Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Adakah Manusia Ditakdirkan Masuk Neraka?.

Posted by agorsiloku pada Desember 12, 2007

Ini pertanyaan “lucu” tapi wajar saja kok. Dulu juga dan sering berada dalam pikiran, apakah Allah menyediakan “neraka” dan mentakdirkan manusia untuk tinggal di dalamnya?.

Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan: Adakah kejahatan dan kebaikan itu?. Mengapa orang dihukum oleh kejahatan yang diperbuatnya. Padahal kejahatan itu juga bisa dan hanya bisa terjadi karena ijin Allah. Segala sesuatu, apapun bukankah ada dalam kehendakNya, ada dalam gemgaman kekuasaanNya. Lalu mengapa seseorang dihukum untuk perbuatan yang berada dalam lingkup ijin Allah?. Bukankah keingkaran juga hanya bisa terjadi karena Allah mengijinkan adanya keingkaran?. Lalu mengapa manusia harus dijebloskan ke dalam neraka (astagfirullah) atas perbuatannya?. Bukankah kalau manusia yang membunuh, sesungguhnya, Allah juga yang membunuh !.

Namun, kerap kita berpikir rumit bahkan kemudian melahirkan banyak aliran-aliran yang meyakini kebenaran dengan menggunakan dalil yang sama. Para teologi menggemari ini sebagai wacana. Kitapun dengan segala pemahamannya kerap mendiskusikannya sambil ditemani pisang goreng hangat dan secangkir kopi.! :D

Perdebatan mengenai takdir dan kehendak bebas bukan hanya berada di wilayah sempit, tapi masuk dalam arena-arena perdebatan dan diskusi panjang dari masa ke masa dan sangat boleh jadi, memberikan kontribusi dalam berpikir sosial keagamaan masyarakat ketika menyikapi sesuatu.

Tuhan model Ghazali adalah Tuhan serba kuasa dan keserbamahakuasaannya meliputi segala sesuatu. Tuhan dalam model Ibnu Rusyd adalah Tuhan yang “tidak mengetahui” hal-hal secara partikular. (lihat linknya).

Saya sih nggak gitu ngeh deh dengan keduanya. Boleh jadilah Ibnu Rusyd dengan partikular dan paripetiknya lebih berpikir rasional dari pemikiran agama dan filsafatnya dalam mengkonsepsikan pandangannya sedang Al Ghazali lebih spiritual dan lebih merujuk pada kemahakuasaan tanpa reserve. Apapun deh, mereka adalah pemikir besar yang memberikan banyak warna pada masyarakat, tidak saja di internal Islam, tapi juga pada pemikiran peradaban yang bersebrangan… maksudnya Barat gitu lho.

Namun, segala kemahakuasaan Allah tidak dengan sendirinya lho, memposisikan Allah bahwa penyerahan diri – La haula wala quwwata illa billah – kemudian dicari gampangnya saja : “Nggak mau berusaha”.

Tapi tunggu dulu, kepasrahan juga dijelaskan sebagai nilai yang diajarkan Allah kepada manusia sebagai sebuah pilihan manusia.

“Meskipun akan dibunuh?”.

“Yoi, tak mau sedikitpun menggerakkan tangan untuk melawan”

Namun, tentulah antara melawan dan tidak melawan jelas sebuah pilihan dari pelaku. Habil memiliki takut dan pasrah yang begitu dalamnya terhadap makna keberimanan :

QS 5. Al Maa’idah 28. “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

Pilihan lain dari kepasrahan dalam usaha juga disampaikan :QS 8. Al Anfaal 53. (Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah Yang Menguasai Segalanya.

Putaran berpikir kemudian selalu bertanya tentang kejadian di masa depan. Kalaulah segalanya dikuasai Allah, maka tentunya akhir dari segalanyapun diketahuiNya.

Ya iyalah, begitu banyak tebaran ayat dan hadits yang menjelaskan posisi manusia untuk masuk ke neraka atau surga. Kejadian yang nanti manusia menjadi haqul yaqin. Apakah segala itu telah ditetapkan, termasuk juga perbuatan jahat dan baik?. Putaran pertanyaan yang kemudian muncul seperti yang diuraikan pada awal paragraf ini.

Namun, semua sepakat bahwa manusia-manusia selalu memiliki pilihan-pilihan, dan pilihan manusiapun dalam banyak konteks ayat dijelaskan pula berada pada pengetahuanNya. Semua pilihan-pilihan manusia juga berada dalam sunatullah — dalam ketetapanNya — dalam ijinNya. Tapi soal apakah pilihan dalam sunatullah itu berada pada ridhaNya atau dalam murkaNya juga sebenarnya cukup jelas terurai dalam banyak ayat. Namun, kadang kita mencampurbaurkannya, mengaduknya antara komitmen Allah menciptakah khalifah di muka bumi ini dengan konsepsi segalanya berada dalam pengetahuan Allah.

IjinNya dan pengaturanNya mencakup segala apa yang menjadi pilihan tindakan manusia dan Allah menetapkan dalam perjalanan di setiap jalan yang ditempuh. Resultante-resultante yang begitu halus bergerak dalam berbagai miliaran kehendak bebas manusia mencapai tataran dalam setiap langkahnya. Karena itu, apa yang menjadi kehendak Allah akan terjadi dalam perjalananan semua pilihan kemungkinan. Ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak yang “bila kelak” menjadi besar akan membuat orang tuanya susah maka kita dapat memahami bahwa masa depan adalah terukur menurut satu rumusan bahwa semua perhitungan teliti bahwa kejadian adalah sesuatu yang teruji dan dalam pengetahuanNya. Kalau tak salah, dalam “Riwayat Sang Kala”, Stephen Hawking menegaskan, pengetahuan tidak bisa memperkirakan satu kejadian lebih dari sejumlah arah resultante beberapa kejadian. Sedangkan Allah, tentu saja bisa berhitung sejak awal penciptaan sampai akhir penciptaan. Kita tidak bisa memperkirakan atau menghitung kapan dan jam berapa kita akan makan pagi, atau kapan sebuah kejadian ketika seorang penyanyi akan terpeleset di atas panggung. Kita baru bisa memprediksi sebuah bola di lempar ke atas akan jatuh kembali dengan mengukur unsur-unsur pembentuk lemparan (masa, ukurang, tenaga lemparan, gaya gravitasi) dan lain-lain. Untuk menghitung akhir dari sebuah permainan caturpun, manusia dengan segala teknologinya belum dapat mendeskripsikan akhir dari sebuah permainan sebagai satu kejadian tunggal. :D Tentu saja, karena setiap langkah dari bidak catur, adalah sebab akibat. Allah mengetahui akhir permainan karena mengetahui apa yang akan menjadi pilihan manusia ketika melangkahkan bidaknya.

Tuhan tidak perlu statistik untuk mengetahui kebolehjadian, Allah menghitungnya dengan perhitungan yang teliti kejadian di “masa depan”. Karena itu kejadian adalah rangkaian kejadian antara fisis dan spiritual yang dalam bahasa sufi sering dijelaskan sebagai sebuah jalinan ada dan tiada. Bersambung tanpa henti, tak terpahami di awal tak terkuasai di akhir.

Allah menyerahkan sebagian kekuasaanNya kepada ciptaanNya.

Dalam pemahaman saya, menjadikan khalifah di muka bumi adalah pernyataan Allah untuk memberikan sebagian kecil dari khasanah kekuasaanNya yang mahamutlak kepada manusia. Dari khasanah yang tersembunyi, dari maha Dzat yang ingin dikenal oleh ciptaanNya. Bahwa Allah mengetahui akhir segalanya tidaklah dapat dibatasi oleh proses berpikir manusia, karena segala apa yang membatasi adalah membatasi kemahaperkasaan Allah sebagai mahapengatur dan mahapemelihara. Itu juga, yang saya pahami sebagai dalam konsepsi, nantinya : “Kepada Kamilah, kamu dikembalikan”.

Dalam perjalanan itu, mudah dipahami bahwa manusia diberikan kehendak dan kekuasaan terbatas yang berada dalam ijinNya. Tentu pula, mudah dipahami karena Allah memberikan sebagian kecil kekuasaanNya kepada manusia untuk menjadi khalifah, maka dimintakanlah pertanggungjawaban atas hasilNya. Sebuah hasil yang dicapai manusia dalam menjalankan kebebasanNya dengan akhir yang juga sudah diketahui. Namun, Allah menghargai kebebasan yang diberikan kepada manusia ketika dalam perjalanannya manusia diberikan pilihan dan petunjuk (hidayah) untuk menjadi baik dan menjadi buruk. Apakah itu sebuah pilihan universal atau unik pada setiap individu, ditegaskan pula bahwa kalau dikehendaki, semua manusia itu beriman. Tidak juga menjadi beriman, kalau hidayah tidak diberikan. Kehadiran wahyu, utusan, akal adalah dalam konteks “penyerahan” kekuasaan Allah pada khalifah di bumi ini. Tentu sampai batas waktu yang ditentukan.

QS 19. Maryam 93. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.94. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. 95. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.

Karena “penyerahan sebagian kekuasaan” itulah maka manusia diminta pertanggungjawaban atas segala pilihanNya. Sebuah pilihan yang diujikan kepada manusia, dan Allah juga sudah tahu apa hasil dari ujianNya. Allah tahu bagaimana manusia menggunakan akalnya, dan akhir dari perjalanan akalnya dan tetap juga “menghargai kebebasan” manusia untuk melakukan pilihan.

QS 27.An Naml 7. Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.” Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.”
QS 36. Yaasiin 67. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.

Lha, kalau sudah begitu, masihkah kita berpikir akan dibebaskan dari kesalahan apa yang diijinkan Allah disamakan dengan yang diridhai Allah?.

QS 9. At Taubah 96. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.

Jadi,

menjadi harapan, semoga Allah memasukkan kami ke dalam orang-orang yang mendapatkan ampunanNya.

Wallahu’alam.

About these ads

34 Tanggapan to “Adakah Manusia Ditakdirkan Masuk Neraka?.”

  1. zal said

    ::agorsiloku, salam, topik dan tulisan ini menarik untuk didiskusikan,
    1. Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, kenapa Allah perlu merubah, sebelum kaum itu mengubahnya:
    mari kita arahkan pandangan ke “Allah Tidak mengubah”, jika “sebelum kaum itu mengubahnya”, apa korelasi yg berlawanan disini…
    2, masih merujuk pada 8:53, dihubungkan dengan, jika pandangan bahwa kembalinya semua ini kepada Allah, dan Allah adalah tujuan, Allah juga ada mengatakan pada Yasiin 77, tentang “penantang” ya…kita-kita ini, sedangkan titik balik adalah Ridha, “Yaa ayyuhannafs al mutmainnah..”
    jika penantang adalah keadaan kita dan ridha adalah titik kembali, apakah yg harus diubah…
    sesulit-sulit usaha adalah ridha…

    @
    ikhlas dan ridha dua kata yang penuh makna yang dikunci dengan kesabaran dan jalan ujian yang berliku…. :D

  2. kurtubi said

    pertanyaan2 seputar tauhid memang menarik untuk dibahas dan didedel. Sepertinya saya lebih cocok untuk menerima konsep wahyu, sementara akal mengikuti wahyu… namun lagi2 para filosof mungkin itu tidak puas sehingga dicari logika sebagaipembenaran atau penyangkalan..

    Filosof kadang bikin menarik tapi bikin bergidik juga kalau diajak diskusi ke masalah uluhiyah… apa tidak bagus kalau bicara yang duniawiyah saja.. lebih sensi… :)

    @
    Hmm Mas Kurt, salam. Pertanyaan di seputar tauhid memang prinsip dasar ketika bergerak untuk dan pada segala sesuatu. Saya juga seeh, sedang belajar dan berusaha untuk mengajak akal mengikuti konsep wahyu dalam seluruh kebebasan berpikir. Ayat-ayat mutasyabihat memungkinkan terbukanya peluang untuk memahami kesemestaan sebagai syarat batas untuk memahami, dalam panggilan nurani, dalam kegelisahan rasa, dalam pertanyaan banyak anak manusia untuk memikirkan penciptaan, kondisi setelah keberadaan dalam segala tanda tanya dan kekhawatiran. Mencoba untuk mengerti dan segala pemikiran yang bertubi (yang benar), insya Allah akan membawa kepercayaan (keimanan) kepada Allah, menurut sifat-sifat yang ditetapkanNya dengan tidak membatasi pikiran dalam taklid-taklid yang mempersepsikan Allah dalam arena pikiran belaka.

    Filsafat sebagai mazhab berpikir cenderung mengambil arah dari kekuatan berpikir semata. Prosesi filsafat ini kemudian memenuhi hasrat akal (baca kepuasan akal dalam membuka tabir-tabir yang dipahami dari sains dan rahasia-rahasia yang tak terpahami melalui “dunia akal”). Memilih eksplorasi uluhiyah Allah adalah sebuah reposisi ketika tidak sedikit perbenturan duniawiyah terkondisi menjadi penyimpangan uluhiyah Allah. Ketika tauhid menjadi bervariasi dengan sesuatu apapun yang kemudian keluar dari konsep dasar tauhid. Disadari atau tidak, duniawiyah adalah cabang yang pembukaan tabirnya juga berpeluang menyimpang dari tauhid.

    Eh… sekali-kali saja ya….. :D

  3. zal said

    ::Pak Kurt::
    AQ sendiri memuat filsafat kan.. ;) padanya kan ada muhkamat & mutasyabih, ada perumpamaan…
    cuma kalau bergidik itu, karena ada…hantu.. ulangi 2 x
    jalannya saking terangnya memang menjadi gelap bagi mata kali ya…, sebab kataNYA “Allahu nuurussamawati walardh”
    yang pasti logika engga mungkin membuka syiirullah, hanya Allah yg mampu memahamkan “robbana dzolamna anfusana …”
    kan Rasulullah, kena peluk erat beberapa kali, dan dibangkitkan dengan Iqra’ bismirabbikallazi kholaq, bacalah atas Nama Tuhan Yang Mencipta…,
    tapi Umar bisa menangis juga saat Fatimah membaca Thoha…koq yg membaca engga menangis…, yg menghunus pedang malah menangis…pasti bukan lantaran logika..
    Rasulullah menerima AQ 2:164 menangis, Bilal yg diceritakan dan dibacakan surat itu juga engga menangis…

    @
    Iya Mas Zal… Mas Kurt berfilsafat dalam arena konsep wahyu.
    Rasulullah menerima AQ 2:164 sampai waktu shubuh tiba, begitu menggetarkan apalagi beliau (kalau tak salah ya) sudah menjalani Isra dan Mi’raj… betapa menggetarkan keagunganNya ditampakkan dan dikabarkan. Kita yang terpaut jarak dan waktu malah malah berselisih dalam arena akal tak habis-habisnya…. :(

  4. sitijenang said

    lha logika itu bukannya sekadar alat menguatkan keyakinan? jadi, menurut saya sah saja menalar asal bukan dalam rangka membangkang, tapi untuk bisa lebih meyakini. seingat saya Ibrahim a.s pun masih minta bukti tambahan, kan?

    eh… ini cuma opini pelajar aja sih :D

    @
    Tentu saja tul dong… bukan sekedar alat menguatkan keyakinan, tapi juga membuat komputer, membuat mesin tik, mengindahkan bahasa, berinteraksi…. dan lain sebagainya. Nabi Ibrahim… hm… minta bukti tambahan bukan karena soal keyakinan kan… tapi untuk lebih memahami…. Kita mendapatkan pemahaman bahwa proses pencarian Bapak tauhid ini dalam satu proses berpikir….

  5. zal said

    ::sitijenang::
    ….seingat saya Ibrahim a.s pun masih minta bukti tambahan, kan?
    ….hanya Allah yg mampu memahamkan … opo awake arep ngunggahi burung…nang gunung-gunung…???
    pada saat mengalirnya pemahamanmu, sing jenenge logika iku sing endi… ???

    @
    iku sing endi… apa artinya yah… ?

  6. Citra said

    Manusia dan jin diciptakan Allah untuk beribadah kepadanya,menurutku sih sebenarnya semua manusia ditakdirkan masuk surga kalau saja manusia ngak suka membangkang,seperti lebah saja dia begitu lahir udah tau apa yang harus dilakukannya tanpa harus belajar dari induknya,begitu juga berang – berang ngak usah kuliah dia udah bisa membuat bendungan yang kokoh karena mereka semua ngak terlalu serakah dan banyak keinginannya jadi mereka menjalani apa yang digariskan Allah padanya,jadi kalau saja manusia nurut dan semua yang dilakukannya adalah untuk beribadah kepada-Nya saya rasa neraka udah ngak perlu lagi:-)

    @
    Dalam pemahaman saya seeh… manusia ditakdirkan untuk menjadi khalifah dan diperlengkapi akal yang bisa mengkombinasikan seluruh pemahaman dan isi alam semesta untuk diolah… dalam pentakdiran manusia (dan jin) sebagai mahluk berpikir, maka dia mendapatkan kebebasan untuk menjalani pilihan takdirnya…..

  7. haniifa said

    Salam,

    Menurut saya TAKDIR akan menjadi WAJAR bila kita ingat ayat:
    “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS 91:8)

    Sebab setiap takdir baik dan buruk, menurut pemahaman saya harus di tempatkan sebagai titik-titik extrapolasi dari sbb:
    Seandainya, dalil Naqli (Sunatullah dan Sunah Rasulullah) digambarkan sebagai sumbu-y (vertikal), dan
    Seandainya, dalil Aqli (Nalar, logika, teorema, dsb.dsb) digambarkan sebagai sumbu-x (harizontal), dan
    Seandainya, titik nol (y=0 dan x=0) = Titik aqli baligh, dan
    Seandainya, QS 1:6 “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” sebagai resultante yang membentuk sudut 45 derajat antara sumbu-y dan sumbu-x)

    Contoh kasus:
    Dalil Naqli = Surat Al Hajj ditempatkan pada urutan ke 22
    Didalam ritual haji Thawaf = 7 keliling kabah.
    Dalil Aqli = berarti 1 keliling = K, dan D=1/7 thawaf.
    Maka:
    Nalar matematika: 7 T = 22 D (Penulisan persamaan matematika)
    Nalar Programmer: K = 22/7 D (Penulisan bahasa komputer)
    Kenyataan:
    Masih banyak orang (termasuk matetikawan) menolak bahwa pi=22/7

    Wasalam.

    @
    Trims infonya, banyak kita jumpai dari para ilmuwan Islam yang memiliki pengetahuan dan kesinambungan informasi dari Al Qur’an terhadap “komposisi matematis”. Keindahan tiada tara. Saya masih mencari, adakah informasi tentang proporsi agung (PHI), dalam Al Qur’an.

    Pada ritual haji, pada ayat Al Hajj 22, tersembunyi pula hal yang tak pernah terpikirkan. Betapa terjaganya kalam Illahi ini. Wass, agor

  8. sitijenang said

    ::Zal::
    lha tahunya pemahaman pemilik blog ini bukan dari-Na bigimana? :D

    @
    Pemililk blog ini justru bingung… Na… bigimana … :(

  9. [...] Bagaimana mungkin manusia ditakdirkan masuk Neraka !!!. December 15, 2007 Posted by haniifa in Uncategorized. trackback Ini pertanyaan “lucu” tapi wajar saja kok. Dulu juga dan sering berada dalam pikiran, apakah All… [...]

  10. zal said

    ::sitijenang::
    pemilik blog faham, buktinya dia terus bertanya…

    @
    Pemilik blog tidak faham kok, yang ada mencoba menjalin pemahaman. Untuk memahami kebebasan berpikirnya dalam kesempitan dan kesibukan. Kadang tahu, lebih banyak sok tahu. Tapi… itukan tidak penting lha. Pemilik blog sedang belajar dan mempelajari. Tidak untuk mencari pembenaran, tidak juga sedang menggolong-golongkan… pertanyaan biasa saja, dari obrolan warung kopi dan sepotong pisang goreng hangat yang dimakan sebagai karuniaNya kepada ciptaanNya…… :D

  11. El Za said

    Assalamualaikum wr wb.

    koment 10) sepiring pisang goreng hangat dan kopi?
    duhai nikmat sekali.
    Kita diberi kesempatan berpikir, diberi waktu untuk memilih, diberi akal untuk berpikir, tapi manusia sering ingkar dengan semua Karunia Allah, jadi sebenarnya manusia sendiri yang memilih jalan ke Neraka, bukankah tidak ada paksaan dalam beragama dan kebenaran telah nyata?
    Maha Suci Allah dari berbuat aniaya.
    Mumpung masih bisa mengunyah Pisang goreng hangat dan menyeruput kopi nikmat, marilah kita merenungi pilihan hidup kita, sebelum akhirnya kita harus memakan pisang dari batu yang membara dan kopi dari nanah yang mendidih.

    Wassalamualaikum salam wr wb.

