oon. atau O on ya ? maksudku paling2 ya pura=pura O on, HI Hi Hi.

    Strategi microsoft itu mirip sama pengedar narkoba. kita pemakai narkoba, budak narkoba dak lebih hebat lagi para pejabat kita jadi bandar, jadi centeng dan jadi pengedar narkoba itu. Hi Hi Hi. Kasih di depan, gratiskan di depan. Biar kecanduan gicu loh.

    http://lovepassword.blogspot.com/2008/05/teknik-marketing-jenius-microsoft-ala.html

    @
    Strategi Microsoft sebagai bandar, rasanya dilakukan semua industri. Menurut saya sih itu wajar. Yang menjadi tidak wajar itu adalah kemampuan birokrasi kita (khususnya dari pemerintah) untuk kesediaannya menghemat devisa bangsa ini…. Ini yang sepertinya tidak ditunjukkan. Apa karena merasa masa depan mereka yang berkuasa itu tidak lama, sehingga semua kesempatan harus diambil. Tentu tidak juga, meskipun kecenderungan “serakah” itu jelas ada dan tampak….

  2. lovepassword said

    Dengan memberikan narkoba gratis di sekolah-sekolah sedangkan kelak kalo kecanduan, rakyat di suruh bayar, Ya memang sama saja halnya pemerintah menjadi centengnya Microsoft secara tidak langsung. Kerja sama apaan? Memberikan produk gratis ke sekolah2 itu justru pembodohan dan buruk dampaknya di masa depan. Dan pemerintah kita yang kemarin gembar-gembor setuju IGOS terbukti cuma gombal-gambul dan mau jadi centeng-centengnya Mikopyok. Entah centeng gratisan atau dibayar. hiks. Rakyat dimasa depan pasti membayar semakin mahal atas kegeblekan pemerintah sekarang. Kalo dimana-mana ada pembajakan itu menjadi konsekuensi logis dari kegagalan pemerintah menyediakan sumberdaya yang murah termasuk software murah.

    SALAM..SALAM

    @
    Pemerintah… memang bangga dengan menjadi “centeng”-nya Microsoft…
    Keputusan dari pemerintah yang bodoh dan kurang memberikan dukungan pada anak bangsa untuk melaksanakan kreativitasnya adalah bukti perhatian Pemerintah, khususnya Depdikas kepada … Microsoft.

  3. Hihihi saya kira Om Agor hendak mengkritisi komputasi kimia. Semua sebenarnya tergantung para guru TIK sendiri mau belajar Open Source atau tidak… Di kelas diajari ttg HAKI, tapi komputer yg dipakai untuk belajar hasil bajakan. Banyak alternatif tapi enggan untuk memilih karena terlanjur buta untuk melihat alternatif yang jauh lebih aduhai. Kecuali kalau tidak ada pilihan…Hahaha

    @
    Ha..ha… Mas Urip ini… Bagaimana kuliahnya… wis ente?.
    Agor nggak bisa dong mengkritisi komputasi kimia. Mahluk apaan itu? :)
    Kalau di Haki, yang dipakainya hasil bajakan… Ah masa nih Mas Haki?…
    Banyak alternatif, tapi enggan memilih karena terlanjur buta untuk meliaht alternatif yang lebih aduhai… –> ini adalah tantangannya. Para pencinta open source juga harus mampu pula menjadikan sebagai ladang juga. Kalau hanya mengandalkan belas kasih tanpa usaha mengubah metode pembelajaran maka perkembangannya juga sulit. Microsoft dengan softwarenya menjadi besar karena kemampuannya untuk melakukan penetrasi. Softwarenya dipotong-potong dalam ragam persoalan yang setiap bagiannya bisa melipatgandakan uang.
    Kemudian, semakin harus kita sadari bahwa alternatif begitu banyak telah tersedia.
    Seharusnya kebijakan Pemerintah (Khususnya diknas) untuk membuka peluang pada penghematan devisa mampu dijalankan, khususnya pada persiapan untuk kebiasaan.
    Ini yang tidak terlihat. Kalau enggan dibilang : Pemerintah menutup telinganya rapat-rapat untuk kesempatan yang sesungguhnya amat terbuka ini.
    Kenapa susah ya?

  4. Herianto said

    Dari suatu seminar ada infornasi begini mas Agor :
    [1] Sebuah perguruan tinggi “komputer” ternama di ibukota pernah mewajibkan para administrator dan akademisor nya untuk menggunakan OS dan aplikasi non Ms (open source tentunya). Pada awal2nya [dengan paksaan demikian] berhasil, tetapi pada akhirnya, pelan tapi pasti satu persatu kembali ke habitat “bajakan” aslinya. Hi hi hi …
    [2] Sebuah instansi pemerintah ternama di Jakarta juga, mereka punya sekolahan juga. Pernah memaksa user (sivitas) dengan cara langsung menginstal OS linux dan aplikasinya saat pertama sekali membeli komputer untuk mereka. Apa yang terjadi ? Diam-diam mereka install sendiri di PC masing-masing OS dan aplikasi “idaman” itu.
    Pada dasarnya hasil evaluasi mereka menyatakan bahwa user mereka tidak ingin berubah dari kebiasaan kerja sebelumnya. Ah, alasan klasik.
    Dulu katanya karena aplikasi linux belum se “heboh” di windows, tapi sampe sekarang kayaknya memang demikian ya … :lol:
    Ntahlah … :)

    @
    Mas Herianto… saya memahami kewajaran ini.
    Memang benar, tidak mudah beralih dari sebuah kebiasaan menjadi kebiasaan baru. Hal ini juga dialami oleh banyak orang, termasuk saya. Saya pengguna aktif dari software umum (Microsoft Office) dan setengah aktif untuk Open Office. Ini terjadi karena kantor tempat saya bekerja memang menyediakan microsoft office asli untuk dipakai. Usaha untuk memindahkan ke open office, praktis kejadiannya sama dengan kejadian di perguruan tinggi atau intansi pemerintah itu. Pelan tapi pasti, kembali ke habitat aslinya. Bajakan ataupun bukan.
    Hanya beberapa orang di kantor saja yang mau dan tetap berusaha mempelajari open office sebagai pendukung kegiatan kerjanya. Ada berbagai hambatan dan kebiasaan yang “sulit” diubah.
    Karena pemahaman itulah, maka seandainya Pemerintah mau. Sekali lagi MAU mensupervisi kalangan akademis dan para siswa untuk belajar dan berlatih di open source, maka kebiasaan itu sudah tertanam sejak muda. Inilah yang seharusnya dimiliki.

    Pengalaman saya sebagai pemakai Microsoft Access, lama-lama malah ingin pindah dari Access bukan karena persoalan harganya (karena kantor yang bayar sih), tetapi karena kapasitasnya yang dibatasi. Misal Access tidak membuka untuk index sql di atas 32. Jadi, mau tidak mau saya pakai SQL Lite yang jelas gratis dan kapasitasnya lebih oke.

    Jadi pembelajaran ini yang seharusnya dipertimbangkan oleh Pemerintah kalau ingin menghemat devisa untuk bangsa di masa depan…. Itupun kalau mau. Toh dorongan itu sudah ada, hanya saja Pak Bambang masih tutup mata dan sibuk menggratiskan yang lain. Mungkin karena dia belum mengerti…..

    Salam…

  5. Kita memang bangsa yang sangat berpengalaman dijajah pedagang (dan investor0. VOC (bukan pemerintah Belanda), itu kongsi dagang beratus tahun menjajah. Jadi, ya kalau ngak belajar dari sejarah, begitulah

    @
    Betul… kesempatan belajar software terbuka dan sumber yang bisa dipelajari adalah investasi yang memungkin bangsa kita bersaing. Kalau ini dimanfaatkan, kemungkinan loncatan ada karena hak pakai yang meluas dan tidak terhambat karena harus membeli software berbayar….
    Namun, kita juga berpeluang sebagai produsen juga

  6. Tips Cinta said

    Masalahnya hampir seluruh perusahaan di indonesia ya software dari microsoft itu. Jadi mau nggak mau siswa diwajibkan belajar.

    @
    Sebelumnya, semua orang memakai Wordstar yang mudah dibajak, sebagian besar pemakai Lotus. Satu demi satu tumbang, yang berjaya tinggal beberapa produsen besar. Kalaupun kita memakai software pendukung kegiatan usaha yang gratis, dan kita bilang sama perusahaan pemakai bahwa perusahaan bisa menghemat, katakanlah 100 user kali 200U$ dan kita sudah memahami dan menguasai dengan baik, maka penghematan dari satu keputusan saja bisa senilai 2000 dollar. Belum lagi software lainnya. Belum lagi sistem operasinya dan lain-lain. Tapi karena tenaga yang memahami dengan baik yang berbasis open source masih langka, maka sebenarnya perusahaan-perusahaan ini juga masih terpaksa membayar lebih mahal untuk kegunaan yang biasa-biasa saja.
    Bukankah di sini ada tantangan sekaligus peluangnya….
    Apakah kita mau melihat ini?, mengajak rekan-rekan muda mau bergerak lebih aktif ke arah ini.

  7. Wah saya juga bisanya pake Windows ajah, ga bisa pake Linux Euy..

    @
    Tentu saja tidak ada larangan memakai windows sebagai sistem operasi yang juga “banyak jasa” dan banyak nuasa bisnisnya. Yang diharapkan tentunya dari postingan ini, Pemerintah mau mendorong untuk menghemat devisa negara … jadi tidak omdo….

  8. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus online untuk para netter Indonesia. Salam!

    http://pendidikan.infogue.com/pendidikan_komputasi_indonesia_mempersiapkan_diri_menjadi_budak_microsoft

  9. Catshade said

    Padahal menurut saya OpenOffice itu sudah begitu miripnya dengan MS Office (pra-2007)… kalau sudah belajar yang satu, pasti gak susah menguasai yang lain. :?

    @
    Memang betul… ada kelebihan lainnya meskipun memang juga masih butuh disempurnakan. dbase open office cukup lumayan untuk membaca data. MS Access dikunci dengan maksimum index filternya tidak boleh lebih dari 32 sehingga kesulitan kita membaca data sql. Keunggulan pivotingnya dari MS Access juga kurang manfaat karena kebutuhan memori yang besar dan proses yang susah. Data di atas 2 GB juga udah mandek.
    Kita bisa membaca MS Office tapi tidak sebaliknya. Jadi Open Office lebih terbuka. Sedikit pembiasaan akan membuat kita bisa meyangani Open Office yang gratis.

  10. Gempur said

    SYUKURLAH SEKOLAH SAYA SEDANG BELAJAR MENGIMPLEMENTASIKAN LINUX DAN OPENSOURCE… MUDAH2AN TIDAK JADI BUDAK MICROSOFT.. AMIN.. :D

    @
    Amin… :D

  11. Daniel said

    Ya begitu dah. Kita hny terpesona ama yg udah mapan tanpa BERANI mencoba yg lain dgn kwalitas sama baik bahkan mengalahkan yg udah mapan. Ato yg bnyk nyumbang ke kita mngkn Microsoft ya…

    @
    Tentu microsoft juga bukan tidak ada jasanya… dalam banyak hal… namun, sebuah industri selalu harus tumbuh dan mempertahankan pasarnya….

  12. brianadi said

    menurut sayah yg bermasalah adalah tenaga pengajarnya.. Lha wong mereka babar blas ndak ngerti apa itu open source [identik dengan Linux], tidak semua sih..tp mendekati 97,9% mungkin ;)

    @
    Memang benar.. buat saya juga sangat membutuhkan waktu untuk memperkenalkan ke rekan-rekan dan nyaris pula 95% dari mereka kembali ke Microsoft Office. Jadi, faktor permulaan – pembiasaan ketika di sekolah seharusnya menjadi titik perhatian utama. Di negeri maju seperti Jerman (katanya), tanpa dukungan Pemerintah dan harga diri bangsa, sulit membuat perubahan signifikan. Karena itu, dorongan agar birokrat insaf adanya peluang untuk menghemat devisa bangsa harus lebih mengemuka…..

  13. Jay said

    Hmmm
    Pertamax

    @
    Kalau premium sudah harus antri dan sering habis dengan berbagai pembenaran… hmmm terpaksa juga beli pertamax…. :D

  14. Rindu said

    Sepertinya kita semua sudah menjadi budaknya microsoft kang … dan banyak yang mendewakan PC malah :)

    @
    Banyak sudah yang dilakukan microsoft dan kita membayar untuk itu. Jika ada “dewa” baru yang berkenan membagi ilmunya dengan harga yang lebih rendah dan mutu yang tidak kalah…
    Mengapa tidak ya !.

  15. dib058 said

    Masalahnya :

    1. MS dapat dengan lihainya membujuk birokrat supaya menggunakan produknya (mungkin dengan iming-iming diskon dll)

    2. Birokrat yang maunya gampangan (dan pandangannya sempit) sehingga tidak mau mempertimbangan pilihan lain

    3. Kurangnya advokasi untuk menggunakan aplikasi lunak bebas (FOSS)

    Kalau soal pelajaran office untuk anak SMP dan SMA, saya kira Open Office sudah sangat sangat memadai. Lagipula untuk pengadaan OOo tentunya biaya yang diperlukan jauh lebih rendah daripada biaya pengadaan MS Office.

    @
    Betul Mas, advokasi yang kurang serta birokrat yang tak mampu (atau belum mampu) melihat atau mau melihat adanya peluang ini.
    Namun sibuk ingin membebaskan bahwa pendidikan gratis…. ucapan yang tak logis dan tak masuk diakal…. Kita tahu betapa telah begitu banyak peranan masyarakat dalam pendidikan di Indonesia ini. Memangnya negara ini hanya untuk sekolah negeri, apakah siswa di sekolah swasta bukan anak bangsa !. Yang disampaikan pemerintah tentang pendidikan gratis, selain omong kosong… juga lebih untuk kepentingan pemilu saja….

  16. ya, mau gimana ya.
    saya jadi bingung mau bilang apa.
    banyak sih tantangan, untuk mengubah kebiasaan, yang sudah terlanjur melekat.
    contohnya seperti jaman munculnya sistem keyboard baru yaitu DVORAK (kalo ga salah ketik ya :D ) sebagai pengganti sistem QWERTY yang disebut kurang efisien peletakan hurufnya, karena dapat menyebabkan keletihan bila digunakan dalam jangka lama. tapi toh hasilnya nihil dikarenakan. perusahaan mau ga mau membayar lagi, hanya untuk pelatihan dengan sistem keyboard yang baru.
    Hal yang dapat disimpulkan adalah:
    pemerintah tidak mau mengeluarkan biaya untuk pelatihan lagi bagi (murid, pengajar, pegawai instansi pemerintah, dll) untuk sebuah software yang tidak berbayar.
    bahasa kasarnya, untuk program Ms, ngajarinnya setengah mati (karena gaptek), apalagi yang opensource, yang katanya menjelimet skrip macam2. bisa2 tambah botak guru2, yang seharusnya tidak perlu buang2 waktu. buat urusan macam itu. (jikalau saya sebagai wong deso ga ngertos carane ngurip no komputer opo maneh make no [orang desa yg menghidupkan komputer saja tak tau apalagi menggunakannya]. ya gapteklah. tapi karena saya lumayan ngerti (masalah komputer) ya pemikiran saya tidak sesempit itulah, apapun dapat dipelajari karena saya juga pernah memakai openoffice dulu, waktu komputer saya masih lumayan bagus).
    yang kedua, tidak semua. orang punya komputer yang sejaman dengan Pentium 4 atau AMD athlon XP dan sederajat. beberapa masih punya yang lebih rendah atau lebih jadul dari itu. saya rasa, sudah tidak adalagi distro yang speknya bisa menggunakan pentium II, seperti komputer saya sekarang [maaf, saya tidak memihak Microsoft atau opensource tapi sepanjang pengalaman saya](akibat komputer (baru) saya hilang waktu pindahan rumah, yang masih tersisa komputer lama saya karna sudah lama dipak dalam kardus, dan tidak ada yang tau kecuali orangtua saya. dan saya belum mampu membeli lagi yang baru, entahlah kalau punya lagi mungkin akan saya installi opensource saja[kebetulan saya punya CD istall salah satu distro dan beberapa CD program opensource pendukung lainya]).
    awalnya komputer tersebut, saya coba install openoffice v2.0, ternyata installasi berjalan lambat dan saya tak berani untuk menginstall calc dan impress. hanya writer saja (karena HD saya tak cukup, tak mampu beli lagi). setelah diinstal. saya coba, proses inisialisasinya berjalan sangat lambat, membuat saya stress, ditambah adik saya saat menggunakan tidak ngerti cara nambahin gambar, wordart, atau apalah. terpaksa saya ajari dari awal lagi. Akhirnya saya terpaksa menguninstal openoffice dan menginstal Ms office XP, yang lebih familiar dengan komputer saya dan adik saya.
    saya lebih setuju dengan masalah Ms. Access, karena pada kenyataannya saya lebih cenderung enak memakai SQL dari pada Ms. Access

    Kesimpulan yang bisa ditarik:
    1. Orang lebih cenderung cepat mempelajari software microsoft dari pada opensource (karena lebih user-friendly dan lebih tenar) seperti Nokia yang HPnya menang tenar dan user-friendly saja.
    2. Banyak waktu yang yang terbuang untuk merubah sesuatu, padahal kita membutuhkannya dalam waktu yang cepat.
    3. Sudah tidak atau tidak tersedianya software versi terdahulu yang cocok buat komputer jadul kita (terbukti linux, openoffice, GiMP opensource[alternatif phtoshop] versi yang dapat kita peroleh sekarang tidak ada yang kuat di prosses dengan cepat oleh komputer jadul kita atau minimal cocok system reqirementnya padalah beberapa merupakan software vital bandingkan dengan WinME, Ms. Office XP, Photoshop 5).

    mohon maaf sekali lagi kalau pendapat saya salah dan agak tak masuk akal, yah memang itulah yang bisa saya katakan, maklumlah saya tidak terlalu bisa merangkai kata2 mudah dimengerti orang hehehe :D

    @
    He..he…he… itupun betul. Di kantor saya juga gagal menyosialisasikan open office karena kelebihan yang ada dari msoffice. Di sisi lain, kebiasaan adalah proses panjang. Kalau terbiasa denganp open office… (dan mudah-mudahan ke depan open office semakin canggih), maka pilihan ini semestinya dipertimbangkan.

    Selain open office, ada juga staroffice yang lebih murah dan keandalannya teruji.
    Berapa devisa negara bisa dihemat jika ada 100 ribu atau 10 juta pengguna open office yang familiar. Kalau ada 50 juta pengguna, bandingkan jika harus membeli. Padahal tingkat kebutuhan sesungguhnya sudah sangat memadai dengan open office.
    Saya sendiri memakai dua-duanya, open office lebih terbuka dan bebas. Juga mengurangi rasa bersalah dan tidak perlu membajak… Saya juga pakai msoffice.. ya karena perusahaan juga membelinya.

  17. haniifa said

    Banyak waktu yang yang terbuang untuk merubah sesuatu, padahal kita membutuhkannya dalam waktu yang cepat.
    ______
    @Pae-pae
    Keseringan makan cepat saji hasilnya cepat jatuh sakit… :D

  18. Menkominfo said

    Sebagai salah satu guru TIK gue, protes nih.
    Begini Dul (sebutan yg paling pantas untuk Anda2) :
    1. Saya tidak setuju dengan pembajakan karena jelas pembajakan merugikan perekonomian negara. Mau tahu, baca otak elu sendiri. Nih, berapa lagu MP3 yg Anda dengar karya anak bangsa ini yg Anda beli, berapa produk sepatu, makanan, perangkat motor, baju, dll yg bermerek asli yang Anda beli. Jadi berapa rupiah kejahatan yg Anda lakukan selama ini? Ngapain hanya mikirin Microsoft (bodo amat dengan Microsoft), baru belajar ngetik pakai Microsoft Word yach? Belum belajar aplikasi yg lain kayak Adobe PhotoShop, Macromedia, dan yang lain. Apa Anda juga sudah beli yg asli?
    2. Kami juga mengajarkan Linux, dan juga memakainya, misalnya untuk router kami. Sayangnya ketika kami dan anak2 ingin menggunakan aplikasi lain kagak didukung Linux, kasihan deh.
    3. Selama ini pemerintah Indonesia belum pernah mewajibkan menggunakan produk Microsoft, bandingkan tuh degan negara kaya tetangga kita Malaysia dan Singapura. Alangkah enaknya dunia sekolah kalau pemerintah berani mewajibkan pakai produk tertentu, karena berarti pemerintah akan memberi dana untuk membelinya.
    4. Disela-sela mengajar gue juga produk software, kalau semua minta gratis anak gue mau dikasih makan apaan, mau bayarin sekolah pakai apaan? Emang negeri elu sudah mampu bayar gaji guru dengan layak?
    5. Wis pikirin sendiri (tapi pasti kagak mampu), mana yg lebih efisien, dan teruslah bermimpi semuanya gratis untuk elu : makan, minum, pelacur, kencing, baju, bensin, …. heh e he he

    @
    Yap… pak menkoinfo mewakili birokrat yah… :D

  19. Sandal Jepit said

    Biarin saja pak Guru,
    Semua orang tahu, syirik itu tanda ‘tak mampu’.

    @
    Ya Pak Guru… biarin saja… yang penting jalan terus….

  20. haniifa said

    Sebagai salah satu guru Teke…eh.. TEKO, gue PROSESS neeh. :P
    Pikirina ajah pembajakan BLUE PELEM nyang masuk nyolong, Pembajakan Hukum Kawin HOMO dari LONDO.

    Weis smaput… aje sendiri dasar teka NOL. :D

  21. haniifa said

    Kampus gue juga pakai Microsoft euy …
    Kami dapat Sky Drive 25GB, fasilitas email di Live@Edu 5GB, dll
    Mantap… abis

    Anda mau pakai Linux juga boleh, dan gue kagak akan bilang menjadi ‘budak Linux’.

    Kalau memang mampu beli dong nasi bungkus jangan mengemis atau mencuri. Kalau memang mampu beli dong motor jangan nebeng atau mencuri. Kalau memang mampu beli dong CD MP3 jangan mengcopy atau membajak. Kalau memang mampu buat software sendiri dong jangan mengemis atau menghujat orang yg mau efisien. Kalau memang mampu beli software dong jangan menbajak atau menghujat orang yg mampu.

    Betul tuh, syirik tanda tak mampu (udah loyo kali, mampu beli pil biru dan vigra kagak?).

  22. haniifa said

    Hey…kampret trust maksudnya “What is a Beta Release ?!“, opo sampeyan mau di uji coba tock… kayak kelinci percobaan… setelah apian… kudu beli… KAMPRET KOE.

    Dasar anak teka NOL. :D

  23. haniifa said

    hua.ha.ha..
    GUA LAGI LOGIN KAMPRET…. KAMPRET … makanya gambarmu kaya KAMPRET….

    Hua.ha.ha.ha. :D

  24. Menkominfo said

    Hua ha ha …

    Film blue sudah masa lalu … ngapin pakai ngebajak, kagak ngebajak aja datang sendiri lewat spam dan popup.

  25. Menkominfo said

    Kalau gitu gimana kalau kita hack aja blog ini.

    Gua kagak perlu pakai Linux untuk nge-hack blog ini… setuju?

  26. Menkominfo said

    atau “http://haniifa.wordpress.com/” ini aja yg di hack …

    @
    hah.. jangan dong ngehack… nggak deh bikin postingan budak microsoft… tapi jadi majikan microsoft aja deh…

    ya setuju… hack saja blog di atas… self hack….

  27. Haniifa said

    Ooops… ampun 3x

    @ :D

  28. haniifa said

    @Mas Agorsiloku
    haniifa KAMPRET :D berkata
    Februari 17, 2009 pada 11:43 pm

    Kampus gue juga pakai Microsoft euy …
    Kami dapat Sky Drive 25GB, fasilitas email di Live@Edu 5GB, dll
    Mantap… abis

    ________________
    Anak teka gini yang baru bisa bikin SIKRIP… trus sok-sok an.
    hehehe… sayang ada delay 1 menit, kalo nggak “LINUX PANIC” :P

    @
    dobel sis ops.

  29. haniifa said

    hua.ha.ha.
    Hari ini sampeyan masih cukup beruntung… DUL KAMPRET bin Surampret KejePRET…. :D

    Suatu saat kelak… Insya Allah, sampeyan-sampeyan gue buntungi… )

  30. haniifa said

    hua.ha.ha.
    Gimana rasanya makan SANDAL JEPIT ke Jepret…. KAMPRET :D

  31. hapitri said

    …. ada yang ga nyambung diatas….

    anyway, lagi2 saya direfer ke sini hehehe…

    saya mutant (dan anda skalian) komputer/technologi…

    mau pakai apapun itu nantinya, sekarang and kemarin… kita sudah menjadi budak dari tehnologi.
    ketergantungan kita itu sudah sampai pada level yang mulai mengerikan…

    bagaimana kalo anak2 itu diajar memakai batu tulis dan sempoa??
    ahaakkss…

  32. lovepassword said

    Masalah ini memang aduhai pusing. Pake Linux memang gak enak sih – tapi itu kan soal kebiasaan. Intinya yang diprotes itu : mengapa pemerintah tidak mengupayakan software atau apapun yang lebih bisa dinikmati lebih banyak orang secara murah gicu lho.

    Sumber energi, ganti yang murah . Software yang murah. Tarif listrik murah, pokoknya murah meriah deh.

    Bagi yang kaya mau beli yang mahal ya urusan masing2. tetapi pemerintah jangan sengaja mengarahkan seolah-olah mereka itu jadi antek2nya produsen asing. Jadi sales gratis, jadi tukang kepruk gratis. Sedari TK , anak2 diarahkan untuk pake produk mikocok, alasannya gratis. Lha gratis kan di sekolah, setelah mereka besar, saya yakin sebagian besar mereka jadi pembajak. Ha ha ha.

    Kita tidak anti dengan produsen software ye tetapi – kampanye pemanfaatan komputer yang murah/meriah untuk semua kalangan masyarakat menurutku jauh lebih urgent ketimbang ngurusi perutnya developer. He he he. Sori para developer. Harap diingat ya per developer dengan adanya software murah meriah yang merakyat itu justru mengurangi pembajakan software. Jangan malah ngamuk-ngamuk.Kalian juga untung karena produk kalian tepat sasarn dan nggak dibajak. Gicu lho.

    Weeeeeeek……- :)

    @
    Saya lebih melihat alternatif pilihan…. mengunci satu sistem operasi dari satu sisi dan kesempatan untuk memahami open source di sisi lain semestinya dibuat seimbang… ini yang tidak diusahakan. Mengapa jerman bisa ya..

  33. haniifa said

    hua.ha.ha.

    ) LOVE MY PASSWORD… :D

  34. haniifa said

    @Mas Lovepassword

    Apa pernah denger rubi si rubah kecil, minta ampun sama musuhnya ?!

  35. haniifa said

    Mana si dul kutil and sok-on, kok nggak nongol lagi ya… ?!

    Sebagai salah satu guru TIK gue, protes nih.
    Begini Dul (sebutan yg paling pantas untuk Anda2) :
    bla…
    bla…
    bla…
    Apa Anda juga sudah beli yg asli? :P

    Apa menurut saudara, yang dibawah ini bajakan ?!

    1. Novell’s Guide to TCP/IP and Intranet Ware by Drew Heywood.
    (Exclusive Novell,Software includes IntranetWare Client Suite)
    …. warna buku dominan putih / merah.

    2. Windows NT Server 4, UNLEASHED by Jason Grarms, et al.
    (Expert Software, CD-ROM include network, administrator, and system utilities, Web design tools, CGI scripts, Web Servers and development tools, adn much more!)
    …. berat buku, kalau dilempar-keun ke batok kepalamu… suer dower klenger sampeyan. :D

    3. Linux….UNLEASHED… idem bro.

    4. Assembly Language Programmer, Under OS/2 by Willian H. Murray. III and Chris H. Pappas.
    (Features Microsoft’s Macroassembler an Presentation Manager Graphics)
    …. dapet dari toko buku ELVIRA, Jl. Ir. H. Juanda 10 Bdg.

    cateteun:
    ———
    Buku-buku tsb, tidak untuk loak-keun walaupun nggak mampu beli Nasi Gorenk rasa KAMBING CONGE

    Wahhh… Sombong, Haniifa. :P

  36. haniifa said

    hua.ha.ha
    Sori menyori… ketinggalan satu buku lagi karangan Pendekar Super Sakti… by Asmaraman S. — Kho Ping Ho.

    halaman… kareupmu welah… :D

  37. haniifa said

    @Mas Agorsiloku
    Sebentar yach… saya mau LOG OUT ;)

    @
    ;)

  38. rubondr said

    LOG IN lagi !!

    KKN == Kuli Komputer Ngenyel
    Berdasarkeun cerita empat buku komik diatas, sebai-nya ada contoh nyate… huhaha.. inget sate KAMBING CONGE == nyang meusege : “sii.BODOH” :P

    Nun jaman dahulu kala, makakala P-486 mulai booming… komputer kuya XT dilego murah banget rp. 75 rebu perak plus bootroom lho, wong komputer lelangan bekas “bung” BANG ERA.x.R :D

    Singkat cerita, my-boss tanya… berapa buat sopware plus hatware untuk membantu operatur karokoe, biar cepet menentukeun nomor, judul lagu, lagu kaporit,top ten…de.el.el ?!
    ______________
    Ndak ada gambar dan ceta-an ke printer lazer, sahut ku sambil cengengesan…

    Yap… tapi jangan lupa kita paka NOVEL 3.12 dan WINDOWS SERVER NT 4, jadi bisa saja data-datanya dicomot under GUI, gimana dan berapa ?!
    ______________
    rp 200.000 rebu boss, tapi mudah-mudahan si encik… masih menyisakeun 2 biji komputer loakan-nya.

    Wahh… kok murah banget, coba ceritakeun ide ?!
    ______________
    Prohram klien pake “CA Clipper 5.2c”, Database pake dBIII+, OS nge-boot lewat Server Novel… bek-opis… biar di urus sama @jeung user, nyang komputernya doble card.

    hehehe… neeh rong atus ewu, lima puluh buat ongkos becak !!
    ______________
    kamsia boss, and siap grakk

    hua.ha.ha.
    Dasar si @Mas BOOS orang baek, selesa gawe… ya dapet uang rokok lebih dan di embel-embili buku lieerlatur originale… :D

    LOG OUT lagi ahh, mau ngitip keteknya “sii.BODOH”.

  39. [...] langkah-langkah untuk mempopulerkan product yang open source harus terus dikumandangkan.  Mudah-mudahan para guru dan sekolah semakin berupaya mendorong siswa-siswa dan rekan-rekan guru untu….  Dukungan rekan-rekan guru sangat penting untuk menghemat devisa dan membiasakan anak didik untuk [...]

  40. [...] dong, di sekolah jangan hanya diajarkan Microsoft Office, Microsoft Word, tapi yang open source harus dipakai. Itukan menghemat devisa negara !, masa bangsa ini dimasa depan hanya memperkaya Oom Gates saja [...]

  41. Info Lomba said

    jadi melek abis baca artikel ini. trus gimana solusinya klo dah begini…???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 94 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: