Alam Semesta Dibentuk Dari Asap – Bukan dari Teori Bigbang !?
Ditulis oleh agorsiloku di/pada Oktober 13, 2007
Sampai sekarang, jujur saja, saya masih bingung dengan yang namanya teori bigbang. Teori sejagat yang menjelaskan singularitas awal kejadian bahwa alam semesta mulanya satu padu kemudian blas mengembang jadi alam semesta ini sampai tercapainya kesetimbangan seperti saat ini. Teori bigbang dibenarkan oleh pesan Allah melalui ayat ini :
QS 21. Al Anbiyaa’ 30. Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Ini adalah ayat yang membenarkan awal terjadinya alam semesta. Lihat kata, dahulunya “satu padu”. Menjelaskan hal ini.
“Iya deh….”
Namun, ayat lain menjelaskan :
QS 41. Fushshilat 11. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” 12. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Jadi, kalau dahulunya masih merupakan asap, gimana dengan teori bigbang-nya? Apakah asap itu maksudnya seluruh isi alam semesta yang berupa partikel-partikel alam semesta (asap) yang kemudian mendingin setelah kurang lebih setengah juta tahun setelah dentuman besar terjadi.
Lha kalau begini ceritanya (teorinya), berarti asap alias partikel-partikel itu terbentuk dari satu dentuman besar ke segala arah. Lalu, kapan seeh partikel yang saling menjauh itu itu kemudian bergabung?
Jadi mustinya nggak gitu lah. Jadi mustinya teori bigbang itu salah dunk (gile nih… masa teori yang sudah top begitu di bilang salah karena nggak sesuai dengan logika begok begini !, apalagi agor sudah diajari teori bigbang ini sejak smp dulu, terus para ulama dan cerdik pandai sadunia paling doyan juga mengutip teori ini sebagai bukti kebenaran Al Qur’an)
Yah… ini juga bikin bingunglah…. kalau partikel-partikel pembentuk alam semesta itu terpencar ke segala arah akibat dentuman besar…. maka partikel-partikel itu sejak dari awal satu sama lain saling menjauh dong… bukannya mengumpul kemudian membentuk padatan yang jadi galaksi, jadi tatasurya, jadi planet. Alasan lainnya, terdapat deteksi bahwa alam semesta mengembang ke segala arah dan distribusinya relatif merata, tidak bertepi. Jadi keraguan pada teori ini juga membesar.
![]()
Puyeng eman, soalne kita selalu dijelaskan bahwa dentuman besar itu berawal dari satu titik super padat dan kemudian blas, alam semesta mengembang. Jadi ada satu titik awal pengembangan alam semesta. Penjelasan ini sering dibahasakan dengan memberikan ilustrasi seperti balon yang di beri titik-titik lalu ditiup. Balon itu mengembang dan titik-titik itu saling menjauh satu sama lain. Penjelasan ini membuat kita keblinger karena bumi kita berada di salah satu tepi alam semesta dan akan terus mengembang sejak pertama kali 13,7 milyar tahun lalu. Teori ini setidaknya tidak lengkap menjelaskan mengapa terdeteksi bintang satu dengan lainnya bergerak saling menjauhi.
Kata jagoan peneliti, emang seeh, alam semesta itu meluas. Tapi nggak seperti bigbang yang diceritakan itu. Selama kurang lebih satu juta tahun yang lalu sampai kini meluasnya alam semesta kurang lebih 5% saja dari ukuran sebelumnya.
Namun, menjelaskan alam semesta seperti balon yang ditiup, menyebabkan juga orang berpikir bahwa alam semesta dahulunya memiliki satu titik awal (titik yang disebut dentuman besar, sebagai kejadian penciptaan yang sesuai dengan ayat-ayat dari Allah SWT). Sesuai atau menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dengan aya-ayat Al Qur’an adalah satu kenicayaan tersendiri. Ilmu pengetahuan bergerak dinamis dan memunculkan pengetahuan baru yang tak habis-habisnya. Boleh jadi, di kesempatan berikutnya, model-model alam semesta yang dikembangkan berubah karena fakta-fakta kemudian menunjukkan bahwa ternyata titik awal dentuman besar itu masih meragukan. Alam semesta tidaklah memiliki titik awal seperti teori bigbang itu. Teori yang menjelaskan adanya distribusi materi yang merata di alam semesta. Jadi, kalau alam semesta tidak memiliki titik awal, tapi langsung bleg begitu saja, yang Al Qur’an jelaskan dimulai dari kata :”… ketika itu masih berupa asap..” dan tidak ada yang disebut pusat alam semesta, atau boleh jadi yang kita sebut bigbang itu sendiri sebenarnya hanya contoh untuk satu galaksi saja, maka cara berpikir kita mengaitkan Al Qur’an dengan perkembangan ilmu pengetahuan perlu juga ditinjau ulang. Jadi masih ada lagi ribuan atau jutaan bigbang yang terjadi….
Tapi, ini juga repot juga seeh… soalnya di kepala kita sudah tertanam pengetahuan ini sejak kecil. Kepala kita telah dibius teori bigbang, sehingga agak sulit juga yah… menerima pemahaman baru bahwa alam semesta itu tidak harus dimulai dari bigbang.
Tapi … plis deh… jangan mudah jump to conclusion. Ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang proses penciptaan adalah bench mark terhadap ilmu dan pengetahuan, sedangkan pengetahuan manusia terhadap proses penciptaan adalah tahapan proses berpikir dan merumuskan karya besar Sang Pencipta.
Jadi, maksud ane… nih… para ustad yang bicara bigbang juga hati-hati juga deh, lirik sana-sini dulu sebelum meyakinkan ummatnya bahwa pernyataan Al Qur’an sesuai dengan terori dentuman besar. Mbok teori ini juga cuma salah satu dari sejumlah model alam semesta. Dan model ini juga, tampaknya mulai banyak juga yang meragukannya. Jadi belum tentu kebenarannya. Paling nggak harus dijelaskan bahwa ada beberapa model untuk menjelaskan alam semesta
![]()
Perjalanan manusia untuk memahami alam semesta itu memeng berkembang terus dari masa ke masa. Dahulunya manusia menganggap bumi sentris, meski sampai sekarang saja perdebatan yang lucu ini masih juga terjadi, ketika kita memahami Pusat berada juga pada konteks fisis. Dan kita “keukeuh” dengan keyakinan ini, lalu menutup diri terhadap alternatif berpikir yang lain. Namun, tentu selalu diharapkan ummat beriman juga berilmu mengembangkan keduanya dalam satu keselarasan keniscayaan, sehingga benarlah apa yang disampaikan Allah : QS 3. Ali ‘Imran 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Catatan hari lebaran 2 Syawal 1428H
Tambahan.
Penting pula untuk diperhatikan bahwa penjelasan wiki Indonesia mengenai bigbang mungkin perlu dipertanyakan kebenarannya. Pada wiki dijelaskan bahwa pada bigbang ada sejumlah materi yang terlontar membentuk alam semesta sekarang ini (?). Penjelasan ini diluruskan oleh Mas Kuncoro, mengenai kesalahan persepsi mengenai konsepsi Bigbang. Jelas dalam uraian tersebut, bahwa bigbang adalah proses singkat yang membentuk ruang dan waktu. Jadi bukan materi yang bervolume nol dan berekspansi menjadi materi sekarang ini, namun ledakan bigbang melahirkan pancaran energi yang terdistribusi merata di alam semesta yang terbentuk. Kemudian melalui proses pendinginan terbentuk materi dan bla..bla..bla…














rd Limosin berkata
oooohhhhh….
@
Stefano Al-Biruni berkata
Assalamu’alaikum sahabat,
Alam semesta terbentuk seperti membuka kertas-kertas yang tergulung, tersurat dalam Al Anbiyaa’ 104 :
104. Pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran – lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.
Saya pribadi tentu tidak percaya begitu saja pada teori Dentuman Besar (Big Bang)-nya Prof. Stephen Hawking, saya sangat mempercayai bahwa alam semesta terjadi ‘wush…’, begitu saja. Saya sangat percaya bahwa alam semesta, termasuk bumi dan makhluk-makhluk di dalamnya sebagai objek-objek yang ‘digital’. Sesuatu yang digital dapat dengan mudah dibuat dan dimusnahkan, bahkan dengan mudah pula dapat dikembalikan (di-recovery). ALLAH SWT telah menuliskan rumusan alam semesta pada ‘database teramat besar’, Lauh Mahfuzh. Dari semua rumusan yang ada, rumusan tentang bumi merupakan yang paling lengkap, karena bumi merupakan fokus penciptaan. Rumusan ini berkenaan dengan bulannya bumi, langit (atmosphere) bumi, bumi itu sendiri dan yang terpenting adalah makhluk hidup di dalamnya. DNA setiap makhluk, sampai pada jumlah dan struktur selnya tersimpan rapi pada Lauh Mahfuzh. Dan yang menggetarkan hati adalah setiap perilaku kita dan juga dampaknya tersimpan teramat rapi di dalam Lauh Mahfuzh. Itu sebabnya di hari kemudian kelak, berdasar pada isi Lauh Mahfuzh, sangat mudah bagi ALLAH SWT untuk me-recovery (membangkitkan) tubuh kita dan menunjukkan prestasi kita, menghitung nilai finalnya sampai pada menentukan sisi mana hak kita, surgakah atau neraka jahanam.
Begitulah, mudah-mudahan bermanfaat.
@
Wass.wr.wb Sahabat.
Teori Dentuman Besar adalah salah satu model dari perjalanan pengujian dan berpikir manusia, menjelaskan tentunya mengapa objek-objek dalam satu gugusan galaksi saling menjauh dengan kecepatan tinggi, bahkan hasil penelitian membuktikan bisa sampai dua pertiga kecepatan cahaya. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan untuk memahami ayat-ayat Allah berkembang terus, penelitian berikutnya mungkin model kuantum tentang asal mula jagat raya lebih menjelaskan dan lebih tepat disandingkan dengan ayat-ayat Allah mengenai awal penciptaan untuk suatu masa dan mungkin akan semakin dipahami di masa depan apa yang telah dikreasikan Sang Pencipta.
Bisa juga, kalau para ulama juga adalah saintis, maka memahami “bench marking” Al Qur’an akan jauh lebih jernih ketika model alam semesta dibangun. Saya percaya akurasinya akan lebih dipercepat terpahami jika acuannya tidak hanya murni perkembangan ilmu pengetahuan….
Salam, Mas Stefano, terimakasih sudi berkunjung ke blog ini. Saya telah berkunjung ke blog sampeyan. Nice blog. Wass, agor.
Stefano Al-Biruni berkata
Disela kesibukan, saya selalu berkunjung ke blog mas Agor ini. Diskusi mengenai agama dan sains sangat saya minati. Terimakasih juga sudah berkunjung ke blog saya yang sederhana dan jarang di-update itu.
Saya sebetulnya agak khawatir kalau ada orang yang menyangka bahwa saya menganut paham “Matahari mengelilingi bumi”.
Apa yang saya sampaikan bahwa alam semesta yang ‘wush…’, ‘terjadi begitu saja’ didukung oleh temuan yang tergolong baru. Nyari pendukung ya?
. Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP) pada bulan Maret 2006 menemukan fakta bahwa alam semesta ini dibangun hanya dalam waktu sepertriliun detik saja . Hanya dalam sepertriliun detik alam semesta tiba-tiba saja seukuran astronomis dari yang tidak ada sebelumnya. Bila yang terjadi saat itu adalah BigBang tentulah kecepatan materi yang terlontar dalam sepertriliun detik itu sangat-sangat luar biasa cepatnya, jutaan kali kecepatan cahaya bahkan melebihinya. Bagaimana mungkin?
Sepertriliun detik jagat raya ‘bleg’ langsung jadi, itu berarti lebih cepat dari kedipan mata yang sedang kelilipan. Makanya saya lebih memilih ‘bleg’ langsung jadi dan tetap mengembang sebagai efek ‘membuka gulungan lembaran-lembaran kertas’.
@
Ketika membaca mengenai penciptaan :”.. membuka gulungan lembaran-lembaran kertas..”, saya hubungkan ini dengan model Alam Semesta tentang dentuman besar. Klop juga, karena singularitas pertama dari dentuman besar juga seperti membuka gulungan kertas, dan bumi berada pada satu titik di dalam gulungan kertas yang membuka itu. Ini juga sesuai dengan pernyataan :”… dahulunya langit dan bumi adalah suatu yang padu…” maka cocoklah dengan teori bigbang itu, ada awalnya, lalu blas menjadi menjadi teori bigbang dalam waktu tidak sampai satu detik. Kalau pun disebut hanya sepertrilyun detik. Yah… inipun masih oke-oke saja sampai adanya kesetimbangan baru seperti saat ini atau sekian juta tahun yang lalu setelah dentuman pertama.
Namun, ketika mencoba memahami asap dari surat 21:30 dan titik pusat, saya rada ragu. Dimanakah pusat alam semesta itu?. Apalagi pengembangan alam semesta itu dijelaskan seperti balon yang ditiup. Jadi mustinya ada titik pusat berupa ruang kosong yang luar biasa besarnya karena materi alam semesta meledak dan kini kita berada di tepi alam semesta. Kenyataannya ini tidak ada, distribusi materi alam semesta relatif merata (materi, anti materi, dan materi gelap). Jadi lebih tepat dikatakan, teori bigbang itu menjelaskan adanya pengembangan alam semesta sekali jadi — bleg — bukan dari satu titik pusat ledakan (jadi tidak meledak ..
). Mulailah ada keraguan, teori bigbang yang sudah top itu menjadi “teori bimbang”. Ternyata memang, beberapa referensi menunjukkan bahwa alam semesta tidak punya pusat. Artinya tidak ada satu titik di alam semesta ini yang bisa dijadikan acuan bahwa pusat alam semesta itu ada. Prinsip kosmologis bahwa alam semesta ini homogen dan isotropik tidak terjelaskan dari teori dentuman besar ini. Jadi kalau begitu, teori ini hanya separuh benar saja.. Dentuman besar juga akan melontarkan materi ke segala arah dengan kecepatan tinggi. Artinya juga semua partikel itu akan terlontar dengan kecepatan tinggi dan saling menjauh. Lalu kapan mengembunnya, kapan saling mendekatnya membentuk gumpalan sehingga terbentuk gugusan galaksi dan bintang-bintang sampai tata surya. Ini juga tidak akan terjadi kalau alam semesta terbentuk dari satu ledakan super dahsyat.
Jadi, ayat yang menyatakan :”…langit dan bumi suatu yang padu kamilah pisahkan keduanya..” (21:30) bukanlah pembenaran dari teori bigbang.
Kalau begitu, para ustad itu, sudah waktunya pula merevisi cara berpengetahuan untuk menjelaskan ayat-ayat alam semesta yang selama ini dipahami….
ipk4cumlaude berkata
Menarik sih tapi lieur ah…
@
Saaammmma….
charly berkata
bingung….
pasti.
bimbang…..
jangan.
@
sebuah proses, pemahaman, mencoba mengerti, tentulah dalam kebimbangan logika. Yang jangan, tentu juga terpahami…
El Za berkata
Assalamualaikum Wr wb.
Saya ingin berpuisi nih, boleh kah?
‘
Semua bertawaf..
partikel berputar sebagai spin
elektron dengan positron
permukaan bumi kepada inti bumi
permukaan planet kepad ainti planet
permukaan bintan kepada inti bintang
planet kepada matahari
tata surya kepada galaksi
galaksi kepada super galaksi
ketika sebuah gulungan dibuka maka meluaslah dia
ketika zarrah berputar maka menarik semua yang ada di sekelilingnya
membentuk benda-benda di langit
tawaf.. semua tawaf..
tunduk kepada Sang Pencipta
dalam aturan yang serapi-rapinya.
walaupun tiada berotak ataupun berakal
alangkah mudahnya memusnahkan manusia
hanya dengan sebuah mahluk bersel satu
atau seekor nyamuk atau guncangan yang dahsyat
tetapi Bumi dikehendakiNya terpelihara setiap detiknya.
Bumi.. jika terlalu jauh akan beku dan jika terlalu dekat akan terbakar
sejauh mata memandang, hanya bumi yang berkehidupan.
satu unsur kehidupan saja hilang, maka musnahlah kehidupan.
air, udara, perisai bumi, rotasi bumi, mineral tanah, revolusi bumi terhadap matahari.
sesaat saja bumi berhenti berputar, terpental segala yang ada di pemukaan bumi termasuk atmosfir
semenit saja bumi berhenti berputar, separuh muka bumi meleleh separuh muka bumi membeku
Manusia… alangkah sombongnya manusia..!!
‘
Wassalamualaikum wr wb.
@
. Wass.wr.wb
Wass.Wr.wb.
Thawaf menjadi gerakan dari putaran alam semesta pada setiap orientasinya. Puisi yang begitu membutuhkan banyak perenungan. Di kejap lain, saya jadikan postingan ya…
Iwan Awaludin berkata
Gitu aja koq bingung. Kalo ngga sampe ilmunya, ya udah tinggalkan saja. Jadi manusia ngga usah bingung-bingung kalo berurusan sama Tuhan. Disuruh, ya kerjakan. Dilarang, ya tinggalkan. Dijelaskan sedikit, ya ngga usah di ilmiah-ilmiahkan. Nanti malah tambah pusying.
Peace.
@
Rasa-rasanya ayat-ayat al Qur’an menyuruh kaum beriman untuk menelaah isi alam semesta, melintasinya jika mampu… Pusyingg…. betul, tapi di situ juga kan keasyikannya. Seperti juga Mas Iwan lakukan…
ech berkata
sedikit komentar untuk stefano (#2 & #3),
Artikel yang dimaksud adalah pendukung model inflasi . Jika kita mengamati perkembangan ilmu kosmologi, model penciptaan ala “bigbang” masih belum cukup untuk menjelaskan mengapa alam semesta tercipta seperti ini. Dibutuhkan skenario tambahan, yaitu model inflasi tadi. Jadi hasil penemuan WMAP diatas tidak membuktikan bahwa alam semesta terjadi ‘wush’ begitu saja.
dalam Alqur’an ayat lain dikatakan:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy” (Al A’raf:54)
Yang kalau boleh ditafsirkan secara bebas, dalam alqur’an pun di jelaskan secara explisit bahwa proses penciptaan alam semesta membutuhkan waktu (bukan sekejab mata).
@
hm… saya memahami “wush” itu adalah quark-quark… asap yang terpahami berada pada posisi ada dan tiada… asap itulah yang membentuk alam semesta, ruang dan waktu, sesuai tahapannya. Datang dari ada dan ketiadaan, masih begitu sulit saya memahaminya juga. Al Qur’an tidak menjelaskan asap itu muncul dari mana…
Stefano Al-Biruni berkata
‘Wush’ yang saya maksud memang berkenaan dengan asal mula jagad-raya saja, saya sangat setuju dengan mas Ech bahwa jagad-raya dalam perkembangannya membentuk galaksi2, bintang2 dan planet2 membutuhkan waktu. Beberapa hari lalu saya tertarik membuka kembali buku “Lubang Hitam dan Jagat Bayi”-nya Prof. Stephen Hawking terbitan Gramedia 1995, termasuk di dalamnya membaca teori inflasioner. Pendapat saya ternyata masih sama bahwa asal mula jagad raya bukanlah ‘Big Bang’. Saya pribadi memang agak penasaran dengan ayat ‘menggulung lembaran-lembaran kertas’. Saya pernah mencoba menggulung vertikal beberapa puluh lembar kertas HVS, kemudian mendirikannya di atas meja. Bentuk lembaran-lembarannya tepat sama dengan gambar galaksi berbentuk spiral. Bisa jadi ini jawaban dari pernyataan Prof. Hawking di buku yang sama halaman 90, “sains dapat membuat prediksi bahwa jagad raya pasti mempunyai awal, tetapi tidak dapat memprediksikan bagaimana jagad raya semestinya dimulai: Untuk itu orang harus bertanya kepada Tuhan.”.
Terimakasih untuk mas Ech atas koreksi kalimat dan komentarnya yang baik.
@
trims penjelasan tambahannya… Buku Oom Stephen itu, bersama Riwayat Sang Kala… sudah susah dicari di Gramedia, mustinya sudah diterbitkan kembali…
sulton berkata
Hanya ALLAH yang maha mengetahui segalanya
@
Amin… kita tidak setitik debu untuk dapat memahami ilmuNya….
tia berkata
g ngerti! dr sd sy sdh diajarkn bahwa awalmul almsmsta tu dr teri bigbang, dr mulai materi ll dpertegas dg prktek ya sy pcy ja ma bigbang. ttp stlah mmbca al-qur’an (terjmahan) sy mlai rg dg kbnran bigbang…? ttap yakin dg kbsaran allah mciptkan jgad rya. he…he…he…
@
Sama Mba Tia… saya juga ragu dengan teori bigbang ini, yang telah menjadi “kebiasaan” para ahli agama untuk mencari pembenaran tentang kebenaran Al Qur’an terhadap sains….
kustanto berkata
maaf, saya jadi bingung…
sebenarnya alam semesta ini dibentuk dr asap, big bang, kertas atau apa ya?
terus kl kita konsisten ikuti terjemahan scr harfiah,maka katanya bintang-bintang adalah hiasan dari langit…
Kasihan donk NASA sdh keluar byk duit u/teropong bintang ini itu, dgn asumsi ada planet yg seperti bumi…
Terus apakah teori kertas,asap,big bang sudah final? Saya khawatir apabila kita main comot ayat ini untuk dukung hipotesa/teori kita,maka apabila ternyata suatu saat ada temuan baru kan gawat untuk citra agama kita…
Kalo ng salah suatu teori dianggap benar sepanjang belum ditemukan teori baru…
Jadi mungkin sebaiknya kita bersikap bijaksana dan berpikir panjang sebelum mencomot ayat-ayat suci untuk mendukung suatu teori…
tanggung jawabnya besar lho mas.
@
Mas Kustanto,
Soal alam semesta dibentuk dari asap, seperti yang disampaikan Allah melalui kitabNya :”… masih berupa asap….” (QS 41:11).
Apakah asap itu?, seperti asap pembakaran, seperti asap rokok ataukah dipahami sebagai butiran-butiran molekul yang berjarak satu dengan lainnya. Sedangkan bigbang, oleh para ahli agama dikaitkan dengan sains kerap dikaitkan dengan ayat (QS 21:30) “…. orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian …”
Memahami teori bigbang kemudian pengertian satu padu sepertinya cocok bahwa alam semesta bersumber dari satu titik kerapatan massa dan kemudian blar… berkembang sehingga menjadi alam semesta yang kita kenal sekarang. Namun, teori ini kemudian dipertanyakan kembali, karena tidak ditemukan pula tanda-tanda yang menjelaskan kemunculan berbagai unsur alam semesta, termasuk materi gelap dan lain-lain bersumber dari satu titik pusat, seperti teori bigbang.
Teori bigbang itu sendiri tidak ada penjelasan di Al Qur’an, sepengetahuan saya. Kata kunci penciptaan alam semesta … asap… padu… 6 masa.
Soal “kertas”, saya sedikit kurang paham ini. Pembahasan ini kerap dikaitkan dengan digulungnya alam semesta. Kata digulung ini kerap dikaitkan dengan dilipat seperti sorban, digulung seperti kertas, sedikit yang membahas dari penciptaan awal. Pada komentar sebelumnya dijelaskan oleh salah seorang rekan, apalagi kemiripan pembentukan galaksi dan asap yang berputar seperti gulungan kertas…
Asal comot ayat.
Ada kecenderungan untuk mendapatkan ayat dan kemudian membandingkan dengan pengetahuan dan perkembangan sains. Sesuai, menunjukkan kebenaran Al Qur’an. Jika tidak sesuai, selalu memungkinkan dipahami kita mengklop-klop kan dan menafsirkan pengetahuan kita terhadap kebenaran Al Qur’an atau kita memahami ayat itu dan kita katakan, sains belum mencapai tataran dari apa yang disampaikan al Qur’an. Pola berpikir ini akan melahirkan sudut-sudut pandang yang berbeda. Orang yang mengingkari ayat akan bilang… tuh kan, Al Qur’an emang buatan manusia… banyak salahnya….
Tidak gawat, tapi memang menimbulkan persepsi/pemahaman yang boleh jadi tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya (yang kita juga tidak tahu). Beberapa pembahasan mengenai hal ini, menyebabkan sejumlah orang menolak mengaitkan ayat dengan perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan ada yang juga secara ekstrim menafikkan ilmu pengetahuan…
Saya sendiri lebih berpendapat Al Qur’an bukan kitab sains, tapi jelas menandai (bench marking) terhadap sejumlah tanda-tanda di alam semesta, termasuk juga penjelasan mengenai penciptaan. Pada banyak artikel sebagai sebuah perjalanan berpikir dari para pakar atau pemahaman sendiri saya sebar dalam ragam postingan. Penandaan ini, karena bersumber dari ayat… ya saya komparasikan, antara pernyataan sains dan pernyataan ayat. Dikomparasikan, dibandingkan, ditelaah sama sekali tidak ada hubungan pernyataan bahwa sainslah yang pasti benar, sehingga kalau berbeda, maka ayat yang keliru. Jadi, kalau sesuai dengan perkembangan sains, semakin tampak cahaya al Qur’an. Kalau berbeda, maka sains belum mencapai tataran yang dijelaskan al Qur’an. Juga bukan untuk mendukung satu teori. Haruslah juga dipahami bahwa Al Qur’an memberikan sejumlah informasi ilmu pengetahuan kepada manusia. Lha, kalau kita tidak komparasikan, ya bagaimana kita juga memahami Al Qur’an?. Lha, kalau kita anggap selalu sains selalu benar… ya nggak lah…
Al Qur’an yang benar, sains yang tertatih-tatih. Namun, al Qur’an, sekali lagi memiliki bench marking terhadap ujung ilmu pengetahuan. Para saintis muslim maupun non muslim mengetahui benar hal ini….
Karena itu, seberusaha mungkin… tidak asal comot…
Oh ya… dalam tulisan saya berusaha menyatakan : Al Qur’an menyampaikan begini…., sains menyampaikan begini…. Jadi bukan soal dukung mendukung, tapi membangun satu komparasi dalam wacana.
Terakhir, tentu saja saya setuju dengan yang Mas sampaikan…, ada tanggung jawab besar…. Betul, ada sebuah tanggung jawab, termasuk juga ketika kita tidak mau melihat dari sudut ilmu pengetahuan, ketika kita berusaha menafikan ayat-ayat alam semesta tidak boleh masuk dalam ranah sains. Apalagi seolah kita menempatkan Allah sebagai tidak tahu apa-apa tentang sains (seperti banyak pandangan seperti ini). Allah maha kuasa diakui hanya sebatas wacana. Informasi sains dalam al Qur’an dipandang sebelah mata, ini juga melanda sebagaian ummat. Oleh karena itu, memahami filsafat yang mendasari sains juga tidak kalah pentingnya sehingga kita memahami mengapa agama dipisahkan dari sains, bahkan dari dimensi sosial, bahkan juga dikerdilkan lagi ke “ruang private”…. Blog ini menolak pandangan ini.
Asal Comot Ayat, Sesuaikan Dengan Sains? « Sains-Inreligion berkata
[...] on Agus Mustofa : Tak Ada Azab Ku…nothing on Agus Mustofa : Tak Ada Azab Ku…kustanto on Alam Semesta Dibentuk Dari Asa…kustanto on Poligami Nabi Muhammad-Pernika…ganedio on Agus Mustofa : Tak Ada Azab Ku…nothing on [...]
kustanto berkata
terima kasih atas penjelasan nya….
Saya cukup banyak belajar dari situs ini.
@
Saya juga… catatan Mas Kus menggelitik tapi nyaman…
ganedio berkata
Menurut hemat saya, bahasa Alqur’an itu tidak saja untuk dimengerti oleh umat manusia dimasa depan, tetapi khususnya dapat dimengerti oleh umat manusia ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup. Jadi bahasanya disesuaikan dengan tingkat pengetahuan umat pada masa Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian wajarlah jika umat manusia pada zaman modern ini menafsirkan Alqur’an lebih berkembang, tidak hanya tersurat tapi tersirat, khususnya ayat-ayat yang menyinggung sains. Saya pikir manusia modern juga perlu mengetahui tingkat pengetahuan dan budaya umat disekitar Nabi Muhammad ketika masih hidup.
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, tidak ada umat yang menanyakan arti dari ayat-ayat seperti “Alif laam miim”, “Alif Laam Raa”, “Qaaf”, dll. Berhubung sampai saat ini yang saya ketahui tidak ditemukan adanya hadist yang menulis tentang ayat-ayat ini. Berarti umat pada zaman Nabi Muhammad sudah mengerti dengan ayat-ayat ini atau sudah memakluminya. Namun pada zaman sekarang, ayat-ayat tersebut tidak mudah dipahami apa maksudnya. Sehingga banyak penafsiran yang berlainan.
Khususnya ayat-ayat yang berhubungan dengan sains, apakah kita akan memahami seperti apa yang dipahami oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya? Tapi masalahnya kita tidak tahu persis apa yang dipahami beliau dan seberapa jauh tingkat pengetahuannya tentang sains, apakah sekelas SD, SMP, SMU, atau sarjana? Sedangkan Nabi Muhammad sendiri, dalah suatu hadist, pernah menyatakan kepada umatnya bahwa kalian lebih tahu tentang dunia. Tapi yang jelas, ayat-ayat yang berhubungan dengan sains tersebut, nampaknya tidak untuk menjelaskan kepada manusia dengan tingkat pengetahuan sarjana. Sarjana harus menafsirkan lebih berkembang lagi ayat-ayat tersebut.
@
Al Qur’an, dalam pemahaman saya, untuk segala zaman. Saya tidak tahu apakah sejumlah ayat telah dipahami pada masa Nabi ataukah tidak. Namun, kalau kita merujuk pada hadis setelah haji Wada, Nabi mengingatkan bahwa orang yang tidak mendengar seruannya saat itu bisa lebih mengerti dari orang yang langsung mendengar….
Dijelaskan pula, bahwa tidak semua ayat dapat dipahami manusia :
QS 3. Ali ‘Imran 7. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Dari sisi ini, saya kira kehati-hatian menjadi sangat penting. Kata : “….tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.” menegasi bahwa tidak semua yang disampaikan Allah dapat dipahami, tapi hanya Allah saja yang mengetahuinya. Lalu mengapa dipesankan kepada manusia?. Untuk diimani dan selebihnya wallahu’alam….
Abu Afkar berkata
Saya ingin sedikit komentar….
1. Al-Quran adalah kitab yang dimaksudkan untuk keimanan umat manusia, tidaklah dimaksudkan untuk menjadi teori keilmuan… karena masing-masing memiliki domain sendiri….
2. Namun sebagai muslim, kita meyakini bahwa teori keilmuan yang benar atau paling tidak mendekati kebenaran adalah yang paling dekat dengan yang tersurat dalam Al-Quran… Paling tidak yang tidak bertentangan dengan Al-Quran…
Apakah Al-Quran mendukung teori bigbang? Al-Quran tidak mendukung teori siapa2, hanya memberitahu manusia mengenai penciptaan semesta oleh Allah… Hanya memang informasi dalam Al-Quran cukup dekat dengan teori bigbang, diantaranya:
- Bahwa alam semesta dulu merupakan suatu yang padu (manunggal)
- alam semesta itu dibangun meluas
- Salah satu proses (step) ketika alam semesta berproses (yaitu ketika langit dan bumi terpisah), kondisinya adalah dalam fase “asap” (dukhan). Jadi, ayat itu tidak mesti dipahami bertentangan dengan alam semesta dari suatu yang padu, karena keduanya adalah proses…
Menarik dari Al-Quran surat Fusilat ayat 11 adalah:
1. menggunakan istilah asap… Apa maksudnya asap?
2. setelah langit dan bumi dipisah, barulah mereka ditanya, “apakah kamu akan nurut kepada-Ku?”. Seolah-olah pada saat inilah segala hukum2 pengatur alam semesta ditegakkan… Kalau begitu apakah sebelum itu “belum ada” hukum pengatur alam semesta?
Berdasarkan teori bigbang, memang ada periode ketika sangat seper sekian-sekian detik, di mana semua teori fisika menjadi runtuh dan tidak mungkin bisa menjangkau memahami “apa yang terjadi”… Apakah ini maksudnya?
Anyway, memahami alam semesta secara keilmuan adalah dengan memahami fakta-fakta keilmuan dan teori yang masuk akal yang bisa menjelaskna.
Jadi, misalnya mau mencari teori quark di Al-Quran misalnya adalah terlalu berlebihan…
Justru kita dituntut dalam Al-Quran untuk memahami kejadian langit dan bumi… dan itu adalah tanda-tanda orang yg berakal.
Adapun Al-Quran hanyalah sebagai petunjuk dasar semata atas kejadian alam semesta… Dan menjadi penyeimbang dari aspek fikir, yaitu Zikir… Fikirkan kejadian Alam semesta, Zikirkan Allah dengan ayat-ayat Al-Quran… Gabungkan keduanya… Pasti keduanya nyambung sekali…
Wallahu a’lam…
@
Terimakasih atas bernasnya uraian ini…
kalau boleh memberikan catatan untuk kalimat :”..Jadi, misalnya mau mencari teori quark di Al-Quran misalnya adalah terlalu berlebihan…”
Ya betul, mencari teori kuark mungkin tidak ditemukan, mungkin juga karena pola sajian informasi yang membutuhkan elaborasi yang canggih untuk menemukan pesan tersembunyi dalam al Qur’an yang menjelaskan segala sesuatunya dengan terperinci. Kitalah yang belum dan mungkin tidak akan pernah sampai memahami petunjukNya….
Wallahu a’lam…
supry berkata
tul juga ya…… saya jadi bingung nih. tapi bagaimana ya menjelaskan bahwa pada kenyataannya semua bintang ternyata saling menjauhi satu sama lain. kalau kita mengacu pada teori asap yang lama-lama menjadi padat tentu akan semakin mampat bukannya semakin mengembang.
wallahu a’lam………..
@
Dalam link yang disertakan, dijelaskan bahwa dalam beberapa juta tahun terakhir, pengembangan alam semesta kurang lebih hanya 5% saja. Tidak ada yang disebut sebagai yang diduga titik pusat ledakan (atau bigbang itu) termasuk contoh simulasinya pada link dalam postingan. Dimanapun kita berada, bisa menjadi titik pusat perluasan alam semesta yang mengembang !. Contoh simulasi akan lebih jelas.
Allah menyampaikan pada AQ bahwa :… sebelumnya berupa asap… lalu dipanggil (kemudian menyatu).
Kalau merujuk pada pengetahuan kita saat ini :
Tata Surya kita adalah satu kesatuan yang bergerak bersama mengelilingi satu pusat galaksi. Dan pusat galaksi itu sendiri bersama dengan tatasurya kita dan bintang-bintang dalam kelompoknya mengelilingi lagi sesuatu yang menjadi pusatnya.
Kalau bulan tidak mendekati bumi tapi berada pada garis peredarannya, begitu juga matahari, begitu juga tata surya, begitu juga pusat galaksi. Begitu juga dan seterusnya yang ukurannya tidak bisa kita bayangkan lagi. Semua itu bergerak pada garis edarnya dan ada ditempatnya tanpa tiang. Al Qur’an menjelaskan hal ini sambil mengajak kita memikirkan penciptaan dan karenanya jangan lupa memuji namaNya dan memohon ampunanNya.
Daya putar (spin) sejak dari elektron sampai ke galaksi adalah salah satu sebab yang diketahui mengapa tidak mampat.
Selain itu, yang belum banyak diketahui manusia adalah posisi dari materi gelap yang diketahui mengisi lebih dari 70% dari isi alam semesta ini. Apakah ini sebuah dunia paralel (fiksi), namun jelas keberadaan materi gelap mempengaruhi posisi segalanya berada pada garis edarnya.
Jadi, tidak benar bahwa semua bintang saling menjauhi. Dia juga berada pada garis edarnya. Seperti Kommet Halley yang berkunjung setiap 76 tahun sekali….
Haniifa berkata
Kuark
@
Mungkin ada yang lebih halus lagi… namun quark sepertinya semakin dekat dengan proses penciptaan…
Abudaniel berkata
Assalamu’alaikum,
Mas Supry,
Maksudnya gini kali ye. Sebelum menjadi bintang dan segala yang ada dimayapada ini, tadinya hanya berupa asap. Asap (dukhan) tersebut dalam volume yang tidak terhingga banayaknya merapat dan memadat sehingga menjadi sebesar ‘titik” yang tidak terhingga pula kecilnya dengan kerapatan/kepadatan yang tidak terhingga dan dengan berat massa yang juga tidak terhingga pula besarnya, atas izin Allah, mungkin dengan perantaran dan melalui reaksi thermo nuklir didalam “titik” yang sangat padat dan sangat berat tersebut, meledak. Yang kita kenal dengan “Big Bang” atau “Dentuman Besar”, yang memacarkan energy yang maha dahsyat dan melontarkan massa yang tadinya memadat dengan kepadatan yang tidak terhingga, menjauh dari titik ledakan. Dalam perjalanan menjauh itu, terjadilah pembentukan-pembentukan berbagai bintang, planet dan lain sebagainya. Jadi tidak heran kalau bintang-bintang maupun galaxi menjauh satu sama lain. Ini tidak terlepas dari tenga lontaran yang sangat besar ketika terjadi ledakan atau Big Bang tersebut. Ini bukan teori ahli fisika. Ini menurut pendapat saya saja. Tidak ada hubungannya dengan teori astrofisika maupun fisika-fisika lainnya.
Wassalam,
tanpa nama berkata
sy melihat, diskusi antara big bang, asap dan partikel sampai fenomena saat ini hanya urutan nya saja, jd bukan big bang yang salah………. tetapi pemahaman kita yang belum pass
mari kita urutkan ayat2 Qur’an tsb, tidak ada (belum) yang bertentangan dengan big bang
dan yang pasti… mari belajar dan bertanya…
===xp===
@
Jadi bukan bigbang yang salah….
Agor juga tentu saja tidak tahu, yang baru tahu, bigbang hanyalah salah satu model yang “dianggap” paling pas menjelaskan proses penciptaan. Namun, seperti pada link… sejak milyaran tahun kemudian terpahami pengembangan itu hanya kurang lebih 5% saja…..
Adakah model lain yang lebih bisa diterima oleh para ilmuwan ?.
tanpa nama berkata
Melalui dua proyek besar pemetaan galaksi yang dilakukan hingga kini, para ilmuwan telah membuat penemuan yang memberikan dukungan sangat penting bagi teori “Big Bang”. Hasil penelitian tersebut disampaikan pada pertemuan musim dingin American Astronomical Society.
Luasnya penyebaran galaksi-galaksi dinilai oleh para astrofisikawan sebagai salah satu warisan terpenting dari tahap-tahap awal alam semesta yang masih ada hingga saat ini. Oleh karenanya, adalah mungkin untuk mengacu pada informasi tentang penyebaran dan letak galaksi-galaksi sebagai “sebuah jendela yang membuka pengetahuan tentang sejarah alam semesta.”
Dalam penelitian mereka yang berlangsung beberapa tahun, dua kelompok peneliti yang berbeda, yang terdiri dari ilmuwan Inggris, Australia dan Amerika, berhasil membuat peta tiga dimensi dari sekitar 266.000 galaksi. Para ilmuwan tersebut membandingkan data tentang penyebaran galaksi yang mereka kumpulkan dengan data dari Cosmic Background Radiation [Radiasi Latar Alam Semesta] yang dipancarkan ke segenap penjuru alam semesta, dan membuat penemuan penting berkenaan dengan asal usul galaksi-galaksi. Para peneliti yang mengkaji data tersebut menyimpulkan bahwa galaksi-galaksi terbentuk pada materi yang terbentuk 350.000 tahun setelah peristiwa Big Bang, di mana materi ini saling bertemu dan mengumpul, dan kemudian mendapatkan bentuknya akibat pengaruh gaya gravitasi.
Menurut teori Big Bang, segala sesuatu berawal dari ledakan satu titik tunggal berkerapatan tak terhingga dan bervolume nol. Seiring dengan berjalannya waktu, ruang angkasa mengembang dan ruang yang memisahkan antara benda-benda langit pun mengembang.
Penemuan tersebut membenarkan teori Big Bang, yang menyatakan bahwa jagat raya berawal dari ledakan satu titik tunggal bervolume nol dan berkerapatan tak terhingga yang terjadi sekitar 14 miliar tahun lalu. Teori ini terus-menerus dibuktikan kebenarannya melalui sejumlah pengkajian yang terdiri dari puluhan tahun pengamatan astronomi, dan berdiri tegar tak terkalahkan di atas pijakan yang teramat kokoh. Big Bang diterima oleh sebagian besar astrofisikawan masa kini, dan menjadi bukti ilmiah yang membenarkan kenyataan bahwa Allah telah menciptakan alam semesta dari ketiadaan.
Dalam penelitiannya selama sepuluh tahun, Observatorium Anglo-Australia di negara bagian New South Wales, Australia, menentukan letak 221.000 galaksi di jagat raya dengan menggunakan teknik pemetaan tiga dimensi. Pemetaan ini, yang dilakukan dengan bantuan teleskop bergaris tengah 3,9 meter pada menara observatorium itu, hampir sepuluh kali lebih besar dari penelitian serupa sebelumnya.(1) Di bawah pimpinan Dr. Matthew Colless, kepala observatorium tersebut, kelompok ilmuwan ini pertama-tama menentukan letak dan jarak antar-galaksi. Lalu mereka membuat model penyebaran galaksi-galaksi dan mempelajari variasi-variasi teramat kecil dalam model ini secara amat rinci. Para ilmuwan tersebut mengajukan hasil penelitian mereka untuk diterbitkan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society [Warta Bulanan Masyarakat Astronomi Kerajaan].
Dalam pengkajian serupa yang dilakukan oleh Observatorium Apache Point di New Mexico, Amerika Serikat, letak dari sekitar 46.000 galaksi di wilayah lain dari jagat raya juga dipetakan dengan cara serupa dan penyebarannya diteliti. Penelitian ini, yang menggunakan teleskop Sloan bergaris tengah 2,5 meter, diketuai oleh Daniel Eisenstein dari Universitas Arizona, dan akan diterbitkan dalam Astrophysical Journal [Jurnal Astrofisika]. (2)
Hasil yang dicapai oleh dua kelompok peneliti ini diumumkan dalam pertemuan musim dingin American Astronomical Society [Masyarakat Astronomi Amerika] di San Diego, California, Amerika Serikat pada tanggal 11 Januari 2005.
Data yang diperoleh dari satelit COBE pada tahun 1992 mengungkap adanya fluktuasi sangat kecil pada pancaran Radiasi Latar Alam Semesta.
Bukti Penting Yang Semakin Mengukuhkan Big Bang
Data yang diperoleh dari hasil kerja panjang dan teliti membenarkan sejumlah perkiraan yang dibuat puluhan tahun silam di bidang astronomi tentang asal usul galaksi. Di tahun 1960-an, para perumus teori memperkirakan bahwa galaksi-galaksi mungkin mulai terbentuk di wilayah-wilayah di mana materi berkumpul dengan kerapatan yang sedikit lebih besar segera setelah peristiwa Big Bang. Jika perkiraan ini benar, maka cikal bakal galaksi-galaksi itu seharusnya dapat teramati dalam bentuk fluktuasi sangat kecil pada tingkat panas di sisa-sisa radiasi dari Big Bang dan dikenal sebagai Radiasi Latar Alam Semesta.
Radiasi Latar Alam Semesta adalah radiasi panas yang baru mulai dipancarkan 350.000 tahun setelah peristiwa Big Bang. Radiasi ini, yang dipancarkan ke segenap penjuru di alam semesta, menampilkan potret sekilas dari jagat raya berusia 350.000 tahun, dan dapat dipandang sebagai fosil [sisa-sisa peninggalannya] di masa kini. Radiasi ini, yang pertama kali ditemukan pada tahun 1965, diakui sebagai bukti mutlak bagi Big Bang yang disertai berbagai pengkajian dan pengamatan, dan diteliti secara sangat mendalam. Data yang diperoleh dari satelit COBE (Cosmic Background Explorer [Penjelajah Latar Alam Semesta]) pada tahun 1992 membenarkan perkiraan yang dibuat di tahun 1960-an dan mengungkap bahwa terdapat gelombang-gelombang kecil pada Radiasi Latar Alam Semesta.(3) Meskipun ketika itu sebagian keterkaitan antara gelombang kecil tersebut dengan pembentukan galaksi telah ditentukan, hubungan ini saat itu belum dapat diperlihatkan secara pasti hingga baru-baru ini.
Namun, kaitan penting itu telah berhasil dirangkai dalam sejumlah pengkajian terakhir. Kelompok Colless dan kelompok Eisenstein telah menemukan kesesuaian antara gelombang-gelombang kecil yang terlihat pada Radiasi Latar Alam Semesta dan yang teramati pada jarak antar-galaksi. Dengan demikian telah dibuktikan secara pasti bahwa cikal bakal galaksi terbentuk di tempat-tempat di mana materi yang muncul 350.000 tahun menyusul peristiwa Big Bang saling berkumpul dengan kerapatan yang sedikit lebih besar.
Dalam jumpa pers mengenai pokok bahasan tersebut, Dr. Eisenstein mengatakan bahwa pola tersebarnya galaksi-galaksi di segenap penjuru langit bersesuaian dengan gelombang suara yang memunculkan pola penyebaran itu. Para peneliti berpendapat bahwa gravitasi mempengaruhi gelombang dan mengarahkan bentuk galaksi. Eisenstein membuat pernyataan berikut:
“Kami menganggap hal ini sebagai bukti kuat bahwa gravitasi telah memainkan peran utama dalam membentuk cikal bakal [galaksi] di dalam latar gelombang mikro (yang tersisa dari peristiwa Big Bang) menjadi galaksi-galaksi dan kelompok-kelompok galaksi yang kita saksikan di sekeliling kita.” (4)
Dalam sebuah pernyataan kepada lembaga pemberitaan AAP, Russell Cannon, dari kelompok peneliti yang lainnya, mengatakan bahwa penemuan-penemuan tersebut memiliki nilai teramat penting, dan merangkum hasil penting penelitian itu dalam uraian berikut:
“Apa yang telah kami lakukan memperlihatkan pola galaksi-galaksi, penyebaran galaksi-galaksi yang kita saksikan di sini dan saat ini, sepenuhnya cocok dengan pola lain yang terlihat pada sisa-sisa peninggalan peristiwa Big Bang…” (5)
Sejumlah penemuan juga diperoleh dari pengkajian tentang kadar materi dan energi yang membentuk alam semesta, serta bentuk geometris alam semesta. Menurut data ini, alam semesta terdiri dari 4% materi biasa, 25% materi gelap (yakni materi yang tidak dapat diamati tapi ada secara perhitungan), dan sisanya energi gelap (yakni energi misterius [yang tidak diketahui keberadaannya] yang menyebabkan alam semesta mengembang dengan kecepatan lebih besar dari yang diperkirakan). Sedangkan bentuk geometris alam semesta adalah datar.
Dukungan bagi Big Bang
Sir Martin Rees
Sejumlah penemuan yang dicapai dalam pengkajian ini telah semakin memperkokoh teori Big Bang. Dr. Cannon mengatakan bahwa penelitian tersebut menambah bukti yang sangat kuat bagi teori Big Bang tentang asal usul alam semesta dan menegaskan dukungan itu dalam perkataan berikut ini:
“Kita telah mengetahui sejak lama bahwa teori terbaik bagi [asal usul] alam semesta adalah Big Bang — bahwa alam semesta terbentuk melalui suatu ledakan raksasa pada satu ruang teramat kecil dan sejak itu mengembang secara terus-menerus.” (6)
Dalam sebuah ulasan tentang penelitian tersebut, Sir Martin Rees, ahli astronomi terkenal dari Universitas Cambridge, mengatakan bahwa meskipun menggunakan teknik-teknik statistik dan pengamatan yang berbeda, kelompok-kelompok tersebut telah sampai pada satu kesimpulan yang sama, dan ia menganggap hal ini sebagai sebuah petunjuk akan kebenaran hasilnya. (7)
Physicsweb.org, salah satu situs ilmu-ilmu fisika terpenting di Internet, memberi tanggapan bahwa pengkajian-pengkajian tersebut “memberikan bukti lebih lanjut bagi teori dasar Big Bang dengan tambahan model pengembangan alam semesta.” (8)
Berkat ilmu pengetahuan modern yang memungkinkan pengamatan radiasi latar alam semesta dan benda-benda langit, para ilmuwan memperoleh pemahaman bahwa alam semesta memiliki suatu permulaan (Big Bang) dan kemudian mengalami perluasan (Pengembangan). Akan tetapi, pengetahuan mendasar ini sama sekali bukanlah hal baru bagi umat manusia. Di dalam Al Qur’an semenjak 1.400 tahun terakhir umat manusia telah mengetahui dua fakta ini, yang hanya mampu diketahui para ilmuwan di dalam mahaluasnya ruang angkasa di abad ke-20.
Dua Informasi Penting mengenai Model Baku Pembentukan Alam Semesta disebutkan di dalam Al Qur’an
Di dalam Al Qur’an, dan di dalam Taurat dan Injil yang isinya telah mengalami perubahan setelah diwahyukannya, Allah telah mewahyukan bahwa alam semesta dan seluruh materi diciptakan dari ketiadaan; di dalam Al Qur’an, satu-satunya naskah yang belum mengalami perubahan, Dia memfirmankan satu rahasia menakjubkan yang lain: alam semesta tengah mengalami pengembangan.
Pembentukan alam semesta menjadi “ada” dari “ketiadaan” diberitakan di dalam Al Qur’an sebagaimana berikut:
Dia Pencipta langit dan bumi. (QS. Al An’aam, 6:101)
Mengembangnya alam semesta, salah satu di antara bidang-bidang utama penelitian ilmu pengetahuan modern, diwahyukan dalam ayat ini:
Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (QS. Adz Dzaariyaat, 51:47)
Sebagaimana telah kita pahami, dua bagian penting dari penjelasan yang menjadi rujukan tentang asal usul alam semesta, yakni Big Bang dan Mengembangnya alam semesta, diberitakan dalam Al Qur’an di masa ketika sarana pengamatan astronomi masih sangat terbatas. Hal ini memperlihatkan bukti nyata bahwa Al Qur’an telah diwahyukan oleh Allah. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan terkini sepenuhnya cocok dengan apa yang diberitakan di dalam Al Qur’an, dan pengkajian-pengkajian terakhir ini sekali lagi mengarahkan perhatian kepada kesesuaian yang erat ini.
truthseeker berkata
@Agor
Mas Agor, sy awam dg fisika penciptaan alam semesta, pengetahuan saya hanya dr membaca buku2 populer saja. Saya ingin mencoba mengomentari pendapat2 mas Agor, tp lbh banyak dlm penafsiran yg berbeda dr sy atas apa2 yg mas Agor sampaikan. Saya harapkan tafsiran sy bs membantu mas Agor melanjutkan analisanya.
Sy menangkap ada misunderstanding mas Agor dlm melihat hubungan kedua ayat AQ diatas:
1. Kedua ayat tsb menceritakan penciptaan alam semesta pd tahap yg berbeda. ayat pertama lebih dahulu dr ayat kedua (walaupun saya blm berani menyatakan itu adalah tahapan yg paling awal (big bang). Ayat pertama menjelaskan proses terpisahnya langit dan bumi. Mestinya sebelum itu ada tahap penciptaan materi yg menjadi asal langit/bumi.
2. Ayat kedua menceritakan tahapan sesudahnya, yaitu tahapan dimana langit dan bumi sdh terpisah. Pada saat awal terpisah langit masih berupa asap, kmd ayat ini menjelaskan proses langit awal (asap) tsb menjadi langit yg sempurna. Di ayat ini Allah memanggil keduanya (langit/asap dan bumi), artinya langit dan bumi sdh terpisah.
Silakan dilanjutkan mas Agor
@
Kita keluar dari dari ayat ya.
Yang membuat saya mengambil postingan ini ketika bingung dengan pertanyaan : Kalau alam semesta mengembang dari ledakan bigbang, dari satu titik kecil dan mampat lalu meledak ke segala arah?. Maka pertanyaannya : Dimanakah pusat ledakan itu berada, karena ledakan itu membuat jarak antara partikel semakin jauh, kapan dia tiba-tiba berhenti? dan kemudian berkumpul. Dimanakah di alam semesta ini, katanya kita berada di tepi bima sakti, di tepi alam semesta yang terus mengembang. Kalau begitu, dimanakah letak pusat ledakan yang seharunya merupakan suatu ruang kosong yang luar biasa besarnya. Jadi, karena itu pula, saya bersetuju pada pandangan model alam semesta itu bukan bigbang seperti yang dirujuk dari postingan tersebut.
Sekarang kita ke ayat.
Ayat tidak menjelaskan adanya ledakan, dari sebuah pusat. Dahulunya satu padu, tidak menjelaskan adanya bigbang. Kalau kita melihat pembentukan galaksi, malah lebih memenuhi informasi bagaimana sebuah bintang atau tata surya terbentuk.
Hal kedua, dan menurut saya penting.
Dalam memahami ilmu pengetahuan, saya mencoba melihat dinamika ilmu dan pengetahuan yang mungkin berubah setiap waktu. Setiap penemuan baru akan melahirkan teori baru. Jadi tidak tertutup kemungkinan bigbang adalah teori yang mungkin diperbaiki di masa depan. Kalau dengan AQ sebagai petunjuk Illahi ada kesamaan, maka itu petunjuk kebenaran terbukti/terjelaskan, tapi kalau teori bigbang (yang sebenarnya dalam perangkat keilmuan lebih tepat disebut hipotesis – berdasarkan filsafat positivisme – tidak bisa dibuktikan) maka kalau teori itu kemudian dibuktikan keliru (seperti beberapa ilmuwan lain mulai mempersoalkannya), maka jangan sampai dipersepsikan AQ keliru. Jangan-jangan kita keliru memahami AQ dan kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Jadi di sini, memang agor ingin lebih berhati-hati.
Namun, apa mas sudah coba menguji pusat alam semesta dan titiknya seperti link pada postingan ini?
Paling tidak, sebuah cara pandang sedang ditawarkan.
Salam,
truthseeker berkata
@Agor
Saya akan baca link yg ada (thx banget..).
Mas Agor saya akan banyak nanya nih..yaa:
1. Knp mas Agor ingin tahu pusat ledakan? Apakah ada sesuatu yg khusus disitu ataukah hanya rasa penasaran?, krn bisa saja sesuatu yg setelah meledak mk tdk ada lg pusat disana.
2. Apakah pd dasarnya BIGBANG adalah teori alam semesta mengembang (shg tdk hrs spt fenomena ledakan)?
3. Kenapa mas Agor mengasumsikan, mengembangnya alam semesta ini telah berhenti? Knp mas Agor hrs menanyakan “kapan dia tiba2 berhenti”.
4. Knp diasumsikan setelah ledakan ada ruang kosong yg besar? Bukankah alam semesta ini ruang2 kosong yg diisi oleh bintang, planet dan benda2 “antariksa” lainnya.
Benar ayat tdk bercerita ttg adanya suatu ledakan, krn mmg pointnya bukanlah ledakan, pointnya adalah, perubahan dr suatu yg padu (rapat jenis yg sangat tinggi) ke sesuatu yg rapat jenisnya lebih rendah. Ini lah yg disebut sbg dasar teori mengembang, “mungkin” diambil teori BIGBANG krn teori itu jg mendukung proses mengembangnya, atau sbg penyebab knp alam semesta mengembang.
Lagi pula mas Agor, AQ tdk menyebut adanya ledakan, tdk selalu berarti tdk ada ledakan.
.SETUJU BANGET …. 10000000%
Hanya saja sy melihat teori BIGBANG msh ttp relevan dg ayat2 AQ. Tapi sy tetap yakin bhw pengetahuan ttg ini akan trus berkembang, namun bkn lg ke arah temuan yg sama sekali baru tp merupakan penyempurnaan dr teori BIGBANG. Shg tetap konsisten pd awal yg padu menuju ke suatu yg mengembang. Apakah dg pembelahan ataukah dg ledakan..
Salam.
@
1. Knp mas Agor ingin tahu pusat ledakan? Apakah ada sesuatu yg khusus disitu ataukah hanya rasa penasaran?, krn bisa saja sesuatu yg setelah meledak mk tdk ada lg pusat disana.
Jawab:
Memang ada sedikit penasaran, kalau meledak sepertrilyun detik, dari sesuatu yang sangat padat dan menjadi alam semesta, bleg seperti sekarang ini, maka penjelasan ini bukan menjelaskan bahwa alam semesta itu dari satu titik kerapatan tak hingga. Tapi teori ini didorong dari satu asumsi fisikawan teoritis mengenai singularitas kejadian.
Kalau meledak dari satu titik ke segala arah, tentunya titik itu menjadi ruang kosong karena tepi-tepinya telah terisi oleh seluruh isi alam semesta. Kalau saling menjauh, kenapa jadi saling mendekat. Jadi kalau kerapatan tak hingga itu berpencar saling menjauh dengan tenaga sangat dahsyat, tentunya alam semesta homogen di bagian luarnya dan mengembang ke luar seperti balon mengembang. Faktanya tidak demikian. Setelah sangat meledak dan saling menjauh, daya apa yang menyebabkan mereka saling mendekat dan membentuk bintang atau tata surya atau galaksi atau supercluster? Kalau saling menjauh dan terus-terusan terjadi dari sumbernya, sumbernya tentu masih ada mengeluarkan materi untuk menjadi bintang, toh ini tidak ada. Jadi ruang kosong akibat ledakan dari satu titik pusat tidak ada. Kira-kira itu yang membuat penasaran…. Adakah model lain yang perlu dibangun yang lebih “nyaman”?
2. Apakah pd dasarnya BIGBANG adalah teori alam semesta mengembang (shg tdk hrs spt fenomena ledakan)?
Jawab :
Bigbang yang saya pahami, adalah bagian dari pemahaman pengembangan alam semesta seperti balon yang ditiup. Gambaran seperti kita memberikan titik pada balon, lalu balon itu ditiup semakin besar sehingga titik-titiknya semakin jauh. Bigbang dijelaskan seperti fenomena ledakan (ini memang sesuai namanya big – BANG … :d ) Penjelasan paling mudah dari pandangan ini dilontarkan banyak ilmuwan, termasuk dari Stephen Hawking, ahlinya. Saya baca dari Riwayat Sang Kala – The Brief History of Time.
3. Kenapa mas Agor mengasumsikan, mengembangnya alam semesta ini telah berhenti? Knp mas Agor hrs menanyakan “kapan dia tiba2 berhenti”.
Habis seh.. kalau terus mengembang sejak dari penciptaan pertama yang disebut bigbang itu, tentunya kapan mereka saling mendekat atau bergerak pada jalurnya masing-masing. Setelah energi ledakan yang menyebabkan alam semesta berkembang selesai, mereka harus berhenti mengembang biar bisa membentuk diri menjadi bintang atau membentuk tatasurya atau agar tatasurya mengelilingi galaksi, galaksi mengelilingi lagi yang lebih-lebih besar lagi. Kalau nggak, ya pernyataan mengembang atau meledak ke segala arah pada penciptaan pertama harus dikoreksi……
4. Knp diasumsikan setelah ledakan ada ruang kosong yg besar? Bukankah alam semesta ini ruang2 kosong yg diisi oleh bintang, planet dan benda2 “antariksa” lainnya.
Jawab :
Terisi setelah ledakan?, mengisi di seluruh bagian alam semesta?. Bukankah yang namanya mengembang dan saling menjauh (seperti balon ditiup – ada pusat ledakan) itu artinya bergerak antara permukaannya saling menjauh dan di tengah balon akan semakin kosong?. Penelitian justru menunjukkan sifat alam semesta yang relatif homogen dan isotropik (seperti pada artikel), jadi tidak ada bukti menunjukkan ledakan awal. Tapi, karena itu pula ada yang menyebutnya sebagai ledakan sepertrilyun detik (seperti jaring laba-laba yang terurai), jadi memenuhi seluruh alam semesta. Itu juga artinya tidak meledak dari satu titik yang memiliki kerapatan tak hingga.
Namun, kalau mungkinkah pembelahan atau ledakan?, istilah pembelahan memang tidak dijumpai dalam kamu fisikawan, tapi para ahli biologi banyak membahas ini. Yang jelas pertanyaan ini memang menggelitik, karena fisikawan percaya, bahwa sebelum ada alam semesta, tidak ada rumus fisika yang bisa menjelaskan. Fisikawan hanya bisa memprediksi dan menjelaskan dengan sains setelah kejadian pertama penciptaan, bukan saat penciptaan itu terjadi….
Yang ada semuanya dugaan. Sepertrilyun detik juga hanya dugaan tanpa bisa ada pembuktian secara sains. Sedangkan petunjuk AQ tentang penciptaan, itupun adalah untuk diimani.
Boleh jadi penyempurnaan, teori bigbang atau model lainnya. Saya kira, tidak akan ada yang bisa menjelaskan sampai kapan pun mengenai bagaimana alam diciptakan, karena sebelum diciptakan jelas tidak ada ilmu pengetahuan yang bisa dikenali manusia. Fisikawan dan para ahli itu yang selalu penasaran, apa yang terjadi sebelum diciptakan alam semesta itu sehingga posisinya bleg seperti sekarang ini. Di sinilah titik dimana petunjukNya menjadi penjelas.
Contoh kongkrit lainnya, kemudian ilmuwan menyadari ternyata alam semesta ini 70% lebih malah justru materi gelap, sisanya materi yang bisa kita lihat. Jadi sungguh, ranah alam semesta ini masih menjadi rahasia besar penciptaan dan itu juga dinyatakan oleh AQ
Namun, sepanjang belum ada teori yang lebih valid atau penyempurnaan dari teori bigbang, maka teori ini akan tetap sebagai anutan. Wajar saja, karena belum ada teori yang menggantikannya. Sedangkan penjelasan AQ, tidak bisa (dan tidak mau) dijadikan panutan bagi kaidah sains (filsafat ilmu, terutama barat).
Salam…
deden berkata
Perbedaan antara masing2 teori itu lazim, berbeda argumentasi itu wajar sekali, tapi alangkah baiknya tidak langsung meng-blacklist tiap suatu teori apabila landasan yang diambil masih berupa penafsiran, jadi baik teori asap maupun teori big bang bisa berkaca lagi terhadap metodologi penelitian secara cermat.
Apalagi ini sudah mengkolaborasikan antara 2 pendekatan, baik pendekatan teologi serta ilmiah.
Kepada author, argosiloku, saya menyarankan agar anda memperbaiki judul blog anda, agar tidak saling menjatuhkan, inikan imu pengetahuan brsama, masih open untuk diteliti lebih lanjut.
Tidak dapat diputuskan secara langsung, siapa yang benar dan siapa yang harus direvisi, kalau berani brtindak lebih akurat, bisa kok diajukan rekomendasi kepada yang lebih ahli…
Sesuai saran Nabi, jika kamu tahu tentangnya maka katakanlah, bila tidak tahu serahkan pada yang tahu perkaranya…
bukan berarti hal in i meragukan pemikiran masing2 teori, tetapi hal ini lebih baik demi kemaslahatan bersama,,,
‘afwan, jika ada salah-salah kata…
@
Sebenarnya, tanda !? pada judul ini menjelaskan semua usulan untuk mengubah/menambah atau mengurangi judul lho. Apakah ini tidak terasa “sense”-nya… Apalagi setelah sedikit mengulas isinya….
haniifa berkata
Yaahh,… namanya juga baca sambil minum kopi.
,mudah-mudahan dapat manfaat.
Dari judul hingga content…
@
truthseeker berkata
Saya gak ikutan bikin judul lhoo..
:D
@
inikah seni memilih judul…
haniifa berkata
@mas truthseeker
Tapi kita sama-sama baca khan !
@
masuk perangkap judul
truthseeker berkata
@haniifa
Iyya..sama2 baca..sama2 minum kopi..
Dua2nya selamat koq, yg ga selamet judulnya..
@
Jadi ingat… SLAMET – kan BADAK SUMATRA…
Duh maaf pak Slamet… ini kan cuma guyonan iklan rokok saja….
haniifa berkata
@mas truthseeker
Waduhhh… saya bingung neeeh…
1. Gara-gara ada yang “nulis” judul.
2. Kita-kita ikutan “nulis” komen.
3. Kalau yang nulis judul nggak slamet…mestinya yang nulis-nulis komen juga nggak slamet dunk!!!
4. lha buktinya ada “nulis” komen yang menyalahkan “judul”.
bila tidak tahu serahkan pada yang tahu perkaranya
a. Yang tahu perkara judul, ya yang nulis judul toch.
b. Yang tahu perkara content, ya kita semua ikut nulis content.
c. Yang tahu perkara protes, ya yang merasa nulis protes dunk.
Biar adil gimana kalau yang salah “SIJUDUL”…
@
ha..ha..ha.. jangan merubah (menjadi rubah) atau mengubah judul… Kan, pada judul ada tanda !?, untuk mewakili … mengkonpensasi semua kebimbangan….
truthseeker berkata
@Haniifa
Setuju mba..!!
@Agor
Sudah selesai baca sebagian besar link2nya..
Memang dr awal saya dah gak setuju ama judulnya (cuman gak tau dasar g setujunya sama gak ya ama mas yg satu itu..:D)
1. Bagi sy sdh saya buktikan bhw proses BIGBANG (awal terbentuknya alam semesta), sedangkan ASAP adalah awal penciptaan/penyempurnaan langit. Jadi mas Agor mmg kudu rubah judulnya..hehe.
2. Sebagian besar setuju koq bhw pusat ledakan itu sdh tdk ada (logic sy jg begitu).
3. Alam semesta mengembang itu sdh kesepakatan banyak ilmuwan, tentunya kl ada data hanya 5%, itukan bkn pd saat terjadi ledakan BIGBANG). Setelah ledakan pasti terjadi penurunan energi lontar, kecepatan mengembang yg terbesar adalah sesaat setelah ledakan. Nahh dr situ mk muncul teori lanjutan bhw pd satu saat energi itu akan habis dan sebaliknya gaya tarik menarik akan membuat alam semesta mengkerut.
4. ..langit dan bumi dulunya adalah suatu yg padu.., berarti pusat alam semesta itu awalnya adalah ada.
5. Another breakthrough derived from WMAP data is clear evidence the first stars took more than a half-billion years to create a cosmic fog.
6. Ruang & Waktu hanya bisa dilacak setelah alam semesta yg sekarang terbentuk, sebelum yg padu itu pecah/mengembang (baca:BIGBANG) maka tdk ada ruang dan waktu (akal manusia collapse), asumsi saya akan terjadi kesulitan/kerancuan perhitungan sesaat terjadinya BIGBANG.
7. Kalimat/kesimpulan/analisanya sangat spekulatif.
8. Maaf saya tdk mengerti mksdnya. Kenapa harus berhenti mengembang agar bisa terbentuk bintang dan benda angkasa lainnya?
9. Mungkin ada baiknya mas Agor tdk terjebak dlm satu jenis ledakan. Krn ledakannya bs saja tdk terjadi di inti materi awal, bisa saja ada sekian jumlah ledakan. Dan fenomena balon ditiup hanyalah satu analogi/pendekatan bukan keniscayaan.
saya tidak mengimani teori BIGBANG (mengembangnya alam semesta dan alam semesta dr suatu yg padu, tp apakah proses itu diawali dg ledakan? i’m not sure) sdh valid, tp saya menganggap teori BIGBANG masih sejalan dg AQ.
Thx. Maaf kalau banyak ngawur, maklum cm modal rasa ingin tahu saja. Tolong mas Agor bantu meneranginya.
@
Saya juga tidak terlalu jelas, bagaimana materi tercipta, dari sesuatu yang disebut dukhan (didefinisikan sebagai asap – partikel), dari mana datangnya… apakah datang dari ketiadaan dan kemudian bergerak saling mendekat (seperti putaran galaksi, terbentuknya bintang-bintang di langit dekat)?. Artinya dipahami bahwa materi tercipta setiap saat dalam bentuk dukhan dari ketiadaan (dari sesuatu yang tidak kita ketahui) kemudian muncul dan membentuk sesuatu. Apakah terbentuknya materi karena pasangan dari anti materi yang diketahui mengisi jagat raya ini. Ini sangat jelas dipahami bahwa materi tidak muncul dari suatu ketika pada awal penciptaan juga, tetapi setiap saat terbentuk materi-materi baru di alam semesta ini. Pemahaman ini juga menimbulkan pengertian baru bahwa penciptaan dan pemeliharaan alam semesta berjalan setiap waktu….
Tapi.. saya tunda dulu deh mengulasnya… rasanya kekurangan referensi juga…
haniifa berkata
@All
Yang punya pendapat mas truthseeker, banyak ngawur ??
Saya protes lho… !!
@
Putih !… maksudnya kalau diacak-acak cepat, diputar-putar.. maka mata kita akan melihat semua gundu berwarna putih…. maka manapun yang diambil akan tampak putih, meskipun ketika diamati ternyata berwarna putih…..
haniifa berkata
@mas Agor
Ha.ha.ha.
Aneh dunk, kalau bola undian sendang diputar-putar bola pemenangnya sudah ditentukan…
Koen berkata
Punten, alamat wastuwibowo.co.cc adalah alamat temporer dalam rangka pemindahan hosting site. Alamat valid di kun.co.ro, direktori yang sama. Salam.
@
Eh.. punten Kang, ngelink tanpa ba..bi…bu…
Link agor ganti deh. Catatan miskonsepsi big bang ini penting untuk diketahui karena agor juga sempat bingung berlama-lama mengenai konsepsi big bang. Tiap kali ke wiki merasa itu konsepsi sudah benar, tapi menimbulkan rasa aneh… ada yang nggak beres… sampai kebetulan bertemu wastuwibowo.co.cc jadi lebih jelas lagi. Apalagi setelah anak saya menjelaskan hal serupa. Salam sambil tetap bingung…
LuCki berkata
assalamualaikum wr.wb
ilmu pengetahuan gak akan mampu gak akan sampai untuk mengetahui semua ini,,manusia menggunakan teori tapi Allah juga yang tau kan?allahua’lam kan?
@
Wass.ww.
Adalah perintah Allah juga untuk mempelajari karya cipta yang Maha Agung…
Wass.
LuCki berkata
Tidak ada seorang pun yang bisa dengan haqqul yakin menetapkan bagaimana dahulu proses terbentuknya alam semesta. Jangankan haqqul yakin, sekedar ainul yakin saja pun tidak.
Sebab kita manusia ini diciptakan jauh setelah alam semesta ini terbentuk. Kalau pun ada ilmuwan yang mengeluarkan statemen ini dan itu, semuanya hanya teori belaka. Dan yang namanya teori, kemungkinan salah dan benarnya seimbang. Bahkan bisa jadi lebih banyak kemungkinan salahnya dari pada benarnya.
Yang tahu persis bagaimana sebenarnya proses terjadinya alam semesta ini hanya Allah saja. Dia adalah Rabb Yang Maha Mengetahui segalanya. Sebagaimana firman-Nya :
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-An`am : 73)
Meski pun demikian, paling tidak kita bisa mendapatkan sedikit isyarat dari-Nya tentang bagaimana proses terjadinya alam semesta ini. Di dalam Al-Quran dijelaskan secara sekilas bahwa bumi dan langit ini dahulu adalah satu, kemudian dipecahkan.
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiya : 30)
Sebagian ahli tafsir memandang bahwa ayat ini merupakan seberkas isyarat tentang kebenaran teori big bang yang kita bicarakan diatas. Tapi tidak berarti teori big bang secara pasti didukung Al-Quran. Sebab ayat itu hanya mengatakan bahwa langit dan bumi dahulu adalah satu lalu dipisahkan. Seperti apa proses pemisahannya, apakah dengan ledakan besar atau karena faktor fisika lainnya, sama sekali tidak disebut-sebut. Sehingga pendapat ini -sekali lagi- hanyalah asumsi sebagian ulama tafsir saja. Dan karena itu bisa benar dan juga bisa salah.
@
Betul begitu Mas Lucki. Terimakasih penjelasan/uraiannya yan bernas. Masalah penciptaan memang memiliki daya tarik dari keinginan tahuan manusia, siapapun dan apapun pengetahuannya. Mufassirin kini, boleh jadi berbeda dengan ahli tafsir masa lalu. Meskipun esensinya bisa jadi sama, tapi latar belakang dan cara pandang serta perkembangan ilmu memungkinkan daya telaahan yang berbeda. Dari sini, mungkin daya tariknya menjadi semakin tinggi…..
Oh ya, agor juga ucapkan terimakasih atas kesediaannya berkunjung ke blog agor
M. Harisman berkata
http://human-earth.blogspot.com/2008/05/dark-matter.html
.. di buku “Endless Universe” by Paul Steinhardt dan Neil Turok, mereka menegaskan bahwa dark matter dan dark energy berperan sangat penting dalam pembentukan wujud alam semesta kita. Satelit WMAP memberikan gambaran kepada kita bahwa alam semesta kita adalah flat. Dan yang bertanggung jawab atas itu tidak lain adalah dark matter.
Sesaat setelah Big Bang, hamburan partikel merata ke seluruh penjuru jagat. Kemudian Dark Matter mengimbangi penyebaran tersebut. Anda boleh membayangkan sebongkah tepung roti yang siap dimasukkan ke oven. Bayangkan anda memijat tepung tersebut dengan jari anda. Tepung akan menjadi datar, flat, tipis karena pijatan anda. Begitulah dark matter memperlakukan alam semesta kita selama 15 milyar tahun ini, dan hingga milyaran tahun ke depan akan menjadikan alam semesta kita semakin flat.
Lalu bagaimana dark matter diketahui oleh manusia? Selama bertahun-tahun manusia telah mengamati melalui observasi bahwa terdapat gaya gravitasi yang nyata yang dihasilkan oleh obyek misterius. Obyek ini tidak terlihat, namun gaya gravitasinya mempengaruhi obyek lain di sekelilingnya. Dark matter bertanggung jawab atas berkumpulnya bintang-bintang yang kemudian membentuk group-group galaksi atau cluster. NASA melalui teleskop Hubble mencoba mengilustrasikan bagaimana dark matter membentuk rupa alam semesta kita hingga menjadi yang sekarang kita amati.
Alam Semesta yang Memuai, Galaksi yang Terkucil
Hubble berhasil membuktikan bahwa alam semesta kita ini memuai ukurannya dikarenakan sejak Big Bang terjadi, partikel di alam terus bergerak saling menjauh seiring waktu. Hasil pengamatan Hubble memperlihatkan kepada kita bahwa jarak antar galaksi terus berkembang dan saling menjauhi satu sama lain dengan laju kritis. Di masa yang akan datang, manusia tidak akan mungkin bisa melihat galaksi lain di langit karena mereka akan sudah terlalu jauh untuk diamati.
Namun yang menjadi perhatian kemudian adalah, jika alam semesta ini memuai secara merata, bukankah di galaksi kita ini jarak antar bintang juga akan semakin berjauhan? Namun pada kenyataannya, Tidak. Galaksi kita tetap seperti sekarang ini sejak dulu. Bagaimana bisa begitu?
Di sinilah kemudian kali pertama Dark Matter dan Dark Energy mendapat perhatian penuh dari para ilmuwan. Terdapat gaya gravitasi besar yang tersebar yang dihasilkan dari obyek tak tampak yang banyak sekali jumlahnya di galaksi kita ini yang selalu menjaga jarak antara bintang. Alam semesta akan terus memuai dan jarak antar galaksi akan terus menjauh, tteapi galaksi akan tetap sama dan terkucil dari galaksi lainnya.
Mau tidak mau kita harus berterima kasih pada dark matter yang menjaga bintang-bintang dan planet-planet di dalam galaksi bima-sakti kita ini tetap berkumpul berdekatan, walaupun jarak antar galaksi semakin menjauh.
___________________________
Juga bisa ditelaah artikel-artikel ringan terkait Nobel Fisika 2008 :
Simetri yang rusak / “simetri terputus” (broken symmetries), mungkin terdengar ganjil di telinga orang awam. Padahal tanpa kerusakan simetri itu, mungkin manusia, kehidupan, bahkan alam semesta–termasuk galaksi, bintang, planet, dan seisinya–tidak akan pernah ada.
Fenomena inilah yang dijelaskan oleh tiga ilmuwan kelahiran Jepang penerima Hadiah Nobel Fisika 2008, Yoichiro Nambu dari Amerika Serikat, Makoto Kobayashi dan Toshihide Maskawa dari Jepang. Penelitian yang mereka lakukan beberapa dekade lalu di bidang fisika sub-atom itu memberi pemahaman bahwa pada dasarnya dunia yang kita huni ini tidaklah simetris sempurna karena deviasi simetri pada tingkat mikroskopis.
“Rusaknya simetri secara spontan mengungkapkan keteraturan alam di bawah permukaan yang tampaknya tak beraturan,” kata panitia Hadiah Nobel dalam pernyataannya. “Teori Nambu sejalan dengan model standar fisika partikel elementer. Model itu merangkum unit penyusun materi terkecil dan tiga dari empat kekuatan alam dalam satu teori tunggal.”
Temuan mereka membantu memaparkan eksistensi dan perilaku partikel-partikel maha kecil (dalam fisika, partikel yang lebih kecil dari neutron itu disebut quark).
Nambu, saat ini adalah profesor pada University of Chicago, menemukan mekanisme terputusnya simetri secara spontan. Temuan itu makin menjelaskan Model Fisika Standar. Model ini menggabungkan tiga dari empat (diluar Gravitasi) gaya fundamental alam :
. Nuklir Kuat (Strong),
. Nuklir Lemah (Weak), dan
. Elektromagnetik
Karya Nambu juga berpengaruh dalam pengembangan quantum chromodynamics, sebuah teori yang menjelaskan beberapa interaksi antara proton dan neutron sebagai unsur pembentuk atom. serta quark yang membentuk proton dan neutron.
Kobayashi dan Maskawa mendefinisikan enam jenis quark. Keenam jenis quark itu kemudian ditemukan dalam berbagai eksperimen fisika partikel energi tinggi.
“Fakta bahwa dunia ini tidak berperilaku simetris sempurna disebabkan adanya penyimpangan dari simetri pada tingkat mikroskopis”,
demikian pernyataan Komite Nobel.
Simetri yang terputus itu menyebabkan partikel-partikel massa melampaui jumlah partikel-partikel anti-massa. Fenomena itu sebetulnya merupakan keberuntungan bagi seluruh makhluk hidup. Sebab, apabila alam semesta bersifat simetris, anti-massa bakal secara konstan bertemu massa dan meledak dengan menghasilkan energi dahsyat.
Terkait ledakan besar
Dari hasil penelitian di tingkat mikroskopis tersebut kini diketahui bahwa proses seperti itulah yang menyelamatkan semua bentuk kehidupan. Hal ini kemudian dikaitkan dengan Teori Ledakan Besar, teori tentang asal mula terbentuknya alam semesta. Pasalnya, jika alam semesta simetris, antimateri akan secara konstan berjumpa dengan materi dan akan menghasilkan ledakan energi.
Para ahli fisika kini mencari spontaneous broken symmetry dan mekanisme Higgs yang membawa ketidakseimbangan pada peristiwa Ledakan Besar, sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Para ilmuwan pada akselerator terbesar dan berkekuatan amat tinggi, Large Hadron Collider (LHC) di European Organization for Nuclear Research (CERN) di Swiss, saat ini sedang mencari partikel Higgs saat mengoperasikan lagi LHC pada musim semi 2009.
____________________
… kita tunggu hasil perbaikan dari LHC (Large Hadron Collider) dan lanjutan pengujiannya di tahun 2009, setelah masalah kebocoran helium-nya bisa diperbaiki.
http://human-earth.blogspot.com/
M. Harisman berkata
Upaya Mencari Partikel Tuhan
by: Rohmat Haryadi
Sumber : Gatra Edisi 45 (18 September 2008)
link: http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1222980225&1
Tepuk tangan riuh 80 fisikawan dari berbagai negara memecah keheningan di ruang monitor Pusat Riset Nuklir Eropa (Centre Europeen pour la Recherche Nucleaire –CERN), 10 September lalu. Pada saat itu, partikel proton (muatan listrik positif) yang dipacu mendekati kecepatan cahaya berbenturan dan pecah berantakan. Nah, dari pecahan partikel itulah diharapkan ditemukan “partikel Tuhan”. Partikel Tuhan adalah partikel hipotesis yang dikemukakan ahli fisika teori Inggris, Peter Ware Higgs, 44 tahun silam.
Percobaan yang dilakukan para ilmuwan di CERN itu adalah bagian napak tilas Ledakan Besar (Big Bang) yang terjadi 12-15 milyar tahun silam. Menurut Higgs, sesaat setelah Big Bang terbentuk, partikel-partikel tak bermassa mengambang di angkasa. Teori Higgs bermula dari keheranan Higgs, mengapa benda bermassa kehilangan wujud ketika dipecah dalam ukuran molekul, atom, dan quark. Maka, Higgs berpendapat, materi paling awal setelah ledakan besar itu tidak memiliki massa.
Kemudian partikel-partikel itu melewati medan energi mahadahsyat yang memberinya massa. Setelah melewati medan energi mahadahsyat, materi mendapatkan massa dan semakin besar seiring dengan berjalannya waktu. Partikel yang disebut Boson Higgs itulah yang menjadi cikal bakal seluruh materi di jagat raya ketika mendapat massa. Termasuk menjadi cikal bakal makhluk hidup.
Karena Higgs mengaku ateis, maka ilmuwan mengejek Higgs dengan olok-olok “partikel Tuhan” untuk partikel awal itu. Yang dilakukan ilmuwan CERN adalah meniru kejadian sesaat setelah Big Bang untuk membuktikan adanya partikel Higgs. Peter Higgs, yang kini berusia 79 tahun, menyatakan keyakinannya bahwa partikel hipotesisnya akan terbuktikan. “Saya berpikir, mungkin partikel itu cantik,” katanya.
Untuk membuktikan keyakinan Higgs itu, CERN menggunakan fasilitas yang disebut Large Hadron Collider (LHC). LHC adalah mesin pemercepat partikel sebelum kemudian dibenturkan satu sama lain agar pecah berantakan. “Palu” untuk memecah partikel itu berupa bangunan raksasa berbentuk cincin dengan keliling 27 kilometer. Bangunan itu ditanam di kedalaman 175 meter.
Ribuan superkonduktor magnet dengan bentuk bervariasi dan ukuran berbeda-beda dirangkai sedemikian rupa. Meliputi 1.232 magnet dua kutub yang masing-masing berukuran 15 meter dan 392 magnet empat kutub berukuran 5 hingga 7 meter. Saking besarnya konstruksi itu, sepotong pipanya bisa dipakai untuk membangun satu Menara Eiffel anyar.
Pembangunan fasilitas itu dimulai pada 2003, makan dana sampai €6,4 milyar atau US$ 9,2 milyar (Rp 85,56 trilyun). Proyek ambisius itu didanai secara patungan oleh 20 negara Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Akhirnya proyek raksasa itu sukses meniru jejak Big Bang dalam laboratorium untuk pertama kalinya. Tepat pada pukul 10.28 waktu setempat, atau pukul 15.30 WIB, semburat garis putih membentuk pola tertentu di layar komputer tempat para ahli di ruang pantau CERN.
Semburat itu mengindikasikan bahwa proton bertabrakan dan pecah berantakan menjadi partikel lebih kecil. Partikel-partikel itu membentuk jejak pada helium cair bersuhu -271 derajat celsius atau hanya dua derajat di atas suhu nol mutlak yang setara dengan -273 derajat celsius. Kejadian itu disambut sukacita oleh para fisikawan. “Kejadian yang fantastik!” kata Lyn Evans, pemimpin proyek LHC.
“Sekarang kami dapat melihat era baru untuk memahami seperti apa kira-kira asal mula dan evolusi semesta,” katanya. Kegembiraan juga pecah di Chicago, yang berjarak ribuan kilometer dari lokasi eksperimen. “Ini sukses seluruh anggota tim,” kata Robert Aymar, Direktur Utama CERN. Nah, sebenarnya apa yang terjadi?
Di ruang LHC sepanjang 27 kilometer yang tertutup rapat itu, ilmuwan melarikan partikel proton sampai mendekati kecepatan cahaya. Caranya, dengan memacu partikel itu lari mengelilingi terowongan sebanyak 11.000 kali per detik atau dengan kecepatan 297.000 kilometer per detik. Sedangkan kecepatan cahaya adalah 299.792 kilometer per detik. Kondisi kecepatan setinggi itu berkorelasi dengan temperatur yang sangat tinggi. Panas terik itu diperkirakan mirip keadaan alam semesta pada saat baru lahir.
Awalnya, partikel dipacu searah jarum jam. Setelah itu, proton ditembakkan berlawanan arah dengan jarum jam. Proton-proton yang lintasannya berlawanan itu kemudian ditabrakkan sehingga pecah berantakan. Tumbukan itu melepaskan energi yang direkam alat pendeteksi pada titik-titik tertentu sepanjang terowongan. Lepasnya energi itu juga dikuti pecahnya partikel-partikel yang lebih renik dari proton. Termasuk partikel tak bermassa Boson Higgs.
Kini para ilmuwan tengah meneliti seluruh detektor untuk menemukan “partikel Tuhan” itu. “Kemungkinan besar partikel muncul sangat cepat. Saya yakin, lebih dari 90 persen itu akan terjadi,” ujar Higgs. Tidak hanya itu, Higgs juga meyakini partikel itu cantik.
Namun astrofisikawan Inggris, Stephen Hawking, tidak yakin LHC akan menemukan partikel Higgs. Untuk itu, dia bertaruh US$ 100 bahwa mega-eksperimen itu tidak akan menemukan partikel yang sulit dipahami ilmu pengetahuan kosmos. “Saya bertaruh seratus dolar bahwa mereka tidak akan menemukan partikel Higgs,” kata Hawking.
Toh, penelitian LHC tidak hanya untuk mencari “partikel Tuhan”. Sebab, sekali terjadi benturan, akan diperoleh pengukuran dan peneraan dari LHC empat percobaan besar. Pertama, percobaan LHC akan melengkapi ilmu fisika tentang gravitasi yang gambarannya dimulai Newton. Gravitasi merupakan aksi massa. Tetapi, sejauh ini, ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan mekanisme yang membangkitkannya. Percobaan pada LHC akan menyediakan jawabannya.
Percobaan LHC juga akan mencoba meneliti terjadinya materi gelap (dark matter) di alam semesta, karena materi ini hanya tampak 5 persen dari semua yang eksis, dan sisanya dipercaya tersusun atas materi gelap. Mereka akan menyelidiki, mengapa materi di alam semesta lebih banyak dari anti-materi. “LHC adalah mesin penemu,” kata Robert Aymar.
“Riset ini akan membawa perubahan bagaimana manusia memandang semesta dan melanjutkan tradisi rasa ingin tahu manusia,” ia menambahkan. Namun percobaan CERN mengundang kontroversi karena kekhawatiran akan akibatnya. Mereka yang khawatir mengirim e-mail ke CERN dan mencemaskan bahwa percobaan itu bakal menciptakan lubang hitam (black hole).
Kekhawatiran itu bukan tidak berdasar. Sebab, menurut Albert Einstein, jika materi bermassa bergerak secepat cahaya, massanya menjadi tak berhingga. Maka, bumi pun akan terisap oleh gravitasinya. “LHC aman, dan segala kekhawatiran itu hanyalah khayalan,” ujar Aymar.
marsupilami berkata
waduh2 mas, emang ga pernah dijelasin yah soal keterkaitan antara teori bigbang dengan Al-quran?
hm…..
kita hanya bisa berusaha mengaplikasikannya ke dalam kehidupan dengan kemampuan akal yang telah diberikan
marsupilami berkata
Assalammuallaikum.
waduh2 mas, emang ga pernah dijelasin yah soal keterkaitan antara teori bigbang dengan Al-quran?
hm….. didalam ESQ pernah dijelasin kok secara detail dan rinci.
kita hanya bisa berusaha mengaplikasikannya ke dalam kehidupan dengan kemampuan akal yang telah diberikan. jangan mempersulit diri..hargai teori2 daripada tidak bisa memprediksikan seswatu tapi hanya bisa mempermasalahkan seswatu.
Wassalam.
agorsiloku berkata
Mas Harisman dan Mas Marsupilani, terimakasih atas referensinya. Yang dijelaskan dan diuraikan pada blog yang dirujuk benar-benar menarik untuk agor lebih memahami — meskipun sekarang pun masih juga bingung—.
Mengenai teori bimbang eh bigbang, beberapa ulasan memang kerap dipahami bahwa bigbang dimulai dari sebuah ledakan (sehingga dan seolah-olah) ada center of universe, seperti pada postingan dan link yang saya rujuk. Fakta kemudian diketahui bahwa yang namanya pusat alam semesta itu tidak ada.
Saya juga memang tidak mengerti dan bingung mengenai bigbang ini, juga mengenai materi gelap. Apa keduanya ada bersamaan dengan “bigbang”. Mengapa ada partikel yang hanya bisa dideteksi hanya gaya gravitasinya?. Mengapa materi gelap mempengaruhi materi yang terang? Lalu apa peranan materi, anti materi, dan materi gelap?.
Lalu bagaimana menghubungkan dengan Al Qur’an?. Al Qur’an tidak menjelaskan keberadaan materi gelap, tidak juga antimateri !. Tapi, menjelaskan tentang awal penciptaan.
Toh kita juga tahu, bigbang adalah teori yang saat ini paling diakui keberadaannya. Boleh jadi di masa yang akan datang ditemukan pula teori yang lebih shahih.
Mas Marsupilami, tentu saja tidak ada maksud mempersulit diri. Menanyakan, mempersoalkan di batas pengetahuan adalah kehausan para ilmuwan tentunya. Biar agor bukan ilmuwan, tapi mengintip buah pikiran mereka adalah sebuah kerinduan.
Kalau memang ESQ menjelaskan secara detail dan terinci dalam kaitannya dengan AQ tentu hal yang menarik. Sedang soal benar atau tidak, tentu kita tidak bisa memaksakan harus sesuai atau sependapat (bisa jadi karena kekurang pengetahuan) tentang asal-usul maupun pengetahuan tentang kuantum.
Postingan di atas, ingin menegasi bahwa jangan memahami bigbang sebagai letusan seperti bom gitu, seperti yang dijelaskan oleh http://id.wikipedia.org/wiki/Big_bang
Ilmuwan muda maupun site yang dilink sepertinya menjelaskan berbeda.
Salam.
M. Harisman berkata
Mas Agor,
Kalau masih ada ke’bingung’an, konsultasikan saja pada ahlinya [yang berkompeten].
Untuk membahas rincian teori big-bang hanya melalui diskusi di blog tidak akan mencukupi.
Mungkin bisa kontak dengan :
Bpk. Dr. T. Djamaluddin
Peneliti Astronomi/Antariksa
PNS / Peneliti dari LAPAN
Age: 46
Location: Indonesia
http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx
http://misykatulanwar.wordpress.com/2008/06/10/proses-penciptaan-alam-semesta-dalam-enam-masa/
http://www.scribd.com/doc/3173556/Kajian-Ayat-Kauniyah-Dr-T-Djamaluddins
@
Mas Harisman , terimakasih untuk infonya. Saya juga kadang mengunjungi blog beliau untuk mencari inspirasi. Lepas dari sesuai atau tidak sesuai, namun rasanya saya banyak belajar dari beliau, banyak yang saya tidak ketahui. Jernih pembahasannya dan lebih mudah dipahami untuk orang awam ini.
yummy berkata
makasih atas informasinya ya…
saya jadi bisa membuktikan apa yang baru aja saya pelajari di ushulfiqh dan tafsir maroghi…
@

hanya sebagai tambahan alat untuk merenungi betapa keluasan alam semesta. Allahu akbar.
maztegh berkata
Mas, bagaimana kalo begini…
Teori bigbang utk menjelaskan ttg penciptaan alam semesta. Sedangkan teori kabut nebula untuk menjelaskan pembentukan tata surya (bintang2 termasuk matahari dan planet-satelit yg mengelilinginya).
Jadi QS 21(Al Anbiyaa’) 30, menjelaskan penciptaan alam semesta. Dan QS 41 (Fushshilat) 11, menjelaskan pembentukan isi alam semesta.
Sehingga ayat-ayat ini suatu rangkaian peristiwa penciptaan alam semesta yg enam masa itu.
Benarkah pendapat saya ini mas?
@
Bigbang memang berusaha menjelaskan kejadian beberapa milidetik atau nanodetik pertama terjadinya alam semesta. Teori yang paling banyak diakui (dan tentu saja tidak bisa dibuktikan). Yang jelas, para fisikawan berusaha menjawab mengapa alam semesta itu ada. Dan jawabannya sudah tentu di luar ilmu fisika. Bigbang juga termasuk penjelasan di luar ilmu fisika…
Teori kabut Nebula, memang pas untuk menjelaskan pembentukan materi-materi di alam semesta ini, sampai terbentuknya tata surya. Meskipun untuk tata surya kita, pembentukan ini jelas bukan kebetulan (karena keakuratannya terhadap kebutuhan hidup untuk mahluk yang berada di sistem tatasurya). Ini juga masih tidak terjelaskan.
Kalau kita menengok foto-foto bintang, galaksi,… tampak memang “asap” itu berkumpul dan membentuk sesuatu yang baru. Persis seperti dijelaskan oleh AQ.
Saya kira yang Mas sampaikan adalah gagasan harmoni yang ada dari bacaan AQ dan usaha untuk melihat kesesuaiannya dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan.
Saya juga berpikir seperti Mas juga…
tanpa nama berkata
Terima kasih ka atas penjelasannya.mudah-mudahan kaka bisa menjelaskan lebih mendetail lagi & sampai jumpa lagi solat dulu ka udah dzuhur
@
Terimakasiih kembali, terimakasih juga sudi berkunjung ke sini…
taufan berkata
Sekarang dah jamannya teori ’simetri terputus’. Ayo belajar fisika subatomik lagi!!!
@
Trims Mas taufan… ini teori baru ya !… seperti wajah kita… justru keindahannya ada karena nggak simetri…
Tulisan mengenai teori ini dituliskan Mas Harisman di komen ini. Menarik dan inspiratif. Memang layak professor Jepang itu mendapatkan Nobel tahun kemarin….
haniifa berkata
@Mas Taufan
Khok mirip @Mba Dera
Termehek-mehek…. sendiri…
Lier atuh kebanyakan Teori… mending nyang simple praktis sedikit berkumis…
Misal:
Hayooo… dalami ilmu pengobatan tradisional jamu-jamuan… nggak usah empiris-empirisan pokoke… asli bin tulen made in Indonesia no chemical.
Dulu petani kita suruh pakai pupuk.. wewwwww.
pelarangan diatur by kumpulan KEBO BULE.
Tahu Nggak @mas-nya… jamur campignon dari Indonesia dilarang beredar bekause mengangdung resin di pepsitIDA…
Euleuh…euleuh…. lier sorangan.
@
haniifa berkata
Hua.ha.ha
@Mba Dera kalau mau matiin tepe… ya matiin ajah sendiri-sendiri gicuh… kata murid teka-ku yang masih ngompol dicelana
Oei @Mas Lovepassword… ki lho ono sample apian, trik n tip “ngunyuh”…
@
ha..ha… matiin aja sendiri… itu juga pakai remote… apa susahnya…
tanpa nama berkata
Wah keren topik nya,
mau nanya2 lagi kemana ya…………..
@
para ahlinya dilink di tag lho…
haniifa berkata
@Anonymous
Sepengetahuan saya selama ini, bukan hanya topik saja yang keren… tapi pemilihan judul, isi de.el.el smua keren-keren lho
Kayaknya beliau ini Organisatoris yang handal…
@
Wah… Mas Haniifa ini ada-ada saja….
ahmad tafrihan berkata
saya sngat terkesan dengan penjelasan yag ada,mnrt I semuanya WLLAHU A’LAM.ADA PERCAYA N TDK NY TRIMS
munir berkata
ke semua tlah tertulis di alquran ku percaya.eh klo da ttng yg seru hub munir.syaiful@yahoo.com ke makasih