    @
    Wass.Wr.Wb.
    Yang sebuah pisang goreng hangat dan secangkir kopi, yang merenungi dalam akal dan pikiran, yang kemudian sering ingkar dengan semua karuniaNya. Seperti menunjuk pada diri sendiri. Sesaat ingat, esok lupa, ingat lagi, lupa lagi…. Astagfirullah…betapa manusia tempatnya salah dan lupa…… Wass, agor

  12. wacana menarik yg bikin pusing.
    saya enang ngikuti dan dengerin aja, tp ga mampu ngomong.

    salah satu penjelasan favorit saya -membantu saya agak paham- adl novel karya shawni ‘the madness of God’

    dan saya sangat sepakat dg istilah yg saya kenal pertama kali dr buku2nya jeffrey lang : kehendak bebas (yg diberikan Allah kpd manusia, dan sayangnya manusia tll sombong jd bangga bgt diberi ‘anugerah’ itu. pdhal beratnya ga ketulungan. well, ini IMO saja sih….)

    @
    Menarik, bikin pusing, namun kemudian asyik menjadi teman berpikir dan memahami, betapa kompleks dan rumitnya kita memahami karya ciptaNya.

  13. ganedio said

    Dalam Alquran tentang pembicaraan penghuni neraka, tidak ada penghuni neraka yang protes telah ditaqdirkan masuk neraka. Tetapi mereka menyesal telah berbuat dosa. Bahkan ada yang ingin dikembalikan ke dunia agar banyak beramal.

    Percuma bukankah Alloh telah mengutus rosul-rosulnya untuk membimbing ke jalan yang lurus.

    Bagai menonton aktivitas bintang-bintang di langit, aktivitas bintang-bintang yang kita lihat itu telah ditentukan jutaan tahun yang lalu yang rekamannya baru sampai ke mata manusia di bumi. Ya sudah tercatat dalam perjalanan cahaya menuju bumi. Peristiwanya sudah ada sejak jutaan tahun yang lalu.

    Nasi sudah menjadi bubur para penghuni neraka itu sekarang sudah ada tidak dapat mengelak lagi sesuai perjalanan sebab akibatnya yang juga melibatkan Alquran yang mana Alquran mencatat dirinya sendiri ada dalam Lauful Mahfuz.

    @
    Subhanallah….

  14. Anonymous said

    Salam,

    Jika kita melihat (QS 2:24) s/d (QS 2:44), jelas tampak Nabi Adam a.s beserta instrinya (plus keturunannya ?) justru di “TAKDIRKAN” sebagai penghuni “AL JANNAH”

    Oleh karena itu saya sepertinya kurang sependapat dengan mas ganedio, perihal :
    “…tidak ada manusia yang protes telah di ‘takdir’kan masuk neraka…”, sepertinya kontradiktif dengan Surat Al Baqarah 38

    Maaf mas agor menyambung komentar saya no 7.

    NAQLI :
    1. Surat Al Baqarah 38
    ” Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”
    2. Surat Al Baqarah 97
    Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

    Aqli :
    1. Qulnaa = “Kami” berfirman, (Kami = Allah dan Malaikat Jibril)
    2. Qulnaa = “Kami” mba Etimo..logikanya jamak dng objek sama

    Wassalam.

    @
    Ass.Wr.wb.
    Diskusi ditakdirkan dan menjalani takdir memang ada pada beberapa dimensi pikiran. Pertama, takdir sebagai ketetapan Allah pada manusia dan alam semesta. Semuanya menjalani takdir, dan tidak ada pilihan selain menjalaninya. Sebagai mahluk manusia yang diciptakan dan segala yang diciptakan, maka segalanya pula akan berjalan pada takdir. Model proses berpikir Al Ghazali dan ulama-ulama besar lainnya yang juga memahami takdir sebagai kepasrahan dalam keseluruhan usaha. Oleh karena itu, tidak ada pilihan apapun bagi manusia, kecuali menjalani takdirnya. Termasuk juga masuk surga atau neraka.

    Yang kedua, menetapi takdir sebagai ketetapan pada ukuran-ukuran qadla dan qadar
    . Qadla (keputusan)nya manusia pada satu qadar (ukuran) merupakan potensinya dalam menjalani takdir. Ukuran-ukuran ini berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya, mahluk satu dengan lainnya. Ukuran seorang yang lahir dari keluarga berada berbeda ukurannya (daya potensi hartanya) dibandingkan orang yang dari keluarga miskin dan sederhana. Setiap potensi yang dimilikinya itulah dan dengan itulah manusia menjalani takdirnya.

    Di sini terdapat titik sentral pengertian takdir. Takdir adalah ketetapan Allah, pilihan takdir adalah pilihan dari ketetapan Allah. Qadla dan qadar menjadi formula terukur untuk menjalani takdir. Perbedaan ini kadang, yang agor lihat bercampur. Takdir manusia, bukanlah ditakdirkan mencapai sesuatu, tapi takdirnya untuk melakukan pilihan (jangan lupakan bahwa semua pilihan adalah takdir). Goalnya (pilihan takdir manusia yang diambil – berakhir baik atau buruk) adalah dari pemanfaatan ukuran-ukuran (baca potensi) manusia.

    Al hasil, ketika manusia ditakdirkan masuk neraka; bahasanya dipahami menjadi : Dalam perjalanan hidupnya manusia (itu) mengambil pilihan takdirnya menjadi penghuni neraka (dan ia menyesal di dalamnya), sebagian lain mengambil pilihan takdirnya menjadi penghuni surga (dan ia berbahagia di dalamnya). Jumlah peserta yang masuk ke dalamnya diperhitungkan teliti oleh Allah dapat dipahami sebagai bukan jumlahnya ditentukan, tetapi jumlah yang masuk mengambil pilihan itu (jalan fasik dan jalan baik) yang dihitung.

    Lalu bagaimana dengan utusan Allah, apakah ia ditakdirkan mengambil pilihan baik. Ya, Allah memberikan potensi kepada para utusanNya yang Allah pilih sebagai duta manusia. Namun, Allah juga tidak melepaskan potensi para utusanNya keluar dari takdir yang disediakan. Ada Nabi yang dianiaya, dibunuh, diuji dengan berbagai hal sebagai konsekuensi logis dari ujian kesalehan dan sebagai konsekuensi logis dari pengingkaran orang-orang fasik yang ingkar kepada utusanNya.

    Dari situ, begitu tampak komitmen Allah kepada manusia, sampai waktunya manusia harus mempertanggungjawabkan apa yang menjadi tingkah lakunya di dunia. Karena kita diciptakan lemah dan tergesa-gesa dan dalam proses perjalanannya diberikan kekuasaan (sebagai khalifah) karena kenekadan manusia menjadi khalifah, maka saat dikembalikan maka kejadian itulah yang direkam (probabilitas kejadiannya) dan dikabarkan kepada manusia. Menyadari keangkuhan manusia, maka ketika kesadaran beriman, tidak ada jalan lain, memohon ampunanNya, mengharapkan dengan kekhawatiran dan ketakutan untuk akhirnya Allah mengijinkan kita kembali dalam ridhaNya.
    Subhanallah, astagfirullah….

  15. zal said

    ::genedio, apa benar tempat mereka yang mengatakan “”Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami , kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” adalah neraka…???
    padahal disini ada dua poit pertama :
    – Orang yg berdosa dan tunduk dihadapan Tuhannya, apa maksudnya…?
    – Kami telah melihat dan mendengar.., mata & telinga yg mana…??? apa mata yg dikepala itu, orang ini adalah pendosa yg tertunduk dihadapan Tuhannya lho…

    ::Anonymous::
    Bukannya Adam diciptakan Allah untuk bumi, coba cek ulang, kalau untuk sorga mengapa malaikat protes,,,
    semua sungai ada asalnya, dan ada tempat tujuannya, jika parit yg kamu lihat mengalir kesungai itu bukan asalnya sungai…meskipun parit itu mengalirkan air juga…

    @
    Mas Zal, benar… mereka yang masuk neraka memang dikabarkan ingin kembali lagi ke dunia… Ini saat mereka berada di hari pengadilan akbar.

    (QS 6. Al An’aam 27. Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). 28. Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.
    Namun, banyak ayat yang menjelaskan pula sebagai yang diancamkan kepada mereka.

    Malaikat tentunya bertanya, bukan protes. Banyak hal yang Allah mengetahui, dan ciptaanNya tidak. :)

  16. haniifa said

    Salam,
    ::Zal::
    “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS 2:34)

    “Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu ‘Al Jannata = SURGA’ ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS 2:35)

    ” Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (QS 2:36) atau (QS 2:38)

    “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS 2:37)

    (QS 2:35) Allah berfirman pada tiga object (Malaikat, Iblis, Manusia) menurut pemahaman saya saat itu, ketiganya ada di Al Jannah, yang pada kenyataannya Iblis membangkang perintah Allah, Iblis = golongan “KAFIR” artinya calon penduduk “Neraka” tapi masih tinggal di “Sorga”.

    “Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (QS 7:13)
    (Iblis diturunkan dari surga setelah berhasil menipudaya Nabi Adam a.s)
    Jadi:
    Penghuni “Sorga” = {Malaikat}
    Penghuni “Bumi” = {Adam a.s, Iblis}

    Fakta sekarang menurut Al Qur’an
    Penghuni “Sorga” = {Malaikat, Nabi & Rasul,Suhada}
    Penghuni “Bumi” = {Manusia, Jin}

    ::mas Agor::
    Saya sependapat dengan definisi takdir “Kedua”, tapi jangan lupa juga bahwa Allah akan meng-ilham-kan “Ketaqwaan” lewat malikat penjaga dengan seijin Allah, dan meng-ilham-kan “Kefasikan” lewat setan dengan seijin Allah jua. Permasalahannya bukan sebab akibatnya,tetapi pandai tidaknya hati kita merespon ilham tersebut.

    Wassalam

    @
    Salam, tampaknya “clear” ya… :D Mas Haniifa terasa tajam pengamatannya….

  17. Saya setuju dengan Mas Kurtubi. Yang lebih penting adalah kita menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang sekarang. Mengenai masalah apa yang ada sebelum manusia diciptakan dan apa yang akan terjadi setelah manusia mati, itu rahasia Allah. Sedangkan ruh saja, yang sekarang jelas ada dalam diri kita sudah jadi rahasia dan makin pusing kalo dipertanyakan.
    Bebas saja sih orang memilih apa yang ingin difikirkan dan dilakukan, tapi buat saya lebih baik ikhlas saja dengan apa yang ditakdirkan. Termasuk takdir jadi manusia, dan mungkin masuk surga.

    @
    Seandainya lho, ada yang bertanya seperti judul ini. Apakah jawaban kita akan begitu. Pertanyaan yang datang bukan hanya dari generasi terakhir, tetapi juga datang dari generasi ke generasi?. Karena ada hadisnya tentang pertanyaan-pertanyaan (yang dianggap tidak relevan) atau tidak puas-puasnya bertanya. Seperti Nabi yang selalu bertanya juga, sampai dibuat pingsan karena bertanya dan ingin melihatNya.

    Penasaran bertanya, tentu membutuhkan elaborasi, bahwa sentuhannya tidak tepat atau ada penjelasan lain yang lebih tepat, adalah perkara lainnya.

    Tentang makin pusing kalo dipertanyakan… ada benarnya, bisa juga sebaliknya… makin merasakan keagungan dan kesempurnaan ciptaanNya.

    Kemudian, esensi lainnya, tentu bertanya itu tidak berarti tidak ikhlas dengan takdir yang telah diterimanya. Ini persoalan yang mungkin/boleh jadi berbeda…. :D

  18. Muhammad said

    wasalam mualai kum, Saudara ku memang masih banyak akan kita pikirkan mengenai banyak hal didunia ini. dari awal saya coba membaca topik yang di angkat ini memang menarik sekali. saya membaca dari atas sampai selesai tanya jawab tidak ada jawaban yang pasti. Saya penah mendengar satyu perkataan yang begitu jelas yang dikatakan oleh teman-ku saat saya lagi di SMA. yang tidak pernah saya lupakan. Tuhan Yesus Berkata :”Akulah jalan kebenaran dan hidup, Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa(Allah) Kalau tidak Melalui Aku” Dan saya berpikir temanku ini kok sombong sekali yahh. setelah beberapa bulan saya mencoba untuk memikirkannya, dan saya baca dari sumber mana-mana memang benar pada saat saya baca sejarah filsafat dan orang2 yang berpengaruh dalam sejarah memang tidak seorang pun yang mengatakan hal ini. Hanya Isah almasih(Yesus Kristus) saja yang mengatakannya. Saya yakin dalam hal ini kita dapat yakin bawah didunia ini ada juruslamat yang dapat membawa kita kesurga. bukan neraka. Coba saudara2 ku juga pikirkan baik2 Perumpamaan dibawah ini : Ada Sebuah kapal besar yang berlayar ditengah laut yang begitu luas. tiba2 tiba ada seorang yang jatuh kelaut itu. apakah orang itu bisa menolong dirinya sendiri untuk naik lagi keatas kapal itu? Harus ada orang yang melemparkan tali untuk menolong orang yang jatuh ke laut itu supaya dia bisa diselamatkan. nah saya berpikir kita didunia ini juga sama. Orang 2 mencari berbagai cara untuk masuk surga, itu saya pikir adalah mustahil dan tidak mungkin bisa. kecuali ada yang datang dari surga dan membawa kita pulang kesurga.(Karena kita didunia ini tidak ada yang tahu jalan kesurga). saudaraku coba tutuplah mata sekitar 1 menit. apa yang akan kita lihat kegelapan bukan?. Sama saja jika kita berada dalam ruangan yang luas sekali dan gelap. bagaimana kita mencari pintu untuk keluar dari sana? harus ada orang dari luar ruangan yang membukakan pintu untuk kita supaya ada seberkas cahaya yang masuk, baru kita bisa punya arah untuk keluar, bukan?. nah inilah sharing saya…. coba renungkan … dan pikirkan…. ini sudah saya alami… saya juga mau saudara2ku yang lain juga mendapatkan kabar sukacita ini :)

  19. engkus said

    Salam Pak Muhamad, saya sangat sependpat dengan uraian bapak yang begitu mudah dicerna akal. Kita sebenarnya perlu media/wasilah untuk mendapatkan segala sesuatu. Kita ditakdirkan lahir kedunia atas nama Allah dengan membawa misi ibadah kepadaNya dengan wasilah ibu dan bapak kita, kita bisa membaca dan berhitung dengan wasilah jasa2nya guru2 kita.Kita mengenal/tahu agama atas wasilah jasa2nya kyai2. Kyai dapat ilmu dari gurunya kyai – gurunya kyai dari gurunya – dari ulama salaf – dari tabiittabiina – dari tabiin – dari sahabat rosul – dari rosululloh saw – dari jibril as – dari Allah SWt.Itulah rangkaian prosesnya manusia ditakdirkan mendapat karunia hidayah dan taufiqNya dengan melalui media/perantara/wasilah.
    Kemudian mari kita coba uraikan mengenai takdir. Rosululloh pernah bersabda ” Demi Zat yang jiwa Muhammad ada ditanganNya, aku masuk syurga bukan karena amal saleh dan ketaatanku, tapi atas Rahmat dan karunia-Nya”.
    Nah, rahmat dan karunia Allah itulah yang mengantarkan manusia masuk syurga. Sedangkan amal saleh dan ketaatan yang diperbuatnya adalah implementasi misi ibadahnya.Inilah yang dinamakan “takdir”(takdir baik dari Allah swt).Adapun yang masuk neraka, sama ada sebabnya yaitu dia menyimpang dari misi ibadahnya. Mengapa dia menyimpang? Karena hatinya lalai. Mengapa hatinya lalai? Karena nafunya lebih dominan menguasai dirinya. Mengapa nafsunya lebih kuat? karena dikendalikan oleh syetan yang mempunyai sifat dan watak pengingkaran, sehingga dia terkutuk. Nah kutukan Allah dan azab Allah itu sampai kepada manusia melalui syetan yang membawa kutukan sehingga masuk neraka. Ini juga dinamakan “takdir” (takdir buruk dari Allah swt).
    Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa “Allah mentakdirkan manusia masuk syurga dengan rahmat dan karunia-Nya, dan Allah mentakdirkan manusia masuk neraka dengan kutukan dan azab-Nya”. Sedangkan manusia berbuat baik atau buruk tergantung kondisi hatinya. Kalau hatinya bersih dia mampu melakukan amal saleh dan ketaatan, kalau hatinya kotor dia tidak akan mampu melakukan kebaikan walaupun ilmunya setinggi langit. Yang menyebabkan rahmat dan karunia Allah bisa meliputi manusia karena hatinya bersih. Dan yang menyebabkan kutukan dan azab Allah meliputi manusia karena kebusukan hatinya.
    Kurang lebihnya saya mohon maaf. wassalam. Engkus

    @
    Mas Engkus telah mereview wacana ini dalam satu pendekatan yang betul-betul kompre. :D

  20. haniifa said

    Salam,
    Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 124
    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS 2:124)

    Selanjutnya…

    ” Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” (QS 16:120)

    ::Muhammad::
    Coba simak kedua ayat diatas,
    Memang mungkin Nabi Isa a.s bersabda :
    :”Akulah jalan kebenaran dan hidup, Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa(Nabi Ibrahim a.s di Surga) Kalau tidak Melalui Aku”
    Selanjutnya jika Ajaranku kamu dustai lagi maka.
    Nabi Isa a.s bersabda:
    ” Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS 61:6)

    Fakta:
    Nabi Ibrahim a.s = Imam seluruh manusia (Imamnya Yahudi, Nasharni, … Muslim)
    Nabi Ibrahim a.s = “BAPAK” nya para nabi penerima wahyu (Zabur, Taurat, Injil, Al Qur’an)
    ————————–
    Bukti lain Imam disinonimkan sebagai “BAPAK” dan atau “Suami” dan atau “Kepala rumah tangga”,
    Allah berfirman di Surat Al Furqan 74:
    “Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’ (QS 25:74)

    Wassalam.

    @
    Assalamu’alaikum .ww.
    Kalau tak salah, Nabi Isa menyebut Bapa sebagai relasi terhadap Allah, bukan kepada Nabi Ibrahim a.s.

    Namun bagaimanapun, semua Rasul datang kepada ummat manusia dengan pesan yang sama : mentauhidkan Allah… :D
    Wassalam, agor

  21. haniifa said

    Salam,
    Maaf mas agor saya menurut pemahaman dari Surat Al Ikhlas. Sementara konotasi pemanggilan “Bapa” hanya untuk “Manusia” sebagai kehormatan.
    Biar tidak salah presepsi buat saya Nabi Isa a.s “Tidak sama dengan” Tuhan Yesus.
    Wassalam.

    @
    Salam kembali,
    Ya.. betul… hanya saya lupa … kalau tak salah sebutan itu terkait dengan struktur bahasa pada masa itu (Ibrani).
    Saya lupa persisnya mengapa kata Bapa dipakai. Namun, betul kata Mas, kata ini juga melahirkan pendekatan anak. Di sini ada perbedaan antara Kristen dan Katolik, berbeda juga dengan Nasrani…. Wah… saya tidak kompeten di sini dan pembahasan ini berkecenderungan menyangkut dimensi pelajaran teologi serta pandangan-pandangan yang begitu berbeda pada sisi keberagamaan. Saya tidak ingin membahasnya lebih mendalam, meskipun saya sempatkan membaca beberapa hal dalam kitab Injil….. Jadi, mohon maaf betul …, wassalam, agor :D

  22. erander said

    Apa yang mas Agor uraikan diatas, hampir sama dengan apa yang menari-nari dalam benakku. Bahkan, kemarin aku sudah akan mempostingan tulisan senada dengan judul ‘Sulit-nya masuk surga’ tapi oleh sahabat ku disarankan untuk tidak dipostingkan. Karena kesannya pesimis dan bisa menimbulkan negative thinking.

    Jika dianalogikan bahwa apakah manusia ditakdirkan masuk neraka, maka tentu akan sulit bagi manusia untuk masuk surga jika tidak benar2 berusaha keras untuk meraih surga. Artinya .. jika terlahir didunia, kemudian leha2 saja, bisa dipastikan masuk neraka.

    Sudut pandang saya sedikit berbeda dengan mas Agor. Tapi pada intinya sama. Saya masih memerlukan waktu untuk menimbang-nimbang apakah diposting atau tidak. Syukurlah .. mas Agor sudah memulainya. Nanti kalo saya sudah siap, saya akan tulis dari sudut pandang saya.

    @
    Yang jelas… apapun wacananya, adalah fenomena akal sebagai karunia Allah kepada kita (sekaligus ujian). Saya tunggu postingannya… Salam.. :D

  23. [...] K = 22/7 D (Penulisan bahasa komputer) Kenyataan: Masih banyak orang menolak bahwa pi=22/7 Contoh lain [...]

  24. Shuzhy@Chi_Chi said

    Assalamu’alakum wr.wb.
    Salam sejahtera untuk sahabatku sekalian.
    Saya pengen bertanya sama saudara2 sekalian, tolong yang tau cepet dijawab ya!!

    Apakah semua orang akan merasakan neraka?
    Saya bingung karena saya pernah baca kok kalau timbangan amal kita lebih berat walaupun sedikit maka kita akan masuk surga. Apakah betul itu. Tidak terkecuali kalau Allah swt yang menghendaki semua itu. Apa kita dibersihkan dulu dosa2 kita yang pernah kita lakukan semenjak di dunia atau langsung masuk surga.

    Satu pertanyaan lagi apa orang muslim yang semasa hidupnya melakukan perzinaan waktu muda dengan sesama muslim atau non muslim itu juga masuk neraka kah! dan apa hukuman di neraka nanti tolong penjelasannya seperti penggambaran?

    Terima kasih.

    @
    Wass.wr.wb.
    Saya tidak begitu mengerti. Yang saya pahami, kalau anak kecil, putih bersih belum ada dosa, insya Allah masuk ke surga tanpa hisab. Begitu juga dikisahkan pada yang meninggal di jalan Allah, mati syahid. Termasuk juga ibu yang meninggal karena melahirkan…
    Dan tentu saja, Allah maha pengampun. Karena itu, jangan pernah berputus asa atas rahmat dan karuniaNya.

    Manusia tempatnya salah dan lupa… bukan karena amal kesalehan maka seseorang masuk surga, tapi karena rahmat dan ampunanNya. Sejumlah hadis dan pada AQ menjelaskan selalu permohonan ampun dilantunkan pada setiap kesempatan.

    Wass.

  25. Shuzhy@Chi_Chi said

    Ngawor kamu?! kata siapa semua orang masuk surga!
    Ah kamu nglantur!!
    Hanya orang yang sinting yang bilang kayak gitu!!!
    Tiada yang tau kecuali Allah Ta’ala.

    @
    Ada banyak diskusi dan perdebatan mengenai hal ini. !.

  26. Ayruel chana said

    Neraka diciptakan….berarti hakikatnya tidak ada.setelah diciptakan maka ada lah dia.kita wajib meyakininya ada.

    Seorang Pencipta …:tentu harus mempunyai hak Kuasa pada ciptaannya.mau dia apakan kek …ya urusan dia.

    Kalau begitu pencipta diktator donk?

    Kata2 diktator hanya kejam bagi pengertian sehari2 manusia.
    (IMAM GHOZALI IS THE BEST)
    sedang bagi sang pencipta dia yaf’alu ma yasa'(berkehendak semaunya : Diktator)

    AGOR…..Yang dipertanyakan bukan :Adakah Manusia Ditakdirkan Masuk Neraka?
    Tapi ….Memangnya ada manusia yang tahu dia akan masuk neraka atau masuk surga?

    Kalau ingin tahu……Berusahalah sampai anda tahu.
    dengan cara: Mengerjakan perintahnya atau tidak.
    Atau : Meninggalkan larangannya atau tidak.

    Niscaya kita akan tahu di kemudian hari…

    Kesimpulannya : ALLAH pasti mengetahui siapa yang masuk syorga/ neraka.
    Akan tetapi kita tidak mengetahuinya.

    SELAMAT BERUSAHA UNTUK MENGETAHUI TAKDIR ANDA….

    @
    :D hanya untuk direnungkan ….

  27. haniifa said

    Salam,
    @Shuzhy@Chi_Chi
    Untuk menjawab pertanyaan mas, coba baca lagi komen No:1 (@mas Zal) saya kira cukup jelas. Tapi nggak ada salahnya saya menambahinya…

    “Yaa ayyuhannafs al mutmainnah..” (QS 89:27)
    ———————————–
    Firman Allah dalam Surah Al Fajr 27 s/d 30.
    27. Hai jiwa yang tenang.
    28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
    29. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,
    30.
    dan masuklah ke dalam surga-Ku.

    Ditakdirkan manusia “keturunan Nabi Adam a.s” sebagai penghuni Surga bukan berarti seluruhnya manusia tapi tergantung pilihan jalanya takdirnya.
    Misalnya ditakdirkan laki-laki berpasangan dengan wanita, tapi kenyataannya banyak kaum laki-laki memilih teman sejenis (homo sex), kalau kemudian si “homo” kelak masuk neraka, bukan berarti dia tidak di ilhamkan jalan menuju surga.
    Sebaliknya kalau si “homo” kelak masuk surga, mungkin saja saat di ilhamkan ketaqwaan dia ber”taubat” kepada Allah dan jadi Muslim yang sholeh.
    Bukankah Allah Maha Penerima Taubat ??.
    Wasalam.

    @
    Penjelasan yang cantik. Subhanallah.

  28. Anonymous said

    Ass.wr.wb, sdr Shuzhy,
    Ada juga yg mengatakan bahwa, setiap yg beragama islam akan masuk surga padahal banyak diantara mereka yg berbuat fasik.
    Banyak juga dari mereka-mereka ini yg tidak diterima.
    Jadi neraka dan surga itu adalah pilihan dari setiap individu.
    Mohonlah kepada Allah S.W.T agar anda tidak sesat.
    Buka kedua belah tangan menyentuh satu tangan dengan yg lain dan jangan berpisah kenapa? kedua belah tangan mempunyai 10 jari setiap jari mempunyai karakter Allah S.W.T yg maha Agung.
    Kalau kedua belah tangan dibulatkan keatas dan menyatu, itulah yg menjunjung Arsy Allah S.W.T.
    InsyaAllah agar setiap manusia akan sadar,kita semua akan bertemu dengan Dia, siapkanlah diri.

    Wassalam,Dono.

    @
    Semakin terjelaskan. Insya Alla
    h.

  29. [...] begitu, karena semua atas kehendakNya, mengapa kelak dimasukkan ke dalam neraka dunk kalau berbuat salah dan mengingkariNya.  Bukankah pengingkaran juga atas kehendakNya?.  Jawaban [...]

  30. ihsan said

    salah kalau ada org yg mengatakan manusia ada yg ditakdirkan ke neraka. kalau ditakdirkan, semenjak lahirpun dia sudah ditakdirkan masuk neraka. itu tidak benar, yg ada hanya dipastikan masuk neraka. siapakah mereka? yaitu orang2 yg tak pernah mau mengikuti perintah Allah. banyak ayat2 al-quran yg mengatakan bahwa siapa saja yg mengikuti perintah Allah dan rasul2nya, dijamin Allah pasti akan menjadi penolong orang2 tsb diakhirat. lalu apakah mungkin setelah Allah mengatakan demikian kemudian Allah juga mengatakan “manusia ada yg allah takdirkan semenjak dari rahim ibunya masuk kedalam neraka? mungkinkah? tak mungkin kan.

  31. ihsan said

    adalagi ayat alqur,an yg mengatakan bahwa semenjak dalam rahim ibunya tiap2 manusia diminta sumpahnya oleh allah bahwa Allah lah tuhan yg satu2nya tiada lagi selain Allah. lalu setelah Allah mengatakan demikian apakah mungkin Allah berkata pada janin tsb,”kamu saya takdirkan masuk neraka” mungkinkah? tak mungkin kan.

  32. abu hanan said

    assalamu alaikum…
    indahnya sebuah jalan yang bernama “pilihan”…tergantung dari sisi mana kita melihat “pilihan” tetap akan menemui sebuah benteng yang bernama qodlo dan qodar…
    wassalam

  33. Icha said

    bismillahirrahmanirrahim..

    Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan (berlaku) zhalim atas diri-Ku dan Aku menjadikannya di antaramu haram, maka janganlah kamu saling menzhalimi. Wahai hamba-Ku, kamu semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kamu minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Kamu semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kamu minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, kamu semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kamu minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu melakukan perbuatan dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kamu. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu tidak akan dapat membinasakan Aku dan kamu tak akan dapat memberikan manfaat kepada Aku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir diantaramu, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antaramu, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun, jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kamu, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya itu semua adalah amal perbuatanmu. Aku catat semuanya untukmu, kemudian Kami membalasnya. Maka siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah dan siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri”.

    jadi sudah tertulis bukan bahwa Allah walaupun mampu menakdirkan manusia masuk neraka tapi bukan Allah penyebabnya karena Allah mengharamkan (berlaku) zhalim atas diri Allah dan janganlah sekali-kali manusia menyalahkan Allah kecuali dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak akan pernah berbuat aniaya terhadap hamba2nya. Allah tidak memnberikan cobaan di luar batas manusia.

    ada golongan mengatakan kekufuran itu datangnya dr Allah, padahal dengan mengatakan spt ini apakah kelak ucapan ini tidak dipertanggung jawabkan? adakah ayat atau firman Allah yg mengatakan bahwa keburukan datangnya dr Allah ? bukankah 99 nama Allah adalah nama paling baik?
    sejauh yg saya tahu, tidak ada satu ayat pun dalam al-qur’an yg memastikan bahwa dengan kekuasaan Nya, Allah berlaku dengan seweang-wenang meskipun Allah Maha Kuasa .Tapi tidak perlulah bagi Allah menciptakan neraka hanya untuk main2 dan kesenangan belaka. Tidak perlulah bagi Allah menciptakan neraka dan surga sebagai tempat kekal untuk manusia sebagai ajang memperlihatkan kekuasaannya.

    Bukankah sudah ditegaskan sebelumnya bahwa Al-qur’an adalah pemberi peringatan dan bukan olok2an atau syair di dalamnya. memang benar kalo takdir sudah diciptakan jauh sblm manusia itu hidup dan tersimpan dalam lauhul mahfuz. Tapi jika Allah benar menciptakan manusia untuk ditakdirkan masuk neraka, bukankah dengan kata lain Allah menyengsarakan dia? padahal Allah mengharamkan bersifat zalim atas diri-Nya. Allah itu tidak akan pernah berbuat aniaya kepada hambanya, maka pasti BENAR bahwa Allah tidak berbuat aniaya. itu tertulis dalam al-qur’an dan adakah manusia meragukan sifat Allah dan firman Allah yang maha pengasih , maha pengampun lagi maha penyayang?

    Allah itu maha adil, jadi mungkinkah Allah menakdirkan manusia masuk neraka hanya karena Allah yang menakdirkan sejak awal neraka untuknya?jika ada yg beranggapan iya, maka saya bertanya sejauh mana anda mempercayai Allah? Allah mengatakan tidak menganiaya hambanya dan tidak memberi cobaan di luar batas kemampuan mereka, apakah anda ingin mengatakan bahwa Allah telah berdusta?

    Bukankah Allah terus menegaskan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Janganlah kamu sekali-kali mati dalam keadaan kafir, pertanyaannya kenapa Allah terus memperingatkan kita jika memang sejak awal hanya orang2 yang ditakdirkan masuk surga saja yang masuk surga dan sisanya masuk neraka?
    mari sama2 di renungkan..

  34. Icha said

    ini ayat untuk referensi yg saya pakai :

    “Allah tiada pernah menzalimi manusia sedikitpun.” (QS Yunus [10]:44). Jika hamba-Nya itu berbaik sangka kepada-Nya dan berusaha dengan amal shaleh, maka Allah akan memberi suatu penghidupan yang baik kepadanya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An Nahl [16]:97)

    “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Padanya (ada) malaikat yang keras dan kasar dan mereka tidak bermaksiat kepada Allah terhadap segala yang diperintahkan dan mereka melakukan segala apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

    “Dan aku tidak bisa melepaskan diriku. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan untuk berbuat jahat kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53 )

    “Apa yang menimpamu berupa kebaikan maka datangnya dari Allah dan apa yang menimpamu berupa kejahatan datangnya dari dirimu sendiri.” (An-Nisaa: 79)

    “Dan barangsiapa melakukannya maka sungguh dia telah mendzalimi dirinya sendiri.”(Al-Baqarah: 231)

    “Sungguh telah datang kepada kalian hujjah dari Rabb kalian. Maka barangsiapa melihatnya untuk dirinya sendiri dan barangsiapa buta darinya atasnya dan aku bukan sebagai penolong atas kalian.” (Al-An’am: 104)

    “Katakan wahai sekalian manusia, telah datang kepada kalian kebenaran dari Rabb kalian. Maka barangsiapa mendapatkan petunjuk untuk dirinya dan barangsiapa yang sesat, maka dia tersesat atas dirinya sendiri dan Aku bukanlah pembela atas kalian.” (Yunus: 108)

    Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw berkata, “Allah Azza wa Jalla berfirman dalam hadish qudsi, ‘Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku senantiasa bersamanya selama ia mengingat-Ku.’” Rasulullah melanjutkan, “Demi Allah, Allah SWT lebih senang menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang diantara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang ketika ia sibuk mencarinya kesana dan kemari, secara tiba-tiba unta itu muncul dihadapannya. Allah, Azza wa Jalla berfirman, ‘Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan siapa saja yang mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.’” (Muafaqun Alaihi)

    jadi sekalipun ada takdir buruk bukan berarti benar2 buruk spt ditakdirkan masuk neraka sejak awal, bs jadi takdir buruk itu juga untuk kebaikan manusia supaya dia mengingat kembali Allah dan kekuasaan Allah yang tidak terbatas oleh apapun.

    “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas dimuka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS Asy Syuura [42]:27)

    tap adakah makhluk yg sanggup memikul takdir masuk neraka jika memang sudah ditetapkan? bukankah itu di luar batas kesanggupan? apa benar Allah sejak awal telah menetapkan orang yg ditakdirkan menjadi musuh Allah? Lalu kenapa Allah membenci dan marah terhadap orang2 kafir padahal itu sudah menjadi ketetapan-Nya? kenapa Allah melaknat sesuatu untuk sesutau yg ditakdirkan atas orang tsb?

    Saya mempercayai Allah dan wajib meyakini 100 %, tetapi saya mempercayai juga firman Allah dan sifat asmaul husna Allah jd saya meyakini kebaikan Allah SAW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: