Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

1.108 Ayat Kauniyah dari Al Qur’an

Posted by agorsiloku pada Agustus 24, 2008

Ayat-ayat Semesta : Sisi-sisi Al Qur’an Yang Terlupakan; Agus Purwanto, Mizan, 428 hlm tidak termasuk indeks, terbit 2008 ini termasuk salah satu buku yang bolehlah.  Bisa dipakai sebagai salah satu referensi penting cukup penting dan bermanfaat untuk mengenali Al Qur’an dalam kaitannya dengan pesan-pesan kesemestaan kehidupan di dunia ini. Bagian Ke I buku ini dimulai dari halaman 187, sedang halaman sebelumnya diisi oleh ayat-ayat yang dipilih yang dinilai Beliau berkaitan dengan ayat-ayat kauniyah.  Pendahuluannya, dari halaman 17-31 cukup menarik juga untuk disimak.  Penulisnya, jelas seorang doktor sains dan semasa mahasiswanya aktivis kampus.  Karena itu, di bawah Bab Pendahuluan, dengan santai saja Mas Agus ini ngasih judul dengan subtema : “Rasional dan Sinting“.  Tampaknya tema subjudul ini diilhami benar oleh jargon politik di masa lalu :”Shalat tidak shalat pokoknya (mencoblos partai berlambang) Ka’bah.”

Cara pandang Agus Purwanto dalam melihat ayat-ayat Kauniyah cukup menarik untuk disimak dan membuka wawasan pembacanya untuk melihat ayat-ayat kauniyah atau mendekatinya.  Misalnya tentang ayat 76:17 di surga mereka diberi minuman yang bercampur jahe. Agus menawarkan untuk memikirkan soal jahe ini (jadi ingat STMJ = Susu Telor Madu Jahe).

Dalam Bab Epistomologi Sang Ratu, penulis mengkritisi penerjemahan 27:18 lembah semut bahwa menurut beliau, berdasarkan pemahaman bahasa Al Qur’an yang dimaksud adalah semut betina.  Kalau pembaca tidak mengerti bahasa Arab, maka akan menerima penerjemahan apa adanya.  Satu ajakan untuk mempelajari bahasa sumber sekaligus juga kritik untuk terjemahan Depag (yang memang sudah banyak dikritik) agar memberikan penerjemahan dan penjelasan yang lebih baik atau lebih tepat.  Mempelajari kehidupan semut “seharusnya” juga menjadi tugas kaum beriman.

Bab-bab lainnya seperti BUMI PUSING, MALAM dan SIANG, Mekanika Kuantum Asy’ariyah, Jerawat Matahari, Rekreasi ke Bawah Tanah, Supernova, Cahaya Alam Semesta, sampai ke Puisi Logika yang tersusun dalam beberapa bagian (1-5) menerangkan sekaligus mengajak pembaca untuk memikirkan ayat-ayat alam semesta yang disebarkan dalam Al Qur’an.

Keprihatinan Pada Etos Muslim

Ilustrasi yang dijelaskan Eslamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) yang melaporkan bahwa sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI memiliki sekitar 1,1 milyar penduduk (20% penduduk dunia), mendiami wilayah seluah 26,6 juta kilometer persegi, menyimpan 73 persen cadangan minyak dunia memiliki hanya sebesar 1,016 miliar dollar AS.  Suatu angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan GNP negara maju seperti Perancis yang berpenduduk hanya 60 juta jiwa dan mendiami sekitar setengah juta kilometer persegi dengan GNP 1,293 milyar dolar AS.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa negara-negara maju, termasuk Perancis bertumbuh ekonominya melalui basis iptek, sementara negara-negara Islam tergantung pada input yang bersifat kualitatif (hal. 25).

Ada semangat kerja, kesungguhan untuk memanfaatkan anugrah Allah yang saat ini justru dikuasai oleh bukan Islam untuk diperbaiki.

Beberapa fenomena pengalaman Agus Purwanto sebagai mahasiswa ITB cukup menarik juga.  Beliau menyimpulkan tidak sedikit mahasiswa muslim, bahkan ada yang telah menulis tugas akhir memutuskan berhenti kuliah.  Mereka melakukan tindakan tersebut setelah membaca buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali (hal. 21).  Kalau mengkaji karya ulama klasik ini, tentu juga akan membaca Ibnu Rusyd sebagai penyeimbangnya.

Ayat-ayat Kauniyah.

Halaman 33 -181 diisi penuh oleh ayat-ayat yang dikumpulkan dan dipilah oleh penulisnya cukup membuat buku ini tebal, tapi juga sekaligus mempermudah untuk membaca kembali ayat-ayat yang berkaitan.  Ini membantu menjadikan buku ini sebagai acuan dalam memahami petunjuk Allah yang uraian (tafsir)nya diuraikan pada 5 bagian besar, yaitu : Islamisasi Sains, Astronomi, Relativitas dan Kosmologi, Mekanika Kuantum, dan terakhir Trandensensi.  Pembaca diajak mengunjungi batas-batas ujung ilmu pengetahuan yang memang tujuan akhirnya akan tampak spritual.  Jelas pendekatan ini berbeda dengan pendekatan sains di awal kebangkitannya.  Sains pada akhirnya juga akan bertanya tentang hal-hal dasar kehidupan yang tak mungkin bisa dijawab oleh sains itu sendiri.

Setengah Biografi.

Buku ini menjadi setengah biografi karena menampilkan model berkisah pengalaman pribadinya sebagai mahasiswa di ITB sampai menjadi dosen di ITS Surabaya.  Apalagi dengan lampiran foto-foto yang dicetak buram (agak memalukan juga hasil cetakan dari Penerbit Mizan ini) pada halaman421-428).  Menurut agor, penempatan foto dalam lampiran ini tidak mendukung tema buku sama sekali, bahkan menurunkan kredibilitas penulisnya.  Seharusnya, editornya cukup cerdik bahwa pada kualitas keunggulan buku seperti ini, maka referensi foto ini tidak memiliki makna apa-apa selain setengah kebanggaan yang tidak begitu diperlukan untuk manusia sekualitas Agus Purwanto.

Kehati-hatian.

Saya belum membaca keseluruhan buku ini.  Seperti pengalaman terdahulu, buku sejenis ini tak akan habis dibaca dalam sebulan atau setahun.  Seperti Riwayat Sang Kala, Stephen Hawking kerap dibaca berulang-ulang (habis susah mengerti seeh), seperti pula buku ini, tampaknya akan menjadi teman untuk waktu cukup lama.  Karena itu, agak mengejutkan juga ketika dijumpai ada kesalahan kecil tapi prinsip, misalnya pada halaman 60, terketik : ayat 51. “Iblis menyaksikan penciptaan langit dan bumi.”  Kesalahan ini jelas sangat menganggu model berpikir, meskipun cukup jelas bahwa di ayatnya sendiri, halaman 114 seharusnya Iblis tidak menyaksikan penciptaan langit dan bumi.  Hilangnya kata “tidak” memiliki konsekuensi pengetahuan dan pemahaman yang jauh dari apa yang diharapkan.

Beberapa uraian beliau, masih memang masih jauh dari yang saya pahami.  Jadi, senang sekali bisa mendapatkan bacaan ini, tentang alam semesta yang tertutup atau melengkung, tentang perjalanan Isra Mi’raj yang jika mengikuti hukum fisika (kecepatan cahaya) perjalananan sehari-semalam nabi hanya mencapai Neptunus.  Namun, tentu dengan konsekuensi seperti itu, maka kita masih harus melihat dan mengelaborasi pengetahuan di ujung sains dengan cara berbeda.  Agor sendiri bingung deh, soalnya dalam urusan dunia, diurus dengan kadar sehari adalah 1000 tahun, sedang dalam perjalanan Isra berkadar sehari 50 ribu tahun.  Sedangkan dari uraian dari berbagai sumber sehari sama dengan 1000 tahun itu ditemukan sama dengan kecepatan cahaya maka jika sama dengan 50 ribu tahun, tentunya memang pendefinisian sudah keluar dari batas-batas kecepatan yang dipahami ilmu fisika.  Tapi, melewati itu juga memang nggak bisa dijelaskan manusia seeh.  Dunia lainnya Agus Purwanto memang bukan dunianya para demit dan jin, tapi dunia ilmu pengetahuan, dan nyaris memang berada di ujung sebuah mimpi pertemuan sains dengan para agamawan yang sudah sejak awal duduk manis di ujung sana.  Karenanya, Agus Purwanto mengejarnya dengan puisi sains menjadi keniscayaan yang indah.

Akhirnya, teriring salam dan semangat berkarya yang tak putus, buku ini kiranya dapat menjadi salah satu siraman nilai bagi bangsa yang baru beberapa puluh menit merdeka ini.  Menjadi pemicu semangat ummat untuk memikirkan bukan sekedar soal baju putih takwa atau berteriak-teriak sambil membawa semangat ketakutan.  Tapi, seperti umumnya orang berpikir dan berbuat.  Menempuh jalan sunyi dan dalam kesunyian itu, ditemukan, betapa ramainya isi dunia….

About these ads

6 Tanggapan to “1.108 Ayat Kauniyah dari Al Qur’an”

  1. sitijenang said

    wah boljug nih kayaknya. harganya brapa ya, mas agor?

    @
    Wah, harganya berapa ya… kalau nggak salah Rp 69.000,- yah sekitar itulah… :D
    Kalau belinya di Grossir biasanya dapat diskon 20-30%.

  2. yureka said

    ” Menjadi pemicu semangat ummat untuk memikirkan bukan sekedar soal BAJU PUTIH TAKWA atau berteriak-teriak sambil membawa SEMANGAT KETAKUTAN “.

    Lho…Tuhan khan suka warna putih mas..??
    sayangnya utusanNYA lebih suka warna hijau ya…

    @
    Wah… saya tidak tahu Tuhan suka warna apa?. (bingung … :D )
    Utusannya senang warna hijau, merah, kuning, putih, atau apa saja… saya kira….. :D

  3. coba duank cantumin juga teks arabnya dan tafsirnya menurut para ulama??? gmana menurut kamu???????

    @
    blog ini memang bukan kitab tafsir, hanya sebuah lontaran catatan, logika, dan belajar… Untuk dilengkapi berbagai nuansa keagamaan yang kental, bukan kompetensi agor…
    Juga sudah banyak siar serupa di berbagai milis atau site yang memang mengkhususkan di bidang ini…. :D

  4. haniifa said

    gmana menurut kamu???????
    Baca ajah sendiri, teks dan tarjamaah sama kok… :D

    @ :D

  5. sowan lagi Bang Agor, sengaja saya pilih singgah di tulisanini,
    yang ‘rasa’nya singkron buat saya…

    salam…

    @
    Sama-sama pakar fisika… :D

  6. Margie said

    Pengan yg kauliyah nya donk ..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 94 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: