Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beberapa Kesalahan Fatal Buku Harun Yahya

Posted by agorsiloku pada September 19, 2006

Oleh :
Abu Hudzaifah al-Atsari

Manusia tidak dapat lepas dari kesalahan, sedangkan kewajiban setiap Muslim adalah saling mengingatkan
di dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Harun Yahya –saddadahullahu- adalah diantara cendekiawan dan saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di dalam masalah aqidah.

Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang membicarakan tentang Islam. Kami tidak menutup mata dari mashlahat yang beliau berikan bagi ummat di dalam membela Islam dan membantah faham-faham materialistis saintifis. Namun, biar bagaimanapun beliau adalah manusia yang kadang salah kadang benar, sehingga kita wajib menolak kesalahan-kesalahannya dan wajib menerangkannya kepada ummat agar ummat tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah menunjuki diri kami, diri beliau dan seluruh ummat Islam.

Beliau memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal di dalam buku-bukunya, diantaranya yang berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori Evolusi) yang menunjukkan pemahamannya terhadap Aqidah dan Tauhid yang keliru. Bab yang menunjukkan kesalahan ini diantaranya terdapat di dalam bab ”The Real Essence of Matter”. Perlu saya tambahkan di sini, walaupun Harun Yahya melakukan kesalahan serius di dalam perkara aqidah, namun saya tidak pernah menvonisnya sebagai Ahlul Bid’ah, terlebih-lebih menvonisnya sebagai kafir, nas’alullaha salamah wa ‘afiyah. Sebab, bukanlah hak saya untuk melakukan vonis semacam ini, namun hal ini adalah hak para ulama dan ahlul ilmi yang mutamakkin (mumpuni). Saya di sini hanya ingin menunjukkan beberapa kesalahan yang beliau lakukan sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar.

Harun Yahya –saddadahullahu- berkata di dalam pembukaannya di dalam “Where is God?” (Dimana Tuhan) pada halaman 175, sebagai berikut :


“The basic mistake of those who deny God is shared by many people who in fact do not really deny the existence of God but have a wrong perception of Him. They do not deny creation, but have superstitious beliefs about “where” God is. Most of them think that God is up in the “sky”. They tacitly imagine that God is behind a very distant planet and interferes with “worldly affairs” once in a while. Or perhaps that He does not intervene at all: He created the universe and then left it to itself and people are left to determine their fates for themselves. Still others have heard that in the Qur’an it is written that God is everywhere” but they cannot perceive what this exactly means. They tacitly think that God surrounds everything like radio waves or like an invisible, intangible gas. However, this notion and other beliefs that are unable to make clear “where” God is (and maybe deny Him because of that) are all based on a common mistake. They hold a prejudice without any grounds and then are moved to wrong opinions of God. What is this prejudice?”

Yang artinya adalah :

“Kesalahan mendasar bagi mereka yang mengingkari Tuhan yang tersebar pada kebanyakan orang adalah pada kenyataannya mereka tidaklah mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri, namun mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap Tuhan. Mereka tidaklah mengingkari penciptaan, namun mereka memiliki keyakinan takhayul mengenai “dimanakah” Tuhan itu berada. Mayoritas mereka beranggapan bahwa Tuhan berada berada di atas ”Langit”. Mereka secara diam-diam membayangkan bahwa Tuhan berada di balik planet-planet yang sangat jauh dan turut mengatur ”urusan dunia” sesekali waktu. Atau mungkin Tuhan tidak turut campur tangan sama sekali. Dia menciptakan alam semesta dan membiarkan apa adanya dan manusia dibiarkan begitu saja mengatur nasib mereka masing-masing. Sedangkan lainnya, ada yang pernah mendengar bahwa Tuhan ”ada di mana-mana”, namun mereka tidak dapat memahami maksud hal ini secara benar. Mereka secara diam-diam berfikir bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu seperti gelombang radio atau seperti udara yang tak dapat dilihat ataupun diraba. Bagaimanapun juga, dugaan ini dan keyakinan lainnya yang tidak mampu menjelaskan ”dimanakah” Tuhan berada (atau bahkan mungkin mengingkari Tuhan dikarenakan hal ini), seluruhnya adalah kesalahan yang lazim terjadi. Mereka berpegang pada praduga yang tak berdasar dan akhirnya menjadi keliru di dalam memahami Tuhan. Apakah prasangka ini??”

Kemudian beliau sampai kepada perkataan filsafat sebagai berikut (hal. 189) :


“Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and encompasses all.

Yang artinya :

“Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah
dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan meliputi segala sesuatu.”

Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan pemahaman konsep Wihdatul Wujud.
Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap muslim dan mukmin harus baro’ (berlepas diri) darinya. Karena Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa di atas Arsy-Nya di atas Langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Harun Yahya –saddadahullahu- menulis di halaman 190 tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil :

”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186)

”Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Israa’ : 60)

Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia tatkala
sakaratul maut, yaitu :

”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih
dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.”
(Al-Waaqi’ah : 83-85)

Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun menunjukkan pemahaman bahwa
Allah Dzat Allah ada dimana-mana, namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman Allah di atas adalah, “Ilmu” Allah-lah yang meliputi segala sesuatu. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam
Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya tentang ayat wa huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun
kamu berada), beliau berkata : “Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya.” (Khalqu Af’alil Ibad, Imam Bukhari)

Harun Yahya berkata pada permulaan halaman 190 sebagai berikut :


“That is, we cannot perceive Allah’s existence with our eyes, but Allah has thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts….”


Yang artinya :

“Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…”

Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah. Sungguh, keseluruhan bab yang berjudul “The real essence of Matter” benar-benar diselaraskan dengan filosofi Harun Yahya terhadap aqidahnya. Yang apabila diringkaskan keseluruhan bab ini menjadi satu kalimat, yaitu :


“That there is no US, the WORLD is not REAL, Allah is REAL, so ALLAH is EVERYWHERE and WE ARE an ILLUSION”

Yang artinya :

“Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”

Hal ini tersirat di dalam perkatannya di halaman 193 :


“As it may be seen clearly, it is a scientific and logical fact that the “external world has no materialistic reality and that it is a collection of images perpetually presented to our soul by God. Nevertheless, people usually do not include, or rather do not want to include, everything in the concept of the “external world”.

Yang artinya :

“Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala sesuatu ke dalam konsep “dunia luar”.”

Ucapan ini berlanjut hampir pada keseluruhan bab, dan hal ini tentu saja suatu penyimpangan yang fatal dan dapat menimbulkan syubuhat terhadap para pembaca buku ini, karena biar bagaimanapun buku ini mengandung data-data saintifis, bukti-bukti rasional dan bantahan-bantahan ilmiah rasionalis terhadap kaum materialistis. Oleh karena itu menjelaskan kesalahan-kesalahan aqidah dan selainnya adalah suatu keniscayaan dan kewajiban, karena membela al-Haq lebih dicintai dari seluruh perkara lainnya.

Sebagai kesimpulan, di sini saya akan meringkaskan poin-poin kesalahan pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan selainnya), sebagai berikut :

1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni meyakini pemahaman ”Allah ada dimana-mana”, bahkan beliau memiliki perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.

2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mu’tazilah di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada tulisannya di halaman 190 akhir.

3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istimewa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya berada di atas langit.

Demikianlah sebagian kecil yang dapat saya tuliskan tentang beberapa kesalahan fatal di dalam buku-buku Harun Yahya –saddadahullahu-, dan apa yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada beliau. Tulisan ini lebih banyak diadopsi dari tulisan al-Akh Abu Jibrin al-Birithani yang meluangkan waktunya menyusun beberapa kekeliruan aqidah Harun Yahya.

Bagi para ikhwah yang tertarik dengan modern sains dan bantahan-bantahan terhadap saintis sekuler atau yang berideologi materialistis, saya lebih menyarankan untuk merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, dan sekarang menjadi presiden IRC (International Research Center) India. Beliau juga dekat dengan masyaikh jum’iyah Ahlul Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya.

Wallahu a’lam bish showab.

Sumber: Abu Salma

Artikel ini diterima dari

http://dennies-islamiyyah.blogs.friendster.com/

Catatan : Catatan : Ini juga sisi pandang. Pengetahuan dan ilmu kita, apalagi di jaman modern ini yang penuh dengan kemewahan relatif dan pertentangan antar manusia yang tak pernah dan tak akan pernah berakhir. Sisi pandang ini menujukkan perbedaan sisi pandang. Karena saya hanya sekedar copy paste saja, maka sangat disarankan untuk melihat keduanya dalam satu proses berpikir. Antara tesa dan anti tesa, antara logika dan kearifan. Tidak perlu cari menang-menangan. Mudah-mudah yang membaca semakin dapat mengkristalkan pemahamannya, seperti pedang yang digosok, untuk menjadi tajam, tentu saja ada yang yang tersisihkan dari pisau yang sedang diasah. Yang terbuang itu (dari asahan pisau) adalah wahana yang menjadikan pisau semakin tajam.

About these ads

102 Tanggapan to “Beberapa Kesalahan Fatal Buku Harun Yahya”

  1. Fasilitas telekomunikasi Alloh ada dimana-mana bukan sekedar telephon, bukan juga camera, tetapi lebih canggih. Fasilitas itu ada juga pada diri manusia bahkan lebih dekat dari urat lehernya, suara hatinya terdengar jelas. Seluruh jaringan tersambung kepada Wujud yang Satu, Alloh yang bersemayam di Arasj.

    Ketika Alloh berbicara dengan Nabi Musa sebagai mahluk yang nyata, Alloh tetap bersemayam di Arasj. Dimensi alam dunia dapat didekatkan kepada Arasj sebagaimana juga dimensi alam surga dapat didekatkan dapat dipindahkan. “Dan apabila surga didekatkan”(QS. At-Takwir:13). Begitu juga akan terjadi komunikasi antara penduduk surga dan neraka dari balik tabir pemisah dua dimensi yang berbeda.

    Dan ketika itu Nabi Musa tidak mampu melihat Alloh. Hanya dapat berbicara dari balik tabir pemisah dari dua dimensi yang berbeda.

    “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”(QS. As-Syuraa : 51 ).

    @
    Saya sendiri butuh waktu lebih banyak untuk mengerti (atau mungkin tidak akan pernah mengerti) apa yang disebut sebagai kesalahan fatal Harun Yahya, apalagi dikaitkan dengan pemikiran Ibnu Arabi (Wahdatul wujud). Secara sederhana, kalimat Allah : QS Al Ikhlas 2: Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Allahu Shomad. Ayat yang sudah begitu populer ini saja menjelaskan bahwa segala sesuatu bergantung pada Allah. Sebuah kedekatan yang berada pada wilayah tanpa batas.

  2. MaIDeN said

    Harry Sufehmi
    Setahu saya Harun Yahya memang bermasalah buku-bukunya. Ini kita belum melihat masalah hukum ybs alami di negaranya karena berbagai tindakan kriminal ybs / grupnya ya.

    Sejak pertama kali buku Harun Yahya terbit, saya perhatikan bahwa ada kecenderungan pseudoscience disitu. Pseudoscience itu seperti sains, tapi sebetulnya bukan. Biasanya penafsiran yang dipaksa-paksakan agar seperti sains yang ilmiah.

  3. daniel said

    bagus

    @ :D

  4. kucrut said

    Abu Hudzaifah al-Atsari

    nama bapak mengikuti keagungan nama para sahabat
    ulasan bapak tentang apa yang ditulis Harun Yahya begitu santun
    tapi makna agak kabur
    karena apa yang bapak sampaikan hanya bersandar kepada apa yang tersurat
    bukan yang tersirat
    setiap orang yang mencapai ketinggian maqam tertentu
    dapat menulis dan menggambarkan sesuatu yang menarik bagi orang lain
    namun di setiap yang tersurat
    tentu ada yang tersirat yang tidak disampaikan ke khalayak

    demikian juga ulama
    buku yang tersurat sangat banyak
    membuktikan ketinggian maqam yang dicapainya

    namun yang disampaikan amat sedikit
    dan yang disembunyikan amat banyak

    bapak tahu
    macam orang berilmu ada 2
    yang menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan
    dan menyampaikan semua apa yang diketahuinya

    ada baiknya
    jika mesti memberi komentar
    kita sudah sampai pada tataran tertentu
    dari apa yang mesti dikomentari

    bukan dalam artian tataran cuplikan
    tapi dari tataran pengalaman relijius

    karena saya khawatir asal kutipan dari ulama macam pertama
    atau macam kedua
    tapi yang jelas bapak mengutip dari model ulama macam pertama
    yang menyampaikan sesuatu ke khalayak
    apa yang semestinya mereka tahu
    untuk menyimpan penyalahgunaan

    saya pernah baca ucapan religius saidina Ali karramalluhuwajhah
    yang kurang lebih berbunyi
    “Jika saja sampaikan semua yang saya, maka orang-orang akan menganggap saya kafir”

    itu memang cermin ulama yang arif
    namun tidak semua ulama begitu
    ada juga yang seperti al hallaj atau sekh siti jenar
    menyampaikan sesuatu yang tidak semestinya diketahui
    oleh orang awam

    tapi sebenarnya
    padanngan saya
    orang-orang yang seperti itu
    telah merasakan ibadah
    “lupa dalam ingat”
    jadi kedekatan hubungan antara khaliq dan mahkhluk yang dirasakan
    mungkin sudah tidak ada hijab yang menghalangi

    Pertanyaan saya:
    sudahkah Bapak mencapai maqam itu
    untuk memberi komentar tentang sesuatu yang belum dialami

    saran saya
    ada baiknya sebelumn memberi komentar
    kita berasumsi seperti asumsi yang ingin dikomentari
    berpikiran seperti apa pikiran orang yang mau dikomentari
    berpendapat seperti apa pendapat orang yang ingin dikomentari

    alasannya
    karena kita belum sampai ke maqam itu

    jika Bapak membaca semua literatur
    mungkin akan banyak lagi pertentangan
    tapi
    ketika kita mengalami
    kita akan terdiam
    sambil berdoa
    semoga Allah memberi jalan

    maksud saya hanya mengurangi pertentangan
    antar sesama umat
    meniadakan niat baik orang lain
    dengan memunculkan niat sendiri

    terasa tidak bergitu baik

    saya baca komentar Bapak
    dengan dalil yang tepat
    tapi tidak semua terkupas

    masih ada yang tersembunyi yang belum disampaikan

    maaf atas komen saya

    karena sudah saatnya
    kita berkomentar
    dengan melihat dua sisi
    tidak satu sisi
    berpikir seperti jalan pikiran orang lain

    semua untuk ukwah
    semua untuk silaturrahim pengetahuan
    bukan maksud untuk yang lain

    komentar Bapak saya hormati
    karena sebagian ulama aliran ahlus sunah juga akan berpendapat seperti itu

    tapi sebagian yang berpendapat belum mengalami apa yang dialami sebagian orang

    jadi mari kita hati-hati
    jangan perlebar pertentangan antara kaum muslim
    dengan komentar yang berisi konfrontasi
    dengan awal yang begitu santun

    sekian

    sekali lagi maaf
    saya menganggap ini
    t4 diskusi yang baik

    semoga Allah merahmati pengetahuan orang mukmin

    @
    Terimakasih untuk catatannya… kerap perbedaan pemahaman dan yang selalu terjadi adalah pengalaman klasik yang setiap orang unik mengalaminya….
    bukan untuk berkonfrontasi… namun untuk mengasah diri dalam segala kekurangan pengetahuan….

    • terserah said

      komentar yg sgt dalam dan tepat sasaran

    • Anonymous said

      saya setuju dengan kucrut….
      mantabz…
      ayat ayat alquran tdk boleh lgsug saklek diartikan spti apa yg tertulis..
      perlu penafsiran….

    • Camapum said

      Sepertinya penulis ada penyakit hati, apa maksud penulis menyarankan merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun. Bagaimana kalau saya katakan bahwa Adnan Oktar hapal Al-Qur’an pada usia 9 tahun.

    • Anonymous said

      harun yahya ada salahnya juga ada benarnya,letak kebenarannya jika dipandang dari ilmu tauhid/[penyatuan]harun yahya tidak salah,tapi kurang benar,dan kita belum bisa memfonis harun yahya secara mutlak,karna beliau masih dalam tahap perjalanan mencari kebenaran yang hakiki,dan ilmu allah sangat luas.kembali ketauhid yang artinya penyatuan,dan bila penyatuan tsbt berhasil hasilnya adalah satu,bisa diartikan allah itu satu,mahluk adalah fana,itu jika difokuskan ke ilmu rububiah[ilmu ketuhanan]namun tuhan itu sendiri memerintahkan kita untuk bisa memahami sesuatu yg didalam dan diluar,yang dimaksut allah memerintahkan itu dalam artian luas,bisa aja allah merangsang otak orang yang dikehendaki untuk mewakili sekian juta manusia untuk dipahamkan terhadap sesuatu.tauhid dalam artian luas adalah penyatuan thdp segala sesuatu,baik menyatukan allah secara rububiah,menyatukan syareat secara horisontal/sosial/hukum/waktu/kesempatan/perasaan,dan bila berhasil disatukan secara keseluruhan itulah yg bisa disebut sempurna dalam pemahaman dan sosial.

  5. anonim said

    sebelum saya membuka blog ini, saya sudah mendapatkan dua kemungkinan dari penulis blog ini. pertama adalah dari kaum kafir yang tidak senang dengan Islam. yang kedua dari kaum muslim sendiri yaitu kaum wahabi. yang pemahaman mereka tentang hakekat segala sesuatu sangat dangkal. karena pemikiran mereka terlalu dangkal memahami karya karya yang bermutu. apa lagi memahami Alquran. tentu mereka tidak akan mampu, sehingga keimanan mereka jadi tipis.

    @
    Melihat kemungkinan adalah salah satu sisi yang bersumber dari pengalaman, cara pandang, dan tentu saja pengetahuan yang menjadi basis dilakukannya hipotesis/analisis. Memang agak aneh kalau hipotesis dilakukan sebelum membuka blog. Artinya ini dilakukan berdasarkan asumsi. Asumsi dan kemungkinan adalah hal yang berbeda. Yang agor tahu, Agama Islam mengajarkan ummatnya untuk berprasangka baik.
    Karena tulisan di atas adalah kutipan dari seorang Ahlul Sunnah seperti yang ditulisnya, maka saya juga tidak mengerti juga apakah mengapa komentar Mas anonim menyamakan ahlul sunnah dengan wahabi…
    Tapi sudahlah… setiap orang memiliki kemungkinan salah persepsi. Manusia tempatnya salah dan lupa… :D

  6. Anonim said

    Sebelum saya membuka blog ini saya berasumsi seperti asumsi saya di atas tapi saya menulis komentar setelah saya membaca isi yg tersirat dari blog itu bukan yg tersurat saja. Memang benar dugaan saya bahwa pemilik blog ini mengaku sbg ahlu sunah tapi sebenarnya adalah salafi (wahabi) yg juga sering ngaku sebagai ahlu sunah. Ahlu sunah sejati tidak berkeyakinan bahwa tuhan berada di suatu tempat atau di langit misalnya. Maha suci Allah dari sifat yg di yakini kaum salafi ini. Saya telah membaca karangan Harun Yahya ini, beliau sangat gigih memperjuangkan keyakinan islam yg tinggi ini, dan telah membuat geger para kaum kafir dan ateis di seluruh dunia. Bagi saya Harun Yahya adalah pejuang Islam di zaman modern ini. Beliau telah berjasa. Tapi bagi kaum wahabi dari dahulu sampai sekarang jarang menghargai para pakar-pakar islam yg telah banyak berperan dlm bidang ilmu pengetahuan dan para pemimpin Islam lainnya. Sebut saja mulai dari Ibnu Sina, Alqindi, alkhawarizmi mereka itu telah dianggap kaum yg merobah agama dg akalnya. Para wali songo saja mereka anggap sebagai org yg menyebarkan ajaran takhyul, syirik dan bid’ah. Padahal mereka telah banyak berjasa mengembangkan ajaran Islam di Indonesia.

    @
    Catatan yang menarik, juga cara pandangnya. Di blog ini, kalau dicari dengan kata Harun Yahya, beberapa tulisan bercerita tentang karya beliau. Tulisan yang diungkapkan pada postingan ini, penulis aslinya menjelaskan bahwa Beliau sangat menghormat Harun Yahya dan tidak mencap ahlul bid’ah apalagi bahlul. Namun, memberikan cara pandang terhadap pola berpikir dan kesimpulan yang ditarik. Terlepas dari yang menyampaikan itu benar atau salah, namun menyampaikan sebuah dialektika berpikir dalam sebuah arena publik untuk bersama melihat kebenaran atau ketidakbenaran.

    Tulisan Abu Hudzaifah al-Atsari menunjukkan hal ini. Kematangan berpikir dan logika. Saya belajar dari tulisan Beliau, seperti juga saya betapa sulitnya memahami konsepsi yang dicetuskan Ibn Arabi.

    Pada bagian tertentu dari persoalan, siapapun bisa gamang terhadap apa yang dipelajari, dipahami, dan diyakini. Hari ini bisa saja pemahaman seperti H, lain kali seperti I. Itu adalah dinamika berpikir. Siapapun mengalaminya. Karena itu mencap sebagai K atau A, menurut hemat saya lebih baik dihindari.

    Kita memang kerap membutuhkan memahami latar belakang seseorang untuk memahami realitas berpikirnya. Tapi itu tidak berarti karenanya kita menjustifikasi bahwa karena mereka berjasa, maka luput dari kesalahan atau kekeliruan. Sebaliknya juga, yang mengoreksi juga, belum tentu telah dicukupkan ilmunya untuk mengoreksi. Namun, dari keduanya ada komunikasi intens sehingga kita bisa ‘menilai’ dan ‘merasa’ mana yang lebih tepat. Cara pandang yang berbeda itu bukannya untuk menghancurkan, tapi untuk saling memahami. Bukan harus dipahami dan diakui.

    Jadi, sangat jelas bahwa agor tidak pernah mengaku di blog ini sebagai ahlu sunnah. Kalau saya menyukai tulisan Quraish Shihab, mengutip tulisan Jalaludin Rahmat, apa terus berarti … atau menuliskan hadis yang diterima oleh…. maka saya …… atau saya mengutip pemikiran Rashid Khalifa, maka saya menerima pandangan almarhum Beliau sebagai bla…bla…bla…

    Menurut agor, alangkah repotnya bangsa ini mengurusi latar belakang sebagai alat untuk menjustifikasi. Blog ini sama sekali bukan apapun… blog ini tempat belajar, tidak bermazhab, tidak bergolongan. Kalaupun ada, saya berharap masuk golongan muslim saja dan diterima amal ibadah, diampuni dari segala salah oleh yang bersangkutan dan oleh Sang pencipta.
    Kalau di akhirat nanti, dibangkitkan dan setiap manusia akan mencari golongan-golongannya masing-masing, maka satu harapan adalah panji yang dibawa Rasul S.A.W. itu saja. Tidak mencari pemimpin golongan-golongan yang seabreg itu. Tidak punya kartu anggota lain dan punya satu tuntunan saja : Al Qur’an.

    Ini idealnya… betapa tipisnya memiliki, namun berusaha tidak berputus asa.

    Oh ya, saya perlu menegasi ini karena sebagai sebuah pribadi yang ingin menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja dan menulis biasa-biasa saja juga selalu ada keinginan untuk dihargai kenetralan ini dan tidak diberati oleh pencapan oleh saudara-saudaraku dalam satu panji : Islam.
    Wassalam.

  7. Anonim said

    Mas agor janganlah bertele-tele mempermain kata-kata demi mendukung ketidak benaran apa yg ditulis abu huzaifah al asari yg sok alim dan sok ahli ahli fikir itu. Dia menulis untuk memperkecil dukungan terhadap kebenaran yg nyata yg telah diperjuangkan oleh ilmuwan Islam Harun Yahya yg mana beliau melakukan penelitian yg mendalam dan didukung oleh Alquran dan hadis. Abu asari yg menjadi pahlawan dan sebagai contoh pola berfikir mas agor itu, tidak bisa memahami karya harun yahya karena pola pikir yg selalu dibatasi oleh tradisi membeo pada leluhurnya yaitu seorang pemuda nejed dari suku badui, yang mempunyai pola pikir leterlek. Kalau mas agor termasuk kedalamnya juga nggak apa-apa. Sedangkan bagi orang yg berfikir jernih dan tidak memerlukan pikiran yg neko-neko memahami karya harun yahya tidak sulit, mudah, gamblang dan jelas. Tapi bagi orang yg merasa gamang menerima kebenaran ini oleh karena terikat tradisi berfikir kaku maka hal ini akan menjadi sulit. Karena mereka mempersulit diri mereka sendiri, Dan suka membantah hal-hal yg sudah nyata kebenarannya.

  8. agorsiloku said

    Mas Anonim… Blog ini berisi lebih banyak dialetika berpikir dan menilai. Sekali lagi, kalau ada dinilai pemikiran Harun Yahya keliru, maka ada yang mengoreksi bagus. Kalau yang mengoreksi itu juga keliru, dan Anda melihat kekeliruan itu.. tulislah… jelaskanlah. Secara pribadi, saya akan senang menerimanya. Tapi kalau yang dikonsepsikan. Seperti ditegaskan kerap kali, blog ini untuk belajar, dari yang benar dari yang boleh jadi keliru. Tapi jelas blog ini bukan untuk menghukum pikiran manusia dengan kata-kata yang kasar. Itu harapan agor. Cobalah Mas tunjukkan kesalahan dari Abu huzaifah di atas. Dengan penjelasan Mas, maka saya sangat terbantu untuk kembali merenungi dan memahami dari keduanya. Tapi kalau Mas hanya jelaskan itu orang membeo, harun yahya itu bla..bla… (saya adalah penggemar berat penjelasan HY), video-videonya menurut saya cemerlang. Tapi, bukan berarti yang tidak suka HY tidak saya baca juga. Maka jelas saya sulit belajar dari penjelasan yang tidak jelas apa yang dikonsepsikan.
    Manusia itu tidak ajaib… saya bisa berjalan setelah saya bisa merangkak.

    • Camapum said

      Sepertinya Anda dan juga Abu Hudzaifah al-Atsari dihinggapi penyakit hati. Sangat ketara dengan kata-katanya “……dan apa yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada beliau”.
      Lha tunjukkan semua kesalahan itu, tulis buku setebal dan sebanyak Harun Yahya. Sesungguhnya saya yakin apabila Anda pun mengerti apa yang ditulis Harun Yahya. Kok Anda dan juga Abu Hudzaifah al-Atsari jahat sekali, numpang popularitas nama beliau.
      Sekarang terbukti ada penjelasan langsung dari Harun Yahya atas bantahan itu.
      Selamat deh Abu Hudzaifah al-Atsari, Anda terkenal dengan hanya selembar kertas hvs

  9. Aku pernah menerjemahkan tiga buku karya Harun Yahya ke bahasa Indonesia. Menurutku, dia adalah seorang penulis hebat yang mampu meningkatkan kadar keimanan kaum muslimin.

    Tentu saja, tidak ada gading yang tak retak. Namun menurutku, pandangannya yang cenderung sufistik bukanlah kesalahannya. Menurutku, kelemahannya adalah pada kefanatikannya pada suatu perspektif tertentu yang dalam wacana filsafat mungkin tergolong dalam “idealisme Platonian”. Begitu fanatiknya dia dalam sudut pandang ini, sehingga dia secara keras menyerang perspektif “empirisisme Aristotelenian” (di antara penganutnya ialah Charles Darwin). Sekali lagi menurutku, seharusnya kita menghargai sudut pandang orang lain.

    @
    Betul Mas, kata kuncinya ada pada kalimat terakhir… kita menghargai sudut pandang orang lain. Bahkan meskipun sangat bertolak belakang atau bersebrangan dengan cara pandang kita. Banyak sekali yang saya tertarik dari cara pembelajaran HY yang indah. Menunjukkan beberapa sisi-sisi kehidupan sains dan agama dalam satu alunan.

    Belajar dari kebenaran, tetapi juga dari ketidakbenaran….

  10. Secara demikian, kritikan Abu Hudzaifah al-Atsari terhadap Harun Yahya mengandung kelemahan yang setara dengan kelemahan Harun Yahya tersebut. Hanya saja, al-Atsari berada di pihak yang berlawanan dengannya. Menurutku, al-Atsari terlalu fanatik pada sudut pandangnya yang cenderung dekat dengan “empirisisme Aristotelenian” (walau bukan pendukung Charles Darwin). Begitu fanatiknya dia, sehingga secara keras menyerang perspektif “idealisme Platonian” (atau neo-Platonian) yang dianut oleh Harun Yahya. Sekali lagi menurutku, seharusnya kita menghargai sudut pandang orang lain.

    @
    Saya komentar lebih panjang di blog Mas saja ya.. karena memang relevansinya kelihatannya sudah berpindah ke sana… :D

  11. zey said

    Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang kata Einstein
    Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah hampa kata saya
    Tanpa ilmu pengetahuan tanpa agama itu buta lebih parah lagi mas…..

    @
    Manusia berpikir dan berbuat tanpa agama pincang… sepertinya logika Einstein begitu benar… bahkan boleh jadi bukan hanya pincang tapi sia-sia, karena manusia jenis ini hanya mencari pahala dunia sebanyak-banyaknya dan melupakan harapan bagiannya di akhirat.

    Kalau tanpa ilmu pengetahuan dan tanpa agama… parah, kalau dia punya kemampuan berpikir dan waras. Tentulah dia sia-siakan waktunya di dunia dan juga masa depannya setelah wafat…..

  12. Penny said

    Ilmu pengetahuan dan agama tidak akan ketemu. Karena ilmu pengetahuan membuktikan apa yang ada didalam kitab adalah salah, dan kaum beragama selalu tidak mau menerima.

    But resistance is futile…

    @
    Yap.. sudah jelas ilmu pengetahuan tidak akan bertemu. Ilmu pengetahuan (dalam hal ini sains dan teknologi) adalah proses pembuktian dan upaya manusia untuk meningkatkan derajat materialisnya. Lalu dalam urusan spiritual, ilmu pengetahuan hanya bisa berbicara dalam skala-skala penarikan kesimpulan dari pengamatan luar. Tak akan pernah bisa mampu menilisik sampai ke kedalaman. Sains hanya mempelajari pada batas fisis dan tak mampu lebih dari itu. Jadi memang resistensi ilmu pengetahuan adalah benar adanya. Ketidakmampuan untuk menerobos sisi-sisi lain membuat sains gagal menjawab kebutuhan manusia yang paling hakiki. Itu sangat disadari oleh kaum yang menelaah kedua-duanya.

  13. [...] mungkin itu ialah seorang sahabatku di dunia maya, mas Agor namanya. Di blognya, mas Agor menulis Catatan atas “Beberapa Kesalahan Fatal Buku Harun Yahya”: Pengetahuan dan ilmu kita, apalagi di jaman modern ini yang penuh dengan kemewahan relatif dan [...]

  14. Agus28 said

    Assalam

  15. aku udah banyak baca buku harun yahya n slalu menuggu yang terbaru..menarik..ga ada yang ditutup tutupi..semuanya jelas kalo islam adalah agama yang terbaik n terakhir..

  16. saint adalah salah satu jawaban yang ada dalam alquran supaya manusia bisa mengambil pelajaran, desain helikopter meniru capung dan masih banyak lagi

  17. persepsi manusia akan tuhan beranekaragam, mulai dari sesuatu yang ghaib, karena ujian hidup, kekayaan alam semesta, ada juga yang dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi, allh maha mengetahui

  18. logik said

    Karena ini membahas tulisan HY, terus terang aku menilainya bahwa itu bukan tulisan ilmiah, apalagi karya ilmiah, hanya pendapatnya HY aja. Dia boleh meracau apa saja, tetapi malangnya, TIDAK LOGIS sama sekali. Jadi lupakan saja.

  19. Yudi Aswandi said

    yg penting kita sadari posisi kita seperti apa bagi umat lain.
    benar2 g penting kita mempermasalahkan usaha saudara2 kita berusaha keras untuk menyadarkan bagaimana sebenarnya Islam.
    kita cukupkan kesibukan pikiran, hati, & ucapan dr menjelek2an saudara sendiri. kemungkaran itu di mana2, knp kita tdk berusaha meniadakannya drpd menunjukkan ketidaksukaan dgn usaha saudara sendiri??
    Karena kata ALLOH SWT kita adalah khoiro ummah, umat teladan, mari kita buktikan kalau kita memang umat teladan, memimpin ilmu & teknologi

    Semoga ALLOH SWT membukakan & melembutkan hati orang2 mukmin

  20. gox said

    ” Saya menjadi sangat bingung dengan banyaknya komentar yang ada.,saya memang belum memebaca buku karya harun yahya,,namun saya pernah mendengar isi dari buku tersebut dan setelah saya mendengarkan isi dari buku tersebut menurut saya buku tersebut megandung makna yang dalam sekali terhadap pemahaman kepada Allah yang sesungguhnya…
    jadi apakah cuma gara-gara sebuah karya dari seseorang umat islam bisa tercepecah belah seperti ini??????
    harusnya anda bisa memberi komentar terhadap buku HY lewat sebuah karya anda namun tidak saling menyerang satu sama lain…

  21. jono said

    saya sangat setuju dgn saudara gox .

    apalagi setelah saya membaca kalimat terakhir dari artikel ini yang mengatakan

    “Beliau (al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi) juga dekat dengan masyaikh jum’iyah Ahlul Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya.”

    kalimat ini seolah-olah menegaskan bahwa yg tersebut di atas adalah ilmuwan muslim paling hebat . seharusnya tdk usah sampai demikian.

    Wallahu a’lam bish showab

  22. Abu Hudzaifah mengeritik Harun Yahya tentang pandangannya tentang Tuhan, dimana Harun Yahya yakin bahwa tuhan itu ada dimana-mana dan meliputi segala manusia sedangkan Abu Hudzaifah menyalahkannya dan mengatakan bahwa tuhan itu berpisah dari makhluknya. Abu Hudzaifah pun membawa nama Ahlus Sunnah, bahwa Ahlussunnah meyakini bahwa Allah SWT beristi’wa di atas arsy-Nya di atas langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
    Menurut saya, keritik Abu Hudzaifah itu tidak kuat karena dalam tulisannya itu dia tidak memiliki landasan yang kuat, sedangkan Harun Yahya berlandas pada firman Allah surah Al-Baqarah: 186, Al-Isra': 60) dan Al-Waqi’ah:83-85), ayat tersebut berbunyi yang artinya:

    ”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186).

    ”Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Israa’ : 60)

    ”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)

    Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam diatas arsy. Dia mengetahui apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan dia bersama kamu dimanasaja kamu berada. dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan. ” (Q.S. Al-Hadid: 4)

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengatahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Q.S. Aq-Qaaf: 16)

    Demikianlah alasan Harun Yahya yang bersumber dari Al-Qur’an itu sendiri. Sungguh Abu Hudzaifah menyalahkan orang tapi dia tidak melihat kesalahan dirinya. Semoga keritiknya itu tidak berdasarkan pada nafsunya. Saya tidak mendukung keritik Abu Hudfzaifah karena dia punya keyakinan bahwa tuhan itu ada di Arzy sedangkan Arzy menurut dia itu ada dilangit. Memang banyak ayat Al-Qur’an menyatakan bahwa tuhan itu besemayam di Arzy, tapi tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Arzy itu ada di langit dan tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Allah berpisah dengan makhluknya. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa Allah itu dekat, lebih dekat dari urat leher manusia itu sendiri. Bisa saja Arzy-Nya Allah itu ada di sekitar kita dan bisa saja Arzy-Nya itu meliputi manusia itu sendiri sehingga sesuailah ayat di atas bahwa Allah sungguh sangat dekat dan meliputi segala manusia dan bahkan Allah lebih dekat dari pribadi kita sendiri.

    Abu Hudzaifah memahami Arzy atau kursinya Allah itu seperti kursi-kursi yang sering kita lihat, dimana kursi Allah itu dia pahami adalah sebuah tempat. Sedangkan tuhan itu tidak bertempat. Kapan tuhan bertempat berarti dia bukan tuhan yang sebenarnya alias tuhan bohong-bohongan, karena yang bertempat itu pasti sesuatu yang terbatas dan bisa terbayangkan. Sedangkan tuhan itu tak terbatas dan otomatis tak bisa terbayangkan. Kalaupun ada yang mengatakan bahwa tuhan itu berwujud juga merupakan pernyataan yang salah. Segala sesuatu yang berwujud itu sudah pasti sesuatu yang terbatas. Adapun di Akhirat kelak dimana ada sebahagian manusia dipilih khusus oleh Allah untuk saling bertatap muka merupakan sesuatu yang tidak boleh dibesar-besarkan dan tidak boleh dibayangkan karena itu tidak bisa dicapai oelh akal manusia. Karena bertatap muka menurut Allah yang tercantum dalam A-Qur’an itu sudah pasti berbeda menurut gambaran kita. Kalaupun seorang Nabi pernah bertemu langsung dengan Allah juga merupakan sesuatu yang tak perlu dibayangkan. Yang pasti Nabi tersebut tidak melihat Allah, yang ia lihat hanyalah sifat wujud Allah bukan ke-Dia-an Allah.SWT.
    Subehanallah…Subehanallah…Subehanallah…

    • agorsiloku said

      Terimakasih catatannnya, ada pro dan kontra, tapi memang masalahnya itu berada diujung ilmu agama…., bahkan sesuatu yang tidak bisa kita definisikan karena kita tidak punya cukup pengetahuan terhadap wujud “Esa” dan tak ada sesuatu apapun yang menyerupai. Dengan kata lain, setiap kita mengambil pemisalan atau pemahaman, maka konsekuensi tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai adalah “bukan itu”.

    • terserah said

      Buku HY tentang runtuhnya teori darwin telah mengguncang para ateis dan para penganut evolusi.. hal ini bnyak menimbulkan simpati dan juga kebencian thd penulis…. shingga tdk heran jika bnyk kritikan yg berusaha menyudutkan beliau..

  23. barrezta said

    Assalamualaikum Warahmutullahi Wabarakaatuh

    Saya sebagai seorang muslim yang awam sekali hanya ingin mengungkapkan pendapat pribadi saja mengenai artikel ini. Dan saya hanya akan menyampaikan hal-hal

    Saya sudah membaca sebagian kecil karya-karya Harun Yahya. Dan saya sangatlah terkagum dan InsyaAllah memperkuat keimanan saya. Saya senang ada seorang pemikir Islam yang memberikan pencerahan bagi manusia tidak hanya untuk Muslimin saja. Beliau sangat cerdas dan mampu mematahkan sebuah konsep pemahaman barat yang anti Tuhan. Entah berapa banyak manusia kafir yang telah masuk Islam setelah mengenal dan membaca karya-karya Harun Yahya. Itu bisa dipahami karena HY secara jelas dan detail menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti oleh semua manusia dan yang paling utama adalah Al Qur’an dan Hadist sebagai rujukannya. Meskipun tingkatan ilmu dan cara berpikir beliau jauh diatas orang awam. Beliau telah berjuang di jalan Allah SWT.

    Tapi kemudian saya melihat artikel ini ketika saya mengetikkan “buku Harun Yahya” di Google, langsung saja saya buka karena dari judulnya saja sudah menarik kontroversi “Beberapa Kesalahan Fatal Buku Harun Yahya”. Saya akan mengomentari dari judulnya dulu. Orang pasti tahu (bukan berprasangka) bahwa dalam judul tersebut jelas ada kata “kesalahan fatal” dan dapat diartikan telah terjadi kesalahan berat yang tidak bisa diterima karena sudah telak (intisari) dari beberapa karya Harun Yahya. Saya tidak melihat adanya ajakan penyimpangan untuk menyekutukan Allah dalam karya2 HY dan saya tidak melihat adanya pengarahan pikiran dan spiritual dari karya2 HY keluar dari jangkauan akal pikiran manusia. Jadi saya menilai bahwa dari judul artikel ini saja sudah menghakimi/memvonis/menjudge bahwa pemikiran HY salah besar dengan adanya kata “kesalahan fatal”.

    Dan setelah membaca isi dari artikel disitu mungkin saya sebagai muslim awam tidak begitu dalam memahami beberapa “kesalahan fatal” yang ada. Ini saya sebagai seorang muslim, bagaimana jika seseorang yang membaca itu non-muslim?
    Sebab setahu saya HY berkarya bukan untuk kaum Muslim saja justru untuk melawan dan meluruskan pemahaman orang2 barat yang menyebarkan konsep anti-Tuhan yang selama ratusan tahun dipropagandakan ke seluruh dunia? Apakah orang2 non muslim tahu banyak tentang Islam? Logikanya apakah bayi akan sanggup untuk mempelajari dan memahami Integral Lipat 3 (mata kuliah kalkulus) yang begitu rumit? jangankan integral lipat 3, ngomong saja belum bisa. Ibaratnya seperti itu, dan menurut pendapat saya apa yang disampaikan HY melalui karya-karyanya itu melalui komunikasi yang universal, yang ditujukan untuk seluruh umat manusia di penjuru dunia ini. Dan beliau mampu menyampaikannya dan menjembatani apa yang menjadi ilmu dan kemampuan beliau miliki untuk diserap oleh para penikmat karya beliau. Dan menurut pendapat saya karya2 HY mempunyai dua tahap pesan, yg pertama untuk menolak/meyakini bahwa pemahaman barat yang materialisme kemudian bertahap memasuki tahap kedua untuk ajakan menuju kebenaran yang bersumber Al Qur’an dan Hadist yang merupakan kebenaran dari ALLAH SWT dan utusan-Nya Rasulullah SAW.
    Bukankah konsep yang dipropagandakan oleh orang2 barat yang kafir sangat fatal?? ajaran yang jelas-jelas sangat menyimpang untuk tidak menerima adanya Tuhan Allah SWT.

    Dan ingat artikel ini bisa dibaca oleh siapa saja, dan saya melihat isi dari artikel ini tidak/belum merepresentasikan untuk pembaca non-muslim, yang sudah saya katakan tadi bisa diibaratkan seorang bayi yang harus dijejal pemikiran yang belum sesuai.

    Dan tengoklah berapa banyak kaum kafir yang telah memeluk Islam melalui karya2 HY dan Muslim tentunya yang keimanannya semakin kuat.

    Demikian apa yang bisa saya sampaikan sebatas saya sebagai seorang muslim yang awam.

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

    • agorsiloku said

      Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
      Terimakasih untuk catatan Mas Barrezta, yang dinilai fatal oleh penulisnya adalah penjelasan mengenai “keberadaan Allah” sebagai entitas tunggal yang tidak menyerupai segala apapun yang bersemayam di arsy. Kita tidak bisa menjelaskan dengan “apapun” karena apapun yang menjelaskan tentang “entitas tunggal” adalah bukan seperti itu – bukan itu, sesuai dengan konsepsi tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya. Jadi, agor kira yang lebih mudah dan disederhanakan, kita terima dan yakini apa yang telah disampaikanNya pada kitabNya. Penafsiran tentu banyak versinya.
      Kata kesalahan fatal adalah pandangan dari sebuah konsepsi berpikir tentang kebersatuan dan ilmuNya yang meliputi segala sesuatu. Ada perbedaan model berpikir dengan konsepsi yang dikembangkan oleh Ibn Arabi (wahdat al wujud).
      Perbedaan itu tentu dapat diarifi, dan menjadi sarana olah pikir bahwa cara-cara pandang bisa berbeda dan pembaca akan menyimpulkan sendiri, mana yang menurutnya lebih tepat.
      Saya juga termasuk penggemar berat dari karya-karya HY yang membuka wawasan berpikir tentang alam semesta dan bagaimana kita bisa meningkatkan iman kita setelah membaca karya-karya HY. Ada perbedaan dan selisih pandang, tentu bukan berarti kita tidak menghargai karya-karyanya yang berharga. Sepenuhnya diamini juga tidak selalu, karena ilmu dan pemahaman berkembang sejalan waktu….
      Judul yang disampakan memang “menghakimi” sebuah cara pandang. Soal kebenarannya, wallahu’alam. Yang dibahas ada pada arena lebih dalam dan tenang. Saya percaya yang membaca tulisan tersebut, tidak kemudian ikut menghakimi, namun menjadi salah satu dialektika berpikir yang mengasah pemahaman-pemahaman yang ditawarkan. Makin kita menyikapinya dengan “alert”, insya Allah kita terdorong untuk memahami lebih lanjut, dan Allah memberikan kita pengetahuan yang sebelumnya tidak kita ketahui.
      Salam selalu, agor

      • barrezta said

        Itulah kenapa dunia Islam dalam keterpurukan selama kaumnya sendiri masih berpegang ego dengan pemikiran sendiri dan merasa dirinyalah yang paling benar. Mungkin hal ini bisa terjadi lantaran pemimpin/khalifah yang benar2 utusan langsung dari ALLAH SWT sudah meninggalkan dunia ini, kecuali pedoman yang ditinggalkan yaitu AL QUR’AN dan HADIST. dan yang namanya manusia yang tidak sempurna yang menyebabkan pesan asli itu berubah dan tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW. Hadis saja ada yang sahih, diragukan, dan yang tidak dapat dipercaya. Jadi sekarang ini banyak orang muslim awam masih terombang ambing terikat oleh suatu pemahaman/aliran yang bermacam macam dan banyak jumlahnya. Hanya ada waktu dimana akan datang khalifah yang akan meluruskan lagi ajaran Islam yang sesungguhnya sebagaimana yang telah ditulis dalam AL QUR’AN. Tidak bisa dipungkiri saat ini memang Islam sudah terpecah-pecah dalam banyak golongan dan semuanya mengaku sebagai Ahlus Sunnah.

        Padahal Al Qur’an dan Rasulullah SAW tidak mengajarkan agar umat Islam berpecah belah, tapi mengajarkan sebuah kebenaran dan jalan menuju Rahmatullah yaitu satu: ISLAM agama Allah, yang menyuruh untuk melaksanakan perintah dan apa yang dilarang, mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk untuk kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Namun tidak bisa dipungkiri yang namanya manusia itu tempatnya salah, jauh dari kesempurnaan, tidak memiliki tingkat kepercayaan 100%.

        Saya yakin juga anda sebagai seorang muslim mendambakan Islam yang satu, seperti saya dan semua umat muslim dambakan.

      • agorsiloku said

        Banyak aliran dari puncak agama Islam dan umumnya berada pada rangkaian persoalan yang tidak bersentuhan dengan ketauhidan. Persoalan ini sederhana, jika mampu menyederhanakan. Rumit, jika perselisihan perbedaan pandangan berfokuskan kepada siapa yang menyampaikan, latar belakangnya apa, dan jika berbeda, “maka” hanya golongan “kami”-lah yang benar. Jadi walaupun disertai pesan “wallahu’alam”, esensinya memang tidak sampai pada komunikasi sosial keagamaan.

        Di sisi lain, golongan-golongan dalam berbagai versinya ini, ada satu hal yang dipertahankan dengan hati-hati dan seksama, yaitu bertahan dari serangan jaman untuk mempertahankan akidah tauhid. Subhanallah, rujukan utama dan usaha untuk berpegang teguh kepada petunjukNya yang tertulis (Al Qur’an dan sebagaian dari Hadis) menjadi titik utama yang membuat Islam mampu mempertahankan diri dari godaan syetan.

        Dari sisi klaim, saya kira ummat semakin menyadari, betapa agungnya kitab petunjukNYa, dan kian memahami pula, perbedaan paham, politik, dan hasrat kekuasaan terpisahkan dengan jelas dengan akidah. Pertentangan bukan pada siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan.

        Saya percaya, kian saat kita semakin mampu melihat perbedaan sebagai rahmat, dan bukan lagi sarana untuk memperkuat perbedaan yang berkonotasi pada perselisihan dan pengelompokan — hanya kamilah yang paling benar…—

  24. Blapakempus said

    Agor sang wahabi,tulisan diblog ente emg kacau,begitu jg komentar ente menanggapi komen akhi2 yg laen,sangat klihatan pemahaman ente amat teramat dangkal,mending jgn komen mcm2 dulu,blajar lg ya,ente msh kategori bayi 5 bln,lg blajar mrangkak,lstgfar krn isi blog ini MEMBUAT SU’UDZON satu sama lain.

    • agorsiloku said

      Syukurlah masih dangkal.. karena memang betul sih, mencoba untuk belajar dan mendapatkan uraian dari mereka yang ahli pada bidangnya. Membaca dengan teliti dan meminimkan prasangka adalah usaha tersendiri.
      Komentar Blapakempus juga sudah memperlihatkan ketinggian ilmunya. Sayangnya apa yang diuraikan tidak membawa pengertian yang mencerahkan.

  25. kusnadi said

    Paparan yang dikemukakan oleh penulis pada blog ini ibarat menghakimi permainan sepak bola dengan aturan-aturan permainan bulu tangkis atau seperti peribahasa mengatakan “JAUH PANGGANG DARI API”. Harun Yahya menguraikan pemikirannya dengan nalar dan fakta-fakta sains, lalu dikaitkan dengan Al Quran yang untuk sementara dapat diselaraskan. Jadi, fukusnya pada fakta sains, bukan tafsir Al Quran. Jika ingin membantah tulisn Harun Yahya, maka bantahlah dengan nalar dan fakta sains, bukan dengan tafsir Al Quran, apalagi tafsir menurut versi tertentu. Pemahaman terhadap satu ayat saja dari Al Quran bisa sangat banyak dan itu telah terbukti sepanjang sejarah. Pemahaman yang oleh penulis diklaem sebagai pemahaman ahli sunnah wal jamaah memang salah satu referensi yang harus diperhitungkan, tapi sebagaimana penulis katakan pada awal paparannya bahwa “manusia tidak pernah terlepas dari kesalahan”, maka pemahaman ahlu sunnah pun tidak steril dari hal itu (Lebih lengkap mengenai hal ini bisa dibaca ulang pada buku karya Quraish Shihab, Membumikan Al Quran). Sebagai satu contoh saja, pengetahuan tentang “langit” yang dapat dicapai oleh ulama-ulama salaf jika dibandingkan dengan ulama-ulama modern yang mengikuti perkembangan sains, sangat jauh berbeda.Pada saat para ulama tersebut menafsirkan ayat-ayat tentang langit, sains masih sangat sederhana sehingga sulit membayangkan langit dengan pengetahuan yang kita miliki sekarang ini. Tidak ada yang keliru pada pernyataan-pernyataan ahlu sunnah, namun bagaimana memahaminya, tidaklah harus dengan sains yang masih sangat terbatas waktu itu. Sebenarnya, jika penulis mau mencoba untuk mencari benang merah antara pernyataan-pernyataan ahlu sunnah dengan pemikiran Harun Yahya, insya Allah akan ketemu. Saya dapat merasakan hal itu.
    Sejauh ini, saya adalah orang yang mengagumi Harun Yahya, tapi saya khawatir jika ada kekeliruan yang tak tersadari. karena itu, saya ingin kalau Harun Yahya itu dibantah dengan bantahan yang proporsional. Namun, saya belum menemukan itu.

  26. agung said

    sufiyah itu benar barang kali salafy yang salah

  27. agung said

    Allah lebih dekat dengan urat leher kita, mau ditafsiri apa lagi

  28. jelasnggak said

    MAKANYA saya juga HERAN..

    Banyak orang-orang muslim yang meng-agung-agung-kan dan mengutip tulisan si harun yahya itu… ha ha ha..

    ternyata sekarang ketahuan …
    Bagus lah kalau muslim sudah mulai pintar.

  29. Filar Biru said

    Saya pribadi tidak mau menjelek2kan seseorang di dalam tulisannya selagi orang itu memberikan penjelasan berdasarkan nash2 yang kuat.

    Dalam pandangan saya HY adalah seorang tokoh fenomenal dalam abad ini, tulisannya dan cara dia membuktikan ilmu agama dengan mempergunakan dalil2 AQ patut di acungi dua jempol.

    Tidak banyak kaum muslimin seperti ini, dan apabila ada bantahan oleh ulama yang lain itu wajar2 saja. selagi tidak mengkafirkan seseorang seenak perut.

  30. joni latul said

    saya setuju dengan kurcut, kalau kita mengomentari sesuatu haruslah sesuai dengan ilmu kita. kalau kita tidak mengetahui tentang sesuatu lalu kita berkomentar maka akan makin salah jadinya. menurut saya HY mengajak kepada kebenaran bukan kepada keburukan. hanya dia menyampaikan secara ilmu saint. jadi kalau kita mau mengomentari harus dengan ilmu saint juga. jangan pakai imlu akal akalan. karena kalau kita terus berdebat tentang masalah yang kita tidak tahu ilmunya, maka ini bisa jadi senjata bagi orang kafir untuk menghancurkan umat muslim. terima kasih

  31. Deli said

    Assalamualaikum All BRO,
    pengen ikutan nimbrung nih…kayaknya Bpk. Huzaifah mengutif pesan dari Mr. Bilal Philip deh….
    Bagi rekan-rekan semua…sebelum kita memberikan suatu sanggahan terhadap pandangan orang lain ,kita juga mempersiapkan data yang sesuai dengan cara ilmiah juga. jadi ga dengan cara emosional dan sebatas filosofi yang tidak berdasar.
    Untuk memahami hal yang dimaksudkan oleh tulisan HY, kita harus mempelajari semua materi yang ada di tubuh kita sendiri sampai bagian yang paling kecil sekali dan mengenal sifat-sifatnya, cara Allah menciptakan manusia di dalam rahim ibu juga perlu dikuasai sedetail mungkin, dan juga harus menguasai sistem kelistrikan yang ada di dalam tubuh kita….insya Allah akan bisa memahami apa yang dimaksudkan HY. Jadi kita tidak terjebak imannya orang-orang badui….makasih.

  32. Deli said

    Mari kita sebagai umat Islam yang mengaku ber iman kepada Allah untuk menyiapkan buku-buku pelajaran di bidang apapun berdasarkan Qur’an. Kalau tidak jelas di Qur’an baru cari di Hadits Rasulullah.kemudian referensi lain. dan bukan senaliknya. Kita sudah lama tercerai berai. Mari perbaiki cara beriman kepada kitab Allah. Kalau kita kenal kepada Allah , Insya Allah kita diberikan cahanya yang lain…trims.

  33. Deli said

    Hari ini umat islam tercerai berai….Qur’an tinggal tulisan…akhirnya sibuk menyalahkan satu sama lain tanpa ada dasar atau ilmu…setiap tahun bertengkar tentang awal puasa dan lebaran, bulan haji sibuk dengan kualitas hewan kurban, dimesjid sibuk bertengkar tentang niat diucapkan dan tidak….celana sebetis dan tidak, tahlil…sekarang Allah uji dengan ahmadiyah…nah lo…para ulama dan orang yang mengatas namakan islam sudah membajak islam…ada lagi …pakai sorban dan tidak…pakai gamis dan tidak…Masya allah…ini semua hal kecil di sisi allah…mau kemana akhirnya? akhirnya sibuk dengan urusan yang bukan urusannya…Jihad paling tinggi adalah mengontrol dan menundukkan hawa nafsu….tanpa iman yang benar…tidak akan muncul Akhlak yang baik…

  34. Deli said

    MARI KITA SIAPKAN SEMUA BIDANG ILMU PENGETAHUAN DENGAN SUBER UTAMA ALQURAN…..

  35. jangan bingung said

    HARUN YAHYA BUKAN NABI/RASUL..DIA MANUSIA BIASA YANG MENCURAHKAN HIDUPNYA PADA SAINS,TENTU KADANG SALAH DAN KADANG BENAR,KITA SBAGAI PENERUS ATAU YANG MENGEMARI DI BIDANG SAINS MENYEMPURNAKAN KARYA BELIAU,PATUTNYA KITA BERSYUKUR MASIH ADA ORANG ISLAM YANG MAU MEMPELAJARI SAINS,DI MANA YANG LAIN JUGA SIBUK MEMPELAJARI ILMU YG LAINYA,BUKAN MALAH DI CEMOOH ATW DI HUJAT,KALO SALAH YA TINGGALKAN SAJA ATAW DI LURUSKAN,TAPI TIDAK MENINGGALKAN KETINGGIAN BELIAU

  36. awam said

    cara mengkritisi yg santun…sebaiknya abu hudzaifah kerja sama dengan harun yahya..malah akan lebih bagus lagi hasilnya..^_^d

  37. bacopuraga said

    Kita seharusnya bersyukur kepada Allah, bahwa di jaman yang sudah sangat edan ini, Allah menghadirkan seorang Harun Yahya yang dikarunia kecerdasan yang mumpuni. Selamat untuk pak Harun Yahya ! Saya dapat merasakan niat ikhlas bapak untuk membela agama ini pada setiap tulisan bapak. Dan jangan hiraukan orang orang yang sepertinya terkesan iri pada kecemerlangan bapak.

  38. bacopuraga said

    Assalamu Alaikum Wr. Wb. Untuk pak Abu Hudzaifah Al-Atsari. Sudah berapakah orang yang bapak Islam kan lewat tulisan – tulisan bapak ? Bila memang belum ada, maka saya sarankan bapak belajar sama pak Harun Yahya.

    • agorsiloku said

      Wassalamu’alaikum ww.
      Sebuah catatan dari Pak Abu, saya memahaminya sebagai kecintaan Beliau juga terhadap karya-karya Harun Yahya. Kalau keliru, setidaknya ada yang mengingatkan, kalau Pak Abu yang keliru memahami, berarti juga muncul sanggahan yang menjelaskan reposisi karya yang belum terjelaskan. Apalagi, memang yang dibahas adalah “sesuatu” yang menjadi bahan diskusi berabad-abad lamanya. Kritisi terhadap pola pikir dan buah karya HY, bukan hanya dilakukan oleh satu dua orang, tapi banyak orang pula. Yang banyak menarik manfaat dari karya HY, juga sangat banyak. Saya termasuk yang mengagumi karya-karya berpikir dan analisis beliau. Sederhana dan mengena.
      Wassalam ww.

  39. hasan said

    apa yang diuraikan oleh harun yahya tentang keberadaan allah sangatlah sejalan dengan apa yang diajarkan di pesantren pesantren tradisional yang tentu berasaskan pada akidah ahlussunnah waljamaah bahwa allah itu terpisah daripada ruang dan waktu karena allah sendiri yang menciptakan ruang dan waktu .allah tidaklah bersemayam diatas aras tetapi allah yang memelihara aras makna daripada ayat innallaaha alalarsistawa adalah sesungguhnya allah yang memelihara aras bukan bersemayam diatas aras karena allah bersifat mukhalafatullilhawaditsi yang artinya allah berbeda dengan makhluk
    a

  40. Anonymous said

    Sudah! Jangan berdebat terus! Sama Islamnya kok berantem! Tuh, diketawain orang salibis.

  41. Anonymous said

    Saya ini memang orang awam. Tidak pernah belajar di ponpes atau manapun. Tapi menurut saya, yang dimaksud Harun Yahya bahwa Allah ada “dimana mana” adalah bahwa Allah selalu mengawasi kita dimanapun kita berada walau kita di lubang semutpun. Ingat nggak kisah tentang murid yang disuruh menyembelih ayam oleh gurunya asal tidak ketahuan siapapun. Akhirnya si murid tidak menjalankan misinya dan melapor pada gurunya bahwa dia tidak berhasil menyembelih ayam karena dia merasa diawasi. Didalam rumah, didalam gua, dan dimanapun dia akan menyembelih ayam, selalu ada yang mengawasi. Gurunya berkata, siapa yang mengawasimu dimanapun kamu ingin menyembelih ayam itu? ALLAH, jawab murid itu.

  42. Ambillah yg benar dan terbaik, tinggalkan yg meragukan dan keburukan. Lalu serahkan kepada Alloh SWT dgn segala keputusanNYA.

  43. Anonymous said

    mencari keselahan itu adalah hal yang mudah
    Anak-anak kecil yang kurang pengetahuan biasanya lebih sering menyalahkan ini dan itu saat mereka mendapati suatu keadaan yang mereka tidak sukai.
    Seperti anak kecil yang dilerai oleh orang tuanya

  44. Ratno said

    1 orang harunyahya di dunia ini masih lebih baik dari pada 10000 orang yang kerjanya hanya mencari2 kesalahan orang.

  45. dede said

    semua manusia selalu keliru, termasuk ente,dasar ateis.

  46. ok said

    mari beristighfar…..

  47. HENVEL said

    mas abu menukil pendapat ulama bahwa ALLAH itu ada diatas arsy dan arsy itu diatas langit, dan menganggap pendapat harun yahya batil dan menuduhnya qodariyah dan mu’tazilah, sekarang saya bertanya pada mas abu, langit itu apa dan arsy itu apa? karana kita kalau bicara tidak paham apa maksud perkataan tersebut akan gampang menyalahi orang. apa lagi yang sekaliber harun yahya

    • @Mas Henvel
      Subtansinya @Oom Abu memisahkan antara pencipta dengan ciptaan.
      logikanyah jika suatu ciptaan hancur (rusak, lapuk, fana) tidak serta merta penciptanya turut rusak atau ada sebagian tertentu dari sang pencipta yang mengalami kerusakan

  48. Miftah said

    Dalam buku “Menguak tabir nabi Isa dan peristiwa akhir zaman (jesus did not die)” ada keanehan yang sangat kentara disitu, Harun Yahya menyebut isa itu Yesus padahal Islam secara tegas mengatakan Isa a.s. bukan yesus krn yesus adalah judas iskariot yg wajahnya dimiripkan oleh Allah SWT. tapi Harun Yahya memberikan bukti2 berdasarkan ayat Al-qur’an ttg Yesusd dan pengikutnya? bagaimana menurut saudara2? atau adakah yg sudah membaca buku yg saya sebut diatas? mohon berbagi informasi krn saya bingung dengan karya-karya Harun Yahya banyak yg agak melenceng kalau menurut saya. triakasih

    • agorsiloku said

      Saya belum membaca buku Agus Mustofa untuk masalah ini. Memang benar, kaum Nasrani menuhankan Nabi Isa sebagai anak tuhan (juga orang alim dan rahib) mereka, sebagaimana dinyatakan dalam QS 9:31. Karena saya belum membaca buku Beliau, jadi agak susah juga mengomentari konteks uraian ini. Namun, jelas bahwa AQ menegasi bahwa yang dipertuhankan oleh mereka adalah Nabi Isa. Jadi dapat pula dipahami bahwa Isa itu adalah Yesus yang kemudian oleh AQ menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.
      Mengenai siapa yang disalib, adalah yang diserupakan. Seingat agor, AQ tidak menjelaskan siapa yang diserupakan itu. Judas adalah penghianat dalam sejarah kekristenan.

    • Awamiyah said

      sepengetahuan saya, semua tulisan HY aslinya dalam bahasa Turki, jadi jika ada kesalahan bisa dimungkinkan berasal dari penterjemahnya. :)

  49. konsep wahdatul wujud jelas itu berbahaya bagi diri saya yang awam,juga sebagai penggemar buku harun yahya…tapi saya belum mampu memahami bahwa hy benar2 berpijak pada pemahaman seperti itu..buku2nya rinci dan mudah dipahami..dan saya pribadi lebih suka belajar islam dari guru2 yang mengikuti pemahaman imam yang 4..dalam islam metode imam 4 ini lestari sepanjang masa dalam memahami islam dari sumber aslinya sekaligus prakteknya… menurut saya buku harun yahya memang menarik dan kritikannya pun sangat membangun. serta tulisan abu hudhaifah juga sangat berarti bagi saya..saya sangat setuju kritikan abu hudhaifah mencerminkan pemahaman ahlussunnah. mudah-mudahan kita diberi hidayah untuk mencari ilmu yang luas dari sumber yang shahih dan bersambung pada generasi awal islam. sehingga kita dapat memahami islam dengan tepat.

    • agorsiloku said

      tesa dan anti tesa, pelurusan pandangan, membaiki yang memang sudah baik… semuanya memperkaya pemahaman, termasuk juga kritikan abu hudhaiah yang saya kutip…
      Terimakasih mas sudi berkunjung ke blog agor…

  50. Anonymous said

    Subhanallah… perbedaan pendapat adalah rahmat… Semoga Allah selalu meluruskan niat kalian dalam berdiskusi… Sehingga kalian semua mendapatkan barokah dalam diskusi kalian… aamiin…

  51. Arasy Code said

    hehe

    Laibun walahwun

  52. Anonymous said

    Maaf, Allah tidak bertempat ataupun mengambil tempat. Juga tidak di ‘arasy maupun “dimana-mana”. Allah adalah dzat yang maha besar yang qadim, tidak ada suatv tempat pun di alam yang menyamai allah sehingga allah bisa bertempat disana.

  53. dali said

    rasanya tak ada yang salah pd statement pak harun yahya.

  54. Menghargai perbedaan adalah anugra,dan bukan suatu perpecahan

  55. asad said

    JANGAN SUKA MENGOREK_NGOREK AIB ORANG.LEBIH BAIK KOREKSI DIRI SENDIRI.

    • agorsiloku said

      tulisan sependapat atau kontra pada kedua pandangan ini, mohon maaf, agor kira bukanlah aib, tapi keniscayaan berpikir. Dari padanya dan ragam komentar yang masuk, tentunya menjadi bahan dan perluasan wawasan. Tidak untuk menghakimi, dan perbedaan pandangan, insya Allah, bukanlah aib….

    • Oom @Asad
      Kata sampean: Kang Agorsiloku mengorek-ngorek aib orang.
      Sampean mengorek-ngorek tulisan Kang Agor.

      Jadi siyapa neeh yang paling TOREK (alias buta tuli) :D

  56. Anonymous said

    hahahaha
    ini mah tulisan wahhabi tulen, yang meyakini Allah di langit…
    ekekekekekekek

  57. Revi Muhammad said

    Alhamdulillah, saya baru selesai membaca seluruh isi blog ini. mulai dari tulisan pak abu sampai seluruh komen yg masuk. tanggapan terakhir masuk dari Anonymous bertanggal 13 Juni 2013. berarti tulisan tanggapan sy masuk 1 bulan setelahnya..
    Isi tanggapan saya begini :
    Mengapa (mulai dari pertanyaan nih sama pemilik blog ni) mengapa tulisan pak abu di blog ini tidak secepatnya di hapus lalu diganti tema lain yg lebih konstruktif? (atau jangan2 niat anda untuk meng-erosi pemahaman dan nilai2 Islam alias antek2 Yahudi dan Dajjal seperti yg kerap disinyalir dlm karya2 HY???)
    Sangat kentara bahwa tulisan pak abu itu telah mengklaim kefatalan pada karya2 HY dan anda pak agor saya lihat cukup bersemangat dan ber-senafas dengan tulisan pak abu!
    Menurut anda, apasih arti kata “fatal?” atau apa akibatnya bila terjadi “kesalahan fatal?”
    Kalau anda atau pak abu menyatakan dengan gamblang bhw HY melakukan kesalahan fatal, itu sama artinya anda mementahkan alias tidak ada faedahnya sama sekali seluruh karya, jerih payah, hasil upaya serta dampak dari apa yg telah dilakukan oleh HY termasuk didalamnya org2 yang tercerahkan dan lebih banyak lagi yg masuk Islam karena karya2 beliau. anda dan pak abu secara berbarengan telah meneriakkan :”wahai orang2 yang telah membaca karya2 HY dan juga orang2 yg telah masuk Islam karenanya, anda semua melakukan kesalahan fatal yang tidak berfaedah. Hal itulah yg tersirat dari isi blog anda kali ini.
    Siapa sih anda yg sebegitu beraninya menentukan tingginya langit cuma dengan modal sebatang mistar??? lalu anda bersembunyi dengan kata “perbedaan adalah rahmat” ketika ada komentar yang berupaya tulus untuk menginsyafkan anda!
    Jadi menurut saya, pak abu (si penulis yg kayakx cuma mengutip pula dari abu juga, lalu diposting tulisan tersebut oleh nama yg tidk jau beda pula yaitu agor) sepertinya tidak cukup mampu memahami buah karya HY yang brilian itu….. hal ini terlihat dari sintesa berpikirnya yg keliru, yaitu justru seolah melakukan pembuktian sains dengan wahyu. mestinya sains yg membuktikan wahyu bukan malah sebaliknya. sementara hal yg benar malahan yg telah dilakukan oleh yg dikritisi, HY. bukan cuma itu, kemudian kesalahan tulisannya lg berlanjut pada alat analisa yg gegabah hanya berdasarkan logika yg tidak lengkap yaitu masalah keesaan Allah. Justru salah total..! Tuhan Itu di arsy. Tuhan itu yg menguasai arsy atw sebaliknya pak??? Arsy itu di langit, berarti Tuhan di langit? sementara Tuhan yg menciptakan langit. Coba baca dan pahami kembali makna surat Al-Ikhlas lalu bertobatlah pak abu, pak abu lagi dan anda sendiri pak agor!
    Sanggupkah anda berhadapan dengan Nabi SAW jika dipadang masyar nanti ketika beliau datang pada anda dan meminta pertanggungjawaban atas perkara kerugian yg telah anda timbulkan pada umatnya karena dampak blog ini yg mungkin sama sekali anda tidak ketahui?
    Pak agor n pak abu, ingatlah bhw tulisan anda bukan cma di baca oleh segelintir orang, tapi jg banyak kalangan mulai dari tingkat pemahaman yg berbeda sampai perbedaan agama. tulisan ini jelas sangat tidak konstruktif utk pengembangan Islam malah sangt destruktif..
    Cobalah anda baca ulang tulisan anda di atas, termasuk seluruh comment yg masuk, anda coba resapi kata2 bung kucrut, pak kusnadi, tuan anonim juga dan yg lainnya, pasti anda akan mengerti apa yg saya maksud!
    Mudah2an ini menjadi comment yg terakhir, karena selanjutnya anda sudah akan mengambil langkah2 strategis, yaitu : HAPUS TULISANMU DI BLOK INI!!! atau malaikat maut yang akan datang menghapusmu!
    Wassalam..

  58. Hamba ALLAH said

    apa yang kalian katakan memang betul ada nya prkata’an kalian , namun belum tentu benar menurut padangan tuhan “ALLAH'”
    sesuai dengan defenisi agama , kalian-kalian ini di golong kan sebagai orang yang memandang agama sebagai sanDaran yang akan hanya BISA MENYELESAIKAN MASALAH-MASALah NON-IMPIRIS.

  59. Yusuf Yasin GZr said

    assalamu’alaikum. .
    Menurut saya harun yahya itu benar, , ,menurut saya ustad Abu Hudzaifah al-Atsari salah menafsirkan tentang ap yang dimaksudkan oleh beliau harun yahya, , ,

    dari penjelaasan oleh ustad Abu Hudzaifah al Atsari dibawah ini :

    Harun Yahya –saddadahullahu- menulis di halaman 190 tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil :

    ”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186)

    ”Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Israa’ : 60)

    Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia tatkala
    sakaratul maut, yaitu :

    ”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih
    dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)

    Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun menunjukkan pemahaman bahwa
    Allah Dzat Allah ada dimana-mana, namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman Allah di atas adalah, “Ilmu” Allah-lah yang meliputi segala sesuatu. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam
    Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya tentang ayat wa huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun
    kamu berada), beliau berkata : “Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya.” (Khalqu Af’alil Ibad, Imam Bukhari)

    bisa disimpulkan bahwa yang meliputi segala sesuatu itu adlah ilmullah ilmuny Allah, , ,dan bukan dzatny Allah sendirilah yang meliputi segala sesuatu. . .

    kemudian dri pernyataan beliau Harun Yahya dlm bukuny :

    Yang artinya :
    “Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…”

    Yang artinya :
    “Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”

    maka aapakah tidak juga kita berkhusnudlon pda Harun yahya, , dan janganlah menuduh atau memvonis beliau dengan “sesat”. . bahwa yang meliputi “bagian luar, bagian dalam, ” adlh ilmuny Allah juga. .

    dlm pernyaataaan Harun Yahya “Allah berada dimaana2 sedaangkan kita hanyaalah ilusi belaka” apakah tidak kita pahami juga baahwa yang dimaksud dengan Allah yang dimana2 ini adlh “ilmuny Allah juga??”, , ,

    maka adillah dalam menafsirkan al qur’an dan pernyataan Harun Yahya, , yang mencoba untuk membentengi pengetahuan islam dengan ilmuny, , , ,

    mengenai paham wihdatul wujud aadalah paham yang tidak meenyimpang bagi mereka yaang telah sampai pd ilmu tentaang hakikaat, dan bagi awam memang berbahaya, , ,
    daan menurutku yg menyatakan bahwa semua mahluk ini hanyalah ilusi dan hanya Allah lah yang ada , , , itu bukanlah sesat tpi merupakan kenyataan. . .

    dan menurut saya Ustad Abu Hudzaifah lah yg salah penafsiran mengenai “Allah Ada di Arsy ny(di atas langit)” pernyataan ustad Abu Hudzaifah seakan2 mempunyai paham bahwa Istiwa adlh sifat Allah yng menetap (bertempat diarsy), , , padaahal perlu kita ketahui bahwa tafsiran mengenai “Istiwa” adlh Allah bertempat di Arsy merupakan Paham Mu’tazilah. . . sedangkaan paham Ahlus Sunnah mengatakan bahwa “istiwa” mempunyai makna “menguasai Arsy”. . . dalam paham Ahlus sunnah yang namanya menguasai arsy belum tentu bertempat di arsy. . . jadi agar lebih berhati2, maka “tafakkaruu fil kholqi wala tafaakkaruu fil kholiq fatahliku, ,(alhadits), , , artinya : berpikirlah tentang apa2 yang diciptakan, dan janganlah berpikir tentang yng menciptakan , , ,

    walhasil beliau Harun Yahya membuat pertanyaan yg masih perlu dipertanyakan lebh details tentang maksudpernyataanny tersebut, , ,kemuddian ustad Abu Hudzaifah harus lebih hati2, jika seorang harun yahya anda vonis sesat dengan hawa nafsu anda, ,maka sama saja anda dengan merobohkan benteng islam dr paham evolusi yg sdh jelas sesatny. . . terima kasih, , , mohon maaf jika kata2 saaya kasar semua, , , ini hnyalah sekadaar diskusi, , , wasssalamu’alaikum

    • agorsiloku said

      Waalaikum salam Mas,
      agak lama saya tidak menengok blog dan agak sedikit lupa juga postingan yang berisi tulisan “…kesalahan fatal HY” menjadi bahan diskusi yg menarik bertahun-tahun. Ada yang karenanya kemudian menilai saya wahabi atau ada yang meminta untuk menghapus isi blog ini sekaligus memberikan ultimatum …atau malaikat maut akan datang menghapusnya”.
      Yang jadi bahan diskusi adalah “Allah ada dimana-mana, meliputi segala sesuatu” ataukah …. bersemayam di atas ‘Arsy…” Seperti terj. depag Indonesia itu.

      Saya kemudian menuliskannya kembali komentar yang bernas pada link : http://agorsiloku.wordpress.com/2009/01/13/meliputi-dan-kebersatuan-wujud/

      Namun jelas, kita semua, saya kira hanya menyimpulkan berdasarkan pengetahuan yang disampaikan. Kita tidak mengetahui esensinya, termasuk objek yang dibahasnya. Jadi, secara logis, apapun yang kita pikirkan, potensial untuk tidak benar atau jauh dari hakikatnya……

      Karena itu, senang ketika Mas mengakhiri dengan catatan… ini hanyalah sekedar diskusi. Dengan kata lain, di ranah ini kita mengasah dan belajar.

      • Mas Bro said

        Ya setelah anda menghakimi kesalahan fatal HY, kemudian meluruskan (membela) “bahan postingan” dng kata-2 bersayap bhw anda dan Abu bukan hakimnya, kini anda tiarap; ranah ini sarana belajar! Ya belajar untuk membela golongan sendiri?

      • agorsiloku said

        Maaf Mas Bro, sekali lagi maaf, saya tidak punya golongan=golongan yang bertujuan untuk eksklusif atau mengkotak-kotakkan. Biarkan pembaca yang menilai mana yang benar atau keliru menurut asumsi, logika, dan pemahaman masing-masing. Benar, ada kata-kata saya yang berdiplomatis, tapi sama sekali bukan untuk menghakimi. Orang bisa benar atau salah dalam menilai, tapi saya sama sekali tidak bermaksud untuk berburuk sangka, apalagi kepada kaum yang beriman dalam Islam.

  60. anna said

    Saya org awam akan ilmu sains dan islam. Baik itu tauhid, sufi ataupun aqidah, tp sys lbh mengerti konsep ketuhanan harun yahya dr pd penjelasan di atas, menurut saya, org pinter itu adalah org yg mampu menjelaskan perkara rumit dgn sederhana, drpada merumitkan hal sederhana. Simple..

  61. Artikel Harun Yahya sgt baik dan berguna bagi umat Islam. Banyak yg dikemukakan oleh beliau sbg pembenaran dlm Alqur’an. Sbg contoh teori Darwin yg sgt ditentang oleh beliau. Jadi saya juga tidak mengerti kesalahan2 fatal yg anda maksud tadi

  62. koji langan said

    saya juga memang kurang paham tentang ini, tetapi saya sangat setuju dengan apa yang telah di paparkan Harun Yahya

  63. mbakje said

    Saya termasuk orang yang kagum dg tulisan2 & karya2 Harun Yahya (Adnan Oktar)… tapi saya jadi bertanya-tanya ketika menyaksikan acara2 talkshow-nya di youtube yang ditayangkan live oleh TV A9 Turki (http://en.a9.com.tr/). Mengapa ia selalu dikelilingi perempuan2 seksi berbaju mini & ketat dengan make up super menor??? Sekarang saya jadi mulai berpikir bahwa dia seorang munafik… Wallahua’lam

  64. hendra bta said

    Sebaiknya anda langsung tanyakan kekeliruan ke harun yahya langsung apakah memang maksudnya seperti anda sangkakan. Kalo anda buat tulisan seperti diatas artinya anda termasuk seorang pengumpat al humazah. Mohon diteliti lagi tulisan anda. Jangan sampai sesat dan menyesatkan

  65. iqraqalbu said

    Sebaiknya kita menambah ilmu pengetahuan kita, salah2 karena kedangkalan ilmu pemahaman kita jadi kita salah presepsi dan melewati pola pikir orang2 yang sudah pohon Kelapa, sedangkan kita hanya rumput. Seandainya kita menyalahkan sebaiknya penyalahan juga diikuti dengan keterangan pembenaran menurut anda mengenai Wujud Tuhan atau Filsafat ketuhanan anda. Rasanya tidak adil jika langsung menyalahkan…

  66. Kalau Allah bersemayam di Arsy yang berada di langit jadi kebayang seorang direktur perusahaan yang mengendalikan perusahaannya duduk di kursi di ruang direktur dimana ruang direktur tersebut merupakan bagian dari seluruh gedung kantornya yang besar , dengan demikian secara logika bapak direktur tersebut jauh lebih kecil dari gedung kantornya. Jika Allah bersemayam di arsy yang terletak dilangit bisa dipastikan dunia ini lebih besar dari Allah karena langit adalah salah satu bagian dari dunia bahkan Arsy itu lebih besar dari Allah logika saya biasanya tempat bersemayam itu lebih besar daripada yang bersemayam , padahal ALLAH MAHA BESAR jauh lebih besar dari seluruh ciptaan Nya ……… Jadi menurut aku Allah benar – benar meliputi segala Ciptaan Nya bukan hanya sekedar ilmu Nya sebagaimana air di sebuah akuarium meliputi seluruh ikan-ikan yang hidup di dalamnya,,,,lagian Allah lebih dekat dari urat leher kita sendiri sedangkan jarak antara kita dengan urat leher adalah nol , kalau lebih kecil dari nol apa arti yang lebih pas selain benar-benar meliputi.

  67. Van Cihuy said

    menurut saya pribadi… berbagai macam pengetahuan baik itu berupa buku, ataupun media2 lainnya yang sangat jelas berlandaskan dari alQuran dan alHadits sudah tidak perlu diragukan lagi..
    saya yakin akan kitab yang saya yakini ini. sumber paling besar bagi kehidupan.

    dan, saya sangat salut terhadap ilmuwan yang berlandaskan akan agama tauhid ini.
    saya sangat meragukan tentang artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: