Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang Menyekutukan Allah

Posted by agorsiloku pada November 26, 2006

Ada kejelian dari kehalusan pekerti tentang menyekutukan Allah.  Ini saya kutipkan :

QS 30:32 :

Yaitu yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.

Tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. 

———-

Lho, begitu toh kerjaan kaum musyrikin itu, mereka memecah belah golongan agama menjadi beberapa golongan dan mereka bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka…

Lalu aku makin bingung, aku ini golongan mana ya, mahzab mana ya.  Panji apa yang saat ini kuagungkan dan kusombongkan.  Perbedaan apa ya yang membuat aku ini menjadi golongan yang boleh jadi satu-satunya yang akan masuk surga karena yang lain mah kafir euy….

Bagaimana saya  harus terjemahkan (baca mengerti ayat ini).

Adakah yang bisa saya renungkan dari pernyataan ini.  Namun, jujurnya ya, saya senang dengan logika Al Qur’an ketika menjelaskan tentang berbagai hal dalam sisi kehidupan sosial.  Menurut saya, begitu sederhana (simpel gitu), akurat, dan indah.

Karena itu saya ingin kutipkan lagi dari apa itu catatan kecil,

Karena itu, saya coba pahami, siapa itu yang mendustakan agama ?.

yang menghardik anak yatim.

Begitu sederhana.

Apa itu kesalahan?.

Ketika kita tidak mau orang mengetahui apa yang kita lakukan.

Apa itu pakaian?.

Itulah yang menutupi “hawa nafsu”.

Apakah itu sedekah?

Investasi untuk akherat.

Jadi kalau ditanya, siapa itu yang menyekutukan Allah.

itu tuh, yang menyembah berhala, yang mendua tiga atau empatkan Allah

dan…

dan… itu tuh, orang-orang yang memecah belah agama dan bangga dengan apa yang ada pada golongannya.

“Hus… jangan menghina. Dasar manusia bebal tidak berilmu, baca ayat saja masih keblinger dan seterusnya”

Maaf ya, kalau protes : Proteslah pada yang Pemilik ayat itu.  Jangan sama aku dong.

Terimakasih ya sekeping cermin pemikiran, menandai langkah dengan arif.  Semoga rahmat dan hidayahNya melingkupi pemilik blog indah itu….

About these ads

7 Tanggapan to “Yang Menyekutukan Allah”

  1. heripurnomo berkata

    Memang betul Pak,
    Al-quran, memberikan pendidikan kepada manusia lewat ayat-ayat yang sangat indah, seperti dalam surat Al-Maun yang Bapak kutip itu. Siapa yang mendustakan agama ? Dialah yang menghardik anak yatim. Dan beberapa kata lainnya : apa itu kesalahan, pakaian, sedekah ?

    Tapi, ketika dihubungkan dengan kalimat “Menyekutukan Allah itu adalah mendua,tiga atau empatkan Allah” sebagai sesuatu yang terpisah, itulah yang membuat makna Islam tidak merupakan satu kekuatan yang bersinergi. Seolah-olah setiap perilaku itu terpisah maknanya satu sama lain.

    Menyekutukan Allah, itu termasuk dalam kerangka Aqidah yang merupakan pangkal dari Ibadah. Kenapa kita tidak boleh menghardik anak yatim, dan seharusnya menyantuninya itu akan menjadi perilaku yang dilahirkan dari Aqidah yang baik, dilakukan semata-mata karena Allah, karena kecintaan Allah, sehingga wujud dari tidak mempersekutukan Allah termanifestasi dengan kecintaan terhadap anak yatim. Mungkin itulah keindahan ajaran Allah yang bersifat menyeluruh dan tidak parsial.

    Jadi menurut saya, mempersekutukan Allah dengan menyantuni anak yatim bukanlah sesuatu hal yang terpisah. Jika orang menghardik anak yatim, berarti dia telah mempersekutukan Allah, karena dia memperturutkan hawa nafsu dia, sehingga tuhan dia yang ke dua adalah hawa nafsu. Atau mungkin sebaliknya, dia menyantuni anak yatim, tapi agar disebut sebagai orang dermawan, humanis atau agar bisa masuk TV sehingga namanya harum di mata manusia. Ini pun wujud dari menyekutukan Allah. Karena ada yang diniatkan selain karena Allah, yakni pujian manusia sebagai Tuhan ke dua.

    Jadi kedudukan mempersekutukan Allah itu merupakan hulu dari ibadah dan perilaku manusia. Jika air di hulu jernih, maka saat mengalir ke hilir pun jernih pula.

    Mempersekutukan Allah, tidaklah bermaksud harfiah menyembah Allah seperti menyembah patung Budha, tapi memiliki makna yang sangat luas. Kita sedang menyingkirkan duri dari jalanan pun, akan bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah, sehingga efeknya tidak hanya menyelamatkan manusia di jalan, tapi juga bernilai ukhrowi ( di akherat akan mendapatkan ganjaran dari Allah ).

    Jika orang mengatakan : “Laa ilaahailallah”, tapi dia masih korupsi, mencuri maka dia sebenarnya sedang menpersekutukan Allah. Dia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan, walau ikrar pengesaan Allah diucapkan ribuan kali.

    Mungkin intinya adalah “Keseimbangan”. Islam sangat menekankan keseimbangan dan keadilan dalam hidup.
    Aqidah – Ibadah – Muamalah , atau mungkin yang sering kita dengar sebagai habluminallah dan habluminanaas ( hubungan dg Tuhan dan sesama manusia ) akan melahirkan akhlaq yang baik. Tidak hanya baik di mata manusia, tapi baik juga di mata Allah. Asalkan prinsip-prinsip Islam tsb dijalankan secara seimbang.

    Demikian menurut pemahaman saya Pak, mudah-2 an ada benarnya. Kalo salah itu karena kebodohan saya. Mudah-2an sebuah diskusi bisa saling mencerahkan. Amien.

  2. Herry berkata

    Mungkin artikel berikut ini bisa membantu?

    Golongan Yang Selamat Dalam Islam : Golongan Mana?

  3. agorsiloku berkata

    @Pak Heri say : Jadi menurut saya, mempersekutukan Allah dengan menyantuni anak yatim bukanlah sesuatu hal yang terpisah. Jika orang menghardik anak yatim, berarti dia telah mempersekutukan Allah, karena dia memperturutkan hawa nafsu dia, sehingga tuhan dia yang ke dua adalah hawa nafsu. Atau mungkin sebaliknya, dia menyantuni anak yatim, tapi agar disebut sebagai orang dermawan, humanis atau agar bisa masuk TV sehingga namanya harum di mata manusia. Ini pun wujud dari menyekutukan Allah.
    Komen : wah rumit ya Pak Heri, nafsu juga adalah rahmat Allah juga kan (nafsu makan, syahwat, keindahan). Memilah dan memilih, adalah hidayahNya. Memperturutkan tanpa pengendalian, ini yang tidak dikehendakiNya. Namun, dalam konteks, yang disampaikan Mas Herry memberikan pencerahan dalam konteks mempersekutukan. Salam, Agor

  4. [...] setiap harinya. Pemahaman ini menjadi perlu agar kita tidak terjebak dalam alunan rahmatNya dan ngelap berkah. Memilukan juga buat bangsa ini, ketika dengan sadar memalsukan pengertian ghaib dan bukan. Apakah [...]

  5. Yang Terhormat Agorsiloku,
    1. Yang menyekutukan Allah adalah manusia dan ditujukan kepada utusan Allah sesuai Ali Imran (3) ayat 80: Nabi dijadikan arbaban atau berhala, seharusnya shahadat tauhid bukan shahadatain sesuai Az Zumar (39) ayat 45.
    2. Pemuka agama dijadikan Arbaban atau berhala selain Allah sesuai At Taubah (9) ayat 31.
    3 Terhadap dua hal ini manusia tidak sadar sampai sekarang !!!
    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembahara Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    @
    Pak Soegana G, terimakasih tambahannya. Melengkapi !
    dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, (QS 100:7)
    Wass, agor

  6. Yang Mulia Agorsiloku,
    Rupanya telah sadar dengan sendiri telah mengutip musrik dari Ar Ruum (30) ayat 32.
    Dasar-dasarnya adalah Nabi-nabi pada tiap-tiap agama diarbabankan (diberhalakan) oleh umatnya sesuai Ali Imran (3) ayat 80 dan pemuka-pemuka tiap-tiap agama juga diarbabankan (diberhalakan) oleh pengikutnya disamping Allah sesuai At Taubah (9) ayat 31.
    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  7. Anonymous berkata

    jadi orang haruss mengerti apha tuc kewajiban. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: